Sepuluh

2444 Kata
Semakin banyak yang digadaikan untuk seseorang, semakin jelas hati ada apa-apa yang kurang. Sayang kita belum sadar itu adalah intinya. ~~ "Mama!" teriakan disertai derapan langkah cepat di tangga membuat Vienna menoleh. "Kamu kenapa sih, Bum?" tanya sang mama bingung. Bumi yang ngos-ngosan pun tercengir. "Ma, besok datang ke sekolah ya?" Bumi mendudukan badanya di sofa berwarna peach. Dahi Vienna mengerenyit. "Kamu buat masalah lagi?" Bumi menggeleng. "Bukan, Ma. Aku kan udah jadi anak baik," kekehnya yang mendapat jitakan kecil dari Shane, ayahnya Bumi. "Baik lah sangat kata kamu." Shane duduk di samping istrinya yang cantik. "Palingan juga kamu buat masalah kan?" tebak sang ayah yang membuat Bumi mengerucutkan bibirnya. "Papa suka su'uzan deh sama anak sendiri. Aku mau minta tolong nih." Dahi Shane berkerut. "Tumben." Bumi tercengir. "Masalah kali ini besar, Pa. " "Apaan masalahnya?" tanya Vienna penasaran. "Bukan soal taruhan kan?" Bumi menggeleng. "Bukan, mama. Ini soal pembullyan di sekolah." Shane terkikik. "Kamu di bully?" Vienna memicingkan matanya. Menatap intens postur tubuh anaknya yang bagus seperti model. "Masa sih kamu di bully, lah badan kamu kan besar begini." Bumi menghela nafas pelan. "Makanya kalau lagi cerita jangan di potong-potong dong. Yang di bully bukan aku, tapi Bulan." "Cewek kamu?" ledek Shane yang lantas membuat Bumi senyam-senyum gak jelas. "Bukan, Pa," sanggah Bumi cepat. "Tapi sahabat aku." Vienna terkekeh. Tidak biasanya Bumi bercerita soal cewek. Bahkan selama ini Vienna hampir takut kalau putra semata wayangnya itu seorang Gay. Amit-amit dah, batin Vienna cepat. "Yakin nih cuma sahabat?" Shane merangkul bahu istrinya. "Palingan friendzone, Ma. Kan lagi ngetren tuh di kalangan bocah seusia dia," kata Shane menambahi. "Aku serius loh, Ma." Bumi mengerucutkan bibirnya. Vienna dan Shane terkekeh di buatnya. "Bulan di bully sama dua cewek yang ngakunya sebagai adek dan tunangan aku. Lah kapan aku tunangan, adek pun gak punya." "Lah, ini mah masalah seriu, Bum," balas Vienna cepat. "Ngaku-ngaku kayak gitu, nama kamu juga yang akhirnya tercemar kan?ni gak bisa di biarin, Pa." Vienna melirik ke arah suaminya. Shane mengangguk. "Ini masalah kayaknya emang serius, Bum. Papa juga gak mau ya nama kamu tercemar gara-gara kelakuan orang lain." "Siapa dua cewek itu hah?" Bumi lega bukan main. Tak sabar untuk men-DO tiga bocah pembully Bulan. "Lala sama Kiara, Pa. Dua-duanya anak kelas 12. Dari dulu SMP mereka udah stress. Papa bisa DO mereka kan?" Shane menghela nafas kasar di buatnya. "Bisa dong, Papa kan donatur terbesarnya. Please ya, Pa. Mereka udah kejam banget loh sama si Jaenab maksudnya Bulan. Lagian kasus pembullyan begini kan memang harus dimusnahkan, Pa." Mohon Bumi dengan puppy eyes-nya. Pasalnya meskipun hampir seluruh sekolah punya Shane, Bumi tetap tidak boleh seenaknya berkuasa. Itu sudah kesepakatannya bersama sang ayah. Shane tidak ingin Bumi tumbuh manja dari perlindungannya terus. Dia ingin Bumi mandiri dengan kakinya sendiri. "Janji deh, Pa. Gak buat masalah lagi." Vienna mengernyitkan dahinya. Bumi banyak berubah. Sejak kapan anak itu mau menggadaikan sesuatu hanya buat melindungi seorang cewek. Ah, Vienna jadi kepo dengan cewek yang dipuja putranya itu. "Apa lagi yang bisa kamu gadiakan heh?" tantang Vienna lagi. Bumi memutar kepalanya sebentar. Kalau kartu kredit di gadaikan, bisa-bisa dia tidak bisa mentraktir Bulan lagi. "Janji, aku bakalan cuci baju sendiri. Gak pakai suruh bi Kia lagi deh." Shane menaikkan alisnya. "Lagi?" Bumi kembali berpikir lagi. "Aku bakalan bersihin kamar sendiri." "Itu mah hal kecil" cibir Vienna memainkan kukunya yang dicat peach. "Lagi?" "Hmmmm" Bumi menerawang ke langit-langit rumah. Apa lagi yang bisa dia lakukan untuk membujuk papanya. "Lipat baju sendiri, setrika sendiri, nah ini yang paling berat. Papa boleh ambil semua mobil aku, kecuali yang buat balap sama toyota itu."  Ya, Bumi memang memiliki banyak mobil dari anak biasanya. Dia memiliki kurang lebih 7 mobil sport yang pastinya berharga ratusan juta. Sekarang demi Bulan dia menggadaikan semuanya. How crazy he is? Baik Vienna dan Shane terkejut dibuatnya. "Spesial banget ceweknya," bisik Shane pada istrinya. Vienna mengangguk. "Mama, curiga kalau ceweknya pakai pelet deh," balas Vienna berbisik di telinga Shane. "Jadi?" tanya Bumi yang lantas mengalihkan perhatian keduanya. "Mama mau DO dua bocah itu kan? Aku risih banget loh sama mereka." "Bumi, kamu gak main-mainkan soal mobil itu?" tanya Shane serius. Bumi menggeleng. "Aku serius, Pa. Lagian dua mobil juga udah cukup." "Tumben cerdas," cibir Vienna. "Mama jadi penasaran, Bulan-Bulan itu udah melet kamu ya?" Hening Bumi menghela nafas pelan. "Ya udah deh, aku urus masalah ini sendiri aja." Cowok ganteng dengan postur tubuh ideal itu berdiri. Ia menggulung lengan jaketnya hingga ke siku. "Aku mau main dulu, Pa. Kemungkinan gak pulang," setelahnya Bumi melangkah pergi. Vienna menaikkan alisnya. "Itu anak ngambek heh?" "Lah kamu sih, makanya kalau ngomong itu hati-hati," ketus Shane. "Ngambek kan dia. Aku gak ikut campur loh." Pria paruh baya dengan garis ketampanan yang belum pudar itu menaiki anak tangga. Vienna melirik suaminya bingung. "Kamu ngambek juga?" Shane mengedikan bahunya acuh. "Maybe" "Jadi gimana?" tanya Jack seraya menggapai s**u ultramilk di  rak Supermarket. Bumi menghela nafas pelan, ikut-ikutan mengambil ultramilk di rak yang sama. "Ya gak gimana-gimana." "Gue bingung," lanjutnya lagi. Pasha yang duduk di dalam troli meliriknya. "Bingung kenapa pulak?" Tangan Bumi terulur mengambil satu ultramilk lagi. "Bingung aja sama perasaan gue." Dahi Jack berkerut-kerut. "Lah, emangnya perasaan lo kenapa?" Bumi mengedikan bahunya acuh. Membuat Pasha geram. Cowok itu sebenarnya mau cerita atau tidak sih. Buang-buang waktu aja. "Minggir lo," usir Bumi pada Pasha. Cowok manis dan cinta kerapian itu lantas bangkit, membiarkan Bumi dan Jack memasukkan ultramilk ke dalam troli. Bumi mendorongnya hingga ke rak snack. "Jadi kita ke rumah Bulan nih?" tanya Jack memancing muka kusut Bumi untuk tersenyum. No, ternyata cowok itu masih kusut. Sama seperti tadi kedatanganya, tidak di setrika. "Jadi lah," balas Bumi cepat dan datar. "Gue lagi gabut nih." Tangan Bumi dengan asal memasukkan segela macam snack dan juga biskuit ke dalam troli.  Sudah beberapa hari ini, ia menghabiskan banyak uang hanya untuk menjajani Bulan. Bukan masalah besar sih. Hanya saja Bumi semakin merasa Bulan itu bermakna buat hidupnya. Setiap hari mendengar omelan cewek itu ternyata cukup ampuh membuatnya merasa lebih hidup. Itu jelas bukan hal yang buruk. Hanya saja Bumi bingung dengan perasaan yang ada di dadanya. "Woi jangan melamun lo," kata Pasha menepuk bahu Bumi kencang. Cowok itu mengusap dadanya pelan. "Kaget gue, b*****t," geramnya lalu mendorong trolinya menuju kasir. Pasha tergelak. "Makanya jangan melamun lo, Bum. Kesambet setan baru tahu." Bumi mendengus. "Ngapain takut? Palingan juga setannya kayak lo." "Enak aja," balas Pasha tak terima. "Yang ada setannya mirip Jack kali. Sama-sama putih coy." Pletak Jack menjitak kepala Pasha pelan. "Setan itu merah, b**o. Gak pernah lihat literatur lo?" "Heh kulit mayat, setan itu putih. Kan mereka makhluk imateril, kalau warna merah ya kelihatan lah," ujar Pasha tak setuju. "Heh kutil ular, setan itu merah. Bukan putih." kukuh Jack. Pasha menjitak kepala cowok itu balik. "Dari mana logikanya heh?" Jack berkacak pinggang." Logikanya, setan itu dari apa?" "Api," balas Pasha cepat. "Pertanyaan kecil," lanjutnya angkuh. "Api warnanya apa?" Pasha berpikir sebentar. "Merah." "Nah, logikanya setan itu dari api, api itu merah. So, setan warna apa?" Pasha menggaruk tengkuknya. "Merah. Eh tapi gak bisa gituu lah", ujar Pasha tak terima. "Setan itu putih, mereka kan imateril alias gaib. Dimana-mana roh juga warna putih tahu." Bumi menggelengkan kepalanya. Bocah gendeng, pikirnya lalu menghampiri stand kosemetik. "Udah, diam lo pada!" desis Bumi saat melirik Jack yang hendak membalas sanggahan Pasha tadi. "Menurut lo setan itu warna apa?" tanya Pasha mengabaikkan peringatan Bumi. "Kalau lo gak jawab, berarti IQ lo rendah." Bumi memutar bola matanya malas. "Warna merah dan putih," balasnya ketus. Dahi kedua sahabatnya berkerut. "Lah kok gitu?" tanya Jack tak terima. "Entah, pilih satu aja kali. Emang lo pikir setan kayak pelangi apa, warna-warni di langit yang biru," tambah Pasha tak setuju. Geram-geram Bumi menjitak kepala bocah itu. "Gini logikanya," kata Bumi mulai bercerita. "Setan di literatur warna merah. Di dukung sama bahan pembuatannya, fix setan itu merah. Karena dia gaib sejenis roh dan saudara-saudaranya maka setan itu putih. Gak terlihat. Nah berhubung setannya tinggal di Indonesia, maka mau tak mau dia menjunjung warna merah dan putih. Iya kan?" jelas Bumi panjang lebar. Jack dan Pasha cengo di buatnnya.  Mbak yang sedang menjaga stand kosemetik pun ikut cengo. Ganteng-ganteng kok biacarain setan, batin mbak itu terkikik. "Mbak, mau pucelle pink satu," ujar Bumi membuyarkan keheningan. "Wah ternyata lo cowok yang bisa di percaya," puji Jack merangkul bahu Bumi. "Menepati janji, woi!" "Aelah, palingan juga jealouse sama eksitensi si Jonah di mata Bulan," cibir Pasha melirik BB Cream di kotak kaca. Bumi menjitak kepala Pasha kencang. "Jangan asal ngomong lo, setan!" desis Bumi tak terima. Pasha meringis, memegangi kepalanya yang sakit. "Kok asal ngomong itu kan fakta," balas Pasha membela diri. "Fakta kepala lo peyang," cibir Bumi tetap tak terima. Ia tidak jealouse dengan eskistensi Jonah di mata Bulan. Tapi hatinya mengatakan iya. Tapi lagi, logika Bumi tak terima, ia hanya ingin lebih dekat dengan Bulan. Itu saja. Enggak juga sih, Bumi kan emang udah dekat dengan Bulan. Bahkan kalau di pikir-pikir mereka baru saja seminggu bersama. Ajaib! "Dih sok sembunyi dari kenyataan," ejek Pasha kukuh dengan tebakkanya. Bumi mengacuhkan bocah itu. "Ini, mas. Ada lagi?" tanya mbak tadi menyerahkan satu buah pucelle pink ke hadapan Bumi. Manik hazel Bumi melirik liptint di kotak kaca. Ah, dia jadi ingat bibir sehat Bulan itu. "Mbak, liptint pinknya satu ya?" Pasha tergelak. "Lo mau jadi banci, bro?" Bumi menjitak kepala cowok itu lagi. "Gak usaah berisik lo! Gue gantung di ragunan mampus lo!" "Yang nomor berapa, mas?" Bumi jadi bingung. "Nomor berapa yang bagus buat cewek mbak?" ujar Bumi bertanya balik. Mbak itu mengeluarkan semua nomor liptint pink ke hadapan Bumi. "Ini semua emang buat cewek, Mas. Tapi tergantung sama warna bibir dan kulit cewek juga sih." Bumi menyentuh dagunya pelan. Ia berpikir-pikir sekejap. "Semuanya aja deh, mbak." Pletak "Gila lo!" desis Jack menjitak kepala Bumi. Cowok ganteng berumur tujuh belas tahun itu tercengir. "Kalau bisa beli semua kenapa harus satu," balasnya santai. "Bocah gendeng," kata Pasha ikut mencibir. Mata cowok itu tanpa sengaja menangkap skincare dengan model korea. "Mbak, kalau pakai skincare ini emang bisa langusung dapat korean look kah?" Bumi mendengus . "Bilangin gue banci, eh dia sendiri juga ikutan." "Ini bukan skincare, mas. Tapi alat-alat make up," jelas mbak berambut pendek itu yang membuat Bumi tergelak. "Makanya jangan sok tahu lo, kucing air!" "Sibuk aja lo, setan!" balas Pasha tak terima. "Lagian lebih baik bertanya daripada sesat di jalan kan?" "Kita gak lagi jalan, tuyul!" kekeh Bumi mengejek. Pasha memutar bola matanya malas. "Gini loh, Mas. Kalau mau dapat koran look itu kulit kan harus bening. Jadi alangkah baikknya kalau pakai skincare ini dulu, baru pakai make up-nya," ujar Mbak tadi menjelaskan. "Kalau langsung pakai make up sih bisa aja, cuma lebih maksimal kalau pakai skincare juga. Kalau boleh tanya mau beli buat siapa, mas? Kebetulan kita lagi promo loh. Ini asli dari Korea." Pasha melirik Bumi. "Beli tuh, Bum buat cewek lo!" "Siapa?" tanya Bumi bingung. Jack memutar bola matanya malas. "Emang cewek lo ada berapa sih?" Bumi terkekeh. "Cuma satu sih, eh dua deh." "Dasar air di atas daun talas!" cibir Pasha. Dahi Bumi mengerenyit bingung. "Maksudnya?" "Gak tetap pendirian, b**o," balas Jack gondok. "Gituu aja gak tahu, b**o lo!" Bumi tercengir. "Emangnya satu paketnya berapa, mbak?" Bulan kalau punya muka Korea pasti cantik, batin Bumi mulai berkhayal. "Lo mau beli buat siapa?" tanya Pasha penasaran. "Buat cewek gue lah," balas Bumi songong. "Iya gue tahu, buat cewek lo. Tapi cewek yang mana? " "Bulan lah," balas Bumi cepat. "Muka bocah itu kan suka kucel." "Lah cewek lo kan si Rose?" ujar Jack yang membuat Bumi terkejut. Apa yang gue pikirin, batinya kebingungan. "Ck, udah gak bener nih otak lo." Pasha menarik box skincare yang dipromokan oleh mbak itu. "Ini beneran aman gak?" "Aman kok, mas. Udah ada izin dari negara peredarannya. Bahan-bahan pembuatannya juga udah teruji aman dan ampuh." Bumi menarik box skincare dari tangan Pasha. Tanpa izin ia membongkar box itu. "Satu paket ini berapa, mbak?" "Satu paketnya murah kok mas, cuma 2 juta. Kalau beli sekalian sama box make up nya kita kasih harga 3 juta lima ratus aja. Ini lagi promo loh, mas. " "Kalau beli langsung di konternya atau online mungkin lebih mahal lagi," jelas mbak itu dengan suara anggunya. Jack kaget, lalu mengelus dadanya. "Anijir, ini mah seharga jatah jajan gue dua bulan." "Udah, Bum. Beli onlie aja atau langsung ke produsennya, pasti lebih murah," sambar Pasha. "Ini produk kayaknya juga gak terkenal amat." "Ini terkenal loh, mas,"  balas mbak itu cepat. "Tapi saya gak pernah lihat iklannya di tv?" kata Pasha tak terima. "Mbak jangan bohong deh." "Loh saya enggak bohong, mas. Ini produk terkenal di Korea. Harganya tinggi makanya gak diiklanin di tv." Pasha bersidekap d**a. "Lah emang dia pikir yang nonton iklan cuman kaum missqueen ya. Please deh, kalau mau bohong itu di filter dulu." Mungkin lelah. Mungkin juga malas, mbak itu akhirnya memilih diam. Untung mas-nya ganteng, batinnya sabar. "Mbak, ini terjamin aman buat semua kulit gak?" tanya Jack yang sudah terlanjur ikut campur . Rasa keponya juga menguar dong. Mbak berambut pendek sebahu itu tersenyum. "Aman kok, mas. Lihat aja di kemasannya udah terjamin keamanannya" Bumi manggut-manggut. Ie mengeluarkkan isi box tersebut pelan-pelan. "Mbak ini serius skincarenya sebanyak ini?" Mbak Loli tersenyum. Dalam hati ia memaklumi kekolotan Bumi dan kawan-kawannya. Mereka kan kaum adam. Kaum yang terkenal jauh dari skincare dan make up. "Banyak dong, mas. Ini kan buat siang dan malam," tuturnya dengan sabar. "Gak bisa di satuin gitu," sewot Pasha. "Kan ribet kalau di pisah kayak gini. Lagian, sebenarnya ini buat remaja atau tante-tante sih?" Loli mengehal nafas pelan. Ia harus sabar menghadapi bacotan pelanggan. Toh itu emang sudah tugasnya kan. "Ini aman buat remaja kok, mas. Tapi," tangan mbak itu mengambil box pink dengan merek yang sama. "Ini lebih aman lagi buat remaja putri usia, 16-19." "Plin-plan!" cibir Pasha. Bumi tak mengubris, ia membuka isi box pink tersebut. Isinya tetap sama. Hanya saja warnanya berbeda dan mungkin juga kandunganya. "Ini beneran aman buat remaja kan, mbak? Bukanya apa-apa saya takut aja kalau kulit cewek saya itu teriritasi atau semacamnya." "Protect bener," cibir Jack lalu terkekeh. Lagi-lagi Bumi tak mengubris. "Aman kok, mas. Kalau boleh tahu jenis kulit ceweknya  apa ya?" Bumi buru-buru mengeluarkan ponselnya. Ia mengetikkan pesan untuk Bulan segera. "Jenis kulitnya lokal, mbak. Jadi please rekomend yang buatan lokal aja ya?" Jack menjitak kepala Pasha cepat "Yang sopan lo, Hiu! Tadi kan lo yang nanya duluan." "Itu cuma pancingan buat si Bumi," ketusnya lalu melirik produk lainnya. "Mbak itu  yang box biru bagus gak?" "Bagus, mas." "Harganya berapa?" Mbak itu lantas mengecek label harga produk yang ditanya oleh Pasha. "Delapan ratusan, mas." "Gak ada yang lebih murah gitu?" "Ada, mas. Tapi ya kualitasnya mungkin gak sebagus yang tadi." Pasha manggut-manggut. "Oily skin, mbak. Ada jerawatnya juga," ujar Bumi kembali menatap Loli. "Oh, acne prone skin." Loli manggut-manggut. "Kalau gitu yang ungu aja, mas." Ia menyerahkan satu  box ungu kepada Bumi. "Mau sekalian make up nya gak?" "Lah kok ganti warna mulu sih," sewot Pasha. Jack menyikut lengan cowok itu pelan. "Orang bodoh kayak lo mana paham." "Gak usah deh, mbak. Saya mau coba yang ini dulu." Bumi memasukkan box tadi ke dalam troli. "Gila! Itu mahal b**o," kata Pasha sewot. "Buang-buang duit aja." Bumi mengedikan bahunya acuh. Kembali mendorong troli menuju kasir. "Bodo amat! Lagian kalau lo mau punya cewek cantik, biaya lo harus cantik juga, bro."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN