SORENESS 02

2467 Kata
Malam ini, Hazel akan menghadiri acara keluarga yang biasa diadakan sebulan sekali. Namun sudah setahun ini Papa dan Mama Hazel tidak bisa bergabung. Itu di karenakan mereka pindah ke China karena perusahaan milik keluarga Kesuma membuka cabang di sana. Selama setahun ini juga, Hazel membenci pertemuan ini. Orang tertua di keluarga Alaska selalu menyindir Hazel, beliau satu-satunya yang menentang pernikahan Regha dan Hazel. Seperti saat ini, Regha dan keluarga besarnya sedang merayakan keberhasilan Regha yang sukses membangun sebuah apartemen mewah yang memiliki lima puluh dua lantai. Di sela-sela pembicaraan yang memuji Regha, sang eyang yang bernama Lastri melontarkan kalimat yang tak sedap didengar. "Kebahagiaan cucuku bakalan lebih lengkap lagi kalau dia menikah dengan wanita yang dia cintai, benar 'kan?" ucap Lastri. Hazel hanya bisa diam, di sebelahnya ada Wulan yang mengelus lengan Hazel, bermaksud untuk menenangkan. "Mami, kenapa ngomongnya gitu? Ini udah dua tahun, mereka juga udah punya Harith. Pernikahan mereka juga baik-baik aja" ucap Bunda Regha, Sirra. "Baik apanya? Kalian itu pada tidak peka ya?" ucap Lastri. "Eyang, udah lah.. Hazel itu udah yang terbaik untuk Mas Regha. Eyang sendiri tidak peka dengan perasaan Hazel, eyang pikir satu-satunya yang tidak bahagia di pernikahan ini cuma mas Regha?" Semua mata tertuju pada wanita cantik yang duduk di sebelah Regha, dia adalah anak bungsu keluarga Alaska. Regina Calista Alaska namanya, saudara kembar Regha. Dia wanita yang baik, anggun, sudah menikah dan memiliki dua anak, lelaki dan perempuan. Hazel tidak terlalu akrab dengan Regina karena Regina dan keluarga kecilnya tinggal di Surabaya. "Loh, ini pilihan dia untuk menikah dengan Regha-" ucapan eyang terpotong. "Mami, maaf. Saya harus sela omongan Mami, tapi pembicaraan ini tidak layak untuk dilanjutkan. Sebaiknya kita nikmati makan malam ini, makanannya lezat-lezat. Di sini juga ada Dean dan Dania, mereka masih kecil untuk mendengar obrolan dewasa ini" ucap Tio, sang kepala keluarga. Hazel melihat ke arah Gazebo, di mana ada Dania dan Dean sedang bermain sembari makan disuapin oleh babysitter mereka. "Benar, eyang, malam ini kita lagi bahagia, kak Regha udah bekerja keras sangat lama untuk proyek ini. Bisa gak malam ini bahas yang baik-baik aja?" ucap Hazel. Lastri mendengus, "selama ada kamu, tidak ada hal baik yang dapat diceritakan." Hazel melirik Regha, apa yang suaminya itu lakukan? Dia hanya diam sembari menikmati makanannya. Lagi pula apa yang harus diharapkan dari Regha? Pria berhati dingin itu tidak akan pernah sudi membela Hazel. Hazel buru-buru mengalihkan matanya saat Regha menatapnya. "Eyang" suara datar dan terdengar tegas itu membuat suasana hening. Hazel kembali menatap Regha, mungkin suaminya itu juga tidak mau malam bahagia ini menjadi rusak. Oeekkk... Oeekkk.. Harith merengek digendongan Wulan. "Hazel izin masuk ya, udah saatnya Harith minum s**u" ucap Hazel. "Iya, iya sayang.." ucap Sirra. "Mami, gak bisa ya Mami sembunyiin rasa tidak suka Mami terhadap Hazel? Kamu juga, Regha. Tidak membela sama sekali, Hazel itu istrimu, ibu dari anakmu" ucap Tio. Hazel masih bisa mendengar suara ayah mertuanya, dia melangkahkan kakinya lebih cepat agar Harith bisa melepaskan dahaganya. Regha menyudahi makannya, "Tapi yang eyang bilang itu benar, Yah. Aku gak bahagia menikah dengan Hazel. Harith? Itu permintaan Hazel dalam perjanjian pra-nikah kami" ucap Regha. "Janji pra-nikah apa? Untuk apa itu semua?" tanya Sirra. "Aku ngajuin beberapa syarat dalam pernikahan kami, Hazel juga setuju. Makanya aku mau nikah sama dia, aku gak bisa kasih tahu apa aja yang ada dalam perjanjian itu. Hazel cuma minta satu, dia mau anak" jawab Regha. “Anak itu juga anakmu, darah daging kamu” ucap Tio. “Bukan aku yang mau” ucap Regha santai. “REGHA!” Suara Tio meninggi, lalu cepat-cepat ia berdeham karena cucu-cucunya yang sedang bermain memandangnya. "Jangan bilang kalau kamu masih berhubungan dengan wanita itu?" ucap Tio. "Wanita itu namanya Kalula, Yah. Dan ya, kami masih berhubungan sampai sekarang" ucap Regha. "REGHA!" Tio membentak dengan suara yang sangat keras. Kali ini ia tidak peduli lagi dengan sekitarnya, jawaban Regha benar-benar membuatnya marah! Tio sangat tidak menyangka kalau putranya berselingkuh dengan perempuan lain, dia merasa bersalah dan malu kepada Hazel dan keluarganya. Bagaimana dia akan menghadapi Abraham nanti, bagaimana dia mengakui bahwa putranya menyakiti anak perempuan yang sangat dicintai oleh Abraham. "Gila ya kamu, mas?" ucap Regina. "I dont have a choice, Re" ucap Regha. "Bullshit!!" Ucap Regina. “Regha, Bunda gak mau tahu! Kamu harus akhiri hubungan kamu dengan perempuan itu, kamu sudah menikah Regha, kamu sudah punya anak, kamu adalah seorang suami dan juga Ayah sekarang. Tolong… tolong jangan menjadi lelaki tidak bertanggung jawab” ucap Sirra. Regina tersenyum miris, kakak laki-laki yang ia banggakan di depan suaminya ternyata tidak lebih dari seorang b******n untuk istri dan anaknya, betapa malunya Regina sekarang. “Mas, kamu ini punya adik perempuan. Kamu engga takut kalau aku juga ngerasain hal yang sama seperti mba Hazel akibat perbuatan kamu?!” Ucap Regina. Sang suami di sebelahnya menatap Regina, Regina sadar bahwa suaminya sedang menatap tajam ke arahnya. “Kalau sampai Indra macam-macam, bakalan aku gebukin dia” ucap Regha. Regina tak habis pikir, “om Abraham juga engga akan tinggal diam kalau beliau tahu anak perempuannya diselingkuhin.” Regha menghela napas lelah. Sebenarnya ia juga menyesal telah keceplosan kalau dirinya masih berhubungan dengan Kalula. “Regha, kalau kamu tidak mengakhiri ini maka Bunda yang akan turun tangan sendiri” ucap Sirra. Lastri dalam diam tampak tersenyum, dia senang bahwa cucunya masih bersama dengan kekasih hatinya. Dia satu-satunya orang yang sangat mendukung perselingkuhan Regha. . . "Bu, jangan nangis.. Kasihan dek Harith lihat Ibunya nangis, nanti dia ikut sedih.." ucap Wulan. Hazel menghapus dengan kasar air matanya, dia juga tidak mau menangis. Selama ini dia kuat kok menghadapi kata-kata kejam Lastri, selama ini dia bisa menahannya. Tapi malam ini, biarkan malam ini saja dia menangis, meluapkan kesakitannya, kekesalannya, dan amarahnya. Tangisannya semakin deras saat jari mungil Harith menyentuh pipinya. Dulu Lastri tidak pernah menunjukkan kebenciannya terang-terangan seperti ini, mungkin karena orangtua Hazel masih ada di Jakarta. Sekarang saat orangtua Hazel berada jauh di luar negeri, Lastri mulai menunjukkan wajah aslinya kepada Hazel. Hazel terisak sembari menyusui Harith. "Bu, kayaknya dek Harith udah kenyang. Biar saya bawa ke ruang tamu, Ibu istirahat dulu" ucap Wulan, dia dengan perlahan mengambil Harith dari gendongan Hazel. "Wulan, biarin Harith sama saya. Kamu tolong tunggu saya sebentar di ruang tamu, setelah ini kita pulang" ucap Hazel. "Baik, Bu" Wulan tanpa banyak bicara lagi, keluar dari kamar Regha. "Dek.. Ibu bakalan berjuang untuk dapatin cintanya Papa, untuk adek, untuk Ibu. Adek yang sabar ya, suatu hari nanti Ibu pasti berhasil bikin Papa sayang sama adek, perhatian sama adek.. Gak apa-apa deh kalau Ibu gak dapet, yang penting mah adek.." ucap Hazel. "Jangan mimpi kamu!" Hazel melihat ke arah pintu, ada Lastri di sana. Wanita tua itu berjalan masuk menghampiri Hazel. "Kamu itu perempuan jahat! Anak manja yang memaksakan kehendaknya untuk apapun yang kamu inginkan, sifat buruk kamu ini sudah merugikan cucuku!" ucap Lastri. "Eyang" lirih Hazel. "Jangan panggil saya Eyang, tidak sudi saya punya cucu menantu seperti kamu!" ucap Lastri. "Eyang, jangan gini.. Hazel bakalan berjuang untuk pernikahan ini, Hazel janji akan bikin kak Regha bahagia dan nerima Hazel dan juga Harith" ucap Hazel. "Kamu itu yang sudah merusak kebahagiaan cucu saya dan kamu mau memberikan kebahagiaan untuk Regha? Kamu ini sinting, ya? Bahagianya Regha itu bukan kamu, bukan anak sialan kamu itu" ucap Lastri. "Eyang! Harith bukan anak sialan, jangan sebut anak aku kayak gitu" ucap Hazel. Sangat kejam menyebut bayi yang lembut dan tak berdosa dengan sebutan 'anak sialan'. Hazel melahirkan Harith dengan mempertaruhkan nyawanya, Hazel melahirkan Harith dengan cinta sepenuh hati. "Terserah, cepat ceraikan Regha! Dia berhak bahagia, kamu tidak boleh egois" ucap Lastri. Setelah mengatakan omongan-omongan jahat kepada Hazel, wanita tua itu keluar dari kamar. Hazel menarik napas dalam-dalam, ia memejamkan mata untuk menenangkan jantungnya yang bergemuruh. Sudah merasa tenang, Hazel menghampiri mertuanya yang sedang bersantai di ruang keluarga. Hazel duduk sebentar untuk mengobrol ringan, menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar pekerjaannya dan juga perkembangan Harith. Setelah itu Hazel berpamitan kepada Ibu dan Ayah mertuanya juga kepada Regina, tadinya kedua orang tua itu meminta Hazel untuk menginap saja namun Hazel menolak karena besok dirinya sangat sibuk di toko. “Kenapa gak pulang bareng Regha saja? Mobil mu nanti diantar sama pak Imam” ucap Sirra. “Gak usah, Bun.. nanti ngerepotin pak Imam, lagian kak Regha kayaknya masih mau di sini” ucap Hazel. Sirra menghembuskan napas pelan, ia lalu memeluk Hazel. Wanita paruh baya itu merasa bersalah karena Regha menduakan Hazel, ia bahkan tidak bisa memberitahu Hazel mengenai kekasih Regha ini. “Tolong maafin Regha ya, maafin eyang juga.. maafin Bunda dan Ayah juga..” ucap Sirra. Hazel mengerutkan alisnya, “loh, kenapa Bunda? Aku gak terlalu memikirkan kata-kata eyang kok” ucap Hazel. Sirra mengelus punggung Hazel. “Yang eyang katakan itu betul kok, Bun.. aku emang egois, aku maksain pernikahan ini padahal kak Regha engga setuju. Harusnya aku yang harus minta maaf ke kak Regha” ucap Hazel. Sirra menggeleng lemah, ia memeluk Hazel lagi. Kali ini pelukan mereka cukup lama. “Ya sudah, kamu nyetir hati-hati ya..” ucap Sirra, Hazel mengangguk. Tanpa mereka tahu, ada Regha di sana yang mendengarkan obrolan mereka. . . Hari ini jadwalnya Hazel untuk berkunjung ke Panti Asuhan, Papa Hazel adalah donatur tetap untuk panti ini. Karena itu Hazel rutin mengunjungi panti sebulan dua kali menggantikan Abraham yang sedang tidak berada di Indonesia. Hazel membawa Harith untuk pertama kalinya, dia ingin memperkenalkan malaikat kecilnya kepada anak-anak panti. "Bu, ini semua mau langsung dibawa masuk?" tanya satpam penjaga panti. "Iya pak, tolong ya" jawab Hazel. Hazel masuk duluan bersama Wulan, panti tampak sepi karena anak-anak pada sekolah. Hanya ada beberapa balita dan anak kecil yang masih berusia lima atau enam tahun. "Kak Hazel!" Hazel menoleh, "loh, Laras? Kok gak sekolah?" Laras adalah anak paling tua di panti, dia berusia enam belas tahun. "Lagi gak enak badan, kak.. Udah dua hari gak sekolah" jawab Laras. "Udah ke Dokter?" tanya Hazel. Laras mengangguk. "Wahhh, ini anak kak Hazel ya?" tanya Laras. Hazel tersenyum, "iya. Harith namanya." "Wow, ganteng banget... Mukanya bener-bener gak mirip kakak, ya.. Pasti lebih mirip Papanya nih" ucap Laras. Hazel hanya senyum, benar juga. Kalau dilihat-lihat, Harith ini plek-ketiplek sangat mirip dengan Regha. "Oh iya, ini ada hadiah. Ntar bagi-bagiin ke adik-adik ya.. Kayak biasa" ucap Hazel. "Okey. Makasih ya kak, adik-adik pasti seneng nih" ucap Laras. Hazel mengangguk sembari tersenyum. "Lan, titip Harith ya. Saya mau ke ruangan pengurus panti" ucap Hazel. Wulan mengangguk. Hazel mengetuk ruangan di ujung lorong, setelah dipersilahkan masuk dia pun membuka pintu. "Hai" sapa Hazel. "Hazel!" ucap wanita cantik yang duduk dibalik meja. Hazel melambaikan tangannya, berjalan masuk dan duduk di sofa yang ada di dalam ruangan. Wanita cantik tadi juga ikut duduk di sofa. "Mau minum apa?" tanyanya. "Engga usah, bentar lagi aku harus ke toko. Ada pesanan bunga yang harus dikerjakan" tolak Hazel. Mereka berbincang selama kurang lebih dua puluh menit, membahas tentang sekolah anak-anak, kebutuhan apa saja yang sekiranya sangat mendesak dan tentang anak-anak balita yang hendak diadopsi. Mereka saling memberi saran, selalu seperti ini jika mereka bertemu. Mereka akan menceritakan beberapa keluhan dan akan saling memberi saran ataupun pelukan. "Maaf, aku gak bisa bantu kamu.. Aku juga gak tahu harus kasih saran apa, kamu cinta sama dia. Gak mungkin aku saranin kamu untuk pisah, sedangkan kalian udah punya Harith" ucapnya. Hazel mengangguk, "aku gak mau pisah. Kasihan Harith, masih kecil.." "Aku doain semoga hati suami kamu bisa terbuka untuk kamu, semangat ya" ucapnya. Hazel mengangguk lagi, "karena Kalula udah nyemangatin aku, jadi aku bakalan lebih semangat" ucap Hazel. Wanita itu, adalah Kalula. Kekasih hati Regha, suami Hazel. Sejak orangtua Kalula meninggal dunia, maka Kalula lah yang mengambil alih panti ini. Hazel sangat mempercayai Kalula sampai ia berani menceritkan rumah tangganya, bahkan Anya sahabatnya saja tidak tahu apa-apa tentang pernikahan Hazel. Kalula dulunya juga sangat menyukai Hazel, namun hatinya menjadi dendam ketika tahu bahwa wanita penghancur hubungannya adalah Hazel. Namun rasa benci itu ia pendam dalam-dalam sampai waktunya tiba untuk membalas dendam. "Aku harus pergi nih, sampai jumpa lagi" ucap Hazel. Mereka berpamitan, Kalula mengantar Hazel sampai depan gerbang. Setelah mobil Hazel benar-benar menghilang dari pandangannya, Kalula tersenyum kecut. "Maaf, tapi sampai kapan pun kamu gak akan bisa buka hati Regha. Karena aku dan Regha saling mencintai" monolognya. . . Di tempat lain, ada Regha dan Sekretaris merangkap Asisten Pribadinya dan juga sahabatnya, yaitu Natha. Mereka sedang kewalahan menghadapi kekacauan yang tiba-tiba saja melanda projek terbaru perusahaan. Tiba-tiba muncul saingan untuk tender besar yang akan dikerjakan di Singapura. Bukan main-main, saingan ini telah lama membuka perusahaan di Paris dan sekarang berencana membuka cabang di Indonesia. "Mereka ini orang asli Paris, apa ya?" tanya Natha. Regha menggeleng, "CEO mereka asli orang Indonesia." "Waduh, kira-kira kenapa dia nyerobot kerjaan kita ya? Padahal menurut data, perusahaan mereka masih memiliki tiga proyek besar. Bukan main-main, proyek mereka ada di Dubai, Kanada dan Australia. Tiga negara ini memilih bekerja sama dengan perusahaan H&H corp, sudah jelas bahwa perusahaan ini sangat luar biasa" ucap Natha. Regha memijit pangkal hidungnya, dia tidak pernah menghadapi saingan yang luar biasa seperti H&H corp. "Coba gue lihat, siapa CEO H&H corp" ucap Regha. "Sebentar, fotonya langka banget bro, bahkan hampir engga ada" ucap Natha. “Bro-bro aja lo, kita masih di jam kerja ya” ucap Regha. Natha hanya acuh dan terus menatap layar laptopnya. Lelaki itu tidak menyerah, dia menyelami semua artikel yang menyebut H&H corp. "Ketemu!" ucapnya. Natha lalu mengarahkan laptopnya pada Regha. Netra Regha membesar melihat foto lawas terpampang di depan matanya. "Hafian.." Ucapnya. "Benar, Pak. Namanya Hafian Kalendra Yudhistira, di sini tertulis pernah kuliah dia Universitas yang sama dengan kita” ucap Natha. “Gue udah lama gak dengar kabar dia" ucap Regha. "Wah, jaman kuliah dulu, si Hafian ini luar biasa banget pinternya. Pantes aja bisa sukses kayak sekarang" ucap Natha. Regha tersenyum tipis, luar biasa? Hafian itu begitu ambisius, apapun yang dia mau pasti bisa dia dapatkan. Hanya satu yang gagal didapatkannya, yaitu cintanya. "Pak?" Natha memanggil karena Regha melamun sembari tersenyum, senyum itu terkesan sedang meremehkan sesuatu. “Pak? Halloo??” Natha melambai di depan wajah Regha. “Apaan sih lo, pak pak pak” kesal Regha. “Lah, gimana sih. Katanya masih di jam kerja” balas Natha. "Oke, masalah Hafian kita pikirin lagi nanti" ucap Regha. “Coba aja Hazel nikahnya sama Hafian, gue jamin anak mereka sekarang udah empat kali. Satu angkatan tuh tahu kalau Hafian naksir berat ke Hazel” ucap Natha. Betul, semua orang tahu bahwa Hafian sangat mencintai Hazel. Hanya Hazel saja yang tidak menyadari itu sampai Hafian menyatakan perasaannya. “Yah, nyatanya Hazel lebih milih gue” ucap Regha. Natha mengangguk, "Kalau gitu, saya permisi lanjutin pekerjaan saya, pak" ucap Natha sengaja membuat Regha kesal, dan Regha hanya mengangguk kecil. Regha merenung lagi, dia sepertinya tahu maksud dari Hafian yang tiba-tiba datang dan mengusiknya. Ingin merebutnya kembali, huh? Batin Regha.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN