Kita pasangan sempurna seandainya gue gak suka dia.
Pagi yang cerah, kicau burung di udara. Sinar matahari masih sehat buat dinikmati. Di pinggir lapangan Bulan dan kawan-kawan duduk. Mereka bergosip ria sembari menunggu instruktur senam datang. Semua anak dari segala jenis jurusan dan kelas berkumpul di sana.
"Backpack Louisvitton yang kemaren gue lihat bagus, Lan," ujar Virka memulai gosip. "Warna pink-nya soft banget buat lo."
Bulan tak tergoda sama sekali. "Gak lah, backpack gue yang sekarang juga udah ok."
Virka menggeleng. "Gak, Lan. Backpack yang ini bagus dan dijamin cantik banget buat lo deh."
"Lagian backpack lo yang sekarang ini gak ber-merk kan?"
"Jangan ngehina lo," kesal Bulan tak terima. "Lagian buat apa sih tas ber-merk begituan, ujung-ujungnya isinya juga tetap buku kan? Kalau otak ber-merk sih mending juga."
"Tapi kan kelihatan fashionable, beb," kukuh Virka untuk mengajak Bulan membeli backpack Louisvitton agar samaan dengan punyanya. Erela menggeleng-gelengkan kepala, Virka emang gila fashion dan belanja. Berlembar-lembar uang ia keluarkan untuk sesuatu yang trendy namun sebenarnya kadang tidak penting.
"Udah lah, Vir. Biarkan Bulan hidup sesuai gaya dia," ujar Erela menengahi.
"Entah," sambung Jamie si kriting. "Yang penting kan backpack-nya si Bulan masih layak pakai. Lagian pas sama dia kok."
"Ihh, lo pada gak paham fashion deh," kesal Virka membuang muka. Tanpa sengaja ia menangkap wajah Elina yang datang bersamaan dengan gerombolan Bumi. "Bocah ganjen!" cibirnya lalu melirik Bulan.
"Lan, lo hati-hati sama bocah cans itu. Dia muka dua," ujar Virka berbisik. Bulan memasang wajah datar. Tapi kalimat tadi sudah terekam di kepalanya, suatu saat mungkin dibutuhkan pikirnya.
"Jangan su'udzan," sahut Jamie. Virka memutar bola matanya malas.
"Dih, dibilangin gak percaya. Lihat aja nanti."
"Iya, iya Virka manisku. Gak usah ngambek ya," bujuk Erela mengelus kepala Virka. Cewek itu cemberut. "Habisnya mereka pada gak percaya sih."
"Morning, Jaenab," sapa Bumi girang lalu memeluk badan Bulan. Cowok itu mengirup banyak aroma apel dari rambut Bulan. Tiba-tiba saja fans fantatiknya berteriak histeris. Vila berdehem. Bumi terkekeh lalu melepaskan pelukanya. Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sungguh ia tak dapat menahan apa yang ada di hatinya.
"Sialan! Lo suka bener sih bikin gue malu, Parman," geram Bulan lalu meninju lengan cowok itu. Bumi meringis.
"Baru juga sekali," katanya membela diri. "Lagian lumayan kan, kapan lagi coba lo di peluk sama cogan heh?"
"Lumayan kata lo? Idih, pede bener. Yang ada gue ilfeel kali, b**o! Badan lo bau lagi. Jangan-jangan lo gak mandi ya?" Bulan memicingkan matanya pada Bumi. Cowok itu terkekeh.
"Gue terlambat bagun."
"Amir-amit," ujar Vila lalu mendorong badan Bumi menjauh. "Patutlah hidung gue mau mati tadi. Hih, gak malu lo."
Bumi mengedikan bahunya acuh. "Bodo, yang penting gue tetap ganteng." Ia mengedipakan matanya pada Bulan. Cewek itu lantas pura-pura muntah.
"Uweeek, jijik gue."
"Jijik apa menarik? Bilang aja kali lo malu kan ngakuin itu?" goda Bumi menoel-noel dagu Bulan. Cewek itu menepis kasar tangan Bumi.
"Iya gue malu, karena punya kawan bau kayak lo!" balas Bulan sarkastik. "Bikin malu aja."
"Campak ke laut , Lan," sahuta Jack memanasi. Hari ini penampilanya masih sama, tapi jalanya sudah membaik. Cowok berkulit putih mayat itu tak lagi kesusahan berjalan.
"Diam lo kompor!" desis Bumi tak terima. "Ingat, kita masih ada dendam buat lo."
Jack tercengir. Bumi kembali melirik gadisnya. "Bau lo bilang? Gue harum kali Jaenab. Nih cium." Bumi mendekatkan badanya ke arah Bulan. Cewek itu buru-buru menghajar lengan Bumi.
"Jangan bikin gue malu lo, Parman!" desisnya kesal.
Alis Bumi naik sebelah. "Malu? Emang gue buat apa sama lo?"
Bulan menghela nafas pelan. "Berkaca lo, cebong! Orang-orang melihat kedekatan kita pada iri tahu. Entar ngomongin gue di belakang lagi. Lo mau tanggung jawab heh?"
"Lah kenapa harus memikirkan pendapat orang lain?"
"Karena gue manusia," balas Bulan lalu berjalan menjauh dari Bumi. "Udah jauh-jauh lo, bau!"
Bumi mendekatkan badanya ke arah Elina. Membuat jantung cewek itu berdegup kencang. "Gue gak bau kan?"
Elina dengan kegugupannya menggeleng. "Gak kok, parfum mint lo harum"
Bumi kembali menatap Bulan yang mencari perlindungan di samping Jonah. "Nah, apa gue bilang. Gue harum , Jaenab. Hidung lo aja tuh yang sumbat."
"Harum pala lo peyang. Itu bau parfum lo bikin gue enek tahu."
"Idihh gak tahu fashion, ini harumnya maskulin b**o!" kata Bumi menyugar rambutnya yang pagi ini tidak sempat keramas.
"Maskulin pala lo botak, itu harumnya bikin enek tahu. Kayak parfum bapak-bapak, b**o!" kukuh Bulan. Ya dia memang anti dengan harum parfum yang di luar ke sukanya. Bukanya apa-apa hal itu membuat kepalanya terasa berdenyut. Bulan sangat anti dengan harum parfum yang aneh.
"Heh macan ragunan. Ini parfum mint bukan buat bapak-bapak, b**o. Lo punya hidung kuno amat sih?" Bumi cemberut.
"Masa gak bisa nyium harum maskulin sama enggak."
Bulan berkacak pinggang. Tak terima dengan perkataan Bumi. "Heh, mumi enak aja lo bilang hidung gue kuno. Emang dasarnya parfum lo aja kali yang aneh. Nih parfum kayak si Jonah, harumnya kalem. Gak kayak lo, harum parfum kok lebay."
Bumi menarik badan Jonah mendekat. "Seharum apa sih parfum lo, Jo."
Vila memutar bola matanya malas. "Aelah gue cuma modal harum molto aja gak ribet. Harumnya tahan lama lagi."
Bulan tergelak lalu menonjok lengan Vila. Kebiasaan emang tuh cewek suka nonjok orang. "Sakit, b**o," ujar Vila cemberut. "Dasar badak laut!"
Bulan yang masih tergelak, mencubit lengan Vila kuat. Alhasil kulit cowok itu membiru. "Dasar medusa!" cibirnya lalu berlari ke samping Elina. Ia merengek manja, membuat Elina gemas bukan main. Amit-amit, batin Bulan.
"Lo pakai parfum apaan?" Bumi mengendus-endus seragam Jonah. Cowok datar itu mendorong badan Bumi menjauh. Ia risih di buatnya.
"Parfum murah," balas Jonah dengan raut datarnya.
Bumi berkacak pinggang. "Ya, apa nama parfumnya? Ah, gue tahu lo sengaja kan gak mau kasih tahu gue, biar lo seorang yang di puji sama Bulan. Udah ngaku aja lo."
Jonah memutar bola matanya malas. "Su'uzan mulut nih bocah. Pengen gue jahit dah rasanya," ujar Jack greget. Pasha tergelak.
"Cemburu dia."
"Gak usah ngaco lo!" sentak Bulan tak terima.
"Dih, sensian istrinya," kekeh Jack.
Virka menaikkan alisnya. "Istri?" Lo berdua adik-beradik kan?"
Elina bertolak pinggang. "Gue gak yakin?"
"Apaan sih," kesal Bulan tak suka. Bumi merangkul cewek itu lembut.
"Kita itu pasangan sempurna, bisa jadi saudara, bisa jadi temen, bisa jadi pacar, dan bisa juga jadi suami istri. Nah mau apa lo pada heh? Ngegosip ? Sini biar gue sambelin mulut lo pada," ujar Bumi sedikit berteriak. Ia sengaja melakukanya agar siswa lain yang pernah berniat membulli Bulan mendengarnya.
Virka dan Elina jadi cengo di buatnya. "Lah bisa gitu?" tanya Virka bingung.
"Bisa dong," balas Bumi santai. Cowok itu kembali menatap Jonah. "Jo, lo pakai parfum apa sih?"
"Pucelle yang warna pink," pendengar mendadak tergelak kecuali Bulan. Lah emang gak lucu kan.
"Ternyata orkay kayak lo mau pakai barang murah ya," ledek Vila menepuk bahu Jonah. Cowok itu hanya diam masih dengan wajah datarnya.
"Gue kayaknya mau beli deh," ujar Bulan berandai-andai. "Harumnya kalem," ia mengendus harum parfum Jonah yang menguar.
Bumi menarik hidung cewek itu pelan. "Gak usah ganjen, besok gue pakai juga."
"Cieeeeeeeee-cieeeeeee." Mereka tiba-tiba saja kompakan koor mengejek Bumi. Cowok itu memutar bola matanya malas.
"Kaum lebay!" cibirnya.
"Woi, Bum itu si Rose ngapain ke sini?" ujar Jack sedikit berbisik. Bumi menoleh, seorang cewek cantik nan anggun berjalan ke arahnya. Bumi B aja. Tapi ya dia memang suka dengan gaya anggun Rose. Perfect banget buat jadi cewek.
"Bum," panggil Rose dengan nada lembutnya. Bumi sampai meleleh di buatnya.
"Iya ada apa?" dengan gaya paling sopan dan ramah Bumi menjawab. Rose menggigit bibir bawahnya, gugup mengatakan sebuah kalimat pada Bumi.
"Emmmmm, kita boleh duduk di sini gak?" Bumi tersenyum tipis. Ia mempersilakan Rose dan dua kawanya duduk di bangku depannya. Mang Udin datang menghampiri.
"Aduh, mimpi apa saya semalam kedatangan bidadari kayak gini?"
Jack memutar bola matanya malas. "Ingat umur, mang. Jangan makin nimbun dosa lo."
Mang Udin terkekeh. "Iya, iya saya tahu kok, Jak. Mau pesan apa, neng?" tanya Mang Udin ramah.
Rose melirik ke dinding, ia membaca menu yang tertera di sana sebentar. "Mau apa lo?" tanyanya pada dua kawanya.
"Gue batagor sama jus strawberry deh," ujar Mia.
"Hmm, gue samin aja deh," balas Putri, kawan Rose yang satunya lagi. Rose mengangguk anggun.
"Saya jus strawberry aja deh."
Mang Udian mengangguk. "Kamu mau apa, Bum?"
"Batagor, nasi padang, ketoprak, mie ayam, es teh lemon, ice chocolate cream, sama soto," ujar Bumi yang lantas membuat Rose mengerenyitkan dahinya. Ini cogan serius makannya banyak kayak kuli hah, batinnya tak percaya.
"Buat Bulan ya?" tebak Mang Udin. Bumi mengangguk. "Buat siapa lagi kalau bukan buat dia mang. Itu anak kan makanya overdosis. Tapi asal dia bahagia biar aja deh." Bumi tersenyum tipis. Mengingat kembali bagaimana senyum Bulan mengembang kala selesai melahap banyak makanan. Cewek ajaib!
"Ok, ditunggu ya." Mang Udin kembali ke dalam. Jack mendengus. "Saya mau mesan juga loh, Mang."
Mang Udin terkekeh. "Ah, iya saya lupa. Mau apa kamu, Jak?"
"Sphagettie bolognase satu, minumnya air mineral aja. Sehat," ujarnya santai. Bumi tergelak.
"Bilang aja lo lagi krisi moneter, bro," ejeknya yang di balas oleh muka cemberut Jack.
"Gak usah ngejek lo. Ini juga gara-gara si Danuel b*****t itu," kesalnya . "Eh, lo Rose kan?" Jack melirik wajah cantik Rose. Benar-benar cantik kalau disandingkan sama Bumi deh.
Rose mengangguk anggun. "Iya, kok tahu?"
Jack tergelak. "Tahu lah, kawan gue ini suka cerita soal lo."
Muka Bumi tiba-tiba saja merah padam. Begitu pun dengan wajah Rose. "Apaan sih!" desis Bumi menyenggol lengan Jack.
"Kalau suka itu di omongin, Bum. Biar lega dan lo cepat melanjutkan hidup," cecar Jack santai. "Rose lo tahu gak hmmmmpp"
Bumi buru-buru membekap mulut Jack. "Tahu apa?" tanya Putri penasaran. Bumi menggeleng.
"Bukan apa-apa kok." Jack menyikut lengan Bumi. Alhasil bekapanya terlepas.
"Bumi suka sama Rose," ujar Jack santai.
"Ember!" geram Bumi dengan muka merah padamnya. Jack mengelus bahu cowok itu. "Sabar, bro."
"Rose lo suka gak sama dia?" tanya Jack lagi. Bumi berdecak sebal.
"Apaan sih lo!" geramnya tak suka. "Gue gak suka sama dia. Jangan aneh-aneh lo."
Rose tertunduk, merasa terhina eksistensinya. Bumi menghela nafas pelan. Ia merasa bersalah tiba-tiba. "Bukan karena lo, Rose. Tapi gue emang gak pantas."
"Sama gue?" tebak Rose. Bumi mengangguk.
"Gue bocah degil yang udah tinggal kelas. Begonya pakai banget lagi, pasti gak cocok bersanding sama cewek baik kayak lo." Rose tersanjung. Bumi mencapnya sebagai anak baik.
Jack yang sudah merasa seperti nyamuk lantas membenamkan diri dalam guliran insta story i********:. Kepoin sana, kepoin sini. Yang penting jangan sampai ganggu Rose dan Bumi deh.
"Lo gak kayak gitu kok," cicit Rose malu. "Gue tahu lo pernah tinggal kelas, tapi lo gak buruk juga kok. Gue tahu lo itu baik ke semua orang kan?"
Bumi tersenyum tipis. Apa yang ada di pikirannya sekarang tak lain hanyalah Rose. Cewek anggun itu sudahlah cantik, mengerti dirinya lagi. Perfect batin, Bumi.
"Suparman!" Bulan berteriak dengan suara kencang. Ia berjalan ke arah Bumi dengan di papah oleh Jamie dan Erela. Jonah, Virka, Vila dan Pasha mengekor di belakangnya.
Tanpa memikirkan moment yang sedang berlangsung, Bulan duduk merapat di samping Bumi. Cewek itu meringis. Bumi terkejut, kaki Bulan dan lenganya di penuhi luka. Pipinya juga memerah.
"Gara-gara lo nih," kesal Bulan. Bumi mengerenyitkan dahinya. "Lah kok gara-gara gue?"
Jonah mendengus. "Itu tunangan lo ngelabrak dia."
Bagikan tersambar petir di siang bolong, Bumi terkejut. "Lah kapan gue tunangan?"
Vila mengambil duduk di samping Jack. "Itu loh bocah ganjen plus gila yang ngejar-ngejar lo dari SMP," katanya memberitahu.
"Kiara, b**o!" geram Pasha ikut duduk di samping Vila.
"Anjir, itu bocah kok makin gila sih." Bumi melirik khawatir Bulan. Kedua tanganya menangkup pipi Bulan yang memerah. "Ini kenapa?"
"Ditampar," ketus Bulan. "Bocah cabe itu emang cari masalah sama gue, besok gue hajar dia sampai habis," ujar Bulan berapi-api.
Vila tergelak. "Lo gak lihat tadi dia berantem, Bum. Keren!"
"Ceritain sama gue nanti," ujar Bumi lalu meloncat dari bangkunya. Ia masuk ke dalam stand Mang Udin. Mengambil betadine, plaster, dan juga batu es.
"Cari kapas ke UKS sana, Jo!" titahnya yang langsung dilaksanakan oleh Jonah.
"Vir, ambil baskom di tempat mang Udin sana!" Virka mengangguk. "Nih" katanya lalu menyerahkan baskom ke hadapan Bumi.
Bulan mendengus. "Gak usah ribet kali, Parman," ujar Bulan lalu mengambil bongkahan es batu kecil. Ia menempelkannya di pipinya pelan-pelan. Rasa dingin menjalar ke kulitnya. Bener-bener seger rasanya.
"Lan, jangan kayak gitu." Bumi merebut es di tangan Bulan. "Prosedurnya harus benar."
"Darurat," balas Bulan lalu kembali mengambil es batu lain. Bumi meringis melihat kemerahan di pipi Bulan.
"Udah sini biar gue aja." Bumi mengambil alih es di tangan Bulan. Dengan lembut ia melakukan pekerjaannya. Rose sampai tertegun di buatnya. Bumi kelihatan lembut sekali memperlakukan pipi Bulan. "Sakit gak?"
"Gak," ketus Bulan. "Cuma berdenyut."
Bumi menghela nafas pelan. "Sama aja, Jaenab! Itu anak pengen bener gue bacok dah. Siapa aja yang lakuin ini sama lo?" sergah Bumi tak terima Bulannya di lukai orang lain.
"Tunangan lo."
"Dia bukan tunangan gue, Jaenab!" potong Bumi cepat. "Siapa lagi?"
"Adek lo?"
Dahi Bumi berkerut. "Siapa?"
"Lala, b**o!" desis Pasha geram. Lemot sekali ingatannya Si Bumi.
"Oh," Bumi manggut-manggut. "Tengok aja, besok gue bikin out itu anak."
"Dua jempol," puji Jack. "Pembullyan emang harus di tindak tegas."
"Iya, Bum. Udah itu lo tahu gak? Kiara bawa anak gajah dari kelas 12. Dia dorong Bulan sampai masuk ke selokan. Udah itu jarinya di pijak lagi, lo lihat lah. Tuh tangan Bulan!" adu Vila pada Bumi. Cowok ganteng dengan setelan urakan itu buru-buru menarik tangan Bulan. Betapa terkejut dan emosinya dia mendapati tangan Bulan yang bengkak.
"Sialan!" desis Bumi gondok. "Bener-bener minta di hajar itu bocah. Siapa lagi yang bully dia?" tanya Bumi meninggikan nadanya.
"Udah sih, cuma mereka bertiga. Lo kan tahu, Lala sama Kiara itu stress. Jadi mereka mana ada kawan," ujar Pasha menjelaskan. Bumi manggut-manggut. Kembali menempelkan es batu di pipi Bulan.
"Masih sakit gak?"
Bulan menghela nafas pelan. Ia menggeleng. "Serius?" Mata Bumi mengintimidasi manik Bulan. Cewek itu gugup di buatnya, ternyata kalau marah Bumi jadi serem.
"Nih pesanannya, Bum". Mang Udin meletakkan pesanan Bumi di meja, tepatnya di hadapan Bulan. Mata cewek itu langsung berbinar. Buru-buru ia mengambil sendok dan garpu.
Bumi menggeleng-gelengkan kepalanya. "Dasar aneh!" cibir Bumi melanjutkan kegiatannya.
"Nih!" Jonah menyodorkan kapas ke pada Bumi. Cowok itu lantas membuka penutup betadine, ia menuang sikit betadine ke kapas lalu mengolesnya di tangan Bulan yang luka. "Harusnya di cuci dulu nih pakai dettol."
Jonah terkekeh. "Sorry, lupa di bawa."
"b**o!" cibir Jack yang di hadiahi pelototan tajam oleh Jonah.
"Tahan dikit ya, Jaenab," ujar Bumi lembut. Ia benar-benar tak tahan dengan luka di badan Bulan. Mungkin tidak separah luka Jack. Tapi kesannya begitu menusuk ke hati Bumi.
"Sans aja, gue kan cewek kuat," balas Bulan tak peduli. Ia melahap cepat nasi di piringnya. Jonah terkekeh. Bulan memang ajaib.
"Gitu dong, kalau di bully orang harus tetap strong. Lo balas tak tadi si gajah itu?" Bumi menyampaikan rambut nakal Bulan ke telinganya. Virka menyodorkan karet rambut pada Bumi. Cowok itu buru-buru menguncir kuda rambut Bulan.
"Gue balas lah," balas Bulan semangat. Sepertinya tenaganya sudah terisi kembali. "Gue kan pendek dari pada dia, jadi gue tarik aja kaki dia kuat-kuat. Jatuh deh itu sumo. Sampai bunyi gedebuk lagi," cerita Bulan senang. Bumi mengelus kepala cewek itu lembut.
"Gitu dong. Kalau di ganggu, balas aja! Badan besar gak semestinya menjadi pemenang."
Bulan mengangguk. "Tumben lo, cerdas!"
"Yee, ngehina. Dari dulu kan gue emang cerdas." Bumi menyerahkan betadine dan kapasnya pada Erela yang duduk di samping kanan Bulan. Dengan lembut Erela mengoles betadine ke luka di sepanjang tangan Bulan.
"Makasih, Er," ujar Bulan disela suapannya. Erela tersenyum tipis. "Sans aja kali."
"Itu yang di lutut gimana?" tanya Virka melirik luka di lutut Bulan.
"Nanti siap dia makan gue olesin," balas Bumi cepat. "Udah, lo makan aja dulu. Mereka biar gue yang urus." Bumi mengecup puncak kepala Bulan sayang. Ia benar-benar lupa diri akan keberadaan Rose. Toh Rose palingan akan menganggap mereka kakak beradik kok.