SORENESS 01

2606 Kata
Senyum tidak hilang dari wajah cantik Hazel Arista Kesuma sejak sang Papa mengatakan bahwa dirinya akan dijodohkan dengan seorang pria bernama Regha Bumi Alaska. Bagaimana ia tidak begitu senang saat mendengar kabar ini? Dirinya sudah menyukai Regha di awal masuk kuliah. Hazel tak menyangka bahwa kedua orang tuanya bersahabat dengan orang tua Regha, tadinya ia menolak keras tentang perjodohan ini namun perasaan marahnya menguap saat Papanya menunjukkan foto pria yang akan dijodohkan dengan dirinya. “Duh.. senangnya yang mau dijodohin, tadi ngamuk-ngamuk sekarang malah senyum-senyum sendiri seperti orang gila” goda Mama. Hazel tertawa kecil, dia melingkarkan tangannya di perut Mama sembari hidungnya menghirup aroma Mamanya yang begitu menenangkan. Papa ikut bergabung dalam pelukan, mengelus kepala anak semata wayangnya itu. “Ajel gak nyangka banget kalau Papa dan Mama temenan sama orang tuanya kak Regha.. kayaknya memang Ajel dan kak Regha itu ditakdirkan untuk bersama, hihihi” ucap Hazel sembari tertawa malu-malu. “Kami juga gak nyangka kalau Regha itu orang yang dicintai sama kamu” ucap Papa. “Dan ternyata kating yang selalu diceritain ke Mama dan Papa itu Regha?” Tanya Mama. Hazel mengangguk antusias. “Awalnya Papa ragu untuk jodohin kamu sama Regha, soalnya Papa kira kamu pacaran sama Hafian dan kating yang selalu kamu ceritakan itu Hafian. Ternyata Papa salah ya” ucap Papa. Mendengar nama Hafian disebut, tiba-tiba saja Hazel cemberut. Ia melepaskan pelukan dan menatap Mama dan Papa bergantian. “Sebenarnya Mas Hafian nembak Ajel bulan lalu, tapi Ajel bener-bener gak punya perasaan lebih untuk Mas Hafian..” Hazel menghela napas kecil sebelum melanjutkan ceritanya. “Terus Mas Hafian mutusin untuk magang di Paris sekalian lanjutin S3 di sana, dia gak ngabarin Ajel sama sekali.. Anya sampe nangis karena Mas Hafian pergi ke Paris, Ajel jadi merasa bersalah” ucap Hazel. “Sebenarnya kalau kami gak buat perjanjian konyol waktu muda untuk jodohin kalian, Papa pasti sangat mendukung kamu untuk bersama Hafian. Hafian itu benar-benar pria yang baik, dia sopan, juga sangat tampan tentunya” ucap Papa. Mama mengangguk setuju, “yah tapi mau gimana lagi kalau kamu gak punya perasaan untuk Hafian.” . . . Di rumah lain, ada Regha yang merengek atas perjodohan ini. Dia menentang keras ide kedua orang tuanya itu. “Ayolah, Bun… Yah… aku gak mau nikah sama dia” ucap Regha. “Kenapa sih? Hazel itu cantik loh, pinter, lembut, Ayah aja terpesona denger dia ngomong selembut itu. Kalau kesempurnaan itu milik manusia maka Hazel layak disebut sempurna” ucap Ayah. “Yaudah, kalau gitu Ayah aja yang nikah sama dia” ucap Regha. “Heh!” Tegur Bunda. Regha mendengus, ia beralih ke Bundanya. Memeluk sembari mendusel-dusel kepalanya seperti anak kucing. “Bun, Bunda kan tahu kalau aku udah ada pacar.. Bunda juga udah lihat pacarku kan? Bunda juga udah ngobrol sama dia, pacarku gak kalah cantik kan sama Hazel” ucap Regha. “Maaf ya Regha, tapi ini janji yang harus ditepati” ucap Bunda. Regha menghela napas. Kenapa juga ia harus menikah dengan gadis manja seperti Hazel? Bahkan pacarnya jauh lebih baik dibanding Hazel. “Regha, kita gak bisa menolak perjodohan ini karena Hazel mau dinikahin sama kamu” ucap Ayah. “Tapi aku enggak mau.. gak mau nikah sama dia” rengek Regha. Hahhh…. Ayah menghela napas, “kalau gitu kamu bicarakan sendiri ke Hazel.” Regha mengakui bahwa Hazel itu perempuan yang sangat cantik, bukan hanya parasnya yang cantik namun sifatnya juga. Hazel itu bidadarinya para mahasiswa di kampus, namun Regha juga punya bidadarinya sendiri. . . . “Please, tolak perjodohan ini” ucap Regha. “Kenapa?” Tanya Hazel. “Lo masih nanya? Gue gak suka sama lo!” Ucap Regha. “Tapi aku suka sama Kakak, maaf aku gak bisa nolak..” Hazel menunduk lesu. “Lo gak bakal bahagia nikah sama gue, percaya deh” ucap Regha. Hazel diam, ia meyakinkan dirinya kalau ia bisa membuat Regha mencintainya nanti. . . Dua tahun kemudian… Dua tahun bukanlah waktu yang sebentar, bukan juga waktu yang lama. Dua tahun belum cukup untuk membuat Regha mencintai Hazel, jangankan cinta, pernikahan ini pun belum dapat diterima oleh Regha. Tapi Hazel tidak pantang menyerah, Hazel tetap menjalankan misinya untuk membuat Regha menyukainya. Ia tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang istri walau perlakuan itu sering ditolak oleh Regha, ia tidak berkecil hati. Setiap pagi menyiapkan sarapan, siangnya menyempatkan diri mengantarkan bekal untuk sang suami, menyiapkan pakaian kerja untuk Regha, menyiapkan air hangat untuk suaminya ketika pulang kerja. Semua itu Hazel lakukan setiap hari tanpa lelah, tapi apakah Regha menerima itu semua? Tentu saja tidak, laki-laki itu bahkan tidak menganggap bahwa Hazel ada di rumah ini. Sarapan yang dibuat dengan susah payah tidak disentuh sama sekali, bekal yang diantar, pakaian, bahkan air panas untuk mandi. Semua itu ditolak oleh Regha. Bahkan Hazel tahu bahwa bekal yang setiap hari dia antar itu, diberikan kepada Natha Sekretaris sekaligus sahabat Regha. "Hari ini mau nganter bekal untuk Pak Regha lagi, Bu?" Hazel tersenyum kecil sembari mengangguk, tangannya sibuk memasukkan kotak makan ke dalam tas. "Iya, kayak biasa aja. Kamu tolong jaga toko ya" ucap Hazel, pada Stella. Asistennya. "Oke, Bu. Sore ini ada janji sama Mbak Anya, Ibu gak lupa kan?" tanya Stella. "Anya? Anya jadi ya mau nambah bunga dan ganti buket pengantinnya?" tanya Hazel. Stella mengangguk, "iya, bu." "Oke, noted." ucap Hazel. Hazel itu seorang florist, saat menikah dulu pun, yang mendesain buket bunganya adalah dirinya sendiri. Dan sekarang dia berhasil membuka toko bunga impiannya dengan usaha sendiri atas jerih payahnya. "Hati-hati dijalan ya, Bu" ucap Stella. "Iya. Kalian jangan lupa makan siang, tutup aja toko sebentar. Jangan makan di cafe depan terus, bosen, ah" ucap Hazel. Stella hanya mengangguk. . Jarak toko ke kantor Regha itu lumayan jauh, tapi tidak apa. Ini tidak melelahkan bagi Hazel. Hazel masuk ke lift khusus Direktur, dirinya tadi sempat bertegur sapa dengan para pegawai Regha. "Loh, Hazel?" Hazel berbalik, senyum Hazel mengembang saat melihat Natha. “Halo, Kak Natha” sapa Hazel. "Mau anter bekal untuk Regha, ya Zel?" Natha menyesali pertanyaannya, tentu saja iya. Itu seperti kegiatan rutin untuk Hazel. "Iya, kak. Kak Regha ada kan?" tanya Hazel. Natha menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali, "anu, Zel… si Regha pergi makan siang di luar." "Oh? Sayang banget... Kalau gitu, untuk kamu aja deh, kamu udah makan belum?" tanya Hazel, lalu ia tersenyum. Aneh, benar-benar aneh. Sudah sering diperlakukan buruk pun, Hazel masih bisa tersenyum. Senyumnya itu tidak dibuat-buat, itu tulus sekali. "Wah, kebetulan aku belum makan nih. Boleh deh buat aku aja" ucap Natha. Hazel menyerahkan tas bekal itu. Bohong, jelas-jelas Natha tadi datang dari luar, sepertinya tadi dia memakan daging panggang. Aroma asapnya masih tercium walau sudah disemprot parfume. "Makasih ya, udah mau makan masakan aku yang gak seberapa ini" ucap Hazel. Natha mengangguk kaku, "harusnya aku yang bilang makasih, Zel. Makasih ya, makanannya Hazel" ucap Natha. Hazel mengangguk, dia pamit lalu pergi meninggalkan lobby kantor Regha. Senyum terpancar sepanjang jalan menuju parkiran, ya harus senyum. Di dalam mobil, Hazel menutup matanya. Menarik lalu menghembuskan napas secara perlahan sebanyak beberapa kali. Tidak, tidak, tidak boleh menangis, tidak boleh lelah. Harus berjuang. Hazel kembali ke tokonya, tokonya tutup. Artinya para pegawainya sedang makan siang di tempat lain selain di cafe depan. Hazel membuka pintu kaca itu dengan kunci yang ia punya. Bergegas ke ruangannya untuk bekerja, seperti ini setiap hari. Hazel akan bekerja dan bekerja, mencari kesibukan untuk mengalihkan rasa sedih, marah dan kecewanya pada Regha. Ditatapnya bingkai foto kecil di atas meja kerja, foto saat mereka melangsungkan Akad. Hari di mana dirinya merasa bahagia, ya... Mungkin hanya dirinya dan dua keluarga. Tidak dengan Regha, laki-laki itu sama sekali tidak bahagia. Dipaksa menikahi perempuan yang tidak dicintai, siapa juga yang akan bahagia, benar 'kan? "Maaf.. Maaf aku egois, Kak. Aku kekeuh nerima perjodohan ini, aku tahu kamu gak bahagia dengan pernikahan ini." Lirih Hazel. . . Malam harinya, lagi-lagi Hazel harus makan masakannya sendiri. Regha? Entah di mana pria itu, sudah lewat pukul tujuh namun batang hidungnya belum terlihat. Bukannya tidak biasa, ini justru hal yang biasa untuk Hazel. Selang beberapa menit terdengar suara gerbang terbuka, lalu suara langkah kaki yang mendekat ke ruang makan. Hazel tersenyum, tersenyum hanya dengan mendengar suara langkah kaki pria yang tidak mencintainya. "Kak, mau makan malem bareng gak?" tawar Hazel. Regha berhenti sejenak, "berhenti ngajak aku makan bareng. Kamu tahu jawabannya, tidak dan tidak akan pernah." Jawab Regha dingin. "Tadi siang aku anter bekal untuk kamu, tapi kata kak Natha kamu makan di luar. Kamu makan apa tadi siang?" tanya Hazel. Regha menghembuskan napasnya, mengusap kasar wajahnya. "Hazel, apapun yang aku lakuin itu bukan urusan kamu. Urus aja urusan masing-masing" jawab Regha. "Kak-" Hazel ingin berbicara, namun disela oleh Regha. "Aku capek, mau istirahat. Stop ngajak aku berdebat, buang-buang waktu tahu, gak?" ucap Regha. "Kak-" "Apa lagi, sih? Kamu tahu gak? Suara kamu itu ganggu banget" sela Regha. Hazel menunduk, tidak menapik bahwa ia merasa sakit dengan kata-kata yang dilontarkan oleh Regha barusan. "Kakak gak mau lihat dedek Harith?" tanya Hazel dengan kepala yang masih menunduk. Harith Bintang Alaska, ya.. Mereka sudah di karuniai seorang putra lucu, tampan nan menggemaskan. Hadirnya Harith adalah sebuah permintaan dari Hazel di salah satu janji pra-nikah mereka. "Aku capek, lagian dia udah tidur juga, kan?" Yang lebih menyakitkan lagi, Regha tidak pernah menyebut nama Harith, nama anak kandungnya, darah dagingnya sendiri. Setidak suka itulah Regha dengan pernikahan ini, dengan Hazel. Melihat bahwa Hazel tidak akan berbicara lagi, Regha melenggang naik tangga menuju kamarnya. Hazel hanya menatap sedih punggung lebar yang tak akan bisa menjadi tulang punggungnya itu. Hazel menghembus napasnya, menunduk dan setetes air mata jatuh. "Udah dua tahun diperlakukan kayak gini, kenapa masih belum terbiasa sih sama rasa sakitnya?" monolog Hazel. Rengekkan kecil terdengar dari ipad yang berada diatas meja, layar menunjukkan bahwa putra kecilnya itu terbangun. Hazel bergegas ke kamar anaknya. "Halo, adek.. Laper ya? Atau haus?" Hazel dengan hati-hati mengangkat Harith, memposisikan dirinya dengan nyaman lalu mulai menyusui bayi yang baru berusia lima bulan itu. "Papa hari ini lagi capek, jadi gak bisa lihat adek lagi.. Gak apa-apa ya, dek.. Adek sama ibu aja.." Hazel berbicara seolah-olah bayi kecil itu mengerti saja. "Awh.." Ringis Hazel saat putingnya digigit oleh Harith. "Pelan-pelan, adek.." ucap Hazel. Hazel tersenyum memandangi malaikat kecilnya yang lahap menyusu. Sungguh, Hazel tidak menginginkan apa-apa lagi dari dunia ini. Dia sudah sangat puas memiliki Harith dalam 26 tahun hidupnya. "Jagoan Ibu.. Ibu bahagiaaaaa banget saat ngelahirin kamu. Tumbuh dengan baik ya, anakku" ucal Hazel. Seolah mengerti, Harith tertawa kecil. Tangan mungilnya menggenggam ibu jari Hazel. "Lucunya." . . Pagi-pagi buta, Hazel sudah berada di dapur. Memasak makanan yang ringan untuk sarapan, entah mengapa hari ini suasana hatinya tidak bagus, terbukti Hazel hanya menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri. Pukul tujuh lewat sedikit, Hazel sudah duduk di meja makan menikmati sarapannya. Saat itu Regha menuruni tangga dengan sedikit tergesa, entah ada apa. Padahal jam kerjanya masih satu jam lagi. Mata mereka saling melirik seperkian detik, Hazel kembali melanjutkan makannya. Regha mengerutkan alis, berpikir bahwa tumben sekali istrinya itu tidak bawel memintanya untuk sarapan bersama. "Adek udah bangun, gak mau lihat?" tanya Hazel. "Adek siapa?" Regha balik bertanya. Dia bahkan tidak tahu kalau Hazel memanggil Harith dengan panggilan 'Adek'. "Harith. Anak.kita" ucap Hazel menekankan kata 'anak kita'. Regha mengedikkan bahunya, lalu ia bergegas keluar. Lagi-lagi Hazel hanya bisa menatap punggung lebar itu, ia berpikir apakah Regha juga membenci Harith? Tring!! (Besok malam ada acara makan dengan keluarga besar kita, kamu pergi duluan. Aku datang terlambat) Hazel menatap sinis layar ponselnya, "kayak kita pernah dateng sama-sama aja kalau ada acara keluarga gini." Memang, mereka tidak pernah datang dengan satu mobil yang sama ke acara-acara keluarga. Hazel selalu menyembunyikan keadaan yang sebenarnya kepada keluarganya. "Sus, saya udah pumping asi beberapa botol, ada di kulkas. Nanti tolong hangatin ya untuk Harith" ucap Hazel. "Oke, bu" ucap babysitter. Namanya Wulan. ... Hari-hari adalah hari yang sibuk di toko, setiap minggu ada saja klien yang berdatangan. Bukannya tidak bersyukur, mereka justru senang sekali. Apa lagi, Hazel. Dia suka kesibukkan, karena itu bisa mendistraksi pikirannya. "Jes, ini gaunya Mbak Lintang, kan? Kenapa digantung di sini? Mau diperbaiki lagi?" tanya Hazel. Oh, selain toko bunga, di lantai dua adalah sebuah butik. Itu juga milik Hazel, ia punya dua desainer di butiknya. "Oh, iya bu. Mbak Lintang katanya turun dua kilo, jadi minta bagian pinggang agak di kecilin lagi" jawab Jessi. Hazel hanya mengangguk sebagai respon, “nanti bawa ke atas ya, minta Kak Dona untuk perbaiki” ucap Hazel dan Jessi mengangguk. "Halo Mbak Anya, gimana? Masih ada yang perlu diubah?" tanya Hazel. Wanita yang dipanggil Anya itu berbalik, lalu memberi senyuman tercantiknya dan menangkat dua jempol untuk Hazel. "Perfect" ucapnya. Hazel tersenyum puas, "resepsinya jumat malem kan, ya?" tanyanya. "Yup, akhirnya dream wedding ku terwujud" ucapnya senang. Anya ini adalah teman masa SMA Hazel, dia sudah melangsungkan Akad beberapa bulan yang lalu. Namun baru sekarang bisa menggelar resepsi, itu karena Anya dan juga sang suami sibuk dengan pekerjaannya sebagai Pengacara, dan sang suami adalah Dokter Bedah. "Lo dateng, kan?" tanya Anya. "Gue usahain, ya. Harith gak ada yang jagain kalau malem. Kasian babysitter-nya udah kerja seharian, masa mau disuruh begadang jagain Harith" jawab Hazel. "Aduh, lo tu jangan terlalu baik deh jadi manusia. Kan lo gaji dia, ya gak masalah lah kerja overtime. Atau lo bawa aja deh si Adek, gue kangen sama dia" ucap Anya. Hazel tampak berpikir, "oke deh. Tapi gue gak bisa lama ya, soalnya bawa Harith." Anya mengangguk antusias. "Ajak juga suami lo. Sumpah ya, dua tahun lo nikah sama dia, gue baru sekali aja liat mukanya. Pas acara nikah kalian, jangan di gatekeeping gitu mentang-mentang cakep" goda Anya. "Gatekeeping, apaan? Suami gue orang paling sibuk di Jakarta. Bahkan ni ya, gue kudu bikin janji dulu sama PA dia kalau mau ketemu" ucap Hazel. "Ngaco lo" ucap Anya dan mereka berdua tertawa. "By the way, bang Hafian bakalan dateng ke acara resepsi nanti" ucap Anya. Senyuman perlahan menghilang dari wajah cantik Hazel. Hafian, ya? "Ya iyalah, dia kan abang lo. Masa iya gak bakalan datang ke acara adiknya" ucap Hazel. "Maksud gue, gue juga kaget dia datang. Lo tau, dia orang paling sibuk di Paris" ucap Anya meniru Hazel. "Udah hampir tiga tahun ya? Selama itu Mas Hafi gak pernah pulang ke Indo" ucap Hazel. Anya mengangguk, "Pipi sama Mimi sampe kehabisan akal buat nyuruh abang pulang. Mau disusulin ke Paris, gak diijinin." Hazel hanya tersenyum samar menanggapi, sejujurnya dia agak rindu dengan sosok pria bernama Hafian itu. Anya menyadari perubahan suasana hati sahabatnya itu, dia bukannya tidak tahu kalau sang abang dan sahabatnya ini memiliki hubungan lebih dekat dari sekedar senior-junior di kampus. "Abang its fine, dia gak marah sama sekali sama lo" ucap Anya. Hazel mengerjapkan mata, bingung dengan apa yang dikatakan Anya. "Gue tahu, gue tahu, gelagat kalian tuh jelas banget" lanjut Anya. Hazel tersenyum samar, mengingat ke belakang.. Dia dan Hafian memang cukup dekat, Hafian pun tak segan memperlihatkan sikap perhatiannya kepada Hazel. "Gue udah jahat ke mas Hafian, maafin gue ya.. Gue yang bikin mas Hafian pergi ke Paris sampe dia gak pulang-pulang ke Indo" ucap Hazel. Anya menggeleng, bukan salah Hazel. Tidak ada yang salah, dari awal pun Hafian tahu bahwa yang dicintai Hazel adalah Regha. Hanya saja kenyataan itu terlalu menyakitkan untuk Hafian sehingga pria itu memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Paris. "Udah berlalu, jangan dipikirin lagi" ucap Anya. Hazel tersenyum lalu mengangguk. Terkadang ada pikiran aneh yang mampir di kala malam sepi, pikiran seperti bagaimana jadinya kalau ia menikah dengan Hafian? Pikiran seperti dirinya mungkin akan lebih bahagia saat bersama Hafian. Namun Hazel akan menepis pikiran jelek itu, ia akan merasa bersalah kepada Regha.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN