Delapan

2162 Kata
Seajaib itu kah lo? Mengubah pertemanan kita jadi tujuan padahal gue udah punya gandengan. Incredible amazing superb and omg you hit me into love triangle, baby:v #Bukanquotes "Kok lo pada balik?" heran Bumi melirik kawan-kawanya yang sudah muncul di ambang pintu. Jack berjalan terseret-seret di bantu oleh Vila. Ah, kasihan juga itu bocah pikir Bumi. "Balik lah, orang ini kelas gue," balas Jack sewot. Bumi menggeser tempat duduknya. Membiarkan Pasha duduk di sebelahnya. Sementara itu Jack duduk di tempat Bulan. Dan Vila berselonjor di atas meja. Cowok playboy itu memang biadab. "Lo ada lihat Bulan gak?" "Cieeee, Bulan melulu yang di pikirin," goda Vila yang membuat Bumi menahan senyumnya. Cowok itu jadi heran sendiri. Kenapa dia malu-malu gak jelas. Toh dia kan gak ada hubungan apa-apa dengan cewek itu. "Apaan sih," balas Bumi sok acuh. "Gue tanya ada Bulan gak?" Pasha menggeleng. "Gak ada. Aelah, palingan itu cewek makan di kantin resmi." "Dasar mak lampir!" cibir Bumi lalu bersiap bangkit. "Eh lo mau kemana?" sergah Jack. Bumi berdecak sebal. "Mau kemana lagi, meriksa itu bocah lah. Gue takut monster gak berotak itu pada ganggu dia." "Ahay, mulai perhatian dia," goda Pasha yang membuat Bumi bedecak sebal. "Bodo lah lo pada mau ngomong apa. Gue mau jadi pahlawan kesiangan dulu nih, bye." Bumi berlari secepat the flash. Teman-temanya tergelak. Jonah ikut bediri. "Ayo deh, gue mau lihat kantin resmi juga," ujarnya yang membuat semua pasukan buru-buru bergerak ke kantin. Bumi celingukan. Matanya mencari satu orang cewek yang ternyata tengah duduk di pojok kantin. Tanpa basa-basi Bumi langsung ngacir ke sana. "Tadi gue bilang apa heh?" tanya Bumi lalu memicingkan matanya pada Bulan yang tengah memakan mie ayam. Dasar keras kepala, batin Bumi lalu merebut mie ayam Bulan. "Ini juga kenapa lo makan mie? Kan gue suruh makan nasi, Lan." Bumi duduk di sampingnya lalu melahap mie ayam Bulan tanpa izin. "Heh bangke itu mie ayam gue," kesal Bulan lalu menarik mangkuk mie ayamnya, namun Bumi sangat pandai menghindar. Ia mengusir tangan Bulan yang hendak menggapai mangkuk bercap ayam jago itu. "Udah beli aja yang baru sono," balas Bumi santai. "Cepat! Bentar lagi masuk loh." "Bodo." Bulan kembali berniat merebut mangkuknya. "Lo itu gak modal bamget sih, ini mie ayam gue." "Tahu," ketus Bumi kembali melahap mienya. "Ini makanan gak bagus buat perut kosong lo. Udah sana, beli nasi cepat!" "Gak mau," Bulan tetap bersikukuh merebut mangkuknya. "Ishhh, balikin makanan gue, Parman." "Gak mau." Bumi semakin menjauhkan mangkuknya dari jangkauan Bulan. "Degil bener sih. Udah biar gue yang pesanin. Lo duduk di sini baik-baik ya." "Awas aja kalau lo kabur." Bumi menatap tajam manik coklat Bulan. Cewek itu memutar bola matanya malas.  "Kaki-kaki gue kok, kenapa lo yang ngatur? Mau stay atau kabur itu keputusan gue." "Bawel!" Bumi mencubit pelan pipi gembil Bulan. "Kalau lo kabur, gue cium nanti." "Idih, dasar m***m!" desis Bulan lalu menonjok lengan Bumi. Bumi meringis. "Sakit, b**o!" "Cemen!" cibir Bulan lalu menyesap jus jambunya. "Enak aja lo bilang gue cemen, yang ada lo tuh yang cemen,"  balas Bumi tak mau kalah. "Gak usah bacot lo, kecebong!" Bulan menyibakkan rambutnya. "Udah sana pesanin makanan buat gue!" Bumi menyatukan kedua alisnya. "Idih, siapa lo ngatur-ngatur gue?" Bulan menghela nafas kesal. "Tadi kan lo yang ngomong, bangke!" "Lah, kapan gue bilang yak," ujar Bumi pura-pura lupa. "Dasar pikun!" cibir Bulan lalu memainkan ponselnya. Bumi menoel dagu cewek itu pelan. "Ciee, yang ngambek nih ceritanya." "Entah," ketus Bulan tetap fokus pada ponselnya. Bumi dengan jahil kembali menoel dagu cewek itu. "Ulululu, orang jelek ngambek nih." Bulan menepis kasar tangan Bumi. "Bisa diam gak sih lo, cebong!" "Gak bisa." Bumi merapatkan duduknya dengan Bulan. Matanya memicing pada apa saja yang di lakukan cewek itu pada ponselnya. Bulan yang risih lantas mendorong kuat badan cowok ganteng itu. "Kegenitan banget sih lo, bangke," geramnya lalu kembali memainkan ponselnya. Bumi terkikik, lalu mengelus surai Bulan. Cewek itu menepisnya kasar. "Gak usah kurang ajar tangan lo, gue potong baru tahu rasa," ancam Bulan yang lagi-lagi menjadi bahan tertawaan Bumi. "Gak takut," balas Bumi seraya terkekeh. "Ok, karena lo ngambek gue pesanin makanan dulu deh. Jangan ngambek lagi ya, manisku." Entah setan mana yang merasuki Bumi, cowok itu memberi kecupan singkat di pipi Bulan. Setelahnya ia menghilang ke stand kantin. "Si bangke!" geram Bulan lalu menghapus bekas ciuman Bumi di pipinya. Virka terbatuk-batuk. Sementara Erela tersenyum-senyum. "Omg, sweet banget sih abang lo," puji Virka yang di balas oleh wajah datar Bulan. "Sweet pala lo peyang,  m***m sih iya. Pengen gue tabok dah itu mukanya," cecar Bulan dengan kekesalan yang menggunung. "Andai aja gue punya abang kayak dia ya," ujar Erela mulai berandai-andai. "Pasti enak ya, Vir?" Virka mengangguk. "Ho'oh pasti enak tuh. Udah ganteng, manis lagi." "Ganteng dari mana lagi? Muka kayak gituan di kaki lima juga banyak." Bulan melirik kanan dan kiri. "Ada yang lihat gak ya tadi? Entar gue di panggil BK," ujar Bulan khawatir. Elina memutar bola matanya malas. "Kenapa takut sih? Dia kan abang lo. Atau jangan-jangan lo cuma ngaku-ngaku jadi adeknya dia ya?" sindir Elina menatap tajam manik Bulan. Cewek hobby makan itu menatap tajam kembali manik Elina yang mengenakan softlens. Dia benci di tantang. "Lo gak tahu apa-apa, gak usah ikut campur!" desis Bulan dengan suara menusuknya. "Entah," Virka menyugar rambut indahnya. "Punya mulut kok gak di kontrol. Jelas lah Bulan takut ketahuan BK, biar pun mereka adik-beradik. Tapi perbuatan tadi kan emang gak pantas di kawasan sekolah." "Sok bijak lo!" cibir Elina seraya mengaduk-aduk jus strawberry Nya. "Idihh, kok sok bijak gue emang bijak kali," angkuh Virka. "Emang kayak lo, penampilan aja di cantikiin tapi otak gak pernah di pakai. b**o!" "Emang lo gak b**o heh?" geram Elina dengan muka merah padamnya. Ya, semua orang pun tahu Elina si cantik dengan body goals teramat sangat. Sexy-nya bukan main, tapi otaknya gak pernah jalan. Dalam pelajaran dan membuat keputusan Elina memang sering melupakan otaknya. Yang ia pentingkan hanya lah kesenangan semata. "Gak lah," ujar Virka tak terima. "Udah jangan berantem," lerai Erela. "Kayak anak kecil tahu." "Wizz, ada apa apa nih?" heboh Vila lalu mengambil tempat duduk di samping Elina. "OMG, ada cewek cantik nih. Namanya siapa ya?" tanyanya menggoda lalu mengedipkan sebelah matanya kepada Elina. Cewek cantik itu menahan senyum. Vila memang memiliki pesona Zeus yang membius kaum hawa. Pesonanya begitu besar. Namun sayang sikap playboy-nya menjadi kekurangan di mata cewek lainnya. "Mulai deh kegatelannya," sindir Virka membuka ponselnya. Elina melirik cewek itu tajam. Vila malah menjadi, dia menoel-noel dagu manis Elina. "Udah jangan marah-marah dong, nanti luntur loh cantiknya." Mendapat pujian ternyata berhasil membuat Elina diam. Ia malah bercengkrama entah tentang apa kepada Vila. Mengabaikan keberadaan manusia lainnya. "Bumi mana?" tanya Jonah yang berada di samping Vila.  Bulan mengedikan bahunya acuh. "Mana gue tahu. Mati kali," ketus Bulan. Pasha tergelak. "Cieee, lagi marahan nih ceritanya." "Apaan sih," balas Bulan tak suka. Vila tergelak. "Baru juga baikkan, masa udah berantem lagi sih, Jaenab." Bulan menggebrak meja. Matanya menyorot tajam manik Vila. " Nama gue bukan Jaenab, bangke!" "Aelah gitu aja marah," sindir Bumi meletakkan satu piring nasi lengkap dengan lauk pauknya ke hadapan Bulan. Dalam hitungan detik, cewek itu langsung tersenyum. Matanya berbinar, sementara tanganya bergerak menyuapkan nasi ke mulutnya. "Tapi iya juga sih. Jaenab kan panggilan sayang gue buat dia. Lo jangan main ambil aja dong, gak kreatif!" cibir Bumi lagi lalu meletakkan segelas teh obeng ke hadapan Bulan. "Cieeee, udah ada panggilan sayang," goda Pasha mengejek. Vila tergelak. "Dia suruh kita kreatif, Pash. Coba lo kasih panggilan sayang buat Bulan deh." "Ah, ide bagus," puji Pasha lalu mulai memutar kepalanya. "Gue, panggil dia mak lampir aja deh." Vila tergelak diikuti oleh Elina. "Cocok dengan Bulan yang suka sensi kan?" Bulan tak peduli. Ia semakin laju melahap makanannya. Bumi mengelus puncak kepala cewek itu. "Enak aja lo berdua, cantik gini di bilang mak lampir." Ukhuk Bulan terbatuk. Ia buru-buru menyesap teh obeng di hadapanya. Gila sih Bumi pandai aja bikin hatinya terkejut. "Ngomong apa lo?" Bulan melirik Bumi tajam. "Gue cantik? Gak usah bacot, dibalik kalimat lo itu pasti ada hinaan kan?" tuduh Bulan yang membuat Bumi kebingungan. Ini cewek di puji kok malah marah. "Istigfar, Jaenab. Suka bener lo su'udzan sama gue. Ini tulus loh," kata Bumi membela diri. "Lo emang cantik kok. Gak cuma wajah tapi hatinya juga." Bumi mengerling nakal membuat Bulan reflek menabok wajahnya. "Jijik, sok imut lo!" Bumi cemberut. "Lah gue emang imut kok, menggoda lagi." "Amit-amit," cibir Jonah menggeleng-gelengkan kepalanya. Pasha tergelak. "Entah, sok pede lo," katanya ikut mencibir. "Muka cendol kok di kata imut. Mabuk lo heh?" "Enggak b**o, Bumi emang imut tahu," ujar Vila yang membuat Bumi berbinar. Ternyata ada juga yang sadar dengan keimutanya. "Mata lo katarak, ndro?" tanya Pasha menaikkan alisnya. Vila menggeleng. "Asli dia imut, bangke. Itu loh, kayak boneka monyet semalam." Alhasil semuanya pun tergelak. Bulan yang ikut tergelak bahkan sampai tersedak. "Itu baru bener, Vil. Bukan kayak boneka monyet lagi, tapi emang dia monyetnya," ujar Bulan menambahi. Bumi cemberut. Ia menatap sendu Bulan. Dalam hati berharap Bulan akan membujuknya. "Idih kalau kayak gini. Lo mirip beruk, bego." Tawa Bulan pecah. Jonah tersenyum tipis. Tanganya terulur mengelus puncak kepala Bulan. "Pinter banget lo," pujinya tulus. Bumi menepis tangan cowok datar lo. "Bukan mukrim," kata Bumi tajam. Vila tergelak. "Posesif bener dah." "Bacot lo pada," kesal Bumi lalu melahap mie ayam di mangkuk Bulan tadi. "Cieee, merajuk," goda Pasha. "Udah besar aja sok-sok ngambek. Najisin lo!" Bulan yang sudah tandas melahap nasinya pun ikutan mengejek Bumi. "Cieee yang ngambek nih. Lo tahu gak, Bum. Lo kalau ngmbek gini makin kayak beruk tahu." Bumi melirik Bulan dengan bibir cemberut. "Idih, kayak ikan koi," cibir Bulan lalu mengambil tisu di meja. Bumi dengan jahil mengambil alih tisu itu, lalu tanganya terulur mengelapi sisa makan di sudut bibir Bulan. "Bagus dong, imut kan?" Bulan tergelak. Matanya terpaku pada manik hazel Bumi. Ah itu bukan hal luar biasa kok. Sudah beberapa hari ini Bulan memang sering ketmu mata dengan Bumi. Sans aja kali. Cuma ya Bulan akui, manik Bumi emang indah. "Imut kepala otak lo. Amit-amit sih iya," ejek Bulan lalu meneyesap teh obengnya lagi. "Udah ah, gue mau ke kelas nih." "Lah udah siap makannya?" Pasha menatap tak percaya piring cewek itu yang sudah bersih. "Gila lo laper apa kelaperan?" "Aelah, lo kayak gak tahu aja, Pash. Ini gajah kan punya kekuatan seribu mulut," sahut Bumi yang di acuhkan oleh Bulan. "Girls, ayok." Bulan berdiri diikuti oleh Virka, Erela dan juga Jamie. Elina? "Gue di sini dulu deh," ujar Elina. Virka tersenyum sinis. "Mau kegatelan lo?" "Apaan sih," kesal Elina lalu ikut bangkit dari duduknya. "Ayok, Lan." Elina merangkul Bulan lalu berjalan lebih dulu. Virka di belakangnya mendengus kesal. "Bocah!" "Bye-bye cantik," ujar Vila melambaikan tangan pada Elina. Cewek cantik itu menoleh ke belakang lalu menghadiahi Vila dengan senyuman. "Anjir, cantik banget tuh cewek," gumam Vila mengelus dadanya. "Sexy lagi." "Gak usah promo lo," decih Jonah. "Idih, siapa yang promo lo nya aja yang kepedean," cibir Vila tak terima. Jonah memutar bola matanya malas. Sudah biasa kok dua cowok itu bertengkar. Tapi ya hanya sebatas adu mulut saja. Tidak pernah mereka sampai tinju-tinjuan sih, apalagi sampai luka-melukai.  Namanya juga sahabat, adu mulut itu hal biasa. Bahkan makanan pokok kali. "Adeknya Baradielo kayak mak lampir," gelak Pasha. Bumi terkekeh. "Gak ada yang nyangka kan. Tapi sama sih, tukang nyolot," ujar cowok itu lalu menaiikan satu kakinya ke kursi. "Lo gak benci?" alis Vila naik sebelah. "Dia kan satu darah sama Bara." Bumi mengedikan bahunya acuh. "Kayak gak bisa deh. Lagian, Bulan kan cewek. Gak ada urusanya dengan Bara." Jonah manggut-manggut. "Dewasa juga ya otak lo," katanya meledek. "Ye, lo kata gue masih bocah apa. Gue udah mimpi basah kali," balas Bumi santai. Pasha tergelak. "Frontal banget mulut lo. Bulan denger dirajam lo". "Udah, ah tiap ngumpul kita kok jadi bahas Bulan sih," Vila tersenyum. "Nanti ada yang cemburu, bego." Bumi menahan senyumnya. Kenapa tiba-tiba dia salting ya. "Idih, salting!" cibir Pasha jijik. Jonah terkekeh. "Udah deh gue mau beliin si Jack makanan dulu. Bentar lagi masuk nih." Cowok datar itu berdiri, lalu berjalan cool ke stand kantin. "Kasihan juga itu bocah," gumam Vila. Bumi mengangguk. "Kayak orang yang sekarat itu mayat. Tapi salah dia sih." "Udah cus ke kelas yuk," ajak Pasha. Bumi berdiri. "Yuk lah, eh sih Corbyn sama Jack nih?" "Iya, akur tiba-tiba," sahut Vila ikut berdiri. Lalu ketiganya mulai berjalan beriringan. "Akur terpaksa. Si mayat kan lagi gak ada kawan," kekeh Pasha. Tidak butuh waktu lama Jonah ikut bergabung dengan mereka. Tanganya menenteng dua kresek kecil. Bumi jadi penasaran. "Jangan bilang yang satu buat Bulan?" Jonah menangguk. "Peka banget lo," kekehnya. "Cemburu nih," goda Pasha menyenggol bahu Bumi. Cowok itu memasang eksprsi datar. Tanda tak terjadi apa-apa. "Gue gak masalah kalau kalian baik sama dia, tapi gue gak mau salah satu dari kalian pacaran sama dia," cecar Bumi serius. "Biar lo yang jadian sama dia gitu?" tebak Vila yang nyatanya di balas anggukan oleh hati Bumi. "Bukan gitu, gue udah paham asal usul lo semua. Gue tahu buruknya sifat kalian, so gue gak mau aja si Jaenab jadian sama orang yang salah." "Protektif bener," cibir Pasha melirik lapangan sekolah yang disi oleh anak IPS. "Gue cuma nganggap Bulan adik kok," kata Jonah serius. "Lo kan tahu semenjak gue kehilangan adik gue..." "Lo jadi pengen punya adik lagi. Gue paham," potong Bumi cepat. "Itu bocah tanggung jawab gue." Seringan kapas Bumi meletakkan beban besar ke pundaknya. Ia tidak memikirkan akibatnya nanti. Bumi siap dengan segala konsekuensinya. "Jangan terlalu perhatian sama dia," ujar Pasha serius. Ia menunjuk seorang cewek anggun di pinggir lapangan dengan jarinya. "Lo punya dia." Udara di sekitar mereka tiba-tiba saja berhenti. Bumi tak bisa bernafas. Dia terjebak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN