“Bimaa!”
“BIMAAAA!”
“Iyaaaa, tungggu!” sahut Bima dari luar dapur membuat Ayu menunggu kedatangan sang suami.
“Ada apa sih, cantik, kok teriak-teriak?” tanya Bima yang sudah berada di dalam dapur namun pandangannya tertuju pada benda persegi tiga yang kini digenggam kedua tangan sang pria.
Apalagi jika tidak bermain game.
“Gas kita habis, kamu bisa beliin di depan enggak?” tanya Ayu menatap sang suami. Ia yang sedang menumis isian risoles terpaksa harus berhenti karena tabung gasnya kosong.
“Bimaaa...” panggil Ayu lagi ketika pria itu hanya asik melihat ponselnya.
YOU DEFAET!
“Ah, sialan,” decak Bima yang baru saja kalah dalam permainannya.
“Hah, ada apa, Yu?” tanya pria muda itu melirik ke arah sang isteri yang kini tengah menatapnya sebal.
“Gas kita habis, kamu tolong beliin ke warung depan komplek,” pinta Ayu membuat Bima mengerutkan dahinya.
“Pake apa, Yu?” tanya Bima yang kembali sibuk dengan ponselnya. “Iya, bentar guys, gue login dulu!” kata Bima.
“Aku enggak bisa bawa gas pake motor besar, Yu. Mau taroh dimana, lagi pula badan aku masih sakit-sakit karena mabuk kemarin,” jelas Bima panjang lebar.
“Kamu masaknya libur dulu hari ini,” ucap Bima dengan mudah lalu pria itu meninggalkan dapur.
Ayu yang melihat itu menghembuskan nafasnya, kesal. “Kita makannya libur dulu ya hari ini?” balas wanita itu sambil menguatkan suaranya agar Bima bisa mendengarnya.
“Hah, apa, Yu? Aku enggak dengar!” sahut Bima yang mungkin sekarang sudah bersantai di atas kasur.
Ini salah satu sifat Bima yang Ayu kurang suka di waktu tertentu. Lelaki itu bermain game sebenarnya tidak masalah baginya, karena bagaimana pun Bima pasti membutuhkan hiburan. Ayu mengerti hal itu.
Tapi, Bima kadang bermain game sampai menolak ketika Ayu meminta tolong, padahal ini juga untuknya. Ayu hendak memasak untuk makan hari ini.
Ingin sebenarnya Ayu mengikuti permintaan laki-laki itu untuk libur masak tapi lihatlah ketika hari sudah beranjak siang, Bima pasti akan ke dapur untuk mencari makan.
Tak ingin waktunya terbuang terlalu lama, Ayu memutuskan untuk menukarkan gasnya seorang diri. Sebenarnya tidak terlalu jauh bagi Ayu tapi jika ada Bima, ia pikir pria itu bisa membantu.
Sudahlah, Ayu memilih segera memakai sweaternya dan membawa gas itu ke warung depan komplek.
Matahari rasanya membakar tubuh Ayu ketika ia berjalan menuju ke depan, rasanya ia ingin berjalan lebih cepat tapi sayangnya beban yang ia bawa membuatnya berjalan sedikit lamban.
“Kamu bawa gas ini sendirian, Neng?” tanya pemilik warung itu ketika Ayu sampai disana dengan keringat yang membasahi sekujur tubuhnya.
Ayu mengangguk sambil tersenyum kecil, tepalak tangannya mengusap dahinya yang berkeringat. “Sama es-nya satu ya, Buk.”
“Ini gasnya, sebentar Ibuk buat es-nya,” kata pemilik warung itu hingga tak lama membawakan sebungkus es untuk Ayu.
“Besok-besok enggak usah bawa lagi kesini. Nanti ibu kasih nomor Mang Asep yang sering keliling bawain galon atau gas dari warung Ibu.”
“Boleh, Buk,” angguk Ayu, ia langsung menyerahkan ponselnya untuk mendapatkan nomor Mang Asep.
“Mang Asep hari ini kebetulan libur, Neng,” kata pemilik warung itu membuat Ayu mengangguk. “Emangnya enggak ada pria di rumah neng Ayu yang bisa dimintai tolong?”
Ayu bingung menjawabnya, ingin mengangguk tapi nanti pasti pemilik warung mengatai Bima yang tak becus dan tega membiarkan isterinya jalan ke depan komplek membawa gas tapi jika ia menggeleng, itu artinya Ayu tidak menganggap Bima laki-laki?
Apalagi jika Ayu tidak menjawab pertanyaan pemilik warung, pasti dianggap tak sopan dan sombong.
Sebuah mobil sedan tiba-tiba berhenti tepat di warung yang saat ini Ayu tunggui, pemilik warung yang ia ketahui bernama Bu Mai langsung berdiri untuk membantu pembeli. Ah, untung saja, Ayu terselamatkan dengan bantuan mobil itu.
“Bu Mai, ada batu es?”
Ayo sontak langsung menoleh ketika mendengar suara berat namun terdengar sangat enak. Hal yang membuatnya terkejut selanjutnya adalah sosok pria yang tadi bersuara. Ayu sangat ingat, walau waktu itu hanya diterangi oleh lampu jalanan di malam hari. Entah kenapa ia tak melupakannya.
“Lho untuk apa, Mas ganteng? Untuk Mbak Gisel?” tanya Buk Mai.
“Iya, Buk, kulkas Gisel rusak, jadi dia nitip es batu untuk buat jus,” jelas pria itu repot-repot, padahal Ayu kira dengan penampilan seperti itu dan turun dari mobil mewah, kelakuannya akan sombong.
Sosok pria itu yang keluar dengan pakaian rapi membuat Ayu yakin bahwa pria di depanya bekerja di sebuah perusahaan terkenal. Kemejanya digulung hingga kesiku, celananya bukan seperti celana dasar yang biasa dipakai bapak-bapak, entah dari bahan apa tapi dari pandangan Ayu terlihat cocok.
Wajahnya yang tampan dan bersih membuat Ayu yakin bahwa pria itu juga melakukan perawatan seperti Bima di klinik khusus kecantikan bagian untuk pria.
“Hehe, Mbak Gisel rajin banget minum jus, pantesan bening dan langsing,” goda Bu Mai yang hanya ditanggapi senyuman tipis dari pria itu. “Biar ibuk ambil sebentar ya, Mas.”
Pria itu mengangguk, mengalihkan perhatiannya pada sekeliling warung yang nampak lengkap, ia memang cukup sering mampir kemari karena Gisel—temannya kadang minitip saat ia hendak ke rumah perempuan itu.
Hingga tatapan pria itu kemudian jatuh ke arah seorang perempuan yang sedang duduk di bagku panjang. Arkan—nama pria itu mengerutkan dahinya seketika mengenali sosok perempuan yang bersama kekasihnya yang hampir saja membuat Arkan kecelakaan.
Sudah ia tebak bahwa mereka pasangan itu hanya seorang bocah. Lihatlah tampang gadis itu yang mengenakan sweater hijau tua dengan dalaman piama—Arkan yakin wanita itu belum mandi. Gadis itu nampak polos meminum es bungkusan di tangannya.
Hatchim!
Perempuan itu tiba-tiba bersin dan Arkan yang kebetulan melihatnya seketika meringgis. Benar terlihat masih bocah. Pandangan mereka kemudian bertemu ketika gadis itu menggosok-gosok hidung atasnya.
Tapi, gadis itu tak langsung membuang mukanya, malah meringgis lalu mengangguk kecil ke arah Arkan. Tipe-tipe perempuan yang memiliki taraf malu yang tinggi, tebak Arkan.
Jelas, bagaimana ia masih punya muka untuk berhadapan dengan Arkan kalo tidak tebal muka?
“Kembaliannya enggak usah, Buk Mai,” ucap pria itu ketika Buk Mai memberikan dua batu es yang berada di dalam plastik.
“Makasih Mas Ganteng,” ucap Buk Mai tersenyum lebar.
“Eh, tunggu Mas ganteng!” seru Buk Mai yang tiba-tiba mengingat sesuatu.
Pandangan wanita paruh baya itu lalu tertuju ke arah Ayu yang masih meminum esnya dengan wajah polos. “Neng, rumahnya di dalam komplek kan?”
Ayu mengangguk cepat.
“Nah, barengan aja sama Mas ganteng!” seru Buk Mai membuat Ayu melotot, pasalanya gadis itu berusaha mati-matian untuk menghindari Arkan karena rasa bersalah mengingat pria itu hampir celaka karena keteledorannya.
“Enggak usah, Buk Mai. Ayu jalan aja, udah enggak panas kok.”
“Tapi berat, Neng. Udah barengan aja sama Mas ganteng, tenang aja, baik kok.”
Arkan yang mendengar itu rasanya ingin membantah. Ia tidak baik dan juga tidak mau mengantarkan gadis itu.
“Tolong anterin ya, Mas, kasihan bawa gas berisi kayak gini, berat,” pinta Buk Mai, Arkan yang melihat itu tak kuasa menolak dan sedikit menyangka gadis itu gila karena mau membawa tabung gas melon itu sendirian.
“Ayo,” kata Arkan menatap ke arah gadis itu sebentar lalu masuk ke dalam mobilnya.
“Ayo, Neng, masuk aja,” kata Buk Mai yang membukakan pintu untuk Ayu.
“Makasih ya, Buk.”
Ayu langsung merasa nyaman ketika masuk ke dalam mobil, rasanya dingin dan jok mobilnya terasa lembut.
Arkan yang melihat gadis itu memperhatikan sekeliling mobilnya dengan pandangan seketika langsung was-was, takut jika barangnya ada yang hilang. Tapi, dia hanya diam dan terus memerhatikan.
“Blok rumah kamu dimana?” tanya Arkan.
“Blok N, Mas,” jawab Ayu, Arkan tak mengatakan apapun lagi.
Blok N? Itu artinya berhapan dengan rumah Gisel.
Pria itu hanya menatap ke arah Ayu yang tengah memangku tabung gas, sebenarnya wanita itu bisa meletakannya di bangku belakang. Tapi, karena Arkan malas untuk berberhenti dan memindahkannya ke belakang, jadi mungkin gadis itu harus menahannya sebentar.
“Berhenti di depan ya, Mas,” kata Ayu membuat Arkan mengerutkn dahinya. Kenapa ia terdengar seperti seorang sopir online yang sedang mengantarkan pelanggan?
Ayu tak langsung turun, ia menatap ke arah Arkan sebentar. “Terima kasih banyak ya, Mas.”
“Hem,” dehem Arkan.
“Sama saya minta maaf lagi sama kejadian malam itu,” ucap Ayu membuat Arkan mengerutkan dahinya. Oh, ternyata gadis ini ingat?
“Silahkan turun,” tutur Arkan pendek membuat Ayu mengangguk.
“Terima kasih sekali lagi, Mas!” kata Ayu sambil tersenyum kecil sebelum menutup pintu mobil.
Ayu lalu berjalan menuju perkarangan rumahnya, wanita itu mengerutkan dahinya ketika ternyata mobil yang baru saja ia tumpangi itu berhenti lagi di depan rumah yang berhadapan dengan Ayu. Apa itu rumah Gisel-Gisel itu?
Ayu menghendikan bahunya, ia sedikit takut dengan pria yang belum ia ketahui namanya itu. Terlihat dingin dan jutek. Apa karena insiden malam itu? Tapi kan Ayu sudah meminta maaf dan Bima hendak mengganti ruginya.
“Yu, Ayuuu!” panggil Bima ketika Ayu baru saja masuk ke dalam rumah, membuat wanita itu kaget.
“Kamu dari mana aja, Yu?” tanya Bima membuat Ayu menatap sebal ke arah suaminya.
“Gimana? Menang main gamenya?” sewot Ayu membuat Bima meringgis.
“Bawain gasnya ke dapur,” suruh Ayu lalu berjalan lebih dulu ke dapur. Bima mau tak mau akhirnya membawa tabung itu ke dapur.
“Yu, lapar...” adu Bima membuat Ayu mendengus. Tadi siapa yang meminta untuk ia libur masak dan sekarang merengek kelaparan?
“Sebentar, kalo mau cepat harusnya tadi kamu bantuin aku antar gas.”
“Hehehe, maaf, Yu. Tadi teman-teman aku aktif semua, sekalian ngumpul. Kan semenjak nikah, aku jarang main sama mereka.” Ini yang salah satu Ayu syukuri, ia tahu betul saat pacaran, Bima tak pernah absen di tongkorongannya.
Ayu awalnya sempat takut akan kesepian jika Bima lebih sering bermain dengan teman-temannya, namun sang suami ternyata tak melakukannya.
“Kamu tadi diantar sama siapa?” tanya Bima penasaran, ia sempat mengintip dari balik jendela tadi.
“Sama Mas ganteng,” ucap Ayu membuat Bima langsung merubah ekspresi wajahnya jadi cemburu.
“Kamu selingkuh, Yu? Cuman karena aku enggak mau nganterin gas kamu?” tanya Bima dengan ekspresi patah hati membuat Ayu mendengus.
Wanita itu menghela nafasnya. Ia pun dengan sukarela menjelaskan kenapa ia memanggil pria tadi dengan sebutan Mas Ganteng, itu semua karena Buk Mai dan ia belum tahu namanya, juga sekaligus memberi tahu bahwa pria itu yang menjadi korban kecerobahan mereka saat malam itu.
“Aku ngeri sama orangnya, Bim. Pelit ngomong, apa karena insiden itu?”
“Mungkin.” Bima menghendikan bahunya tak peduli, baginya yang penting Ayu tidak berpindah hati.
“Nanti selesai aku goreng risolnya, kamu anter ke depan.”
“Kok aku?” tanya Bima dengan wajah tak terima tapi langsung diam ketika melihat tatapan tajam Ayu yang menurutnya seperti hendak mengeluarkan laser.
“Iya, iya, Ibunda Ratu,” jawab Bima setengah hati.