Part 4

1447 Kata
“Kok kamu bisa jatuh, sih, Pras? Untung jatuhnya bagus, cuman kaki yang terkilir,” ujar Mpok Romlah, kebetulan wanita itu yang melihat bagaimana Pras jatuh karena rumahnya tepat dibelakang dapur rumah Ayu. Wanita paruh itu berteriak hingga membuat semua tetangga yang ada di sana keluar, hingga akhirnya Pras dibawa Puskesmas yang tak jauh dari sana. “Ada ranting kayu diatas Mpok, enggak sengaja terinjak terus oleng,” cerita Pras yang saat ini berbaring di atas kasus Puskesmas, ruangan sempit itu kini penuh dengan tetangga yang mengantarkan Pras ke Puskesmas. “Ngapain toh kamu naik ke atas? Bukannya lagi sakit?” tanya Mak Jupleh. “Beneren atap yang bocor, Mak,” jawab Ayu yang duduk di samping adiknya. “Bukannya ada suami kamu, Yu? Kok enggak minta tolong sama dia aja,” sahut Tante Marlen yang memang berada disana.  Di daerah rumah Ayu, hanya suami Marlen—Om Yusuf yang memiliki mobil sehingga saat tadi hendak membawa Pras, Ayu meminta tolong pada mereka. Untungnya, Marlen tanpa mengatakan apapun langsung membangunkan suaminya sehingga bisa segera mengantarkan Pras. “Lah iya benar juga si Marlen. Suami kamu mana, Yu? Enggak tidurkan?” tanya Mpok Romlah. “Masa suami kamu enggak mau nolong, adik kamu juga lagi sakit ini?” “Bima lagi enggak enak badan, Mpok,” jawab Siti ketika melihat anaknya bingung ingin menjawab apa. “Lho Pras juga lagi sakit, Buk Siti.” “Kan Pras sendiri yang mau, Pras masih kuat kok. Masa minta tolong sama Mang Somat?” tanya Pras sambil tergelak. “Eh, bocah!” seru Mpok Romlah yang memelotokan matanya lucu. “Didatengin sama Mang Somat dari kubur, kencing di dalam celana nanti Pras!”  “Ibu-ibu ini udah selesai semua kan? Suami saya mau berangkat kerja, kalo semuanya pada mau naik angkot, saya deluan aja sama suami,” potong Marlen membuat yang disana terdiam lalu langsung bersiap-siap untuk pulang. “Sini biar Mbak pegangin,” kata Ayu ketika Pras hendak berdiri namun langsung ditolak remaja laki-laki lima belas tahun itu. “Enggak usah, Mbak. Biar Pras sendiri aja, kan ada tongkat.” “Tumben banget kamu enggak nyusahin Mbak?” tanya Ayu sambil memperhatikan adiknya bangkit dari kasur. “Pras enggak mau buat capek Mbak, kasian nanti ponakan Pras yang ada di perut Mbak Ayu. Gimana Mbak udah jadi belum dedek gemasnya? Bang Bima jago engg—-AWHH! SAKIT IBUKK!” ringis Pras yang telinganya ditarik oleh Siti. “Masih bocah kok omongannya udah kayak dewasa Pras!” tegur Siti membuat Pras meringgis sambil mengusap-usap telinganya yang memerah.  “Rasain kamu, Pras,” ledek Ayu. Ayu, Pras, Siti bersama tetangganya akhirnya pulang dengan mobil yang dikemudikan oleh Om Yusuf. Untung jarak dari rumah mereka menuju Puskesmas tak terlalu jauh. “Yu, ini kasih nanti sama Tante Marlen,” bisik Siti sambil menyelipkan selembar uang lima puluh ribu ke tangan Ayu ketika mereka masih di dalam perjalanan. “Iya, Buk, nanti Ayu kasih,” angguk wanita muda itu yang paham sekali dengan Ibuknya, mereka sudah sangat berterima kasih dengan Marlen dan Yusuf yang mau mengantarkan mereka tapi setidaknya mereka membiarkan uang sebagai ganti bensin. Mereka akhirnya sampai di depan gang rumah mereka, Mpok Romlah dan Mak Juple keluar lebih dulu baru disusul Siti yang sekalian membantu Pras untuk keluar dan jalan. Ayu yang keluar terakhir. Baru saja hendak memberikan uang itu pada Marlen, sang wanita ternyata sudah lebih dulu keluar dari mobil bahkan jalan paling depan. Ayu akhirnya memutuskan memberikan uang ini pada Om Yusuf walau sedikit ragu. “Om Yusuf,” panggilnya membuat pria dipertengahan empat puluh itu berhenti. “Iya, Yu? Ada apa?” tanya Om Yusuf yang lalu menatap ke arah wajah Ayu. Ayu langsung sedikit menundukan pandanganya lalu menyalipkan uang itu ke tangan Om Yusuf membuat pria itu terkejut. “Eh, ini apa, Yu?” tanya Om Yusuf heran. “Ini, Om. Ayu berterima kasih sekali Om Yusuf dan Tante Malren tadi udah antar Pras ke Puskesmas, itu anggep aja biaya ganti bensin.” “Om enggak bisa terima,” kata Om Yusuf lembut lalu menarik tangan Ayu dan memberikan uangnya kembali. Dan, itu membuat Ayu tersentak cukup kuat. Buru-buru Ayu langsung menarik tangannya. “Tapi—tapi Om...” “Kita kan bertetangga, Yu. Saling membantu jika ada yang susah, siapa tahu nanti Om yang tertimpa musibah? Apalagi Om jarang di rumah, kalo ada apa-apa sama Tante Marlen mungkin tetanggalah yang menolong,” jawab bijak Om Yusuf ketika mereka berjalan menuju rumah. Ayu mengangguk kecil, apa yang dikatakan oleh Om Yusuf benar. Kadang yang akan menolong kita ketika tertimpa musibah bukanlah saudara, bukan teman atau sahabat, kadang mereka yang tinggal di sebelah kita. Tetangga. Jujur, Ayu sangat suka sekali berdekatan dengan Om Yusuf, rasanya seperti menemukan sosok Bapaknya yang telah tiada di diri Om Yusuf yang lembut dan baik.  Akan tetapi, Ayu kadang sidikit takut dengan tatapan lekat Om Yusuf serta tangannya yang seperti tak segan menyentuh tangan Ayu. “Kemarin waktu kamu nikah, yang nikahin siapa, Yu?” tanya Om Yusuf. “Adik Bapak, Om,” jawab Ayu membuat Om Yusuf terdiam cukup lama lalu mengangguk. Mereka kemudian berpisah, Ayu kembali mengucapkan terima pada Om Yusuf sebelum masuk ke dalam rumahnya. Wanita itu langsung menuju kamar adiknya untuk melihat kondisi Pras. Untunglah adiknya itu tidak mengalami luka yang parah, bagian tangannya hanya lecet-lecet lalu kaki kirinya terkelir, rencananya akan memanggil tukang urut untuk mengobati adiknya nanti malam. “Kamu enggak lihatin Bima, Yu?” tanya Siti ketika menumpuk bantal lebih tinggi agar bisa bersandar. Pertanyaan dari sang Ibu tentu saja membuat Ayu terkejut, ia melupakan statusnya yang kini sebagai seorang isteri. Sangking paniknya dengan keadaan adiknya, ia sampai mengabaikan keberadaan suaminya? “Coba kamu lihatin, Yu? Bima tadi ada di depan waktu Ibuk masuk ke kamar sama Pras, takutnya nanti ada omongan yng bikin Bima sakit hati.” Ayu mengangguk, ia tahu betul bagaimana nyelekitnya omongan para tetangganya jika sudah niat. Buru-buru ia berjalan menuju kamarnya untuk melihat sang suami. Langkahnya langsung terhenti ketika baru saja masuk dan langsung di sambut dengan wajah masam sang suami. “Aku mau pulang sekarang, Yu!” seru Bima dangan wajah tak mau dibantah. “Kamu kenapa, Bim?” tanya Ayu mencoba mencari tahu dari sang suami, ia duduk tepat di samping suaminya. “Aku enggak suka sama mulut tetangga kamu yang enggak kayak orang berpendidikan itu!” ketus Bima dengan wajah kesal. Pria itu lalu berdecih. “Ah, iya... Aku baru ingat kalo orang-orang disini enggak yang sekolah sampai tamat! Lihat aja kelakuannya!” “Mereka bilang aku yang bikin adik kamu jatuh, padahal kan adik kamu sendiri yang jatuh karena kelalainya!” Bohong jika Ayu tak merasa sakit mendengar perkataan dari Bima. Baginya, orang-orang yang tinggal tak jauh dari rumahnya bukan hanya sekedar tetangga. Mereka sudah seperti keluarga Ayu yang tak memiliki ikatan darah. Ayu ingat sekali, bagaimana kebingungannya ia dan Ibunya ketika sang Bapak meninggal, saudara sanak mereka tak ada yang tinggal satu kota. Tetanga-tetangganya lah yang turut membantu, mengerjakan semuanya. “Ayu sama Buk Siti enggak usah pusingin sama urusan pemakamannya, pokoknya kalian enggak usah kerjain apapun. Fokus saja berkabung!” Selain menangis karena kehilangan sosok Ayah, Ayu juga menangis karena karena masih sangat tertolong, para tetanggannya lah yang mengerjakan semuanya. “Pokoknya aku mau pergi dari sini, kalo kamu mau tetap disini, seterah!” seru Bima lalu mulai mengemas barangnya. Ayu yang mendengar itu menghembuskan nafasnya pelan, berusaha untuk tenang. Padahal ia sangat ingin tinggal lebih lama disini karena kondisi adiknya yang sedang sakit, Ibunya sudah harus mulai bekerja besok di kantin sekolah. Lalu siapa yang akan menjaga adiknya? Wanita itu ingin sekali meminta Bima untuk sedikit menekan egonya dan mengerti dengan keadaan yang sekarang tengah terjadi.  Lagi pula kenapa Bima tak sadar bahwa apa yang dikatakan para tetangganya tak sepenuhnya salah? Tok! Tok! “Ayu, Bima. Ibuk masuk ya,” kata Siti yang mengetuk pintu tadi. “Iya, Bu....” Siti lalu masuk ke dalam kamar anaknya. “Yu, ini ibu udah bungkusin sayur untuk di rumah baru nanti, kalian pasti enggak bisa langsung masak kan?” “Tapi, Bu, kalo Ayu pergi, Pras nanti siapa yang jagain? Ibuk bukannya kerja?” “Ibu libur dulu, udah dapat izin kok.” “Mau ibu bungkusin nasi juga enggak?” tanya Siti lahi membuat Ayu rasanya ingin sekali memeluk sang ibu. Wanita paruh baya itu seperti selalu ada ketika Ayu merasakan kebingungan. “Iya, Bu, biar nanti Ayu yang ambil sendiri.” “Ibu ke kamar Pras dulu, kalo nanti mau pamit panggil aja.” Siti lalu keluar dari kamar anaknya. Ayu menarik nafasnya panjang, jika Bima tak mau mengalah, maka biarkan dirinya. Wanita itu lalu berjalan mendekati Bima. “Iya, kita pulang ya, Bim.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN