Part 5

1769 Kata
“Thanks, Bro!” Bima melambaikan tangannya pada sang teman yang baru saja mengantarnya dan Ayu dari rumah mertuanya menuju rumah baru mereka. Akhirnya, pria itu tidak harus menunggu sampai tiga hari untuk tinggal disana. Entah bagaimana hidup Bima jika harus berada di rumah Ayu lebih lama?! Sudah rumahnya kecil, di kamar tidak ada AC, di samping rumah kadang ada sapi, apalagi mulut tetatanga yang tak pernah disekolahkan. “Mobil teman kamu bau banget,” jawab Ayu yang sekarang tengah memijiti batang hidungnya pusing. Bima yang mendengar itu terkekeh, mobil temannya itu memang bau alkohol jadi wajar Ayu merasa tak nyaman. Teman-temannya itu pasti baru saja party semalaman bahkan nampaknya kurang hingga masih berpesta di dalam mobil. “Temen perempuan kamu bajunya kayak gitu semua, Bim?” tanya Ayu, di mobil itu tadi ada satu pria dan dua wanita—yang memakai pakaian terbuka. “Enggak kok, ada yang malah enggak pake baju,” jawab Bima lalu tergelak bermaksud bercanda. Ayu langsung memasang wajah kentara kesalnya dan itu membuat Bima kembali tergelak. “Kamu cemburu ya?” tanya laki-laki itu menjawil dagu isterinya. “Mau mereka pake kolor sama beha aja atau naked sekali pun, aku tetap cintanya sama kamu, Ayu.” Bak seorang gadis remaja pada umumnya yang sudah jatuh cinta, Ayu tersenyum manis. Hatinya menjadi lega ketika mendengar perkataan dengan suami dan semoga saja apa yang dikatakan oleh Bima tak hanya sebatas ucapan. “Bimaaaa!” pekik Ayu terkejut ketika sang suami itu menutup kedua matanya tiba-tiba. “Aku mau kasih kejutan untuk kamu, nanti aku buka pas kita sampai di rumah kita!” seru Bima tersenyum lebar, ini yang ia impikan sebenarnya. Tinggal jauh dari Papa atau Mamanya dam membangun keluarga sendiri. “Masih jauh?” tanya Ayu yang tak bisa menutupi kebahagiannya. “Dikit lagi kok, enggak jauh dari gerbang perumahan tadi,” kata Bima, ia tadi memang sengaja meminta sahabatnya untuk menurunkan di gerbang perumahan, karena ingin memberikan kejutan untuk isteri tercinta. “Kita udah sampai!” kata Bima memposisikan Ayu menghadap rumah baru mereka. “Kamu hitung sampai tiga, nanti aku buka, oke?” Ayu mengangguk masih dengan senyuman lebar. “1...2...3!” “Selamat datang di istana kita, sayang!” seru Bima membuat Ayu yang sekarang telah membuka kelopak matanya terdiam, melihat sebuah rumah yang membuatnya tak bisa berkata-kata. “Di istana kita ini, aku adalah Rajanya dan aku berjanji bakal buat kamu menjadi Ratunya,” ucap Bima membuat Ayu merasakan hatinya menghangat. “Tapi, rumahnya agak kecil, sih. Cuman ada dua kamar. Papa aku emang pelit banget, padahkan aku pengen rumah yang 2M paling enggak,” jelas Bima yang merasa kesal, padahal adik dari isteri Papanya yang lain saja sampai dibelikan apartemen seharga 2 Miliar. “Ini bagus banget, Bima!” kagum Ayu dengan mata yang berbinar, ini sudah seperti rumah impian bagi Ayu. Dari awal masuk gerbang Perumahannya saja, wanita itu sudah sangat kagum karena semua rumah yang ada disini tertata rapi. Tidak ada rumah yang berdempetan semuanya berjarak cukup jauh. Jalan keluar masuk yang sudah teraspal dengan baik dan tadi saat di depan, Ayu melihat sebuah taman yang lengkap dengan permainan anak-anak. Ah, andai, Pras dan Ibunya bisa merasakan kebahagian yang ia rasakan saat ini. Mungkin, kebahagian Ayu sekarang akan bertambah berkali-kali lipat. Rasanya memang berat—sangat berat bagi wanita itu meninggalkan rumah yang  telah membesarkannya, berpisah dari ibu dan sang adik yang baru berpisah beberapa menit sudah membuatnya rindu. Tapi, semuanya sekarang telah berubah.  Ayu bukan lagi seorang anak tapi juga seorang isteri sekarang. Peran dan tanggung jawabnya tentu berbeda dan lebih berat. Ayu sekarang memiliki sosok suami yang telah sah di mata hukum dan negara. Sosok pemimpin yang harus ia turuti dan menjadi pedomannya. “Kamu senang?” tanya Bima menatap wajah isternya yang berbinar. Pria muda itu juga ikut tersenyum. “Aku senang banget, Bim!” angguk Ayu bersemangat.  “Taman ini nanti, kamu bisa pake untuk nanam bunga,” kata Bima menunjuk halaman rumah yang cukup luas. “Bisa juga tempat main anak-anak kita nanti,” tambahnya lagi. “Mau masuk ke dalam?” ajak Bima.  “Mau!” angguk Ayu. Tangan wanita itu langsung digenggam suaminya menuju ke dalam rumah. Ayu tak henti-hentinya berdecak kagum ketika melihat masuk ke dalam, rumah ini benar-benar seperti rumah yang selama ini ia impikan. Ada ruang tamu yang cukup, ruang keluarga untuk tempat mereka berkumpul nanti, dua kamar yang masing-masing sudah memiliki kamar mandi di dalam, dapur yang cukup lebar dan satu kamar mandi di luar. “Papa udah sekaligus ngisi barang-barang di rumah ini, ini kamar kita nanti,” kata Bima membuka kamar yang di dalamnya sudah ada ranjang ukuran Queen size, lemari dan satu meja rias. Lalu pria itu beralih ke kamar yang ada di sebelahnya. “Ini kamar untuk anak kita nanti,” ucap Bima membuat pipi Ayu langsung bersemu merah. “Kamu mau langsung istirahat? Aku ngantuk banget. Di rumah kamu, aku enggak bisa tidur nyenyak, Yu. Birisik sama panas,” ujar Bima sambil menguap, pria itu lalu melepas jaket dan celana jeansnya sembarang dan berjalan ke kasur hanya mengenakan kaos dan celana pendek. “Ya ampun, Bima...” gemes Ayu sambil geleng-geleng dengan tingkah suaminya yang tidak bisa rapi. Untung saja, Ayu sudah tahu kebiasaan malas rapi suaminya itu sejak berpacaran, hingga ia sudah siap dengan sikap suaminya itu. Buru-buru ia mengambil jaket dan celana jeans lalu menggantungnya di samping lemari. “Lho udah tidur?” tanya Ayu kaget ketika melihat sang suami sudah memejamkan mata bahkan suara dengkurnya terdengar. Ayu perlahan melangkahkan kakinya menuju pinggiran kasur untuk mengecek apakah suaminya benar-benar sudah tidur? Wanita itu mendekatkan wajahnya untuk ke arah wajah suaminya lalu ketika tahu bahwa Bima telah jatuh tertidur dari nafasnya yang teratur, Ayu mendekatan bibirnya ke kening sang suami.  “Baaaa!” seru Bima yang ternyata pura-pura tidur, pria itu menbuatnya isterinya kaget dan hendak menjauhkan tubuhnya dari Bima. “Bimaaaa!” kesal Ayu yng merasa kaget. Namun, Pria muda itu yang tahu bahwa isterinya akan kabar segera menahan pinggang Ayu hinggnya tertahan di pinggir kasur. “Bimaaaa!” rengek Ayu yang hendak melepaskan diri dari tangkapan sang suami. “Eits, enggak bisa kabur!” goda Bima sambil memasang senyum jahil.  Pria itu lalu menarik tubuh sang isteri hingga jatuh tepat di atas tubuhnya membuat sang isteri kembali terpekik. “Ih, Bimaaaaa!” “Hahahaa....” gelak Bima yang sekarang manahan pinggang Ayu untuk tetap berada diatas tubuhnya.  “Kamu enggak boleh kemana-mana, pokoknya siang ini kamu harus temenin aku tidur!” ucap Bima kuekeh, pria itu memejamkan matanya dan menghirup dalam-dalam aroma tubuh sang isteri yang membuat bagian bawahnya terasa akan bangun. “Tapi aku mau beres-beres rumah,” protes Ayu membuat Bima kembali membuka kelopak matanya. Wanita itu menatap isterinya yang sekarang sedikit mengangkat kepalanya untuk melihat Bima. “Tadi dapurnya bedebu, terus kaca-kacanya harus di lap lagi, lantainya juga aku pe—- CHUP!” Bima membungkam bibir isterinya dengan bibirnya, kesal karen sang isteri lebih memilih membersihkan rumah daripada tidur bersamanya. “Bimaaa..” rengek Ayu yang sekarang pipinya bersemu merah. “Biar kamu diem,” kata Bima tersenyum jahil. Laki-laki itu mengusap pipi isterinya yang terasa sangat mulus, bahkan membuat Bima heran padahal setahunya Ayu jarang memakai skincare seperti mantan-mantannya terdahulu. “Ayuu... tidur,” kata Bima ketika isterinya terus bergerak berusaha melepaskan dari pelukannya. Bima tiba-tiba tersenyum jahil, ia tahu bagaimana cara membuat Ayu diam. “Kenapa kamu senyum kayak gitu?” tanya  Ayu ketika melirik wajah suaminya yang nampak mecurigakan. “Kalo tadi aku berhasil bikin bibir kamu diam karena ciuman, sekarang aku cara biar tubuh kamu diam,” ucap Bima mencurigakan membuat Ayu berpikir apa yang akan dilakukan oleh suaminya itu, baru saja wanita itu sadar apa yang dimaksud suaminya, Bima sudah lebih dulu menggulingkan Ayu ke sampingnya. Sekarang berbalik, jika tadi Ayu yang di atas tapi sekarang Bima yang di atas, hal yang sama hanya Ayu yang kembali berada di kukungan Bima. “Bim, kamu mau apa?” tanya Ayu sedikit panik walau sudah melakukannya saat malam pertama mereka. “Mau makan kamu, aurgggh!” ujar Bima lalu menerkam isterinya. Lelaki itu langsung membungkam bibir isterinya dengan bibirnya, membuat Ayu yang awalnya takut perlahan mulai rileks. Hanya sebentar, Bima langsung membuka baju kaosnya hingga tersisa celana pendeknya. Tangan pria itu seperti nampak tak sabaran untuk membuka kancing kemaja sang isteri, karena terlalu lama, Bima akhirnya mengabaikannya dan hanya puas bisa menciumi bagian leher isterinya. Ayu ingin tertawa rasanya, Bima seperti anak bayi yang tak sabaran untuk menyusu pada isterinya. “Eumhhh... Bim, pelan-pelan.” Ayu agak kurang bisa mengikuti tempo sang suami yang menggebu-gebu.  “Aku udah enggak tahan, Yu..” erang Bima yang sekarang wajahnya telah memerah. Pria itu langsung menarik rok sang isteri hingga terlepas lalu membuangnya sembarang. Bima mengelus sensual dibagian depan celana dalam isterinya membuat Ayu terlihat resah. Lalu tak lama kini bagian bawah tubuh Ayu tak tertutupi apapun. “Bimm... tunggu!” ucap Ayu ketika ketakutan ketika Bima tiba-tiba sudah telanjang bulat dan sudah siap memasukan seluruh kejantanannya ke tubuh Ayu. Tapi, sayangnya, nafsu sudah menghilangkan akal sehat Bima hingga tak sadar ia telah membuat isterinya kesakitan. “AKHH!” pekik Ayu. Lagi-lagi, Bima seolah menjadi tuli, pria itu hanya mengejar nafsunya sendiri. Pria itu bergerak maju-mundur dengan sengat tak menghiraukan ekspresi Ayu yang menahan sakit. Hingga ketika sudah hampir mancapai puncak, Bima akhirnya mengeluarkan semua muatannya ke dalam tubuh sang isteri. “Hahhhh...” desah Bima yang nafasnya sudah tak beraturan. Pria muda itu mencium kilat bibir sang isteri lalu jatuh di sampingnya. “Bangunin aku lima ya, Yu. Mau ambil motor ke rumah.” Lalu setelah itu, Bima memejamkan matanya dan tak lama terdengar suara dengkuran keras. “Bim... Bimaaa!” panggil Ayu namun laki-laki itu tak menjawab, kali ini Bima tertidur sungguhan meninggalkan Ayu yang bahkan belum mencapai puncaknya. Ayu perlahan bangkit dari tidurnya, walau hanya ada dirinya di dalam kamar dan sang suami. Wanita itu memakai selimut untuk mengambil roknya yang dibuang ke bawah oleh Bima. Bagian bawah tubuhnya terasa sakit, bahkan lebih sakit dari yang pertama karena saat malam setelah pernikahan mereka, Bima memperlakukannya denga lembut serta mereka bersama meraih puncak. Namun, hal itu bukan masalah bagi Ayu. Setelah memakai pakaian lengkap, hanya rok sebenarnya karena Bima tak jadi membuka kemejanya. Wanita itu lalu memakai sang suami selimut lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Rencananya wanita itu ingin membersihkan rumah ini, walau bagian bawahnya terasa sakit namun karena ingin membersihkan rumahnya sendiri, Ayu merasa kembali bersemangat. Lagi pula ia harus menyiapkan makan malamnya untuk Bima dan dirinya nanti kan? Makan malam mereka berdua setelah menjadi pasangan suami isteri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN