Sejak satu jam yang lalu, Ayu tak berhenti mondar-mandir di ruang tamu menunggu kepulangan sang suami yang hingga jarum jam menujukan pukul sepuluh malam belum juga berada di rumah. Terhitung sudah lima jam lebih suaminya itu berada di luar dan tak bisa dikabari.
Katanya, Bima ingin mengambil motornya yang tertinggal di rumah orang tuanya, pria itu dijemput oleh temannya yang pagi tadi mengantar mereka ke rumah.
Ayu pikir sang suami akan pulang setelah magrib atau paling lambat sesudah waktu isya. Tapi, pria itu juga belum pulang dan membuatnya cemas karena pria itu mematikan ponselnya. Ingin menelpon teman-temannya, Ayu tidak punya kontak telepon mereka.
Drttt.. drttt!
Ayu langsung bergerak menuju meja ruang tamu saat melihat ponselnya yang berad di atas sana berbunyi. Bukan Bima tapi adiknya, Pras.
“Halo, Mbakkkkk Ayuuuu!” sapa Pras yang bersemangat seperti biasanya.
“Iya, Pras, kenapa belum tidur?” tanya Ayu heran.
“Lho kok Mbak Ayu angkat telepon? Enggak sibuk bikin ponakan gemas untuk Pra—AWHH IBUK!”
Ayu yang mendengar jeritan kesakitan sang adik tergelak, sedikit melupakan kekhawatirannya tentang sang suami yang tak tahu berada dimana sekarang.
“Ngomong aneh-aneh lagi, rasain!” ledek Ayu terkikik.
“Halo, Ayu? Ini Ibuk,” sapa Siti disebrang sana.
“Bukk.... Jangan lama-lama telponnya, Pras mau main game!” Ayu dapat mendengar suara adiknya dari sebrang sana membuatnya geleng-gelengen. Ibunya memang tidak memiliki ponsel, pernah Ayu tawari untuk membelikan hape jadul yang mudah dimengerti namun ditolak oleh Siti.
“Iya, sabar, Pras. Tidur aja sana,” kata Siti yang pasti tertuju pada Pras.
“Pras udah baik-baik aja, Buk?” tanya Ayu, ia sangat menyayangi adiknya walau Pras itu cocok sekali untuk ditenggelamkan.
“Udah, itu mulutnya bicara terus kayak burung beo dikasih makan,” ejek Siti membuat Ayu tertawa lebar, adiknya sekarang pasti tengah memanyunkan bibirnya. Jika di rumah, tak hanya Ayu dan Pras yang saling ledek tapi juga Siti, walau bahasanya agak berbeda.
“Ayu lagi ngapain? Bima mana? Udah makan tadi?” tanya Siti, walau tahu sang anak kini telah menjadi isteri orang dan sedang belajar mandiri, wanita paruh baya itu tidak bisa berhenti bertanya hal ringan seperti itu.
Siti merasa, walau anaknya sudah memiliki suami atau menjadi ibu juga sepertinya, ia tidak akan berhenti memanjakan anaknya.
“Udah, Buk. Bima tidur deluan, kayaknya kecapekan tadi beresin rumah.” Ayu sengaja berbohong, ia tidak mau membuat ibunya khawatir dan menganggap Bima buruk meninggalnya tanpa kabar di tempat yang baru ia tinggali.
“Bima makannya lahap?” tanya Ibunya nampak antusias.
Ayu terdiam sebentar menahan nafas, lalu menariknya pelan. “I—-iyaa, Buk.”
“Ibukkk, udahan teleponnya...” rengekan Pras terdengar lagi di sebrang sana.
“Ibu sama Pras udah makan?”
“Udah, tadi si Pras mau makan pake mie,” jawab Ibunya.
“Bohong, Mbak Ayuuu! Di rumah enggak ada sayur lagi—awhhh Ibukk!”
Ayu langsung kehilangan senyumnya saat mendengar teriakan Pras. Dan detik itu juga, ia langsung sadar sekaligus merasa bersalah, harusnya saat menerima lauk dan sayur dari Siti, ia melihat lagi apakah masih ada sisa di dalam tudung saji rumahnya.
Bukannya malah langsung menerima kotak bekal yang menjadi tempat sayur dan lauk itu di simpan.
Ibunya pasti memberikan itu semua agar Bima dapat merasakan makanan yang dibuat langsung oleh Siti.
Andai, ibunya tahu, sayur dan lauk yang dibuat dan sengaja seluruhnya dikasih untuk Bima dan Ayu belum tersentuh sama sekali.
“Enggak usah dengeri Pras tadi, Yu. Adik kamu itu emang perut karet, laper terus jadi kayak gitu,” kata Siti dari sebrang sana membuat Ayu menjadi sangat rindu untuk memeluk ibunya.
“Buk, Ayu kangen Ibu sama Pras,” lirih wanita itu mengungkapkan isi hatnya.
Siti malah tertawa di sebrang sana. “Pras, Mbak mu kangen sama kamu,” ledeknya membuat Ayu tak jadi bersedih-sedih.
“Manaaa, Buk? Lho Pras kan emang ngangenin, tampan, baik hati dan tidak sombong!”
“Kangen sama Ibu aja, sama kamu enggak!”
“Mbak Ayu malu-malu hahaha!” tawa menggelegar Pras terdengar dari ponsel membuat Ayu sampai menjauhkannya dari telinga.
“Ayu itu masih adaptasi, nak. Bentar lagi jadi betah kok. Kalo ya kangen, main ke rumah atau Ibu sama Pras yang kesana.” Suara ibunya kembali terdengar, kali ini terdengar bijak.
“Besok main kesini ya, Bu?”
“Pras kan kakinya masih sakit, minggu depan ya, Ibu kesana.”
Ayu kembali melanjutkan obrolan mereka, tentang Pras yang tadi berteriak sampai membuat tetangga datang ke rumah saat bocah itu diurut oleh tukang urut. Ayu tak berhenti tergelak sambil mengecek adiknya.
“Ibu tutup dulu ya, ini adikmu sibuk game teros. Ayu buruan susul Bima tidur, temenin.”
Boro-boro menemani Bima tidur, orangnya saja Ayu tak tahu dimana?
“Iya, Bu.”
Panggilan lalu terputus, suasana sepi dan sunyi langsung kembali menyergap. Perasaan khawatir itu kembali timbul ketika sekarang jam telah menujukan pukul setengah sebelas.
Mungkin salah satu doa Ayu terkabulkan, tepat jam 11 malam, suara motor sang suami terdengar, membuat Ayu sedikit risih juga karena bunyi knalpot motor besar Bima yang berisik, takut menganggu tetangga yang sedang tidur.
“Kamu dari mana aja, sih, Bim?” tanya Ayu langsung ketika ia membukan pintu untuk suaminya itu.
Wanita itu langsung mundur beberapa langkah ketika mencium aroma yang menyengat berasal dari suaminya. Aroma yang mirip dengan mobil yang tadi pagi mengantar mereka.
“Apa sih, Yu? Berisik banget!” hardik Bima yang sekarang matanya terlihat susah untuk dibuka, tubuhnya bahkan terlihat sempoyongan.
Aroma itu semakin tajam menyengat ketika Bima bersuara. Tak salah lagi, walau tak pernah mencium dan merasakannya langsung, hal yang membuat suaminya terlihat seperti ini pasti karena alkohol.
Ayu membiarkan Bima masuk terlebih dahulu, wanita itu lalu menutup pintu rumah mereka dan tak lupa menguncinya.
“Bim, kamu minum alkohol?” tanya Ayu menahan lengan suaminya saat hendak masuk kamar mereka. “Kamu mabuk!”
Bima melepaskan cekalangan tangan Ayu sedikit keras membuat wanita itu termundur. “Kamu lebai banget, kayak pertama kali lihat orang mabuk. Besok mau aku ajakin minum enggak? Enak lho sambil joget!”
“Bima sadar!” seru Ayu, apa suaminya itu sadar apa yang baru ia ucapkan?
“Berisik, kamu enggak seru, cupu huuuu!”
“Bim, kamu tadi naik motor dengan kondisi mabuk, apa kamu enggak takut terjadi apa-apa? Harusnya kamu enggak minu——“
“Sssttt, cerewet banget sih,” kata Bima sekarang yang menyandarkan kepalanya ke pintu.
“Bim, aku udah masak untuk kamu karena ini makan malam kita sebagai suami dan isteri, aku udah nungguin kamu dari——“
“BERISIK!” teriak Bima dengan mata melotot membuat tubuh Ayu seketika menegang. Jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat, ketika mendengar untuk pertama kalinya Bima berteriak padanya.
Seketika Ayu merasa tersesat, di tempat yang asing dan sosok yang harusnya ia sangat kenal malah terasa asing. Dimana Bima yang selama pacaran selalu berkatan lembut dan manis? Dimana Bima yang tak pernah memerlakukanya kasar?
Apakah Bima masih ingat jika pagi tadi pria itu mengatakan akan menjadikan Ayu sebagai Ratu disini?
“Aku mau tidur, kamu jangan ganggu!” kata Bima yang matanya sudah terpejam.
BRAKK!
Ayu kembali terperanjat kaget ketika mendengar bantingan pintu dari Bima. Apa itu artinya Ayu tidak diperbolehkan tidur di dalam sana? Di kamarnya sendiri?
Tak terasa, pipi Ayu kini telah basah dengan air mata. Gadis itu perlahan terisak pedih, bahkan membuatnya sesegukan. Ayu benar-benar tak menyangka di hari kedua mereka menjadi suami isteri, sudah dihadapkan dengan cobaan seperti ini.
Kerinduan Ayu pada Siti, Pras dan rumahnya semakin membesar, bahkan karena rasa sakitnya Ayu sanggup berjalan kaki untuk kembali ke rumahnya namun tentu ia tak akan melalukan hal itu. Ia tidak mau membuat ibunya khawatir dan nama sang suami menjadi buruk.
Bukannya Ayu sudah berjanji untuk menerima kekurangan Bima maupun kelebihannya?
Ayu tak ingin berprasangka buruk terlebih dahulu hingga mendahuli ketetapan Tuhan. Wanita itu hanya menganggap, malam hari ini sebagai bumbu dari kehidupan pernikahannya.
Besok pagi, setelah semuanya membaik. Ayu mungkin akan mengajak bicara pada Bima tentang ini semua, ia berharap pria itu bisa melepaskan minuman itu yang sangat buruk untuk kesehatannya.
Ayu percaya, Bima pasti akan mendengarkannya. Laki-laki itu sangat mencintainya.
Air matanya telah bersih diusap, Ayu kembali menatap pintu kamarnya yang tertutup. Wanita itu menghela nafasnya pelan sebelum berjalan menuju dapur untuk menghabiskan lauk dan sayur ibunya yang mungkin akan basi menjadi mubazir untuk besok.
Padahal, sebagai tambahan tadi Ayu sudah membuatkan ayam goreng yang merupakan makanan kesukaan suaminya.
Sayangnya, pria yang Ayu harapkan untuk duduk di meja makan bersamanya kini tengah tertidur lelap.