Kerlingan cahaya nampak di mata. Dua ksatria perempuan yang hebat dalam bidangnya kini saling tidak mengenal. Biru yang lebih cerah itu terlihat sangat percaya diri. Seketika pedang terangkat, berbalik menghunus Jira di hadapan. Jira berhenti, menatap polos Jenderal kota Air.
"Siapa kau? Sepertinya aku mengenalmu," tanya Jenderal kota Air.
Jira tidak menjawab. Semua orang menyaksikan heboh. Namun, dengan gerakan secepat kilat Jira mencabut serulingnya dan menangkis pedang itu hingga mendorong pedang itu membuat Jenderal kota Air sedikit memundur. Jira menodongkan serulingnya balik tanpa berkedip.
"Aku tidak tau, tapi aku rasa juga mengenalmu," jawab Jira.
Mereka yang menyaksikan di jalanan membicarakan apa yang terjadi. Tidak menyangka jika Jira bisa melawan tanpa ragu.
"Wah, mereka akan berkelahi! Hei, bukannya itu Jenderal kita?"
"Mereka berdua sangat cantik!"
"Ada apa ini? Kenapa di tengah jalan?"
Ribut para laki-laki berparas menawan warga asli kota Air. Menunjuk Jira dan Jenderal kota Air yang berhadapan tanpa bergerak.
"Kau tamu di sini?" tanya Jenderal kota Air.
Jira nampak berpikir. "Aku rasa begitu," sambil menurunkan serulingnya.
Jenderal kota Air memandang Jira dari atas sampai bawah kemudian memasukkan pedangnya kembali ke dalam sarung pedang. "Baiklah! Nikmatilah hatimu! Kita bertemu lain waktu!" ujarnya seraya berlari dan melompat dari rumah ke rumah.
Jira berbalik menatap Jenderal itu yang seperti terbang.
"Wah, Jenderal kita hebat! Dia memang hebat!
"Seperti pendekar saja! Aku juga mau seperti itu!"
Mereka bersorak bertepuk tangan. Jira masih bertanya-tanya dengan sedikit senyum simpul.
"Ayo Cen Cen. Kita pergi," gumam Jira menarik tali kudanya dan kembali ke jalannya.
Menyeberangi aliran air untuk menuju tempat indah lainnya. Suara bising seperti memukul sesuatu terdengar sangat nyaring membuatnya penasaran.
"Pak, aku mau ke sumber suara itu!" pinta Jira.
"Diamlah, Nona! Kalau tidak perahunya akan terbalik!" ujar orang yang punya perahu karena Jira menunjuk sumber suara menimbulkan gerakan yang dapat mengguncang perahunya.
Jira tersenyum konyol. Perahu kayu yang sangat besar bahkan bisa dimuat belasan orang dan hewan. Kuda Jira dengan tenang berdiri di atas perahu sambil melihat air. Talinya masih dipegang Jira erat. Ada jembatan, tetapi Jira ingin naik perahu. Dia sangat terhibur. Sampai di tempat berikutnya, Jira segera menuju ke tempat pengrajin batu biru. Suara bising yang dia dengar berasal dari sana.
Jira menganga melihat banyak ukiran dan patung yang terbuat dari batu. Beberapa orang memahatnya dengan teliti. Berisik semakin keras, palu memahat bergantian, Jira sampai menutup telinganya. Puas dia melihat para pengrajin batu biru, Jira pergi lagi tanpa lelah berkeliling desa. Sampai tengah hari panas terik dan rasanya tetap sejuk. Kakinya sudah mengukir beberapa tempat. Kini di depan gerbang istana kota. Jira seperti orang bingung di sana.
Istana yang megah dikelilingi air. Jira sempat berpikir jika sebuah kota punya istana yang begitu luar biasa melebihi sebuah negeri.
"Istana kota?" bingung Jira.
Kakinya ingin melangkah masuk, tetapi penjaga menghentikannya. Jira terpaksa pergi lagi. Tak tahu mengapa hatinya sangat sedih. Dia hanya berjalan terus sambil menunduk.
Sedangkan Jenderal kota Air itu sudah kembali ke istana kota. Dia menemui penguasa kota.
"Salam, Yang Mulia! Keadaan kota aman! Semua yang berkunjung merasa nyaman!" lapor Jenderal perempuan itu sambil menautkan tangannya dan menunduk.
Penguasa kota Air tersenyum bangga. "Baguslah! Lanjutkan tugasku, Jenderal!" ujarnya.
"Baik!"' seru Jenderal kota Air dengan lantang.
Dia pergi menuju ke kandang kuda istana. Pedang di tangannya tidak pernah terlepas. Pedang yang bertangkai batu biru khas miliknya. Wajahnya selalu serius, berbeda dengan Jira. Parasnya cantik dan lebih tegas. Kuda-kuda istana meringkik melihat kedatangan Jenderal itu. Semua penjaga menundukkan kepala. Tanpa bicara, dia membawa satu kuda dan menungganginya. Sangat cepat keluar istana. Tujuannya ke pasar kota.
Semua orang menepi saat dia melintas. Banyak laki-laki yang terpesona. Hanya dia yang memiliki mata biru lebih cerah, karena tugasnya berbeda. Dia berhenti di sebuah rumah yang dekat dengan pasar. Bunyi ramai orang-orang terdengar meriah sampai dia tidak bisa mendengar salah satunya. Masuk ke rumah itu tanpa permisi.
"Yang Mulia!" teriak Jenderal itu.
Seseorang di dalam rumah yang sibuk mencari sesuatu di lemarinya menjadi terkejut. Dia segera memakai pelindung kepala. Sayangnya saat berbalik, dia dikagetkan dengan Jenderal kota Air yang sudah masuk ke kamarnya.
"Lancang sekali!" seru wanita itu.
Jenderal kota Air justru memicingkan matanya melihat lemari yang masih terbuka. "Apa yang kau cari?" tanyanya tanpa sopan.
Wanita itu ingin marah, tetapi Jenderal kota Air juga tidak bisa disalahkan karena dia juga terhasut.
"Kenapa kau datang lagi?" tanya wanita itu.
Jenderal kota Air mendesah. "Yang Mulia! Aku ke sini karena penguasa kota yang baru. Dia menginginkan sihirmu," jawabnya.
Wanita itu adalah penguasa kota Air yang asli. Dia juga yang mengawasi Jira sejak Jira datang ke kotanya.
"Sihir apa lagi yang lebih mengerikan dari perbuatannya, ha? Aku bisa saja merubahmu menjadi air yang tidak mau mengikuti arusnya, Jenderal!" tajam wanita itu.
"Jangan lupakan ini, Yang Mulia! Kau terikat! Jika kau melawan, aku bisa membuatmu tiada bersama tenggelamnya sebagian kotamu." jawab Jenderal itu tanpa ekspresi sambil menunjukkan permata biru di tangannya.
Wanita itu melihat permatanya. 'Sial! Aku terikat kota ini tidak boleh tenggelam!' batinnya.
"Sihir apa yang dia mau?" tanya wanita itu.
"Sihir pengendali arus air," jawab sang Jenderal.
Wanita itu melepas pelindung kepalanya dengan kasar. "Omong kosong apa lagi ini!? Aku tau rencananya! Dia mau mengubah arus air, bukan? Ingin mengubah dan menguasai seluruh kita seperti kota Air? Jangan lupakan kalau aku penguasa kota yang asli! Hanya aku yang berhak mengendalikan di sini!" ujarnya marah.
Jenderal itu menggenggam batu permata biru dengan sangat kuat tanpa melepas pandangannya dari mata wanita itu. Seketika tubuh wanita itu terasa kaku. Darahnya seakan berhenti mengalir dan napasnya sesak.
"Jenderal! Sadarlah! Matamu sudah merubah segalanya! Kau kelewat batas!" seru wanita itu tersenggal-senggal.
"Yang Mulia! Sudah kukatakan jika aku tidak akan segan. Berikan sihirnya!" pinta Jenderal kota Air.
"Lepaskan permatanya!" pinta wanita itu yang sudah merasa dingin.
Jenderal kota Air melepaskan genggamannya. Batu permata biru itu kembali dia simpan. Napas wanita itu terengah. Dia memunculkan air di udara dan membentuk lingkaran.
"Terima ini! Pengendali arus air yang hanya berlaku di kota Air. Meskipun sungai mengalir jauh, itu tidak akan berpengaruh. Jika dia minta keseluruhan maka kita air akan tiada!" kata wanita itu dan melempar bola air itu. Jenderal kota Air menarik pedangnya dan menerima kekuatan itu. Airnya meresap ke dalam pedang.
"Pedang ini menjadi lebih kuat," gumam Jenderal kota Air menelisik pedangnya.
"Ingatlah jika aku masih melindungi kota. Kekuatan kalian tidak akan mampu di luar kota!" tajam wanita itu.
Jenderal kota Air memasukkan pedangnya kembali. Dia memberi salam. "Aku pergi!"
Wanita itu hanya diam melihat Jenderal yang dulu menjadi kepercayaannya kini ikut tersihir penguasa kota, merubah segalanya dengan melakukan perintah penguasa kota baru.
"Kedudukan dan kekuasaan membutakan segalanya. Hanya yang memiliki hati bersih mampu mengendalikan keadaan. Aku tidak bisa bertindak karena sebagian kekuatanku berpindah padanya. Jika aku mati karena batu permata biru, kota Air juga akan hancur," gumam wanita itu.
Kembali mencari sesuatu dalam lemari. Setengah dari bubuk ajaib yang mampu membuatnya sadar. Hanya bisa digunakan untuk satu orang. Karena itu dia tidak terpengaruh sihir saat tahtanya direnggut. Namun, penguasa kota yang baru juga tidak bisa berbuat semena-mena padanya karena kota Air dalam kuasa penguasa kota yang asli. Tanpa penguasa kota asli, kota Air kehilangan kemurniannya. Nasibnya akan sama seperti kota Bunga jika tiada.
Terlalu rumit untuk berpikir. Wanita itu pergi mencari Jira dengan membawa bubuk itu. Sayangnya, di berbagai tempat dia tidak berhasil menemukan Jira karena Jira berada di gua sekarang.
Langkahnya tidak menyadari keluar jauh dari istana kota. Jira dan kudanya ada di hutan kota dengan pintu gua lebar di hadapan. Jira meneleng bingung. Seakan buat keadaan, Jira selalu bertanya-tanya.
"Kenapa guanya biru? Air tidak berwarna biru. Dia jernih dan berwarna karena sebab. Lalu, semua di sini penuh warna biru. Hanya tumbuhan dan tanaman saja yang tidak biru," gumam Jira menatap pintu gua.
Kudanya meringkik. Jira menoleh sambil mengelus kepala kudanya. "Kau kenapa? Mau masuk gua?" tanya Jira kemudian melihat pintu gua lagi. "Itu terlihat mengerikan," lirihnya.
Jira memilih menunggangi kudanya. Pergi dari gua itu dengan sangat pelan. Kanan-kiri penuh dengan pepohonan dan semak belukar. Bebatuan dan tanah berwarna biru. Sangat sejuk disertai angka ragam bunga dan buah. Jira merasa gelisah. Kepalanya seakan mengenal sesuatu. Matanya memandang semua yang ada di hutan.
'Kenapa aku merasa harus melakukan sesuatu? Ini semua tidak asing,' batin Jira.
Kuda itu membawanya keluar hutan. Dia tiba di hadapi dengan sungai yang sangat deras. Lagi dan lagi sebuah desa ada di depan sana. Jembatan kayu melengkung indah. Sangat kuat untuk jalan keluar-masuk desa. Senyum Jira terukir lagi.
"Wah! Sungai lagi!" pekiknya.
Mata birunya semakin biru melihat air sungai. Jira lompat dari kudanya dan mendekat. Melihat bayangan dirinya di sungai. Kurang jelas karena airnya mengalir deras. Jira menyentuh air itu.
"Sshh, dingin!" gumamnya menarik tangannya lagi.
Wajahnya kembali murung. Hatinya menolak murung mebuat Jira berperang dalam perasaannya sendiri. Berdiri sambil mendesah panjang. Menatap desa di depannya dengan senyum cerah. "Aku akan ke sana!" seru Jira semangat.
Menarik kudanya lagi berlari menyeberangi jembatan. Di saat yang bersamaan, penguasa kota yang asli sibuk mencari Jira. Pelindung kepalanya dia gunakan karena tidak ingin rakyatnya mengetahuinya. Jira terus terpesona dan menjelajahi kota Air hingga tak kenal waktu. Dia tidur dimanapun ada orang yang sama seperti dirinya. Entah sudah berapa lama para tamu yang mulanya lewat menjadi singgah di kota Air. Uang Jira habis untuk makan dan bersenang-senang. Dia suka main air bersama orang-orang.
Sudah tiga hari penguasa kota asli mencari Jira dan belum menemukannya. Waktu terus berlalu. Keadaan tetap sama. Setiap hari ada orang yang berkunjung berubah menjadi menatap. Tidak ada permasalahan. Semua orang bahagia. Tidak ada yang namanya sedih dan kecewa. Ini bukanlah kehidupan, tetapi semua orang di sana kehilangan kehidupannya.
Tiga hari berubah menjadi satu minggu. Penguasa kota itu lelah mencari keberadaan Jira. Dia sampai berkali-kali mengitari desa ke desa. Sedangkan Jira terus berlari dengan senangnya.
Bulan sabit berubah menjadi purnama. Genap satu bulan Jira berada di kota Air. Membuang waktunya untuk mencari bunga melati. Saat ini Jira berada di pasar penghujung kota. Ada aku terjun yang memancarkan pelangi. Bersamaan dengan penguasa kota yang juga sampai di sana. Pasar itu menjadi ramai karena pemandangan air terjun. Berbagai macam barang didagangkan termasuk senjata. Jira melihat semua senjata itu. Mengambil anak parah yang sangat runcing. Memandang dengan teliti.
"Ini kualitas bagus, Nona! Kalau kau memakainya, tidak akan meleset dari sasaran!" ujar penjual senjata itu.
"Benarkah? Aku rasa ini sama seperti anak parah yang lain." kata Jira tanpa melepaskan pandangannya dari anak parah itu.
"Ah, ini buatan khusus. Tidak bisa disamakan dengan yang lain. Kau mau beli?" tanya penjual itu.
Jira menggeleng sambil meletakkan anak panah itu. "Tidak. Aku tidak punya uang!" jawab Jira tanpa sungkan.
Pedagang itu terlihat kesal. "Kalau tidak punya uang kenapa ke sini? Pergi sana!" usirnya.
Jira acuh dan pergi melihat yang lain. Semua barang yang dia sentuh membuat pedagang jengkel karena Jira tidak mau membelinya. Tiba-tiba Jira di tarik beberapa orang yang dia temui di gerbang masuk kota.
"Hei, kita bertemu lagi! Mau ikut kami?" tanya salah satu dari mereka.
Jira mengangguk kuat. Tidak ada lelah mereka kembali bersenang-senang. Tidak pernah berhenti kagum pada kota Air. Sedangkan penguasa kota itu tengah sembunyi saat berhasil menemukan Jira karena Jira bersama beberapa orang.
"Aku harus membawa Jenderal kota Bunga itu sekarang juga," gumamnya penuh tekad.
Mengikuti langkah Jira. Sore menjelang malam mebuat mereka istirahat di air terjun sambil bermain air. Biru yang lebih indah saat terkena sinar jingga matahari di barat. Di sela tawanya, Jira selalu melihat ke langit. Ada banyak kicauan burung pipit seakan memberi pertanda.
'Aku merasa ada yang aneh dengan diriku,' batin Jira.
"Hei, aku mau pergi sebentar. Kudaku lapar!" ujar Jira pada mereka.
Mereka mengangguk dan Jira membawa kudanya menjauh dari air terjun bahkan keluar dari pasar. Rumput hijau tampak menggoda. Kudanya berhenti dan segera makan. Jira ikut berhenti dan duduk di atas rerumputan. Menekuk kakinya masih belum puas memandang langit.
Penguasa kota itu menghela napas panjang karena akhirnya Jira sendirian. Dia menghampiri Jira dan duduk di sampingnya, membuat Jira tersentak.
"Kau siapa?" tanya Jira bingung.
"Nyatanya jingga di langit sangat indah melebihi birunya air." Penguasa kota ikut memandang langit tanpa menjawab Jira.
Jira mengerutkan dahi. "Kau tidak suka kota ini?" tanya Jira menggeleng pelan.
Penguasa kota itu tersenyum, menatap Jira. "Suka! Aku sangat mencintai kota ini melebihi diriku sendiri. Terlebih lagi jika kota ini kembali jernih seperti semula," jawabnya.
Jira semakin tidak mengerti. Kemudian penguasa kota memanggilnya dengan wajah serius. "Jenderal kota Bunga!"
Jira hanya diam tidak mengerti siapa yang wanita itu panggil. Tiba-tiba penguasa kota meniupkan bubuk ajaib di wajahnya membuat Jira menutup mata.
Jira mendadak kaku. Dia membelakakkan matanya kaku. Seketika warna matanya berubah seperti semula. Penguasa kota itu tersenyum lega.
"Jenderal? Kau sudah sadar?" tanya penguasa kota memastikan.
Jira berkedip beberapa kali. Dia merasakan tubuhnya kembali seakan air yang memenuhi kepalanya menghilang. Jira bisa bernapas lega. Dia heran melihat sekelilingnya.
"Ini di mana? Kenapa aku seperti orang bodoh?" gumam Jira menatap kudanya dan menoleh ke pasar.
"Nasib baik kau sudah sadar. Sudah kuduga kau melupakan yang terjadi," ucap penguasa kota.
Jira kembali menghadap depan. "Siapa kau?" tanya Jira dengan nada aneh pada penguasa kota.
Penguasa kota membuka pelindung kepalanya. Menunjukkan benda sebagai tanda jati diri. Jira sangat terkejut dan menangkupkan tangan seraya menunduk. "Mohon maaf, Yang Mulia! Aku telah lancang!" ujar Jira masih bingung.
Penguasa kota Air tersenyum. "Aku penguasa kota Air. Sangat bersyukur kedatangan tamu Jenderal dari kota Bunga," ucapnya.
Jira menurunkan tangannya dan kembali menegakkan badan. "Yang Mulia, aku tidak mengerti segalanya. Bisakah Yang Mulia menjelaskan apa yang terjadi? Kenapa Yang Mulia ada di sini? Duduk di tanah berumput itu tidak layak!" kata Jira.
"Aku lebih tidak layak dianggap penguasa kota jika tidak mengembalikan kotaku seperti semula. Untuk itu aku menyadarkanmu, Jenderal. Aku butuh bantuanmu. Terlebih lagi kau pasti punya tujuan sehingga sampai di kota ini," kata penguasa kota dengan serius.
Jira menangkupkan tangannya lagi. "Apapun itu, Yang Mulia!" jawabnya.
"Sebelum itu, ayo pergi dari sini. Ini cukup jauh dari istana kota. Aku akan jelaskan setelah kita sampai di rumah sementara!" ujar penguasa kota Air sambil berdiri dan memakai pelindung kepalanya lagi.
"Baik!" seru Jira.
Jira membawa penguasa kota pergi dengan menunggangi kudanya. Mengikuti arahan yang diberikan, Jira merasa ada hal aneh yang menyelimuti kota Air. Melihat kebahagian yang berlebihan pada semua orang. Dia tidak terpengaruh lagi karena bubuk itu.
Malam datang dan bulan purnama akan muncul malam ini. Jira sampai di rumah sementara penguasa kota yang dekat dengan pasar menuju istana kota. Mereka turun dan Jira membawa kudanya bersembunyi di belakang rumah.
"Cen Cen, di sini tidak ada yang bisa dipercaya. Kau diam jangan bersuara kecuali ada bahaya. Aku akan cari tau semuanya!" bisik Jira pada kudanya sambil mengikat tali kuda ke tiang.
Jira masuk rumah lewat pintu belakang. Penguasa kota telah menunggunya. Satu wadah batu berisi air berwarna biru berada di tengah-tengah mereka. Jira tidak mengerti, dia menunggu penguasa kota Air berbicara. Tak menyangkal hatinya senang bertatap muka langsung dengan penguasa kota Air.
"Ini bukan air, tapi gelombang hipnotis!" ujar penguasa kota Air.
Jira terbelalak. "Apa?"
Seketika Jira memohon maaf, "Ampun, Yang Mulia! Maksudku, aku tidak mengerti. Karena jelas terlihat ini air."
"Itu ilusi."
Penguasa kota merubah air biru itu menjadi jernih dan nampaklah pantulan pelangi dalam gelombang. Namun, seketika berubah kembali menjadi air biru. Jira benar-benar dibuat pusing. Dia mengerjap beberapa kali. Kaget saat penguasa kota Air menjelaskannya.