Memutar-mutar tabung bambu, belum puas jika tidak menemukan petunjuk apapun. Gelang itu bisa saja tipu muslihat musuh.
"Ayolah, pasti ada sesuatu." decaknya sambil menggosok tabung bambu.
Namun, tabung itu bersih hanya berisi gelang akar. Jira mendesah. "Cen Cen, coba kau cium ini. Kau tau sesuatu?" menyerahkan bambu itu pada kudanya. Kuda itu meringkik sambil menggelengkan kepalanya tidak mau melihat bambu. Dia terus menatap ke depan di mana dia keluar dari persinggahan sementara.
Jira berdecak dan melipat tangan. "Hah, kau ini lihat apa, sih?" gerutunya.
Tangannya terangkat, gelang akar itu sangat jelas di matanya. Jira kembali meneliti di gelang akar itu.
"Kalau tidak ada nama pengirim, gimana aku bisa percaya gelang ini?"
Menyentuh gelang itu seraya mengernyit. Dia semakin teliti saat gelang itu menunjukkan huruf saat diusapnya. Jira terus mengusap gelang itu sampai hurufnya terlihat jelas. Jira tersentak. Sedikit cahaya terpancar samar di gelang itu.
"Kay?" gumamnya heran. Saat tangannya tidak menyentuh gelang itu lagi, tulisannya menghilang. Jira gosok lagi dan nama Kay muncul lagi. Begitu terus menjadi mainan.
Jira tertawa. "Kay yang mengirimnya? Mana dia? Masih ingat denganku?" Celingukan mencari Kay.
"Cen Cen, kau melihat ke sana terus, apa Kay ada di sana?" tanya Jira mulai semangat.
Melihat gelang akar lagi sambil berdiri. "Haha, mungkin dia ada di sekitar sini. Aku harus mencarinya! Cen Cen, ayo kembali ke persinggahan itu!" seru Jira menunjuk ke timur.
Dia naik ke punggung Cen Cen dan pergi dengan cepat.
'Kay, tak kusangka kau mengirim rajawali untuk memberi salam. Senang sekali kau masih mengingatku. Kenapa tidak langsung menemuiku? Kenapa memberiku gelang keberuntungan? Aku yakin kau ada di sini,' batin Rianti.
Persinggahan itu sudah terlihat. Jira menyuruh kudanya lebih cepat dan berhenti saat tiba di gerbang. Menunduk kudanya menyusuri jalan. Ramai sudah tidak seperti tadi pagi. Mungkin semua orang beristirahat atau melanjutkan perjalanan mereka. Beberapa pedagang juga istirahat. Jira bertanya pada beberapa orang, menjelaskan ciri-ciri Kay, tetapi mereka tidak tahu.
Sedikit kecewa karena tidak menemukan Kay. Kemudian Jira mendatangi seorang pedagang senjata karena berpikir jika Kay juga datang untuk berdagang senjata.
"Apa kau melihat orang baru yang berjualan senjata? Atau mungkin yang sedang membawa pedang," tanya Jira.
Dari senjata besi hingga kayu ada di sana. Beberapa mantra juga di jual. Jira memandang semua senjata itu kagum.
"Aku tidak tau jika ada pedagang baru. Ah, tapi aku lihat tadi ada beberapa orang yang membawa pedang," jawab orang itu.
Jira mendongak. "Ah, begitu, ya?"
Pergi membawa kudanya lagi. Tentu saja banyak orang yang membawa pedang di sini. Jira menyalahkan dirinya sendiri. Kemudian, Jira menghampiri pembuat surat. Ada banyak burung yang dia punya.
"Apa kau menerima pelanggan yang memakai burung rajawali milikmu?" tanya Jira penuh harap.
Orang itu nampak berpikir. "Iya," jawabnya membuat Jira senang. "Ada banyak sekali. Mereka menyewa sebentar untuk mengirim pesan. Burung yang lain juga ada. Apa kau mau mengirim sesuatu?" sambung orang itu.
Senyum Jira luntur. "Tidak, terima kasih."
Pergi lagi dengan lesu. Menunduk melihat gelang akar di pergelangannya. Tidak sengaja langkahnya sampai ke gerbang masuk. Dia melihat pedagang pernak-pernik yang dia temui tadi pagi. Jira singgah sebentar. Senyumnya kembali terbit saat melihat hiasan warna-warni dan berbagai macam. Tidak sengaja tangannya menyentuh gelang akar yang digantung. Dia hanya diam.
"Nona, kau mau gelang akar? Ini sangat cerah dan membawa keberuntungan!" ujar pedagang itu.
"Sangat cerah," gumam Jira mengikuti.
Pedagang itu bingung karena Jira melamun. Lalu, Jira sadar dan bertanya sesuatu. "Tuan, apa kau bisa membuat tulisan di gelang ini?" tanya Jira.
Pedagang itu terkekeh. "Itu hal mudah! Aku punya tinta dan kuas ajaib," jawab orang itu meyakinkan.
Jira tertarik. "Ajaib seperti menghilangkan tulisan di gelang ini dan tulisannya akan muncul jika gelangnya digosok?" tanya Jira menunjuk gelang akar yang dipajang.
Pedagang itu membenarkan Jira, "Betul sekali! Dari mana kau tau? Ah, tadi juga ada seseorang yang membeli gelang akar dengan tulisan yang disembunyikan. Aku bisa membuatkannya untukmu." orang itu mengambil gelang akar miliknya.
Jira terbelalak. "Tuan, siapa orang itu? Seperti apa ciri-cirinya?" tanya Jira tidak sabar.
Orang itu berpikir. "Dia menutupi wajahnya dengan cadar. Kulitnya bersih, tubuhnya bagus, dia datang dari jauh arah timur," jawabnya.
Jira mendengarkan dengan semangat. "Apa dia membawa pedang?" tanya Jira.
Pedagang itu mengangguk. "Iya, dia bawa pedang. Kenapa kau sepertinya mengenal pelanggan itu?" giliran orang itu yang bertanya.
Jira tersenyum ramah. "Ah, aku hanya menebak. Tulisan apa yang dia minta?"
"Apa, ya? Aku lupa, tapi sepertinya dia menulis nama," orang itu tersenyum bodoh.
'Sudah kuduga Kay ada di sini! Berarti benar dia yang mengirim gelang akar untukku. Wah, pasti ada maksud. Aku juga harus memberinya sesuatu. Gelang akar yang sama!' pikir Jira.
"Tuan, tolong buatkan aku satu, ya! Tulis kata penipu!" pinta Jira.
"Kenapa penipu?" Pedagang itu bingung.
"Haha, karena aku mau," jawab Jira.
Pedagang itu ikut tertawa ringan dan membuat tulisan di gelang akar. Jira menyaksikan sendiri tinta itu meresap ke gelang dan saat digosok, kata penipu muncul. Jira sangat senang. Dia membayar apa yang didapat. Senyumnya tidak pernah hilang sampai kembali ke pembuat surat.
"Bisakah aku menyewa rajawalimu? Aku mau mengirim sesuatu," tanya Jira.
"Tentu saja." orang itu dengan senang hati menyerahkan satu rajawalinya pada Jira. Kini Jira bingung.
"Bagaimana caranya? Rajawali ini tidak tau orang yang akan menerima barangku. Dia juga tidak tau orang itu ada di mana," katanya.
"Jangan khawatir. Burung ini sangat cerdik. Kau katakan seperti apa ciri-ciri dan namanya. Dia akan langsung tau ke mana akan pergi," jawab orang itu.
Jira segera mengatakan bagaimana Kay. Burung rajawali itu terbang dengan gelang akar yang Jira masukkan kembali ke tabung bambu di cakarnya. Suaranya sangat menggetarkan Jira.
'Rajawali pengirim pesan, berikan itu pada Kay si penipu, ya!' batin Jira menatap burung itu yang menuju arah barat.
Tiba-tiba senyumnya luntur. "Barat? Apa Kay juga menuju barat?" gumam Jira heran.
Jira menunggu rajawali itu kembali. Menghabiskan waktu setengah jam untuk menunggu. Berharap jika rajawali itu benar-benar mengirimnya pada Kay. Saat burung itu kembali, Jira pergi setelah membayar. Keluar lagi dari persinggahan sambil tiduran di atas kudanya. Dia sampai ke pohon tempatnya istirahat dan hari sudah sore. Kudanya tidak mau berhenti. Jira asik berbaring memandang gelang di pergelangan tangannya sambil mengernyit silau.
'Kay juga pergi ke barat. Kenapa gelang akar? Kenapa bukan benda lain seperti senjata misalnya? Pasti ada alasannya,' pikir Jira.
"Cen Cen, kau pikir kenapa penipu itu ingat padaku? Bukannya tidak mau menggangguku lagi?" tanya Jira pada kudanya.
Kudanya meringkik pelan tanpa berhenti berjalan. Jira terbelalak mengerti. "Oh, aku tau! Dia bilang kalau kita pasti bertemu lagi. Mungkin selalu bertemu. Haha, jika dia memang ada di barat, kemungkinan aku akan bertemu lagi dengannya dalam pencarian!" seru Jira. Dahinya berkerut lagi. "Gelang akar? Aku jadi ingat pedagang itu yang diberi gelang akar oleh pendekar Zuan," sambungnya.
Sedangkan di sisi lain, Kay menerima gelang yang sama dari burung rajawali. Dia sudah tahu pengirimnya sebelum membukanya. Mengejek Jira karena mengembalikan tabung bambu miliknya. Kay tertawa setelah menggosok gelang itu yang bertuliskan penipu. Dia tahu Jira menuju barat. Untuk itu dia mengirim salam lewat gelang akar. Merasa belum waktunya untuk bertemu Jira. Kay memakai gelang itu dan pergi ke tujuannya.
Tak sadar Jira tidur di atas kudanya. Malam hampir datang, Jira bangun saat mendengar kudanya kelelahan. Dia segera turun dan kudanya lemas seketika.
"Cen Cen? Astaga! Maaf, aku ketiduran. Kita... Kita istirahat di sana!" Jira menunjuk gubuk di tepi hamparan gandum yang siap panen.
Menuntun kudanya, sampai di gubuk itu Cen Cen langsung tidur. Jira menghela napas panjang. "Kasihan sekali," gumamnya. Gandum yang berkualitas tinggi penuh di kanan-kiri jalan. Jira pikir ini masuk wilayah pemukiman warga.
Jingga yang hampir menghilang. Dingin dua kali lipat lebih terasa. Gubuk kayu seperti pelindung sekarang. Jira mengambil kain tebal yang dia bawa untuk menyelimuti kudanya. Dia sendiri sibuk mengelus tangan dan meniupnya, menyalurkan hawa hangat.
Melihat sekeliling tidak menemukan tanda masuk desa maupun kota, justru hutan lebat yang ada di depannya.
'Hutan. Mungkin akan ada bunga melati di sana. Mungkin juga ada makanan. Cen Cen juga butuh air. Aku tidak bisa meninggalkannya di sini untuk mencari air,' batin Jira.
Awan mendung berputar memberi tanda. Angin dingin datang mungkin karena hujan. Jira tahu, dia kembali dihadapkan dengan kondisi hujan malam di jalanan. Bukan karena keselamatannya, tetapi kudanya. Jira bingung, dia memanggil burung pipit lagi dengan serulingnya. Sayangnya tidak berpengaruh. Terlintas di otaknya jika akan ada yang menghalangi jalannya lagi.
Jira menatap hutan lebat itu datar. Sebentar lagi hujan. Jira memilih membuat api. Tidak ada batu ataupun kayu. Dia mengambil beberapa rumput dan tanaman gandum yang tidak ada isinya. Membuat api dengan mematahkan kayu gubuk. Tangannya memutar kayu sangat cepat seperti sudah terbiasa. Percikan api keluar sangat lama, tetapi berhasil membakar tumpukan rumput dan tanaman gandum itu. Tepat di sebelah kudanya. Cahaya dan percikan api membuat hatinya tenang.
Hujan turun tanpa angin dan gemuruh petir. Namun, dingin masih terasa. Jira selalu menatap kudanya yang tidak terganggu. Dia takut jika kudanya sakit.
"Hah, bodohnya aku ketiduran dan membiarkan Cen Cen berjalan begitu lama." desah Jira sambil meniup tangannya.
Malam tanpa bintang. Dia kedinginan dan terjebak sendirian. Angan Jira melayang. Jiwanya sebagian Jenderal kembali membuncah. Dia memikirkan strategi masuk hutan seperti strategi perang. Melirik hutan lebat itu yang ingin sekali dimasuki. Menunggu seseorang menjadi mangsa berikutnya.
"Iya. Itu hutan sesat. Setiap ranting dan bunganya akan menghisap darah. Entah manusia maupun hewan. Itu sebabnya burung-burung tidak menerima panggilanku," gumam Jira.
Api mematik tangannya. Jira mendesis. "Aku tidak boleh sampai tersesat. Anggap saja sama seperti hutan kembar!" putus Jira dan bersandar gubuk.
Api tidak padam karena air tidak bisa mengenainya. Jira harap hujan terus seperti itu. Tidak ada angin yang membuatnya lebih kesulitan. Jira ingat obat-obatan yang diberikan para murid tabib di desa Kurcaci waktu itu. Dia mengambilnya dan mengoleskan obat itu di telapak kaki kudanya. Daun-daun yang dia hancurkan lagi kini menempel di sekitar kaki Cen Cen. Dia sendiri tidak menginginkannya.
"Bukan aku yang sakit, tapi kotaku," gumam Jira.
Tangannya tak henti memijat kaki Cen Cen dan mengelusnya. Semakin malam, semakin kebal akan dingin. Api juga hampir padam. Hujan belum reda. Jira membuat api lagi dengan sisa rumput dan tanaman gandum. Tidak ada yang bisa dia lakukan. Hanya mendesah pasrah dan menunggu.
"Kuasa Sang Pencipta. Alam memang luar biasa, begitu juga takdir. Siapa yang tau akan hari esok. Jika mungkin aku selamat dari kematian beberapa kali, maka Sang Pencipta mengizinkanku melakukan tugasku. Jika kemungkinan aku mati kemudian hari, Jenderal perempuan ini akan mendapatkan keselamatan dalam bertugas. Aku yakin,pendekar baik itu tengah menjaga bunga melati saat ini," lirihnya menatap hujan.
Sangat gelap tiada penerangan. Hutan itu lebih gelap dan menjadi ancaman. Jira memilih tidur agar tidak merasakan dingin lebih lanjut. Saat apinya padam, hujan juga belum berhenti. Dia dan kudanya harus bermalam di gubuk itu.
Sisa hujan masih terasa. Embun sangat menyegarkan dan Jira bangun lebih awal dari kudanya. Menyaksikan matahari terbit dengan sedikit senyum tersungging. Tanah basah, tetapi tanah di dalam gubuk juga ikut basah. Jira penasaran, dia mencabut rumput dan memeriksanya. Tanah di akar rumput itu berair. Jira mengerutkan dahi karena air itu berwarna kebiruan. Air dari hujan tidak berwarna biru.
Otaknya mulai bekerja. Dia masih duduk melamun tidak mau bangkit sebelum kudanya bangun. Matanya tidak berkedip menunggu matahari terbit. Aroma segar menggelitik penciumannya. Sampai matahari sudah terlihat terang dan kudanya bangun lebih baik, Jira berdiri. Rencananya, akan di lakukan.
Jira mengemasi barangnya dan mengajak Cen Cen melangkah. Untunglah obat-obatan yang Jira gunakan berhasil membuat kudanya tidak sakit. Pandangan lurus ke hutan lebat. Tiap langkahnya pasti. Saat akan memasuki hutan itu, dia berhenti. Berganti berada di depan kudanya menjadi petunjuk jalan.
"Cen Cen, ikuti langkahku!" suruh Jira tanpa berpaling.
Dua pohon beringin seakan menjadi pintu. Kaki Jira telah masuk dan diikuti kudanya. Aura gelap menyelimuti. Pendengaran yang tajam, Jira bisa mendengar desisan lapar daun dan ranting itu. Banyak tumbuhan aneh yang tidak tumbuh di hutan lain. Jira terus melangkah waspada.
Tidak sengaja kakinya menginjak ranting yang merambat melengkung menimbulkan suara keras. Seketika desisan semu itu menjadi nyata. Ranting-ranting hidup menampakkan wujudnya dan mengepung Jira.
Kudanya meringkik keras. Jira segera menarik serulingnya dan mengeluarkan belati menyerang dengan gerakan cepat tanpa menyentuh ranting-ranting itu. Dalam sekejap mereka terpotong dan jatuh. Jira berhenti tepat di depan kudanya.
"Ranting jelek!" gumam Jira melihat ujung semua ranting yang jatuh. Berwarna merah darah ingin menghisap.
Memegang tali kudanya kuat-kuat dan melangkah sangat hati-hati. Matanya meneliti bunga-bunga aneh. Sangat berbeda dan besar.
'Hutan ini lembab karena hujan atau hal lain?' pikir Jira.
Menghirup aroma hutan dalam-dalam, tidak mendapat petunjuk tentang aroma bunga melati. Matahari membantu Jira dengan pacaran sinarnya membuat hutan itu menjadi terang. Sebuah tumbuhan aneh menghalangi jalan Jira. Hanya ada satu daun yang sangat besar bahkan melebihi tinggi Jira. Terpaksa Jira berhenti dan meneliti tumbuhan itu dari kejauhan.
Rencana Jira, menghindari setiap tumbuhan aneh dan melangkah tanpa suara keras, maka bisa keluar dengan selamat. Dia menghindari tumbuhan aneh itu. Seakan terjadi ilusi, tumbuhan itu berkembang menjadi dua dan menghalangi Jira. Jira beralih ke sisi lain dan tumbuhan itu berkembang menghalanginya lagi. Sekarang ada tiga tumbuhan aneh menjadi pagar jalan. Jira tidak bisa tinggal diam.
"Cen Cen, mundur!" tajam Jira mendorong kudanya dengan satu tangan. Kudanya menurut dengan mudah.
Jira memasang posisi. Dengan tenaga penuh Jira menancapkan serulingnya hingga menembus tanah tepat di depan tumbuhan itu. Seperti menjerit kesakitan, tumbuhan itu menggeliat dan menghilangkan dua bayangannya. Lalu, menghilang. Jira tahu caranya akan berhasil karena tumbuhan tetap hidup karena akar. Jira yakin, serulingnya membunuh akar utama hingga putus.
Jira tersenyum miring. Kembali berjalan hingga dia rasa hanya berputar-putar. Selama tiga kali Jira mengitari tempat yang sama. Hari juga sudah siang.
"Ck, sampai malam datang pun nggak bisa keluar dari sini! Ilusi apa lagi ini?" decak Jira kesal.
Bahkan Jira tidak tahu arah mata angin sekarang. Tidak ada barang bawaannya yang bisa membantu. Jira harus berpikir keras. Matahari menyilaukan matanya saat Jira maju satu langkah. Dia mendongak, langit cerah awan terbuka memunculkan cahaya matahari. Jira pikir ada petunjuk. Dia melihat kembali sekeliling hutan. Terang yang lebih terang ada di sisi kanannya.
"Itu pasti jalan yang benar!" gumam Jira.
Jira segera menuju sisi kanan dan tumbuhan yang sama tidak dia temukan lagi. Jalan yang berbeda dan semakin terang, tetapi tetap tidak boleh lengah. Terpaksa dia harus terus berjalan sampai menemukan petunjuk lain.
"Sepertinya Sang Kuasa membantuku," gumam Jira.
Jira rasa sudah berada di tengah hutan. Tidak ada halangan lagi kecuali dirinya yang lelah. Kudanya pun sama. Mereka perlu istirahat, tetapi tidak bisa sembarangan menyentuh apalagi untuk sekedar duduk. Jira berhenti lagi. Buah, bunga, dan pohon besar. Mereka berbisik menghasut Jira untuk singgah.
"Cen Cen, jangan makan rumputnya!" seru Jira karena kudanya akan makan rumput hutan.
Jira mengerti, sepertinya kudanya terhasut karena tidak mendengarkannya.
"Cen Cen, jangan makan! Aku bilang jangan makan!" seru Jira lagi sambil mencoba mendongakkan kepala kudanya. Sayangnya kuda itu menolak dan memakan rumput itu.
Jira tersentak. Rumput-rumput itu hidup dan mengikat kaki kudanya sampai terjatuh. Perlahan merambat menutupi kudanya yang mencoba melepaskan diri. Jira ingin menolong, tetapi kaki-tangannya juga terikat rumput.
"Aarrghh! Bagaimana ini?"
Jira meronta begitu juga kudanya yang sudah hampir tertutup sepenuhnya.
'Gawat! Cen Cen akan terhisap darahnya!' batin Jira saat melihat dedaunan merambat dan mendekati mereka terlebih lagi pada kudanya yang sudah tidak berdaya.
Jira semakin panik. Dia tidak bisa berpikir jernih. Semakin terasa kaku tidak bisa bergerak, Jira mencoba sekuat tenaga untuk melepaskan diri.