Ayu merasakan dunianya hancur saat itu juga. Sangking sakit rasa yang diciptakan sampai ia tidak merasakan apapun selain kosong. Ia bahkan tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Lalu saat akhirnya sadar apa yang dikatakan adiknya, rasa sakit itu mulai menghujami hatinya tak henti-henti. Jika itu berdarah, mungkin sudah dapat membuat lautannya sendiri. Ayu menggelengkan kepalanya perlahan, bersamaan dengan air matanya yang jatuh membasahi pipinya. Kenapa ibunya pergi meninggalkannya saat ia masih membutuhkannya? Bukannya tadi Siti hanya berpamitan untuk tidur sebentar? Lalu kenapa sekarang ibunya pergi untuk selamanya? “Mbak Ayu dimana? Cepat kesini Mbak hiks—- Pras sendirian.” Perkataan adiknya kemudian membuat Ayu kembali tersadar bahwa saat ini yang paling menderita adalah adiknya ya

