Rumput-rumput itu berhasil diputus Jira. Namun, mereka menyambung lagi. Saat dirinya lelah dan menyerah, terlintas jika tumbuhan hidup bisa merasakan sesuatu. Kepekaan yang sangat tajam termasuk pada ancaman.
'Jika di sini penuh ilusi, aku juga akan pakai ilusi,' pikir Jira.
Rumput sudah melilit kuat tubuhnya dan kudanya tidak terlihat. Daun-daun itu menempel di atas rumput dan mulai menghisap. Jira tidak punya banyak waktu. Dia mengeluarkan jarinya dari rumput dan mengubah rumput di tubuhnya menjadi berwarna seperti api menyala. Seketika daun-daun penghisap itu mendesis mundur.
Jira tersentak karena berhasil. Mereka sadar takut api membakarnya. Mengubah rumput di atas kudanya menjadi warna api yang sama, kemudian rumput-rumput itu pergi dengan sendirinya. Mereka terbebas dari cengkeraman. Jira segera mebuat kudanya berdiri dan naik ke punggungnya.
"Cen Cen, lari... Lari!!!" seru Jira menarik tali Cen Cen kuat.
Kuda putih itu meringkik dan lari sangat cepat. Mengundang para ranting dan daun menghalangi jalannya. Jira menyibak jalan dengan memotong semua ranting dan daun di depannya menggunakan belati di serulingnya.
"Hiyaa!!! Lebih cepat Cen Cen!" seru Jira sembari tangannya tidak berhenti.
Mereka haus melihat Jira seperti makanan. Tidak tahu mengarah ke mana, kudanya terus berlari hingga lupa rasa lelah. Jira merasakan gelombang yang membuatnya tidak bisa bernapas dalam sedetik. Dia masuk dalam gelombang tak kasat mata dan semua ranting daun itu berhenti mengejar. Mereka tidak bisa masuk seperti Jira. Jira menoleh ke belakang, menyuruh kudanya berhenti dan bingung.
"Apa yang terjadi? Ini masih di hutan yang sama,' batin Jira.
Matanya melihat gelombang itu seakan tidak ada apapun. Jira kembali menatap ke hadapan. Dia turun dari kudanya dan sembarangan berpijak. Tida terjadi sesuatu yang sama. Hutan itu adalah hutan biasa.
"Cen Cen, sepertinya ini tidak ada tumbuhan penghisap darah. Kita bisa istirahat sebentar," gumam Jira mengelus rambut kudanya tanpa berhenti berjalan.
Dia mencari lahan yang cocok untuk berhenti. Menemukan semak-semak yang sedikit rumput, Jira duduk di sana. Kudanya juga sangat lelah. Napas Jira terengah seakan tidak bernapas saat di kejar tumbuhan penghisap.
Jira merebahkan diri bersandar pada kudanya. Menatap pepohonan dan langit yang masih cerah. Sunyi tanpa suara.
"Hah, akhirnya bisa istirahat. Aneh sekali! Hutan ini tidak ada yang jadi pengganggu. Apa ini ilusi lagi?" gumam Jira penuh tanya.
Kakinya bergerak-gerak tidak sengaja menendang sesuatu yang berlembab.
"Eh, lumpur?"
Mengangkat kakinya yang terkena lumpur. Jira mengambil sedikit lumpur itu.
"Lumpur biru? Lebih biru dari tanah kemaren," gumam Jira mengamati lumpur itu.
Mencium aromanya yang segar bukan seperti tanah melainkan air. Seketika Jira sadar penyebabnya. Air dari kota Air mengalir hingga ke hutan ini dan bahkan ke tempat persinggahan. Jangkauan yang sangat luas.
"Ini baru satu arah, belum ke semua arah mata angin. Luar biasa! Bahkan tanah sampai berwarna biru. Seperti apa beningnya kota Air?" Jira bicara sendiri sambil merasakan lumpur di jarinya.
Sekitar dua jam Jira beristirahat tanpa gangguan. Matahari menunjukkan ke mana Jira akan pergi. Barat tepat di depannya. Dia tidak lapar, tetapi kudanya harus makan. Jira tidak menjamin apa yang ada di hutan bisa di makan. Dia harus bisa keluar dari hutan sebelum malam tiba.
Pakaiannya sedikit kotor begitu juga dengan kudanya. Kewaspadaan Jira meningkat saat merasakan sesuatu mendekat. Sangat besar dan mengincarnya. Melirik kanan-kiri, senyap. Pura-pura tidak peduli, ternyata dugaannya benar. Serangan dari belakang hampir mengenai kudanya. Dengan sigap Jira mendorong kudanya kuat dan sesuatu berupa cairan itu mengenai rerumputan. Kudanya meringkik panik. Ular raksasa dua kali lebih besar dari kudanya mendesis mengerikan di hadapan Jira.
"Jangan panik Cen Cen! Lari! Menjauhlah!" teriak Jira sambil mundur perlahan.
Matanya melebar menatap taring ular itu. Dia akan menyemburkan racun. Jira segera menepi dan cairan racun itu mengenai pohon. Kudanya semakin ketakutan dan pergi menjauh. Jira menengok kudanya panik. Kembali menatap ular raksasa dengan takjub sekaligus bingung.
'Bagaimana bisa ada ular raksasa? Semua raksasa sudah musnah, bukan? Ini mustahil!' batinnya.
Jira pikir ini ilusi lagi. Semua hewan semua bertubuh normal. Tanpa berkedip berusaha terhindar dari ular itu. Jika Jira lari, kudanya juga ikut terancam karena ular itu pasti mengejarnya.
"Wahai, Ular! Makhluk apa kau ini!? Aku yakin ini tipuan! Tunjukkan wujud aslimu!" teriak Jira tanpa takut.
Ekor ular itu berwarna biru. Jira terkejut. Banyak sekali warna biru yang dia temui. Jira bergerak ke samping jika ular itu mengancam dengan desisnya. Ular itu mematuk Jira, tetapi Jira melopat di atas kepala ular itu. Membuat sang ular mendesis hebat. Jira berteriak kesulitan menjaga keseimbangannya. Sisik ular licik membuatnya terpeleset dan jatuh.
Jira memekik. "Aarrghh! Sshhh, sakit sekali!"
Meringis kesakitan dan bangkit. Ular itu berusaha memakannya dengan membuka mulut lebar. Jira teriak ketakutan melihat taring ular raksasa. Dia lari secepat mungkin ke ekor ular itu. Namun, dia di kejar. Jira melewati beberapa pohon dan ular itu mengikutinya. Sampai sang ular terlilit tubuhnya sendiri di antara pohon. Jira berhenti sambil mengatur napas.
Sayangnya, ular itu berhasil merusak pohon-pohon itu dengan mudah. Jira melotot, dia kembali lari mengikuti ekor ular itu. Saat kepala ular lebih dekat, Jira lompat ke ekor ular dan lari sebisa mungkin meskipun licin. Seketika ular itu menggigit ekornya sendiri. Dia kesakitan. Ekornya berdarah hampir putus. Jira tersentak saat melihat kepala ular itu lebih jelas.
Ada permata biru di kepala ular itu. Jira tidak tahu pasti, tetapi dia pikir ularnya bisa mati jika permatanya dicabut. Jira segera merangkak ke tubuh ular itu sebelum ularnya sadar setelah kesakitan. Licin mebuat tangannya juga susah menempel.
Berhasil sampai ke kepala ular. Jira mencabut serulingnya dan mengeluarkan belati yang tersembunyi. Mencongkel permata biru itu sekuat tenaga. Ular itu sadar dan menggeliat merusak lebih banyak pohon. Jira kekusasahan dan hampir jatuh. Dia berpegangan erat pada seruling. Ekor ular itu ikut menyerang. Sesekali menghantam tubuh Jira keras. Jira teriak walau masih berusaha melepas permata birunya.
'Ini ilusi! Pasti ini ilusi!' pikir Jira.
Dia berusaha lebih keras agar bisa memposisikan dirinya lebih baik. Kakinya menekan kuat kepala ular dan tangannya mencongkel lebih dalam. Lalu, berusaha menarik sekuat tenaga sampai permata itu terlepas dan hilang entah ke mana bersamaan ular itu menggeliat tak karuan. Jira jatuh lagi, kali ini lebih sakit sampai lutut dan telapak tangannya berdarah.
Jira terkejut. Ular raksasa itu bukanlah ular, melainkan air. Dia berubah menjadi air berbentuk ular setelah permata birunya hilang. Kemudian, Air itu menyatu dengan tanah. Menyiprati Jira hingga basah kuyup. Jira menutupi wajahnya dengan lengan. Sampai air itu benar-benar meresap ke tanah.
Jira membuka matanya sambil menghela napas panjang. Tenaganya seakan terkuras habis. Banyak pertanyaan di benaknya.
"Hutan ini mengerikan! Jika orang biasa yang masuk, pasti sudah mati di awal hutan. Siapa sangka jika ular itu bukanlah makhluk, tetapi air. Siapa yang menancapkan permata biru sampai membentuk ular raksasa hidup? Bukannya mencari bunga melati, justru sibuk menyelamatkan diri dari hutan ini. Kalau begini terus, bagaimana aku bisa cepat menemukan bunga melati?" gumam Jira lemas.
Napasnya masih tersenggal-senggal. Menatap langit penuh harapan. Seketika ingat jika kudanya menjauh untuk berlindung. Jira bangkit dan mencari kudanya. Belati itu disembunyikan lagi dalam seruling. Semua dalam dirinya basah. Jira berjalan sempoyongan. Kepalanya pusing karena ular raksasa itu menggeliat terus-menerus. Masih ingat wujud ular itu yang berubah menjadi air. Biru yang sama seperti lumpur dan permata. Semakin yakin jika semua ini terjadi karena kota Air.
Namun, Jira tidak bisa menyimpulkan tanpa bukti. Tidak jauh dari tempatnya tadi, Jira telah menemukan kudanya dan memeluknya erat. Kudanya meringkik ringan.
"Cen Cen, kita harus keluar dari hutan ini sekarang juga jika tidak mau mati." ujar Jira sambil menutup matanya.
Sesaat Jira merasa tenang memeluk kudanya. Kemudian kembali menatap ke belakang. Pohon-pohon tumbal karena ular itu masih terlihat. Berserakan dan basah. Jira tersenyum menghela napas. Sudah terjadi, maka biarkan terjadi.
"Mungkin ini yang dinamakan hutan sesat. Banyak bahaya dan ilusi yang bisa meyesatkan orang." gumam Jira seraya menuntun kudanya lagi.
Pandangannya lurus mengikuti arah matahari. Tumbuhan dan bunga hutan memang aneh. Beberapa dari mereka bisa Jira kenali. Itu berarti tumbuhan itu tidak berbahaya. Jira menghindari tumbuhan yang aneh. Seiring dia melangkah, air di pakaiannya perlahan menghilang. Masih sedikit dingin karena tiba-tiba ada angin yang berhembus pelan. Jira mendesah pasrah. "Apa lagi sekarang?"
Tidak ada tanda-tanda bahaya, hanya angin yang semula tidak ada. Jira tidak peduli. Semakin dia melangkah, semakin ada banyak tumbuhan bunga berwarna cerah. Hutan itu menjadi tidak suram. Jira bingung. Senyumnya terukir melihat bunga penuh warna terus ada di sepanjang jalan. Hingga dia tiba di hamparan bunga yang diselingi pepohonan.
Terpesona, takjub karena ada hamparan bunga tersembunyi di dalam hutan. Jira menatap jauh ke hadapan. Tidak ada jalan seperti hutan lagi. Membuatnya berpikir jika tidak mungkin sudah keluar dari hutan. Jira berhenti dan menoleh ke belakang. Dia terkejut hebat. Semua pohon hutan hilang digantikan bunga. Jira hanya ternganga.
'Ilusi lagi?' tanyanya dalam hati.
Tiba-tiba sinar matahari tiga kali lebih cerah. Jira mengernyit menatap langit. Mulutnya terbuka lebih lebar tidak bisa berkata-kata. Matahari ada tiga. Kini Jira tidak tahu mana arah barat yang asli. Bukannya merasa panas, suhu masih biasa saja. Hanya lembab karena Jira yakin itu karena air biru di dalam tanah.
Dihadapi cobaan yang bersangkutan dengannya. Jira mengenal semua jenis bunga itu. Tidak ada satu pun melati di antara mereka. Jira berdecak karena tidak menemukan solusi. Otaknya berpikir lebih keras tanpa kembali berjalan.
"Tidak mungkin matahari ada tiga. Dua dari mereka hanya bayangan." gumam Jira sambil melirik tiga matahari yang menyilaukan.
Jira mencium aroma bunga-bunga itu. Dahinya berkerut karena tidak mencium bau apapun. Semakin waspada, Jira tidak menyentuh bunga-bunga itu. Di iseng merubah semua bunganya menjadi satu warna putih, tetapi justru berubah warna hitam. Jira tersentak. Melihat tangannya sendiri dengan bingung. Tidak mungkin jika kekuatan kecilnya terjadi kesalahan.
Kembali mencoba merubah warna mereka, tetapi yang muncul tetap warna lain. Terus seperti itu berulang-ulang hingga Jira memastikan apa yang terjadi. Tidak sengaja pandangannya mengarah pada langit saat merubah warna bunga. Jira heran melihat sesuatu. Seperti ada garis cahaya yang membuat sihirnya keliru. Jira mencoba lagi merubah warna dan garis cahaya itu semakin jelas di matanya.
Semakin yakin jika bukan penglihatannya yang salah, tetapi garis itu memang benar. Memantulkan sihir Jira yang awalnya untuk warna tertentu berubah menjadi warna lain.
"Bagaimana bisa?" gumam Jira menatap langit sambil terus bermain sihir.
Tiga matahari, hutan menjadi hamparan bunga, sihirnya melenceng dari aslinya. Jira mendapatkan kesimpulan. Ada sesuatu di langit yang membendung membuat sihir. Tanpa henti Jira terus bermain dan menarik seruling dengan tangan kirinya. Kilatan sinar itu semakin jelas.
"Cen Cen, bersiaplah!" seru Jira.
Melompat ke punggung kudanya dan melompat lagi lebih tinggi sambil menghunuskan serulingnya menantang langit. Ujung seruling itu menabrak sesuatu sangat keras. Menancap dan mebuat beberapa retakan. Jira masih berpegangan di seruling dan meninju sesuatu itu lebih keras. Retakan semakin banyak. Membesar seperti langit terlihat retak. Jira tersentak, dalam hati merasa senang karena perkiraannya tepat.
"Cermin air!" gumam Jira tersenyum miring.
Langit itu nampak pecah, tetapi terlihat langit yang sesungguhnya. Matahari yang asli terlihat dan dua bayangannya menghilang. Jira jatuh dengan posisi yang tepat. Tidak ada luka sama sekali.
Itu adalah cermin yang juga terbuat dari air sehingga sebening air. Menyerupai langit dan memantulkan sihir Jira menjadi berbeda. Bersamaan dengan hancurnya cermin air, hutan kembali hadir dan hamparan bunga tiada.
Jira menyimpan serulingnya lagi di pinggang. Mendesah dengan senyum. "Lebih baik seperti ini. Dari pada keindahan yang hanya ilusi," gumamnya meyiratkan makna dalam.
Melihat arah matahari yang menuju barat, Jira melanjutkan perjalanan. Tidak tahu apa lagi yang terjadi di depan, langkahnya selalu pasti. Hatinya bergemuruh tiap kali ada bahaya, tetapi dengan sigap dia menghadapinya. Demi bunga melati, dirinya harus selamat dari ujian apapun.
Kakinya merasa lemas lagi. Belum keluar hutan meskipun matahari sudah hampir tenggelam. Seharian dia gunakan untuk berjalan. Tanpa hasil, justru lelah. Anehnya, sudah tidak ada yang mengganjal. Jira sempat berpikir akan keluar dengan mudah setelahnya, tetapi belum bertemu jalan keluar hutan.
Meskipun ilusi kembali mengujinya, Jira tidak menemukan jawaban ataupun celah. Namun, kakinya berhenti melangkah saat memijak tanah yang sangat gembur. Menunduk melihat kondisi tanah yang hampir berlumpur. Pakaiannya suda kering dengan sendirinya, tetapi sepatunya kini kotor.
Jira mencoba mengikuti tanah basah itu. Tidak ada tanda lain yang membuatnya berada di jalan bahaya. Selama matahari masih terlihat, Jira tahu arah ke barat.
'Semoga dapat keluar sebelum matahari tenggelam,' harapan Jira dalam hati.
Semakin cepat dia menyusuri jalan itu dan berujung berlari sampai menunggangi kudanya.
"Cen Cen, ayo ikuti tanah gembur itu!" seru Jira menarik tali kudanya mengarahkan jalan pada kudanya.
Kuda itu lari cepat sesuai arahan Jira. Jira gelisah dan terus menatap matahari. Dia tidak mau bermalam di hutan ini. Pepohonan semakin jarang terlihat. Jira semakin antusias mengikuti tanah basah. Seakan petunjuk yang dapat membawanya keluar.
"Lebih cepat!" teriak Jira tidak melewatkan pandangan.
Senyum Jira melebar. Tepat saat matahari tenggelam, dia berhasil keluar dari hutan sesat. Jira merasa kembali menembus gelombang tak kasat mata. Tanah gembur itu menghilang berganti tanah biasa. Kudanya berhenti setelah sedikit jauh dari hutan. Jira menyuruhnya berbalik ke belakang.
"Kita memang sudah keluar dari hutan itu. Kita berhasil, Cen Cen!" seru Jira senang.
Malam yang indah dengan rasa lelah. Jira melihat sungai yang juga mengalir ke hutan.
'Oh, mungkin dari sungai itu mebuat air dalam tanah menjadi biru. Apa mungkin sungai ini berasal dari kota Air?' pikir Jira.
Dia mengarahkan kudanya menuju sungai. Sangat cantik, berkilau karena cahaya malam. Seakan sisa matahari masih memancarkan sinarnya menunggu bulan benar-benar datang. Jira turun dari kudanya dan duduk di tepi sungai. Melamun melihat air yang mengalir.
"Hah, rasanya lega." desahnya sambil meluruskan kaki.
Kudanya masih celingukan bingung. Dia istirahat dengan sendirinya. Suasana sangat berbeda dibandingkan dengan hutan sesat. Jira seakan bisa bernapas dan menemukan dunianya lagi. Kini dengan bebas bisa mencari bunga melati lagi. Di sekitar sungai, banyak rumput hijau yang baru tumbuh. Bunga kecil-kecil berwarna biru mengiringi rumput. Pemandangan yang Jira rindukan di kota Bunga. Sayangnya dia jauh sekarang.
Menatap pantulan dirinya di air, sangat lelah. Jira membasuh wajahnya di sana. Senyumnya semakin merekah merasakan kesegaran. Dia mengarahkan kepala kudanya agar minum. Mengisyaratkan jika tidak ada yang salah dengan airnya. Kudanya minum dengan sangat rakus. Jira tersenyum untuk itu.
Bulan sudah datang. Bayangannya terpantul di air sungai. Pancaran sinar yang menenangkan. Jira merebahkan diri dengan tangan sebagai bantalan.
"Bulan sabit yang sangat indah!" gumam Jira.
Terlena sebentar. Dia ingat kalau dia belum makan. Melirik kudanya yang mengunyah rumput dengan malas setelah puas minum. Celingukan mencari sesuatu yang bisa dimakan.
"Aku lapar!" ujarnya.
Jira berdiri sambil mengelus kepala kudanya. "Cen Cen, aku mau cari makan di sekitar sini. Kau jangan ke mana-mana, ya!" pinta Jira.
Kudanya diam saja. Jira tersenyum, tahu jika kudanya tidak akan pergi. Dia mencari pohon yang berbuah. Kebanyakan pohon hanya menghasilkan daun berbunga tanpa buah. Jira tidak pergi jauh, tidak menemukan makanan. Memilih kembali membiarkan perutnya kosong. Seharian tidak makan, dia akan lemas esok hari.
Duduk menekuk lutut dan menyangga kepala. Melihat sungai yang merayunya untuk istirahat. Sayangnya, perutnya keroncongan. Jira terkejut hebat saat ada yang menepuk pundaknya. Jira menoleh kaget.
"Kau terkejut, ya?"
Suara parau wanita tua yang memakai kain penutup kepala dan membawa keranjang kecil. Jira menghela napas lega.
"Nenek?" tanya Jira.
Wanita tua itu tersenyum dan duduk di samping Jira. "Apa kau tersesat?" tanya wanita itu.
Jira ikut tersenyum ramah. "Ah, tidak. Nenek ini siapa? Kenapa ada di sini?" Jira berbalik bertanya.
Wanita tua itu menatap bulan, "Cahayanya sangat indah, bukan? Memikat setiap orang dalam heningnya malam." katanya sambil menunjuk bulan.
"Iya, bersinar indah!" jawab Jira ikut melihat bulan.
Wanita tua itu membuka keranjangnya di hadapan Jira. "Aku punya beberapa makanan ringan. Kau mau?" tanyanya menawarkan.
Jira menoleh, menatap makanan itu. "Terima kasih, tapi aku masih kenyang," tolak Jira dengan senyum.
Wanita tua itu tersenyum. "Aku tau dari wajahmu. Sangat lelah dan penampilanmu kusut. Gadis cantik sepertimu harus pandai merawat diri. Tidak baik jika sampai kelaparan. Ambil ini, makanlah!" tuturnya lembut sembari mengambil beberapa makanannya untuk Jira.
Jira terkesan. Menatap wanita tua itu dan makanannya bingung. Dia mengambil tanpa ragu. "Nenek baik sekali! Aku akan memakannya jika Nenek juga makan!" ujar Jira.
"Aku sudah makan, tapi kalau kau memaksa, baiklah!" katanya dengan senyum yang tidak hilang.
Ikut membuka bungkus makanan bersama Jira. Dalam hati Jira merasa senang mendapatkan makanan, juga penasaran dengan wanita tua di sampingnya.