Jira menikmati santapannya dengan tenang. Senang rasanya ada seseorang. Dia lega karena tidak sendirian sebagai manusia. Cahaya bulan tidak bisa ditolak. Jira terus menatapnya. Wanita tua itu mendesah membuat Jira menoleh.
"Saat bulan purnama muncul, apa yang merugikan menjadi lebih mengerikan. Tidak ada cahaya yang lebih indah dari sekarang." kata wanita tua yang kembali memakan makanannya.
Jira mengernyit bingung. "Apa maksudmu?" tanya Jira.
Wanita tua itu menoleh, "Hanya meracau. Aku sudah tua, ingin melihat keindahan kembali seperti semula. Rasanya itu tidak mungkin sekarang." jawabnya sambil menggeleng kecil.
Jira semakin bingung. Suara yang sangat khas di usianya yang sudah tua menggetarkan hati Jira.
"Nenek, aku datang dari jauh. Perjalananku terganggu di hutan sana. Apa itu yang kau maksud?" tanya Jira menerangkan.
Wanita tua itu mengerti, "Hutan itu penuh tipu muslihat. Kenapa kau bisa keluar? Aku tau, pasti itu tidak mudah. Jika saja kau melewati jalur lain, kau tidak akan bertemu hutan itu untuk sampai ke sini. Misalnya, ikut arus sungai biru ini." katanya sambil menatap sungai.
Dahi Jira berkerut. "Sungai biru?"
"Tidakkah kau lihat airnya berwarna biru?" jawab wanita tua sambil tanpa menghilangkan senyum. Jira menatap sungai itu. "Kau dari mana? Kudamu sepertinya sangat kuat. Dia kuda yang hebat." sambung wanita tua sambil menata ulang isi keranjangnya.
Jira menatap lagi. Dia tertawa ringan. "Kau sangat pandai memuji. Kau benar, Nek! Aku bukan warga biasa. Aku punya kedudukan, seorang Jenderal dari kota Bunga. Namaku Jira," jawab Jira mengerti maksud wanita tua itu.
Seketika wanita tua itu melebarkan matanya. "Jadi, kau seorang Jenderal? Uhukk-uhukk!"
Sangat terkejut sampai terbatuk.
"Nenek, kau tidak apa-apa?" tanya Jira khawatir.
Wanita tua itu menggeleng sambil mengelus dadanya. Kembali menatap Jira. "Kau seorang Jenderal? Tak heran bisa keluar dari hutan itu. Aku, memberi salam padamu!" menangkupkan tangannya sambil menunduk.
Jira melepaskan tangkupan tangan wanita tua itu. "Aku Jenderal dan aku tetaplah manusia. Tidak perlu sungkan apalagi takut." kata Jira ramah.
Wanita tua itu mendongak. "Bagaimana bisa aku sangat beruntung bertemu pejabat kota yang hebat sepertimu? Aku seperti melihat bulan purnama kembali memancar indah!"
Dia sangat senang menatap wajah Jira. Jira hanya tersenyum meskipun tidak mengerti.
"Nenek, kau siapa? Datang dari mana? Kenapa bisa ada di sini?" tanya Jira lagi.
Wanita tua itu mendesah. "Aku tinggal di luar kota Air. Sedang mencari rumput kering yang sudah tidak terlihat selama satu bulan ini. Aku membuat manisan dari rumput kering. Rasanya manis sekali. Aku menjualnya di pasar kota. Sayangnya, aku tidak bisa masuk lagi ke sana. Kota itu berubah, Jenderal. Seperti pergantian bulan," ceritanya dengan wajah sayu.
Jira heran. "Manisan dari rumput kering? Kenapa kau tidak tinggal di kota? Kenapa juga tidak bisa masuk? Apa penjagaan sangat ketat?" tanya Jira.
Wanita tua itu menggeleng. "Di sana bahkan tidak ada penjaganya. Aku sarankan kau jangan masuk ke sana, Jenderal! Jangan masuk ke sana!"
Jira sedang berpikir, tetapi dia tersenyum. "Baiklah, tapi kenapa tidak ada rumput yang berubah kering? Apa juga karena kota Air?" tanya Jira. Wanita tua itu mengangguk. "Lalu, bulan itu? Apa maksudmu?" Jira bertanya lagi tentang bulan.
"Ahaha, setiap malam bulan purnama, aku melihat hutan itu menjadi lebih ganas. Mereka yang masuk tidak bisa kembali. Hanya itu yang aku maksud. Jenderal, usiaku sudah layak untuk mati, tapi aku juga takut mati. Sendirian rasanya sangat menyiksa hati. Hanya malam dengan seribu sunyi yang menghiburku. Selagi masih muda, buatlah kebaikan. Jangan sampai ada yang sendiri sepertiku," katanya sambil menasehati Jira.
Dia kembali menatap sungai. Keriput wajahnya terlihat jelas. Jira mencerna ucapan wanita tua itu. "Aku senang bertemu denganmu. Membuatku merasa tenang karena ada manusia. Sejak kemaren sore, hanya tanah dan pohon yang kutemui," balas Jira melenceng dari pembicaraan.
Wanita tua itu tertawa. "Bulan bersinar. Air meluap. Keadaan terbalik tanpa tujuan. Semua akan keluar dari jalannya. Permainan ini seperti penjara sampai tua. Aku... Uhukk-uhukk!"
Wanita tua itu kembali batuk sebelum melanjutkan ucapannya. Jira ingin membantu, tetapi wanita tua itu menolak, "Kemanapun tujuanmu, aku sarankan jangan masuk ke kota Air. Kau bisa putar jalan meskipun menghambat. Hah, ini malam yang indah. Aku harus pulang." katanya tertatih sambil berdiri.
"Eh, kau mau pergi? Bukankah rumahmu masih jauh?" cerah Jira bertanya.
"Aku sudah terbiasa jalan kaki. Kalau kau mau ikut denganku tidak masalah. Ayo, nanti aku buatkan minuman hangat." jawab wanita tua sambil membawa keranjangnya.
Jira tersenyum. "Kudaku sudah kelelahan. Tidak mungkin aku bangunkan dia. Aku akan bermalam di sini. Besok, aku akan berkunjung di rumahmu jika sempat. Terima kasih untuk makanannya," kata Jira.
Wanita tua itu merenggangkan badannya. "Semoga tidurmu nyenyak, Jenderal. Aku akan sangat senang kalau kau benar-benar datang. Malam ini malam yang damai. Selamat malam, Jenderal!" Suara lemah lembut itu semakin melemah saat berjalan.
"Kau yakin tidak mau aku antar?" tanya Jira khawatir.
Wanita tua itu melambaikan tangannya tanpa menoleh.
"Selamat malam juga." gumam Jira menjawab.
Cahaya di air seperti bintang yang mengambang. Tak henti-hentinya mebuat Jira terpesona. Sungai itu menghanyutkan. Jira mendesah, kembali melamun menatap air sungai. Tidak dia sangka, wanita tua itu datang hanya untuk membagi makanan dengannya. Dari nada suara wanita tua itu, Jira bisa tahu jika dia sekarat. Namun, mengerti hatinya yang ingin melakukan sesuatu sesuai keinginannya. Layaknya permintaan terakhir sebelum kematian, dia menolak bantuan Jira untuk dikasihani.
Jira melihat bayangan wajahnya di air. Wajah murung yang memikirkan sesuatu. Banyak pertanyaan yang tidak terjawab. Banyak hal baru yang didapatkan. Banyak pula peristiwa tak terduga. Lewat hutan sesat dan wanita tua itu, Jira belajar jika kematian selalu mengintai dan keindahan tak selamanya indah, begitu juga dengan kegelapan yang tak selamanya buruk. Sunyi mebuat seseorang menjadi tenang. Jira menduga, jika benar wanita tua itu akan tiada, dia harus memberikan tempat peristirahatan dengan seribu kesunyian untuk menghiburnya.
Satu hal yang Jira belum mengerti yaitu tentang kota Air. Wanita tua itu ingin kembali merasakan kehidupan di kota Air. Namun, dia tidak bisa masuk dan memilih menghabiskan masanya di luar kota sendirian. Andai saja wanita tua itu bisa masuk ke kotanya, pasti akan lebih bahagia berjumpa banyak orang dan keramaian.
Jira berkedip satu kali. "Tidak ada penjagaan, bagaimana dia tidak bisa masuk? Sebenarnya apa yang terjadi?" gumam Jira. Dia terus melamun. "Lantas air dari kota Air mengalir sangat jauh hingga tanahnya berubah menjadi biru," lanjut Jira.
Merebahkan diri di samping kudanya. Bulan sabit seakan menyapanya. Kenyataan penuh suka dan duka datang bersamaan. Jira tidak menyangka jika masih ada orang yang baik di sisa hidupnya.
'Dia sangat kuat!' batin Jira.
Matanya terus melihat bulan tanpa berkedip. Kini sasaran Jira selanjutnya adalah kota Air. Memikirkan itu Jira terlelap dengan sendirinya.
~~~
Mentari sudah tampak di ufuk timur. Tidak banyak waktu, Jira pergi mencari rumah wanita tua itu. Jarak yang cukup lumayan, membuatnya tidak habis pikir. Wanita tua itu pasti sangat kelelahan.
"Sudah cukup istirahatnya!" ujar Jira.
Dia membuat kudanya menjadi sangat cepat. Sampai melihat sebuah rumah yang tidak ada rumah lain disekitarnya. Jira segera masuk ke rumah itu.
"Nenek?" Jira membuka pintu kayu yang sudah rapuh, tidak ada orang.
Melihat tirai usang, Jira membuka tirai itu. Dia terkejut hebat. Pakaian yang sama, kain penutup kepala yang sama, dan keranjang kecil dengan isi yang sama. Wanita tua itu tergeletak di tanah dengan senyuman. Jira sangat cemas. Dia memeriksa wanita tua itu.
"Hei, kau dengar aku? Aku sudah datang ke rumahmu, kau bangunlah!" pinta Jira.
Jira menggoyangkan badannya, tetapi wanita tua itu tak kunjung bangun. Badannya kaku dan dingin. Jira memeriksa denyut nadinya. Ekspresi Jira mendadak datar. Wanita tua itu sudah tiada, kemungkinan kemarin malam tepat dia sampai di rumah.
"Aku benar. Itu memang keinginan terakhirnya." gumam Jira terduduk lemas.
Jira melihat wajah tua itu tersenyum. Hatinya ikut tersenyum. Tidak boleh ada air mata yang tumpah. Jira menggendong wanita tua itu dan membaringkannya di atas kain. Lalu, Jira membawanya naik kuda kembali ke tepi sungai.
'Tidak ada tempat yang lebih indah dengan seribu kesunyian selain sungai itu. Kau bisa melihat sungai biru dengan jelas di atas sana bersama bulan sabit. Aku, Jenderal Jira mendoakanmu agar mendapatkan keselamatan. Aku bangga pada kebaikanmu. Aku berjanji, apapun yang terjadi pada kota Air, aku akan mengembalikannya seperti semula sesuai keinginanmu. Terima kasih, untuk makanannya. Buatlah manisan rumput kering di atas sana,' batin Jira.
Perasaannya tidak bisa dijelaskan. Saat sampai di tepi sungai, Jira menggali dengan kayu yang dia patahkan dari pohon. Tanpa ekspresi, dia terus menggali sampai matahari sedikit tinggi. Bunga-bunga kecil berwarna biru di sekitar sungai Jira taburkan di gundukan tanah itu. Jira menyiramnya dengan air sungai. Tidak membuang waktu lagi, setelah mendoakan, Jira pergi menuju kota Air.
Niatnya serius terlebih lagi gerbang kota itu sudah terlihat. Biru yang lebih biru dari sebelumnya. Banyak air mengelilingi, memantul seperti cermin terkena sinar matahari. Bahkan ada jembatan untuk masuk antara gerbang ke kota. Jira berhenti di depan gerbang. Tidak ada penjaga, ramai orang terlihat sangat gembira. Jira bingung karena tidak ada tanda-tanda bahaya.
'Hal aneh apa yang terjadi? Aku tidak melihatnya,' batin Jira.
Dia turun dari kuda. Menghela napas panjang dan perlahan masuk. Saat kakinya menapaki kota itu, Jira terpaku. Rasanya seakan melayang dengan ribuan bunga biru. Air memenuhi otaknya membentuk sebuah kristal. Tiba-tiba bola matanya berubah menjadi biru. Senyum Jira terukir. Lebih lebar dan sangat bahagia. Dia tertawa lepas. Memasuki kota dengan riang sambil menarik kudanya. Dia berdiri di tengah-tengah jembatan. Takjub dengan apa yang dia lihat.
"Wah! Ini luar biasa! Aku seperti berada di surga!" pekik Jira dan tertawa.
Dia berputar dan merentangkan tangan sambil menutup mata. "Hmm, segar sekali!" serunya bahagia.
Seakan lupa apa tujuannya, pikiran Jira hanya penuh dengan air. Tidak tahu malu karena semua orang di sana sama seperti dirinya. Terpesona dengan keindahan kota Air. Kudanya terus meringkik mengundang beberapa orang datang. Mereka menarik Jira untuk bergabung melihat-lihat kota. Jira dengan senang hati menerima uluran mereka. Sangat jelas jika mereka juga pendatang seperti Jira. Laki-laki dan perempuan menjadi satu di sini. Hidup seakan tidak ada sedih, hanya senyum dan kebahagian yang terpancar.
Seakan tersihir, mata mereka semua berubah menjadi biru, kecuali satu orang wanita. Dia memakai pelindung kepala dan mengawasi Jira sejak Jira masuk ke kota. Pakaiannya terbilang bagus bak orang kaya. Kulitnya bening sangat cantik. Dia pergi saat Jira dibawa oleh para pendatang.
"Wah! Lihat airnya mengalir!" seru Jira menunjuk sungai yang memisahkan satu desa dengan desa lain. Tangannya tidak melepaskan tali kudanya.
"Iya! Hei, lihat di sana! Laki-laki di kota Air sangat tampan!" seru orang yang menarik Jira.
Jira celingukan mencari orang yang ditunjuk.
"Mana? Mana mereka?"
"Aku melihatnya! Ayo ke sana!"
Mereka berseru seakan merasakan kebahagian tingkat tinggi. Jira terkikik mengikuti mereka. Dia tidak peduli dengan laki-laki yang mereka maksud. Hanya saja, Jira takjub dengan semua orang dan tatanan kota Air. Orang-orangnya sangat cantik dan tampan, memiliki kulit yang cerah. Semua desa dipisahkan dengan air yang mengalir seperti sungai. Mereka menyambung melamun jembatan dan perahu. Kota Air terlihat seperti pulau-pulau kecil.
"Hei, kau tampan sekali! Apa pekerjaanmu?" tanya orang yang ada bersama Jira pada salah satu laki-laki itu.
Para lelaki itu tersenyum manis membuat semua wanita memekik senang. Jira hanya melebarkan senyuman.
"Aku pengrajin batu biru. Kau juga cantik! Selamat datang di kota indah kami!" jawab laki-laki itu dengan suara mempesona.
Para perempuan itu semakin memekik heboh.
"Batu biru? Apa itu?" tanya Jira antusias.
Laki-laki itu menatap Jira dari atas sampai bawah. Dia berkerut dahi karena pakaian Jira yang kotor dan belum mandi. "Di sana ada pemandian batu biru. Kau bisa bersihkan diri dan bersantai di sana," saran laki-laki itu.
Jira ikut melihat dirinya. "Ah, aku kotor sekali, ya?" tanya Jira menunjukkan deretan giginya.
"Benarkah? Ayo kita ke pemandian batu biru!" seru seseorang bersama Jira.
"Memangnya kau tau?" tanya Jira.
"Tidak. Kalau belum dilihat mana tau?" jawab perempuan itu sambil mengendikkan bahu dan menarik Jira lagi diikuti para perempuan lainnya.
Jira menarik kudanya yang ikut pasrah. Di sela jalannya, ada beberapa kawanan kuda melaju cepat mebuat Jira dan yang lainnya menepi. Kuda Jira sampai meringkik sambil mengangkat kakinya.
"Mereka itu kuda apa? Semuanya terawat bersih!" tanya Jira masih menatap kuda-kuda itu.
"Itu kuda istana kota. Mereka pasti selesai berkeliling kemudian kembali," jawab salah satu dari mereka.
Jira merasa bodoh. "Kuda istana?" gumamnya tanpa berkedip.
Tangannya ditarik lagi, tetapi Jira masih menatap kuda-kuda itu. Jira lupa diri. Dia tidak tahu asal usul dan tujuannya. Kini yang dia tahu hanya dirinya berada di kota Air dan ingin berada di sana selamanya. Sampai di pemandian batu biru, Air terjun murni dari sungai turun melewati bebatuan yang berwarna biru dan sangat menyejukkan. Dingin membuat Jira merinding sekaligus nikmat. Saat ingin mengganti pakaian, dia lupa alasan kenapa membawa perbekalan dan kuda. Bahkan serulingnya, Jira memandang serulingnya dengan sangat menelisik. Walaupun bingung, seruling itu tetap dia tancapkan di pinggang. Besi dengan simbol kota Bunga juga membuatnya bingung. Jira tetap menyimpannya dalam pakaian.
"Ayo Cen Cen, kita cari makan!" ujar Jira tanpa sadar sambil menarik tali kudanya.
Baru selangkah, Jira berhenti. 'Cen Cen? Kenapa aku memanggil kudaku Cen Cen? Sejak kapan aku punya kuda?' batin Jira.
Memandang kudanya dalam tak menghiraukan seruan para perempuan yang bersamanya. Jira pikir, sejak tadi dia memegang kuda itu berarti itu adalah kudanya. Jira mengendikkan bahu. Dia pergi berbeda arah dengan para perempuan itu. Senyum mempesona Jira tampilkan layaknya gadis cantik.
Rumah dan bangunan yang sangat unik. Berada dari kota lainnya. Jira masuk ke rumah makan dan memesan begitu saja.
"Bos besar! Aku mau makan! Beri kuda putihku makan juga, ya!" seru Jira berteriak membuat beberapa orang menatapnya.
Pemilik rumah makan itu datang dan menyuruh seseorang untuk memberi makan kuda Jira.
"Mau pesan apa, Nona cantik?" tanya pemilik rumah makan itu ramah.
"Emm, ada apa saja?" tanya Jira polos.
Pemilik rumah makan itu menjelaskan dengan senang. "Kami ada menu istimewa yaitu sup akar biru. Dengan memakan itu kau bisa merasa lebih segar dan tahan lapar," sarannya.
"Wah, kedengarannya menarik! Kenapa semuanya semuanya serba biru?" Jira bertanya dengan lolos lagi.
"Karena ini kota Air. Airnya pun berwarna biru. Batu dan tanah juga berwarna biru. Hanya bisa berubah bening jika penguasa kota merubahnya. Ah, tunggu sebentar. Aku buatkan pesananmu!" jawab pemilik rumah makan ramah dan pamit.
Jira hanya mengangguk. "Sup akar biru? Apa akar seperti gelang ini?" gumam Jira melihat gelang akar di pergelangan tangannya.
Dia mencoba mengingat sesuatu, tetapi gagal. Menunggu pesanannya datang sambil menyangga kepala. Seorang wanita yang mengawasi Jira tidak sengaja melihatnya ada di rumah makan. Dia terkejut.
"Jenderal Jira?" gumam wanita itu.
Seruling di pinggang Jira menjadi pertanda. Wanita itu tahu betul siapa Jira. Dari sekian banyak pengunjung yang tinggal di kota Air, hanya Jira yang menarik perhatiannya.
'Jenderal hebat seperti dia tidak diragukan lagi. Kini, aku ikut menaruh harap padamu, Jenderal!' batin wanita itu.
Dia pergi lagi. Tidak lama kemudian pesanan Jira datang.
Jira menganga kagum. "Aromanya membuat perut lapar! Benar-benar warna biru!" seru Jira melihat sup dalam mangkuk.
Pelayan itu pergi dan Jira langsung memakan sup itu. "Hmm, akar pedas!" kata Jira merasakan akar yang dia makan.
Seketika dia merasa kenyang dan lebih bertenaga. Jira membayar dengan harga mahal. Uangnya tinggal separuh, Jira tidak peduli.
Jira memanggil kudanya kembali. Mata biru itu membuatnya tidak berhenti tersenyum. Jalan tak tahu arah. Sampai satu desa berhasil dia telusuri. Puas melihat keunikan di desa tepi perbatasan kota, Jira beralih ke desa lain yang lebih dekat dengan istana kota. Tidak sadar dia bertemu Jenderal kota Air yang berjalan di arah berlawanan. Biru di matanya justru semakin cerah.