"Mau nambah lagi, Yu?" tanya Bima pada sang isteri yang nampak lahap memakan bubur ayam.
Ayu dengan cepat menggeleng, perutnya sudah terasa mau penuh. "Enggak, Bim. Udah cukup, ini aja udah kenyang banget."
"Kamu mau nambah?" tanya Ayu melihat mangkok suaminya yang sudah kosong sedangkan ia tinggal setengah.
Bima mengangguk sambil menampilkan cengirannya. "Laper, Yu..." Ayu tergelak kecil melihat wajah memelas suaminya.
"Di minum teh hangatnya," ucap Bima menyodorkan segelas teh hangat.
"Mang, bubur ayamnya satu lagi," pesan Bima yang langsung diangguki oleh Penjual Tukang Bubur.
Sebagai permintaan maaf dan wujud cinta Bima pada isterinya, lelaki itu mengajak Ayu untuk mencari tukang bubur di sekitaran komplek perumahan mereka dengan berjalan kaki—sekalian berolahraga dan menghirup udara segar.
Beruntung mereka menemukan penjual bubur ayam tak jauh dari gerbang komplek rumah. Tanpa basa-basi lagi, Bima langsung mengajak isterinya untuk makan disana.
Mereka datang tepat ketika tenda ini masih sepi, belum seramai sekarang.
"Kalian pacaran ya?" tanya seorang ibu-ibu yang nampak sedang menunggu pesanannya yang dibungkus.
"Kami suami isteri, Bu," jawab Ayu karena Bima tengah menikmati bubur ayamnya di mangkok kedua, sedangkan Ayu telah selesai.
Nampaknya, apa yang baru saja diucapkan Ayu tadi semakin memancing penasaran wanita yang terlihat sesuai dengan ibunya Ayu. "Suami isteri? Umur kalian berapa? Kok kelihatannya masih muda."
"19 tahun, Buk," jawab Ayu pelan.
"Berarti kalian enggak ada yang kuliah? Mau jadi apa kalian nanti udah nikah di usia semuda ini?" tanya ibu-ibu itu dengan suara yang akan sedikit keras membuat orang-orang disana langsung menengok ke arah Bima dan Ayu.
"Anak saya sekarang yang paling besar udah mau cari-cari rumah, kayaknya sih mau ambil rumah yang ada di perumahan depan. Besar lho biayanya, kalian pasti masih ngontrak?"
"Oh, berarti nanti tetanggan dong," sahut Bima santai membuat ibu itu mengerutkan dahinya.
"Saya sama isteri saya tinggal di perumahan di depan sana, Buk," kata Bima lagi agak mengeraskan suaranya.
"Mau jadi apa kami, itu bukan urusan Ibu. Lebih baik ibu urusin anak ibu yang lagi cari rumah sana biar cepat," tutur Bima lagi, seketika ibu-ibu itu langsung memasang wajah marahnya.
"Dasar anak muda, saya ini lebih tua dari kalian. Entah mau jadi apa pernikahan kalian nanti?!" seru Ibu itu emosi yang semakin membuat Bima kesal.
Buru-buru Ayu menarik tangan Bima dan mengenggamnya, ia tahu hapal sekali jika sang suami mudah sekali tersulut emosi. Perkataan ibu-ibu asing itu memang membuat Ayu marah tapi dengan melawannya, itu sama saja ia menuruti apa yang dimau oleh ibu itu.
Bima benar-benar telah tersulut emosi bahkan tak mengidahkan perkataan isterinya. Bima adalah lelaki yang pantang sekali diremehkan itu membuat harga dirinya benar-benar tercoreng, apalagi usianya yang masih muda membuatnya semakin membara.
"Memang pernikahan ibu gimana sampai mencemooh pernikahan orang lain, hah?!" balas Bima menatap tajam ke arah wanita paruh baya itu.
"Bim.. udah," bisik Ayu menyuruh sang suaminya kembali duduk di bangku.
"Maaf, Yu. Aku enggak akan diam aja kalo aku, apalagi kamu direndahin sama orang lain," ucap Bima mengalihkan pandangannya sebentar ke isteri lalu kembali menatap bringas ke arah ibu itu.
"Lho bukannya Bu Asri baru cerai dari suami ketiganya ya?" celetuk Penjual Bubur Ayam itu yang tertuju pada wanita yang mencemooh Bima dan Ayu.
Sontak saja hal itu membuat tenda bubur ayam itu seketika menjadi ramai. Bisik-bisik bahkan hingga cemoohan terdengar jelas dan tertuju pada Bu Asri.
Bima berdecih sambil menggeleng prihatin. Orang yang sok mengajarinya malah lebih buruk. "Buk, Buk, mending pulang sana, terus dandan, biar dapat suami yang kelima."
"Itu pun kalo enggak cerai lagi," ledek Bima membuat Bu Asri menundukan kepalanya, disusul dengan tubuhnya yang perlahan bergetar.
Ayu yang awalnya kesal berubah menjadi prihatin saat melihat Bu Asri, bagaimana pun kesalnya Bima, perkataannya sudah sangat kelewatan. Jika seperti ini, bukannya Bima sudah hampir sama seperti Bu Asri yang mengomentari pernikahan orang lain?
Ayu menikah dengan Bima diusia muda, sudah siap dengan perkataan orang. Menurutnya, mau nikah muda, nikah tepat waktu, nikah diusia yang sudah tua, tidak akan luput dari sindirian atau perkataan orang lain.
Ia yang lama tinggal di daerah padat penduduk sudah sangat hapal dengan hal seperti ini. Bisa dibilang bahkan telinganya sudah kebal.
Bu Asri lalu membayar sekaligus mengambil pesanannya dengan posisi yang masih menunduk. Ayu tahu bahwa wanita itu menangis ketika berbalik badan dan berjalan meninggalakan tenda hingga akhirnya hilang dari pandangannya.
"Ckckc, sok ngajarin orang tapi rumah tangganya sendiri hancur," cemooh Bima kembali duduk. Pria yang mengenakan kaos dan celana jeans pendek itu nampak benar-benar kesal.
"Bim, kamu kelewatan banget, tahu enggak?" tegur Ayu yang merasa kasihan dengan Bu Asri.
"Kelewatan gimana sih, Yu?" tanya Bima tak mengerti, bukannya sudah menjadi hukum alam jika ada orang yang mencemooh harus dibalas.
"Kamu emang enggak papa dihina, udah biasa, tapi aku?" tanya Bima dengan wajah sombongnya. "Enggak ada yang berani sama Bima Narendra, Yu. Kamu tahu sendiri waktu di sekolah dulu."
Sayangnya, pria itu lupa menyebutkan siapa yang bisa membuatnya seperti ini. Orang tuanya sendiri. Jika tidak ada mereka, mungkin Bima masih mengontrak seperti apa yang dikatakan Bu Asri.
"Kamu udah selesai makan? Kalo udah, aku mau pulang." Ayu seketika marah sebab masih tak setuju apa yang dikatakan oleh Bima.
"Pulang aja, aku juga enggak mood lagi ngelanjutin makan." Bima lalu bangkit dari kursinya sekaligus ingin membayar bubur mereka, disusul Ayu yang memilih munggu di depan tenda.
Ketika melihat sang suami telah selesai membayar, Ayu langsung melangkahkan kakinya lebih dulu membuat Bima yang melihat itu menghembuskan nafasnya kesal.
Oke, jika Ayu memang ingin marah padanya. Silahkan. Apa isterinya itu pikir hanya dirinya sendiri yang bisa marah? Bima juga bisa tahu.
Lihat saja nanti siapa yang akan meminta maaf deluan, Bima yakini pasti Ayu!
Kedua pasangan suami isteri terus berjalan dengan jarak. Namun baik keduanya masih terus saling menunggu. Ayu menunggu suami Bima mengejar sekaligus meminta maaf padanya begitu juga dengan Bima yang menunggu Ayu untuk berbalik ke arahnya.
Bisa dibilang ini pertama kali mereka nampak saling bermusuhan sehingga keduanya nampak merasa tidak nyaman dan gelisah. Ayu dan Bima terus menunggu hingga rasanya mereka berdua tak bisa menahan laginya.
"Ayu!"
"Bima!"
Mereka kompak memanggil, terasa lucu memang saat kini mereka bertatapan saat Ayu membalikan tubuhnya. Tapi, setelahnya mereka tidak berkata apa-apa lagi sehingga terlihat menggemaskan.
Beginilah jika masih muda, rasa gengsi itu besarnya melebihi apapun.
Bima dengan sikap jantannya, akhirnya mengalah. Laki-laki itu berjalan mendekat, berusaha mempersempit jarak di antara mereka. Hingga sekarang ia tepat berada di depan Ayu yang menundukan kepalanya.
"Yu," panggil Bima membuat Ayu perlahan mendongakan kepalanya. "Maaf," lanjutnya.
"Kayak yang apa kamu bilang, aku udah kelewatan." Bima sebenarnya masih tidak mengerti letak dimananya ia kelewatan, ia merasa hanya perlu membalas orang yang telah mengusiknya pertama kali.
Tapi, karena tidak mau hubungannya dengan Ayu seperti ini, Bima akhirnya memilih berbohong seolah ia mengerti.
Untuk pertama kalinya sejak mereka berpacaran hingga sekarang telah menikah, Bima menghancurkan rekornya yang tak pernah mengucapkan yang bohong pada Ayu.
"Aku maafin, Bim. Maafin aku juga yang udah marah dan ninggalin kamu," jawab Ayu yang merasa tak adil jika hanya dirinya yang meminta maaf.
"Kalo udah enggak marah, senyum dong," goda Bima sambil melebarkan senyum di wajah tampannya. Ayu yang dasarnya memang lemah terhadap ucapan manis pria itu akhirnya tersenyum.
"Ini, udah senyum," ucap Ayu polos membuat Bima tak tahan mencubiti pipi isterinya.
"Bim, aku mau ke taman," pinta Ayu, kebetulan mereka masih belum jauh dari taman komplek.
"Ayo," ajak Bima yang dengan senang hati mengulurkan tangannya pada sang isteri.
Kedua pasang suami itu lalu bergandengan menuju taman komplek yang untungnya terlindungi oleh sinar matahari yang perlahan naik. Karena hari ini bukan hari libur, maka taman kali ini nampak sepi.
"Kamu duduk, biar aku yang dorong," ucap Bima ketika mereka berada di depan ayunan.
"Emangnya kuat?" tanya Ayu ragu, menurutnya wahana bermain ini hanya dikhususkan untuk anak-anak bukan untuk orang dewasa.
"Ini boleh untuk orang dewasa juga kok," kata Bima sambil mengangguk-angguk membuat Ayu jadi penasaran. "Kamu tahu dari mana?"
Bima sontak tersenyum cengengesan sambil menggaruk kepalanya. "Nebak aja," kekeh lelaki sembilan tahun itu.
"Udah, Yu, naik aja. Kalo rusak nanti kita tinggal kabur," ajak Bima yang tak benar pada isterinya.
Ayu melihat dulu bentuk ayunan, sekiranya terlihat meyakinkan barulah ia mengangguk. "Pelan-pelan dorongnya, aku takut."
Bima lalu mendorong ayunan itu, awalnya hanya pelan tapi lama-kelamaan berubah menjadi kuat membuat Ayu sampai berteriak.
"Bimaaaaa... pelan-pelan!" seru Ayu yang menggengam erat rantai tali ayunan itu sedangkan si suami malah tertawa besar melihat isterinya yang ketakutan.
"Tenang aja, Yu, kalo kamu jatuh nanti aku siap merawat kamu dengan cinta!" sahut Bima kurang ajar, pria itu malah mendoakan isterinya terjatuh.
Barulah ketika melihat wajah Ayu mulai berubah pucat, Bima memelankan ayunannya. "Yu, yu, kamu kenapa?" tanya Bima jadi khawatir sang isteri hanya diam.
"Huekk!" Ayu tiba-tiba muntah, bubur ayam yang baru saja ia santap rasanya naik ke tenggorakannya.
"Perut aku jadi mual," lirih Ayu membuat Bima seketika merasa bersalah.
Pria itu lalu menuntun isterinya untuk pindah duduk ke bangku taman yang cukup untuk mereka. "Nyandar di bahu aku aja, Yu, kalo kepala kamu pusing."
Bima rasanya ingin memaki dirinya sendiri yang telah kelewatan, pria itu membiarkan sang isteri yang menjadi bahunya sebagai bantalan kepala. "Maaf, Yu," sesal Bima sambil mengusap rambut isterinya.
"Heeum," jawab Ayu yang masih memejamkan matanya, berusaha untuk menghilangkan rasa mual.
Beberapa menit kemudian, Ayu perlahan menarik kepalanya dari bahu sang suami ketika perutnya terasa lebih baik.
"Masih mual?" tanya Bima khawatir. "Maaf, aku janji enggak ajak kamu main ayunan lagi." Ekpresi pria itu benar-benar membuat Ayu yang melihat tersenyum geli, Bima terlihat seperti anak lima tahun yang tidak mau ditinggal ibunya pergi.
"Iya, Bim. Enggak papa kok, ini kayaknya asam lambung aku naik. Biasanya enggak mual kayak gini."
"Kamu kuat jalan ke rumah?" tanya Bima, pria itu langsung turun dari kursi dan berjongkok. "Sebagai bentuk permintaa maaf, aku bakal gendong kamu sampai ke rumah."
"Eh, enggak perlu," kata Ayu, perutnya yang sedang tidak baik, bukan kakinya.
"Pokoknya naik aja, aku ngerasa bersalah banget, Yu."
Tidak mau membuat sang suami terus dalam penyesalan, Ayu akhirnya naik ke punggung sang suami. Wanita itu langsung melebarkan senyumnya ketika Bima mulai berdiri.
"Mau cepat atau lambat, Ratu Ayu?" tanya Bima yang seolah berubah manjadi mobil.
"Lambat saja Pak Sopir," jawab Ayu sambil terkekeh. Bima langsung memanyunkan bibirnya saat mendengar panggilan sang isteri.
"Kok Pak Sopir?" protesnya tak terima tapi sambil terkekeh.
"Nanti di rumah jadi Raja," kata Ayu.
"Berarti sekarang kamu Bu Sopir dong?"
"Aku enggak keberatan jadi apa aja, Bim. Asal kamu yang jadi pasangannya."
"Waduh, isteri aku udah bisa gombal, nih. Kasih cium enggak ya?" tanya Bima sambil mengedip-ngedipkan matanya.
"Bim, kita enggak di rumah, kita lagi di luar!" balas Ayu yang sekarang pipinya telah memerah.
"Jadi kalo di rumah boleh?" tanya Bima dengan ekpresi mengerikan menurut Ayu.
"Pegangan Bu Sopir, kita mau kebut biar bisa dapet ciuman!"
"BIMAAA PELAN-PELANNN!"