Pukul lima pagi, Ayu telah terbangun. Kebiasaan yang telah melekat sejak masih kecil membuatnya tak perlu harus menyetel alarm untuk bisa bangun sepagi ini. Jika saat masih tinggal di rumah lamanya, banyak yang bisa Ayu lakukan ketika matahari bahkan masih malu-malu untuk menampakan diri.
Wanita itu akan langsung membantu sang ibu untuk memasak nasi, menyiapkan bahan sederhana untuk membuat sarapan mereka. Lalu membersihkan seluruh rumah, barulah ia membangunkan Pras untuk siap berangkat ke sekolah.
Tapi, saat ini semuanya telah berubah, baik tempat maupun statusnya sekarang.
Berulang kali diingatkan, Ayu masih kadang tak percaya bahwa diumurnya yang menginjak 19 tahun, ia sudah menjadi seorang isteri dari laki-laki yang umurnya bahkan sama dengannya.
Ayu sempat ragu mengingat bahwa ia dan Bima masih sama-sama muda, mereka masih labil dan emosi kadang belum bisa dikendalikan, walau secara finansial Bima bisa dikatakan sangat cukup namun pria itu belum berdiri dengan kakinya sendiri.
Lalu apa yang membuat Ayu bisa percaya pada pernikahan ini?
Ayu percaya pada Bima, selama mereka berpacaran pria itu sama sekali tidak pernah berbohong. Pria itu selalu mengatakan hal yang jujur membuat Ayu perlahan menaruh rasa percayanya.
Bima juga mencintai, baik dari ucapan dan prilaku membuat Ayu merasa menjadi perempuan yang paling dicintai.
Memang, apa yang Ayu percayakan iti tidak cukup untuk membuat rumah tangga berjalan dengan mulus. Tapi, Ayu yakin itu sudah cukup untuk memulai semuanya, selama Bima dan ia masih saling mencintai dan percaya, apapun yang mereka hadapi bisa selesai dengan sendirinya.
Apa yang terjadi malam tadi sedikit membuat Ayu sadar, bahwa dunia pernikahan ternyata berbeda saat mereka berpacaran. Namun bukan berarti ia bisa langsung mengecap Bima sebagai laki-laki bertanggung jawab.
Jika Ayu tidak bisa langsung menjadi seorang isteri yang baik, begitu juga dengan Bima, maka daripada mengatakan yang buruk, Ayu malah ingin menjadi ini sebagai pelajaran untuknya. Mereka akan sama-sama berproses menjadi suami dan isteri terbaik dari versi masing-masing.
“Akhirnya selesai juga,” gumam Ayu sambil mengelap keringatnya, menatap hamparan rumput di belakang rumah yang telah selesai ia rapikan.
Ayu sudah merencanakan untuk membeli polibag guna menanam sayur-sayuran di belakang rumahnya, sayang sekali jika lahan di belakang rumahnya dibiarkan kosong.
Wanita itu lalu menyimpan gunting rumput dan bangku kecil tadi. Ayu lalu melirik jam yang tertempel di rumahnya, pukul enam tepat. Ia rasa ini waktu yang cocok untuk segera membuat nasi goreng sebagai sarapan untuk ia dan Bima.
Karena tidak ada bahan seperti telor, sosis dan kecap, Ayu akhirnya memutuskan untuk mencarinya di warung walau tak yakin sudah ada yang buka sepagi ini.
Setelah mencuci tangan dan wajahnya, Ayu pelan-pelan masuk ke dalam kamar. Ia tidak mau membuat tidur Bima terganggu karenanya, kalo tidak salah ketika seseorang mabuk lalu tertidur dan ketika bangun maka kepalanya akan terasa sangat sakit.
Kala mengingat itu, Ayu langsung merasa bersalah jika meninggalkan Bima seorang diri. Bagaimana pria itu bangun ketika Ayu sedang di warung? Ketika Bima sedang kesakitan, ia sebagai seorang isteri malah tidak ada.
“Ay—ayu...”
Ayu yang berada diujung pintu tersentak, wanita yang sudah mengenakan sweater berwarna hijau tua itu langsung mendekati kasurnya.
“Iya, aku disini, Bim,” lirih Ayu sambil duduk di pinggir kasur.
Bima nampak mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya, seketika langsung merasa sesuatu seperti batu besar menimpa kepalanya, sangat sakit. Saat mabuk memang enak, tapi ketika menerima efeknya, jika bisa ingin rasanya Bima melepas kepalanya untuk sebentar saja. “Sshhhh...”
“Jangan dipaksain, Bim,” ujar Ayu sambil menggengam tangan suaminya, wanita itu merasa khawatir.
“Jangan tinggalin aku,” lirih Bima, suaranya terdengar sanyat menyedihkan membuat Ayu semakin kuat menggengam tangan suaminya.
Beberapa menit berusaha menyesuaikan tubuhnya. Bima akhirnya bisa membuka kelopak matanya walau masih terasa sakit di kepalanya, pria itu perlahan merubah posisi tubuhnya menjadi menyandar ke kepala kasur.
“Minum ya?” tawar Ayu yang membantunya minum segelas air hangat.
“Makasih kamu enggak ninggalin aku,” ucap Bima tulus, pria itu tersenyum kecil.
Ayu sekarang melihat Bima seperti di kondisi terendahnya, cukup sering ia melihat suaminya dalam kondisi seperti ini saat pacaran. Ayu bisa melihat sosok sesungguhnya dari Bima Narendra.
“Maaf malam tadi aku enggak angkat telepon kamu,” ucap Bima membuat Ayu langsung menunduk. Secara tak langsung, pria itu membuat Ayu mengingat perlakuan Bima semalam.
“Ayu...” panggil Bima.
“Yu...” panggil Bima lagi dan akhirnya yang dipanggil mengangkat kepalanya lalu tersenyum kecil.
“Yu, ada apa?” tanya Bima yang merasa aneh dengan sang isteri. “Yu, apa malam tadi aku ngelakuin hal yang buruk sama kamu?” tanya pria muda itu lagi bergerak mendekati sang isteri sehingga sekarang berada tepat di sampingnya.
“Yu, jawab,” desak Bima lagi yang merasa tak tenang karena sang isteri hanya diam.
“K—kamu bentak aku, Bim,” cicit Ayu membuat Bima membeku. Ah, jadi ini alasannya. Ia telah tak sengaja menyakiti hati perempuan yang ia cintai.
Secara spontan Bima perlahan bangkit dari posisi duduknya walau agak sempoyangan. Ayu yang khawatir saat melihat itu berusaha menghentikan sang suami yang belum pulih namun ketika hatinya bergetar saat tahu apa yang dilakukan suaminya.
Bima bersujud di atas kaki Ayu.
“Bima! Kamu ngapain?” tanya Ayu yang tak pernah suka melihat suaminya merendahkan dirinya sendiri. “Ayo bangun, kamu enggak perlu kayak gini! Aku udah maafin kamu.”
Bima yang wajahnya tak terlihat menggeleng. “Enggak, Yu. Aku pantas kayak gini, aku udah nyakitin kamu. Gimana aku mau menjadi Raja di rumah kita sendiri kalo aku menyakiti hati Ratunya!”
Ayu yang merasakan hatinya pedih melihat sang suami sampai bersujut seperti ini. Ia sudah melihat betapa menyesalnya sang suami yang membuat Ayu segera turun ke lantai, ia menaruh tangannya di kedua bahu sang suami lalu mengangkat perlahan. “Aku udah maafin kamu, aku tahu kalo kamu enggak sadar, Bim.”
“Tapi, aku mohon... jangan ulangin itu lagi.” Ayu terisak, gadis itu menangkup wajah Bima dengan pandangan memohon. Selain merasa sakit, Ayu juga merasakan kecemasan yang luar biasa saat tahu sang suami melakukan sesuatu yang dapat membahayakan dirinya sendiri.
“Aku enggak mau kamu kenapa-napa, Bima,” ucap Ayu menggetarkan hati Bima.
Rasanya, hari pria itu menghangat saat tahu ada sosok yang mengkhawatirkannya. Selama ini, ia sama tidak merasakan hal itu dari kedua orang tua dan keluargannya. Mereka tak pernah memperdulikan Bima, menganggap bahwa ia hanya anak yang butuh materi, tak butuh kasih sayang.
“Aku janji, aku enggak akan kayak gitu lagi, Yu. Aku akan menjauhi bila perlu memusuhi apapun hal yang kamu enggak suka,” kata Bima mampu menggetarkan hati Ayu.
“Aku cuman butuh kamu, Yu.”
Ayu mengangguk, wanita itu menarik Bima ke dalam pelukannya. Sebagai seorang isteri, Ayu tak akan malu jika memberikan kasih sayang lebih dulu pada suaminya.
Ayu tak sepandai Bima yang mengungkapkan kata-kata lewat cinta tapi wanita itu berusaha menujukannya dalam bentuk lain.
“Yu, waktu kita mau menikah, aku udah janji untuk ngasih tahu semuanya dan enggak menutupi apapun.” Bima dan Ayu kini duduk sambil menyandar di pinggiran kasur.
“Aku sebenarnya udah lama enggak minum, semenjak kamu jadi pacar aku.” Bima tersenyum kecil, pria itu menarik tangan putih Ayu yang terasa lembut.
“Tapi, malam tadi ketika aku mau ngambil motor di rumah Papa. Aku merasa marah, Yu. Aku merasa Papa enggak pernah adil sama aku,” cerita Bima yang menjadi penyebabnya kembali menyentuh minuman beralkohol.
“Kamu tahu kenapa, Yu? Papa dengan mudahnya nurutin kemauan anak selingkuhannya yang mau mengambil motor aku. Jelas aku enggak terima, aku marah. Tapi, Papa malah enggak peduli dan bahkan mengancam aku.”
“Papa bilang jika aku tetap membawa motor itu, Papa akan stop membiayai hidup aku.”
“Aku yang udah muak, benci dan kesal milih untuk tetap bawa motor aku,” kata Bima membuat ekspresi kekhawatiran tercetak jelas di wajah Ayu yang mendengarnya.
“Bim, aku enggak masalah dengan Papa kamu yang stop biayain hidup kamu, rezeki udah ada yang atur dan kita bisa cari bareng-bareng,” ucap Ayu pelan, membalas genggaman tangan suaminya. “Tapi, yang aku khawatirin, hubungan kamu sama Papa kamu. Jangan sampai hubungan ayah dan anak kalian terputus Bima.”
“Tapi, Papa enggak adil, Yu! Aku juga anaknya tapi diperlakukan seperti bukan!” balas Bima dengan wajah penuh kebenciaan.
Tidak ada lagi rasa sayang atau cinta yang tertinggal untuk pria yang menyumbangkan gennya untuk Bima. Semua itu terlah sirna karena Papanya sendiri.
“Pokoknya nanti kamu harus minta maaf sama Papa kamu,” kata Ayu dengan wajah yang tak mau dibantah, membuat Bima langsung merengut tak setuju.
“Yuuu!” tolak Bima tak setuju.
“Gimana nanti kalo anak kita kayak gitu juga, Bim? Anak kita kabur karena kamu yang mungkin suatu waktu salah.”
“Enggak aku biarin, aku kunci di kamar biar anak kita enggak pergi,” jawab Bima polos membuat Ayu yang mendengarnya terkekeh.
“Kalo anak kita nanti kabur lewat jendela gimana?” tanya Ayu yang mengikuti perkataan suaminya.
“Aku tangkep terus masukin lagi ke perut kamu biar dia enggak bisa kabur lagi,” canda Bima yang sekarang sudah ikut tertawa.
“Enggak bisa gitu dong,” kata Ayu yang tak setuju, wanita itu ikut terkekeh.
“Aku enggak minta kamu untuk minta maaf sekarang tapi jangan pernah benci Papa kamu, Bima,” ucap Ayu memandangi suaminya. “Kamu enggak tahu, entah kapan Papa kamu akan meninggalkan kamu untuk selamanya. Aku enggak mau kamu menyesal suatu hari nanti.”
Bima terdiam, jiwa seorang anaknya tentu saja tak rela ketika mendengar perkataan bahwa sang Ayah akan meninggalkannya. Hanya Ayahnya lah yang gigih saat percerain orang tuanya meminta hak asuh Bima, sedangkan sang Mama malah memberikannya secara sukarela.
“Iya, Yu,” jawab Bima membuat Ayu kini menjadi tenang.
“Tadi kamu mau kemana?” tanya Bima seketika mengingat tadi sang isteri nampak hendak pergi.
“Aku mau ke warung buat beli bahan-bahan untuk bikin nasi goreng,” jawab Ayu sambil melihat jendela yang sekarang telah terang benderang.
“Tapi, kok aku pengen jadi bubur ayam ya, Bim,” ucap Ayu mengalihkan pandangannya kepada sang suami.
“Lho anak kita udah jadi?” tanya Bima luar biasa pintar. Memangnya seorang anak dibuat seperti roti apa? Lagi pula ia dan Ayu baru melakukan kegiatan berkembang biak dua hari yang lalu.
“Ih, Bimaaaaa...” rengek Ayu. “Belumlah, emang kamu pengen banget punya anak?”
Bima langsung mengangguk dengan semangat. Pria itu juga tersenyum dengan lebar. “Aku mau sayang-sayangin anak aku nanti, biar anak kita enggak ngerasa sendirian dan enggak disayangin,” ucap Bima dengan sorot mata yang terlihat sedih.
“Enggak akan, anak kita nanti akan ngerasa disayangi dan cintai banyak oleh Ayah dan Ibunya,” balas Ayu dengan senyum yang sangat manis.
Bima kemudian bangkit, pria itu lalu menjulurkan tangannya ke arah sang isteri. “Ayo kita cari bubur ayam untuk Ibu Ratu Ayu yang cantiknya luar bisa enggak ada tandingan!” gombal Bima yang membuat Ayu terkikik.
“Siap Ayah Raja Bima!” balas Ayu membuat mereka tertawa bersama.