Beberapa bulan yang lalu adik penguasa kota Air berhasil mencapai ilmu hipnotis tingkat tinggi. Dia mempelajari ilusi air dan menciptakan perubahan besar. Simbol air tidak ada dalam dirinya yang artinya dia tidak berhak menjadi penguasa kota Air. Membuatnya tidak terima dan merenggut tahta penguasa kota. Seluruh kota Air dilapisi gelombang hipnotis, termasuk sungai. Setiap orang yang berada di kota Air akan lupa diri dan tinggal selamanya di kota Air. Datang dari segala arah, saat menapaki kaki di kota Air maka mereka terhipnotis, tandanya saat mata berubah biru. Efeknya membuat gelombang hipnotis yang sangat besar, semua yang ada di kota Air berwarna biru. Air tidak lagi jernih. Semua orang merasakan kebahagian yang sangat besar, tidak ada emosi lain, kekaguman tiada henti dengan kota Air.
Adik penguasa kota itu menahan separuh kekuatan dari penguasa kota di batu permata biru. Pusat kekuatan kota ada di penguasa kota. Jika permata biru itu musnah maka penguasa kota akan tiada beserta kota Air. Jenderal kota Air menjadi boneka yang menjalankan semua rencana adik penguasa kota. Jika ada orang hebat yang singgah dan hampir lolos dari hipnotisnya, maka Jenderal kota Air akan menghipnotisnya kembali dengan mata cerahnya. Mereka menjadi patuh kepada Jenderal kota Air. Dia yang membantu menurunkan tahta penguasa kota. Dia yang memegang batu permata biru setengah kekuatan penguasa kota. Dia juga yang mengawasi kota agar tidak berubah seperti semula. Orang-orang di kota lain akan berpikir jika kota Air sangat damai dan makmur.
"Sungai mengalir berdasar arusnya. Bagai pulau yang terpisah, kota ini surga kecil yang menghidupi semua orang. Aku mengalirkan air ke setiap sungai hingga batas kota hilang. Jika dia merubah arus sungai akan terjadi ledakan besar. Bukan ledakan banjir, tetapi gelombang hipnotis yang lebih dahsyat. Kota-kota lain akan berada dalam pengaruhnya. Dia akan menjadi penguasa berbagai kota dan membuat dunianya sendiri. Itu tidak boleh terjadi!" terang penguasa kota.
Jira mendengarkan dengan serius.
'Jadi ini yang dimaksud wanita tua itu. Kota ini bukan lagi kota Air. Kemurniannya hilang menjadi tercemar meski indah. Aku mengerti sekarang,' pikir Jira.
"Yang Mulia, apa anda tidak bisa membalikkan keadaan seperti mebuat ilusi yang sama? Dengan begitu adik Yang Mulia bisa dikalahkan," tanya Jira memberi saran.
"Hah, ini sulit. Jika aku melawan, kotaku yang terancam. Jenderal itu tidak main-main pada permata biru. Beberapa kali dia mencoba membunuhku menggunakan permata itu. Aku tidak bisa mebuat kotaku dalam bahaya," desah penguasa kota.
Jira mencerna semuanya. "Batu permata biru? Apa seperti permata yang ada di kepala ular waktu itu?" gumam Jira.
"Kau bicara sesuatu?" tanya penguasa kota.
"Ah, hanya berpikir tentang permata biru. Yang Mulia, jika dugaanku benar, permata biru itu juga bagian dari hipnotisnya," terang Jira sungguh-sungguh.
"Apa? Bagaimana mungkin?" bingung penguasa kota.
"Sewaktu aku berada di hutan arah timur sebelum ke kota Air, aku berhadapan dengan ular raksasa berekor biru. Dia sangat kuat. Ada permata biru di kepalanya. Saat aku lepas permata itu, ular itu berubah menjadi air yang menyerupai bentuk ular, kemudian meresap ke dalam tanah. Namun, permata itu hilang. Jika dipikir lebih matang, permata biru itu hanya alat untuk membuat ilusi. Kemungkinan yang sama, ada lebih dari satu permata biru," jelas Jira.
Penguasa kota Air nampak terkejut. "Jika permata itu alat ilusi, bagaimana bisa menahan kekuatanku?"
Jira berpikir sebentar. "Apa mungkin itu permata yang lain? Yang Mulia, ini harus diselidiki. Jawabannya ada pada adik Yang Mulia dan Jenderal kota Bunga!" tegas Jira.
"Kau benar!" ujar penguasa kota.
Jira teringat sesuatu. "Sebelum ke sini ada sungai mengalir sampai ke hutan. Air itu berwarna biru. Saat aku dan kudaku meminum air itu tidak terjadi apapun, tetapi tanah menjadi biru. Rumput juga tidak ada yang mengering. Apa itu juga perbuatan adik Yang Mulia?" tanya Jira.
Penguasa kota mengangguk pelan, "Gelombang itu hanya berada di kota Air. Meskipun sungai mengalir berwarna biru dan memberi efek pada tanah dan tumbuhan, tidak akan terjadi hipnotis."
"Kalau begitu sudah jelas. Ini harus segera diatasi sebelum adik Yang Mulia mengubah arus sungai!" tegas Jira.
Sangat tercetak jelas di wajahnya rasa kesal. Tiba-tiba Jira ingat waktu. "Yang Mulia, sudah berapa lama aku di sini?" tanya Jira panik.
Penguasa kota nampak menghitung. "Aku mencarimu ke seluruh penjuru kota sekitar satu bulan tepat hari ini," jawabnya.
Jira berdiri dengan kasar. "Astaga! Satu bulan!? Itu berarti sudah lewat satu bulan lebih aku keluar dari kota Bunga. Kemungkinan hanya punya waktu kurang dari tiga minggu!" pekik Jira panik.
Dia mengusap wajahnya frustasi. 'Bagaimana aku bisa sepayah ini!?' batin Jira.
Penguasa kota bingung. Dia menatap Jira dari atas sampai bawah. "Kenapa, Jenderal? Apa ada sesuatu?"
Jira menatap penguasa kota dan menangkupkan tangan seraya menunduk. "Mohon maaf, Yang Mulia! Sepertinya aku tidak bisa membantumu! Aku sendiri dalam masalah besar! Tidak banyak waktu yang aku punya!" Jira menolak keras.
Seketika penguasa kota Air berdiri. "Apa yang kau bicarakan!? Aku butuh bantuanmu saat ini!" sedikit marah.
"Yang Mulia! Tolong mengertilah! Aku datang ke sini bukan sekedar singgah! Aku punya misi penting menyangkut kehidupan kotaku! Sekarang aku menyianyiakan banyak waktu! Aku harus segera pergi!" tegas Jira masih menangkupkan tangan.
"Misi semacam apa itu? Kau tidak boleh pergi sebelum membantuku menyelamatkan kota!" kata penguasa kota.
"Kotaku sendiri sedang sekarat, Yang Mulia! Kumohon mengertilah!" ujar Jira.
Penguasa kota Air terperangah. Jira saat ini tidak ada rasa sopan karena ingat waktu.
'Janji? Aku sudah berjanji pada wanita tua itu untuk mengembalikan kota Air seperti semula. Jika aku tidak melakukannya, arwahnya pasti tidak akan tenang di sana,' pikir Jira.
Kini Jira dilanda dilema. Dia berdecak frustasi. "Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan sekarang?" gumamnya bingung.
"Jenderal kota Bunga, apa yang mebuat kotamu sekarat? Apa terjadi sesuatu pada penguasa kota Rui Cenchana?" tanya penguasa kota menelisik.
Jira tersentak. "Bagaimana Yang Mulia bisa tau ratu Rui?" tanya Jira.
"Jangan bodoh, Jenderal! Kota Air dan kota Bunga berteman baik. Jika terjadi sesuatu pada Rui, aku tidak akan tinggal diam!" seru penguasa kota.
Jira segera jongkok memohon sesuatu. "Yang Mulia, kau penguasa kota yang bijaksana! Aku dalam perjalanan mencari bunga melati. Tinggal menghitung hari jika aku tidak berhasil maka ratu Rui akan tiada dan kota Bunga musnah. Tidak akan ada lagi aroma dan keindahan. Semua akan melenceng dari jalannya. Tumbuhan pun mungkin akan berubah. Satu-satunya cara adalah ramuan dari bunga melati agar ratu Rui bisa sembuh!" terang Jira.
Penguasa kota Air terkejut hebat. "Apa katamu!? Bagaimana bisa terjadi!? Akhir-akhir ini sering terjadi masalah. Bangunlah, Jenderal! Aku tahu tentang bunga melati!" seru penguasa kota.
Seketika Jira bangun. "Benarkah?" tanya Jira penuh harap.
Penguasa kota Air mengangguk. "Sebelum itu kau harus membantuku dulu," tawarnya.
Jira berdecak. "Yang Mulia, di saat seperti ini aku mohon jangan bernegosiasi! Aku tidak punya rasa segan sekarang!" tekad Jira.
"Kau sangat percaya diri! Aku tidak membohongimu karena aku yang ikut campur atas langkanya bunga itu. Ini aku, penguasa kota Air! Tidak ada air dariku semua tidak bisa hidup!" seru penguasa kota.
Jira menunduk lagi. "Ampun, Yang Mulia! Bukan maksudku tidak percaya, tetapi situasi sedang genting sekarang! Mohon kerja samanya!"
"Jadi kau bersedia membuat kotaku kembali lagi?" tanya penguasa kota Air.
Jira mengangguk tanpa ragu. "Akan kulakukan, Yang Mulia!"
"Bagus! Kita hanya punya waktu sekarang sampai besok! Karena kau harus segera menemukan bunga melati dan kembali ke kota Bunga secepatnya! Kotamu hancur dampaknya ke penjuru negeri." jelas penguasa kota Air.
Jira mengangguk. "Kita mulai dari Jenderal kota Air!" seru Jira serius.
Malam itu diam-diam dia menyusup bersama penguasa kota ke istana kota. Penguasa kota menggunakan sihir airnya untuk membuat semua orang di istana tertidur. Mereka membagi tugas. Jira mencari Jenderal kota Air dan penguasa kota mencari batu permata biru lainnya yang kemungkinan ada pada adiknya.
Dari gerbang sama ke dapur Jira menemukan Jenderal kota Air. Temannya itu tidak ada di setiap ruangan membuat Jira berpikir jika Jenderal kota air berada di ruangan terbuka.
"Ada sumur di sana! Sepertinya dekat dengan kandang kuda!" gumam Jira.
Berlari tanpa suara menuju sumur itu. Sepi tanpa penerangan hanya ada suara hewan malam. Mencari di sekitar sumur tidak ada. Jira melihat kandang kuda yang tidak jauh dari sumur itu. Dengan cepat menuju kandang kuda, seketika menemukan Jenderal kota Air yang sedang tidur dengan posisi duduk di ambang pintu kandang kuda yang terbuka.
"Dia memang tidak berubah!" gumam Jira sambil tersenyum smirk.
Kembali lagi berhadapan dengan Jenderal kota Air dalam keadaan sadar. Jira tidak akan terhipnotis dengan mata Jenderal kota Air karena bubuk yang diberikan penguasa kota. Perlahan Jira mendekat dan mencari batu permata biru itu di tubuh Jenderal kota Air. Seketika pedang mengancam di lehernya. Jira berhenti bergerak. Mata Jenderal kota Air itu terbuka terang. "Lancang!" ujarnya datar.
Jira tersenyum miring. "Kita bertemu lagi, kawan!" desis Jira.
Seketika Jenderal kota Air berdiri membuat Jira juga berdiri dengan pedang masih di samping lehernya. "Siapa kau? Kenapa kau tidak terpengaruh?"
"Tanyakan pada dirimu sendiri! Kenapa kau bisa terpengaruh? Lemah!" balas Jira memancing amarah.
Tahu Jenderal kota Air akan menebas lehernya, Jira menunduk dan sekali gerakan memutar dia mencabut serulingnya dan menangkis pedang itu.
"Kau menjadi lemah saat terhipnotis, ha? Ambil ini!"
Jira menjatuhkan pedang Jenderal kota Air dan menyerang bertubi-tubi dengan serulingnya hingga Jenderal kita air berhasil mengambil kembali pedangnya.
"Lemah? Kau bilang aku lemah? Akan kutunjukkan apa itu lemah!"
Jenderal kota Air menyerang dengan ganas tanpa ampun. Pedangnya seakan ingin merenggut nyawa. Jira terus menangkis bahkan pergerakannya mundur. Bunyi pertarungan pedang dan seruling itu menggema di udara.
"Kenapa serulingnya tidak patah?" gumam Jenderal kota Air heran tanpa berhenti menyerang.
"Karena aku Jenderal dari kota bunga!" jawab Jira.
Jenderal kota Air tersentak dan menghentikan serangannya. "Kau bahkan tidak tergores dan mampu menahan seranganku. Bukankah kau yang waktu itu aku temui?" tanya Jenderal kota Air.
Jira tersenyum. "Benar!" jawabnya singkat.
"Apa maumu?" tanya Jenderal kota Air.
"Dirimu!" jawab Jira.
"Apa?" Jenderal kota Air mengerutkan dahi bingung.
Jira meniupkan serbuk tak sadar diri pada Jenderal kota Air. Seketika Jenderal kota Air pingsan dan Jira membawanya ke rumah sementara penguasa kota. Jira menggelegar pakaian Jenderal kota Air dan berhasil menemukan batu permata biru itu. Jira menyimpannya. Mengikat Jenderal kita air duduk di salah satu tiang rumah dengan mata tertutup kain. Jira kembali lagi ke istana kota.
Menyusup ke kamar penguasa kota dan bertemu dengan penguasa kota.
"Yang Mulia, aku sudah menangkap Jenderal! Permatanya ada padaku. Bagaimana dengan permata yang lain?" tanya Jira berbisik.
Penguasa kota memperingatkan sekantung batu permata biru dengan bentuk yang sama. Jira terkejut.
"Kau benar, Jenderal! Kita pergi sekarang!" ujar penguasa kota dan mengajak Jira pergi ke ruang persenjataan istana.
Setiap langkah Jira selalu waspada, meskipun semua orang telah tertidur. Di ruang persenjataan juga terdapat banyak air dalam wadah, Jira sampai tidak habis pikir. Penguasa kota membuka kantung berisi permata biru itu.
"Aku rasa ini yang dipasang di ular itu, tapi kenapa?" tanya penguasa kota heran mengambil satu dari mereka.
"Mungkin salah satu dari ini terjatuh ke sungai dan membentuk ular raksasa saat airnya tiba di hutan sesat," pikir Jira menjawab.
"Benar-benar cerdik! Aku tidak ragu padamu! Sekarang mana batu permata biru yang asli!" pinta penguasa kota.
Jira mengambil permatanya dalam pakaian dan menyerahkannya. "Apa yang akan Yang Mulia lakukan?" tanya Jira.
"Mengambil kembali kekuatanku!" jawab penguasa kota.
Penguasa kota Air mebuat lingkaran air di udara dan menyerap kekuatannya kembali. Jira memandangnya takjub, tetapi ada hal lain yang mengganggu pikirannya.
'Kenapa harus di ruang senjata?' pikir Jira.
Penguasa kota itu terlihat lebih segar dari sebelumnya. Jira ikut tersenyum saat penguasa kota Air selesai.
"Sekarang tidak ada ancaman untuk mengancurkanku ataupun kota," kata penguasa kota.
Jira mengangguk senang. "Yang Mulia, kenapa kita di ruang persenjataan?" tanya Jira.
"Itu rahasia. Aku tidak bisa memberitahu," jawab penguasa kota.
Ruangan itu adalah inti dari kota Air yang sesungguhnya. Setiap pusaka dan senjata menahan daratan agar tidak terkikis. Itu dilakukan penguasa kota Air agar lebih mudah dan tidak kehilangan banyak tenaga. Setiap kota punya rahasianya sendiri.
"Baiklah! Sekarang bagaimana, Yang Mulia?" tanya Jira lagi.
"Tentu saja menghancurkan gelombang hipnotis. Artinya harus berhadapan dengan adikku," kata penguasa kota Air.
"Lalu, semua permata ini?" tanya Jira menunjuk sekantung permata biru.
"Ini bisa membahayakan warga. Kita musnahkan semuanya!" serius penguasa kota ingin menggunakan kekuatannya untuk menghancurkan semua permata itu.
"Tunggu dulu, Yang Mulia! Jika itu untuk ilusi, berarti menyangkut adik Yang Mulia! Sumber kekuatannya ada pada adik Yang Mulia! Jika dihancurkan, pasti akan bereaksi!" tahan Jira menjelaskan.
Penguasa kota menarik kekuatannya lagi. "Lalu, bagaimana?"
Jira sibuk berpikir.
'Hipnotis tingkat tinggi? Tingkat tinggi itu dapat dari mana? Pasti ada cara untuk mengatasinya,' pikir Jira.
"Yang Mulia, dari mana adik Yang Mulia bisa mencapai ilmu hipnotis tingkat tinggi?" tanya Jira.
"Ah, itu dari pikirannya sendiri. Dia menemukannya dalam seni ilusi air. Entah bagaimana dia melakukannya," penguasa kota bingung.
"Kalau begitu, kita harus berhadapan dengannya saat ini juga. Buat semua orang di kota menjadi tidur tanpa terganggu dengan sihirmu, kemudian tidak ada yang bisa mengusik pertarungan!" saran Jira.
"Apapun itu, aku percaya padamu!" ujar penguasa kota.
Mereka pergi dari ruang persenjataan dan menuju ke aula istana. Penguasa kota menggunakan sihirnya untuk membuat semua orang terlelap dan tidak akan bangun sebelum terkena air. Namun, itu tidak berpengaruh pada Jenderal kota Air yang diikat Jira. Dia sangat khusus dan tidak ada yang bisa mengganggunya selain adik penguasa kota Air. Jenderal itu berhasil terlepas dari ikatan setelah sadar akibat bubuk pingsan. Dia merasa tidak terima dan ingin mencelakakan Jira. Melihat rumah sementara penguasa kota, Jenderal itu segera mengerti keadaan dan berlari ke istana kota.
"Penguasa kota memberontak! Aku harus mengancamnya!" seru Jenderal kota Air sembari berlari. Meraba tubuhnya mencari permata biru, tetapi tidak ada. Dia berdecak, menuduh Jira telah mengambilnya. Dia lari semakin cepat.
Di aula istana kota, penguasa kota menantang adiknya untuk datang. Dia tahu bukanlah mudah membuat adiknya itu tertidur lelap. Namun, sudah beberapa panggilan tidak ada jawaban. Jira bingung, dia pergi begitu saja meninggalkan penguasa kota. Menuju pavilliun di belakang istana.
"Megahnya istana ini tidak bisa ditandingi! Aku harus menemukan adik penguasa kota. Dia pasti sedang melakukan meditasi untuk ilmu hipnotisnya agar terus mempengaruhi kota. Atau mungkin melakukan arus sungai? Tapi permatanya ada padaku sekarang." gumam Jira sambil berlari. Dia merasakan air yang mengalir seakan mengelilingi pavilliun.
'Mungkin kekuatanku tidak hebat seperti penguasa kota, tetapi aku cukup bisa berpikir jernih! Adik penguasa kota Air memang menyiapkan diri untuk merubah arus air! Suara air ini bukti kecilnya!' sambung Jira dalam hati.
Membuka paksa pintu utama pavilliun. Dia sangat terkejut sampai mundur selangkah.
"Se-setengah air?" gumam Jira.
Melayang di udara dengan bagian bawah tubuhnya adalah air. Adik penguasa kota itu hanya diam seakan fokus pada tujuannya meskipun tahu jika Jira membuat kekacauan.
"Dia menyatu dengan air?" gumam Jira masih tidak percaya.
Dia masih memandang penuh pertanyaan, sedangkan penguasa kita bertemu dengan jenderalnya di aula.
"Yang Mulia, kau memberontak!" seru Jenderal kota Air.
"Sadarlah, Jenderal!" pinta penguasa kota.
Bukannya menjawab, justru Jenderal kota air tak segan-segan mengangkat pedang pada penguasa kota. Terjadi perang satu lawan satu di aula. Mata biru cerah itu nampak menyorot di kegelapan malam. Dua orang yang sangat berpengaruh kini dipermainkan oleh hipnotis.
Suara air semakin jelas. Sebagian dari mereka keluar dari tanah. Biru air terlihat gelap karena malam. Jira masih terpaku bodoh merutuki dirinya yang terjebak sebulan di kota Air. Namun, pemandangan setengah manusia setengah air itu lebih membingungkan. Jira berpikir jika adik penguasa kota Air mengorbankan dirinya dalam air untuk mempelajari ilusi air hingga menemukan hipnotis tingkat tinggi.