19. Air Mata

2611 Kata
 Air semakin bertambah memaksa Jenderal Jira sadar. Menggeleng melihat air yang mengelilingi paviliun. Semakin naik, semakin dia terjebak di ambang pintu. Jira menatap ke istana, di sana tidak ada tanda air yang menggenang. Itu berarti air hanya ada di sekitar paviliun. Dia bingung mencari cara. Tidak sengaja pandangannya terarah ke langit. Matanya melebar.  "Bulan purnama," lirihnya.   Semua yang merugikan akan menjadi lebih mengerikan. Jira semakin terbelalak.   'Itu artinya jika gelombang hipnotis air meluap dampaknya akan dua kali lebih dahsyat. Dia tidak boleh berhasil memindahkan arus air! Bagaimana caraku menghentikannya? Dia bahkan tidak terlihat seperti manusia!' batin Jira.  Menatap adik sang penguasa kota dengan seribu pemikiran. Kakinya melangkah perlahan. Dia mencari sesuatu untuk menyerang. Terdapat panah lipat di sisi dekat pintu, Jira mengambilnya. Hanya untuk percobaan, Jira memanah tepat di jantung adik sang penguasa kota. Namun, panah itu tembus.   "Dia menjadi air! Seperti ular raksasa itu!" gumam Jira tersentak.   Memikirkan ular raksasa, dahi Jira berkerut. Tidak mungkin jika itu ilusi yang sama dari permata biru. Jira memberanikan diri untuk mendekat. Wajah yang cantik bersinar hampir mirip dengan penguasa kota. Matanya tertutup sangat serius.   'Dia tidak bisa dilukai. Kalau aku mengganggu konsentrasinya mungkin berhasil,' pikir Jira.  Celingukan bingung untuk menggagalkan usaha manusia setengah air di depannya. Jira memainkan serulingnya dengan nada sumbang. Sangat buruk dan memengkakkan telinga. Sampai Jira meringis ngilu mendengar suara serulingnya sendiri. Jira berhenti bermain seruling sambil berdecak. Itu tidak terpengaruh pada adik sang penguasa kota. Kemudian berpikir sesuatu yang bisa menghentikan air.  "Bendungan! Tapi bagaimana aku membuat bendungan? Ah, batu permata biru itu! Mereka bisa membuat air menjadi bendungan!"   Jira mengambil permata biru yang dia simpan. Masih tidak tahu cara menggunakannya, tetapi Jira meletakkan permata itu di air yang menggenang diantara adik penguasa kota. Benar-benar terjadi bendungan yang menutup manusia setengah air itu. Seakan penjara tanpa celah, Air juga tidak bisa masuk apalagi keluar.   Senyum Jira terangkat. "Ini pasti berhasil!" penuh percaya diri menunggu reaksi selanjutnya.   "Aarrghh! Siapa yang menghalangi jalanku?!!!!"   Jira tersentak mundur. Bendungan air itu runtuh dan membasahi dirinya. Sempat takut melihat adik penguasa kota membuka matanya. Dia marah dengan tangan mengepal. Napasnya turun-naik memandang Jira.   Glekk!!   Jira tidak sadar menelan ludahnya susah payah. Kakinya mundur hampir menabrak pintu.   'Biru yang lebih cerah dibandingkan Jenderal kota Air!' batin Jira saat melihat mata adik penguasa kota tanpa berkedip.   Manusia setengah air itu menunjuk Jira. "Kau! Siapa kau berani mengacaukanku, ha!?" tanyanya membentak.   'Tidak, tidak, tidak! Jangan takut! Dia hanya air! Air yang bisa menenggelamkanmu!!!' batin Jira berteriak.   Dengan berani Jira melangkah satu kali dan menjawab. "Aku Jenderal dari kota Bunga! Menyuruhmu hentikan semua ini! Kalau tidak aku akan turun tangan!" ancam Jira berseru.   Gelak tawa terdengar menggema. "Ahahahahaha!! Jenderal lemah! Aku penguasa kota Air! Aku akan membuat arusku sendiri! Kau telah....," ucapan adik penguasa kota dipotong Jira. "Lalu, akan menguasai seluruh kota, begitu? Jangan harap!" tajam Jira.   "Kurang ajar!" amarah adik penguasa kota semakin meluap.   Jira menahan diri agar tidak bergetar. Serangan tembakan dari air menusuk d**a Jira. Jira sampai keluar pavilliun dan tubuhnya basah. Air yang tadinya muncul sekarang sudah berhenti, tetapi tetap menggenang.   'Sial! Dia murka! Aku harus membawanya ke penguasa kota. Hanya dia yang bisa menghadapi saudaranya,' pikir Jira.  "Yang Mulia palsu! Malam ini adalah malam bulan purnama. Kau sudah merencanakan ini sebelumnya, bukan? Menyerap kekuatan penguasa kota dan digabungkan dengan kekuatanmu untuk membuat gelombang hipnotis besar mengikuti arus sungai yang kau ubah di malam bulan purnama agar penyebarannya menjadi lebih luas! Kau juga merelakan dirimu menjadi setengah air demi mendapatkan kekuatan hipnotis, bukan? Bayangkan saja jika kali ini kau gagal dan aku selamat, seluruh kota akan menyerangmu! Hipnotis dan ilusimu tidak akan berguna!" teriak Jira kemudian berlari menuju istana kota.   "Jenderal sialan!"   Tanpa keraguan dia mengejar Jira, melayang di udara seakan air menjadi kakinya. Dalam jati membenarkan semua ucapan Jira, meskipun bertanya-tanya bagaimana Jira bisa mengetahui segalanya di saat kakaknya sendiri sang penguasa kota tidak bisa berbuat apa-apa.   Jira terus berlari sampai ke aula istana. Dia berhenti mendadak melihat pertarungan penguasa kota dengan Jenderal kota Air.   'Bagaimana dia bisa bebas? Secepat itukah dia sadar?' batin Jira.   Mata Jira tidak lepas dari serangan pedang Jenderal kota Air. Begitu juga penguasa kota yang terus menghindar karena tidak mau melukai Jenderalnya. Seketika Jira merasa tercekik, melambung di udara dingin. Air manusia setengah air itu mengangkat Jira dan mencengkeram tubuhnya kuat. Jira kesulitan bergerak dan bernapas.   Pertarungan itu tertunda da saling mundur. Mereka terkejut melihat Jira dan penguasa kota palsu. Jenderal kota Air berjongkok dan memberi salam.   "Yang Mulia!"   Kembali berdiri menatap Jira aneh. Penguasa kota terkejut melihat keadaan adiknya.   "Tidak masuk akal! Kau mencemari kotamu sendiri!" seru penguasa kota Air.  Jenderal kota Air mendekati adik penguasa kota. Mereka berdampingan dan penguasa kota sendirian.   "Lepaskan Jenderal itu!" suruh penguasa kota.   Mata melebar dan semakin membuat Jira tersiksa.   "Yang Mulia! I-ini malam bulan purnama. Coba... Pikirkan sesuatu untuk melumpuhkan saudaramu! Aku... Ti-tidak tau caranya!" Jira terbata-bata menyarankan penguasa kota.   Jenderal kota Air dan penguasa kota melihat ke langit. Masih lama untuk puncak bulan purnama.   'Aku harus membuatnya tenggelam dan menjadikannya air sepenuhnya. Harus ada yang dikorbankan, jika itu kau sendiri adikku,' batin penguasa kota.  "Jenderal kota Bunga, menangislah!" pinta penguasa kota lantang.   Mereka semua bingung.   "Apa? Dalam keadaan se-seperti ini kau menyuruhku me-menangis? Aku bisa saja ma-mati!" Jira berteriak sebisa mungkin.   Masih meronta, tubuhnya semakin dingin dibalut air. Wajahnya sudah pucat. Jira yakin dia tidak akan bisa bertahan.   "Menangis saja! Pikirkan sesuatu yang bisa membuatmu menangis!" pinta penguasa kota lagi.  Sringg!   Pedang itu kembali melawan penguasa kota. Sedikit tersentak, tetapi penguasa kota berhasil mengendalikan diri dan menghindar dari serangan Jenderalnya.   'Aku... Aku menangis waktu berpisah dengan Kay. Astaga! Apa yang aku pikirkan? Aku harus menangis! Penguasa kota pasti menemukan cara!' pikir Jira.   "Kakak! Masih baik aku tidak membunuhmu dan menghancurkan separuh kota ini. Kenapa kau memberontak? Membuang waktu berhargaku saja!" gertak adik penguasa kota.   Dia menatap Jenderal kota Air yang sangat serius menyerang. "Jenderal, bunuh mereka berdua! Jangan ada yang menggangguku!"   "Aarrghh!!!" pekik Jira sangat keras.  Dia kesakitan saat tubuhnya diremas kuat lalu di lempar menghantam dinding istana.   "Jenderal!!!" teriak penguasa kota.   Sringg!   Serangan sepedang berhasil menusuk d**a penguasa kota.   "Heh! Matilah!" kejam adik penguasa kota. Memberi isyarat pada Jenderal kota Air untuk memastikan mereka terbunuh. Jenderal kota Air mengangguk mengerti.   Melayang dan pergi kembali ke pavilliun untuk memulai meditasinya sebelum puncak bulan purnama tiba. Jira tak sadarkan diri. Bagaimana pohon yang ditubangkan ular air raksasa, Jira remuk tidak sanggup berdiri. Tulang dan darahnya bermasalah. Membuat napasnya juga tersenggal. Dia hanya bisa melihat penguasa kota yang menunduk memegangi dadanya yang mengeluarkan banyak darah.   "Ya-Yang Mulia!" lirih Jira ingin menggapai penguasa kota.   Saat yang bersamaan, Jenderal kota Air mengarahkan pedangnya lagi untuk membunuh penguasa kota, tetapi air mata telah jatuh dari pelupuk mata penguasa kota. Dia mendorong Jenderal kota Air dengan sihir airnya. Berdiri sekuat tenaga. Membiarkan air matanya jatuh di tangannya yang berlumuran darah. Jenderal kota Air itu mendesis kesakitan dan mundur dengan jarak yang lumayan. Jenderal Jira tidak sadarkan diri.   Manusia setengah air itu belum pergi jauh dari hadapannya. Penguasa kota menarik napas dalam-dalam, menggunakan seluruh kekuatannya untuk membuat air matanya yang jernih itu menjadi banyak dan menenggelamkan istana. Adiknya berhenti seketika. Air biru miliknya seakan membeku dan berhenti mengalir.   "Hah? Ada apa ini?" dia panik melihat sekeliling.   Air mata mengkilap menelan air biru. Penguasa kota memberikan seluruh kekuatannya pada air matanya. Tiba-tiba air biru yang menjadi separuh tubuh adiknya membeku dan patah tenggelam.   "Aaarrgghhhhh! Tidaaaaaakkkk!!!!" teriak sang adik penguasa kota.   Dia ikut tenggelam dan melebur menjadi air bening. Penguasa kota membawa Jira dan Jenderal kota Air yang tidak percaya dengan apa yang dia lihat ke atap istana dengan airnya. Seketika air mata itu semakin meluap dan menyebar ke seluruh sungai. Air berubah jernih. Hilangnya adik penguasa kota membuat gelombang hipnotis musnah. Semua orang sadar bersamaan mereka terjaga. Mata berubah ke warna aslinya. Rumput di pesisir sungai kembali ke keadaan sebenarnya. Jenderal kota Air kembali sadar. Perlahan mata biru cerahnya berubah. Tersentak kala melihat keadaan dan lupa semua perbuatannya. Dia melihat dirinya yang terikat air. Kemudian penguasa kota yang terluka sembari terus mengalirkan air jernih ke seluruh aliran air. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain terkejut. Melihat Jira yang lemas tak berdaya juga ada di sisi lain, dia semakin bingung.   Kota Air kembali seperti semula. Air perlahan mereda dan mengalir ke sungai membuat arus sungai sangat deras. Seluruh jalan basah dan licin. Seketika penguasa kota lemah dan terjatuh. Jira dan Jenderal kota ikut jatuh bersamanya, tetapi Jenderal kota Air bisa mengendalikan dirinya agar tidak terasa sakit. Penguasa kota tak sadarkan diri. Jenderal kota Air menghampiri dengan cemas.   "Yang Mulia!? Yang Mulia, bangunlah! Apa yang terjadi? Yang Mulia!?" panik Jenderal kota Air.   Pandangannya pada Jira dan beralih memeriksa Jira. "Astaga! Denyut nadinya melemah! Bagaimana Jenderal kota Bunga bisa di sini?" gumamnya.   Memandang Jira dan penguasa kota bergantian. Lalu, sekeliling yang penuh genangan sisa air. Suara bising penasaran dan bingung mulai terdengar penghuni istana bangun dari tidur yang dibuat penguasa kota.   ~~~  Tidak menunggu sampai hari esok, semuanya selesai sebelum puncak bulan purnama. Sebagian yang kering menjadi kering. Alami bukan karena ilusi. Semua emosi jiwa tergambar di tiap orang. Mereka yang menyadari keadaan akan diam. Gelisah memandang setiap penduduk kota Air. Para pendatang sadar akan tujuan mereka. Sebagian dari mereka sudah pergi, sebagian masih menatap untuk mengetahui kebenaran.   Tidak ada yang berani mengusik istana kota Air meskipun gerbang terbuka lebar. Di sana pengobatan besar-besaran tengah dilakukan. Dua orang sedang masa sekarat. Puncak bulan purnama sudah lewat beberapa menit yang lalu. Tidak ada kabar yang meresahkan warga. Namun, pemikiran buruk jika kota Air akan berakhir mengerikan. Mereka berharap penguasa kota sadar secepatnya.   Tabib terbaik dipanggil dan kini Jenderal kota Air tengah bingung memandang pedangnya yang berlumuran darah. Seakan merasa keluar dari petaka, ada rasa lega di hatinya. Dia menuruti saran tabib. Menunggu hingga fajar tiba. Keajaiban dan tekad yang kuat dalam diri mereka yang akan membuat mereka sadar. Karena masih ada yang harus mereka lakukan. Tujuan berbeda dan jalan berbeda. Mereka pasti selamat demi tujuannya.  Janji Jira pada wanita tua kini tuntas. Membantu penguasa kota mengembalikan kota pun terbayar. Jira selalu menepati janjinya. Otaknya serasa lelah terus berpikir dan mencari cara. Dia dipaksa keadaan. Jira yakin, semua yang dia lakukan pasti ada hikmahnya.   Cen Cen, kuda putih nan setia itu terlihat gelisah di rumah sementara penguasa kota. Menunggu Jira yang tak kunjung datang.   Mentari terbit mengeluarkan cahaya indah di belahan awan. Kota Air seakan dihangatkan mentari menjadi sehat kembali. Tidak ada biru yang menutupi. Semuanya jernih dan murni. Kilauan yang menggoda hati terpancar dari pantulan air sungai. Semua keindahan itu tidak luput dari penglihatan orang-orang. Masih setia menunggu dengan penuh harap. Namun, tidak ada tanda-tanda keburukan terjadi di kota Air, itu menandakan penguasa kota baik-baik saja.  Keadaan istana sangat cerah. Dua orang yang diharapkan itu sadar. Kondisinya masih lemah. Penguasa kota Air telah menceritakan semuanya pada Jenderal kota Air. Sangat jelas di wajah Jenderal itu jika merasa bersalah, tetapi penguasa kota memakluminya. Untung luka di dadanya tidak mengenai jantung. Dia hanya masih lemas karena seluruh kekuatannya digunakan untuk memulihkan kota. Jenderal kota Air memberitahu semua orang. Berbagai ekspresi ditampilkan. Mereka terkejut hebat. Hipnotis sampai membuat satu kota terpengaruh.   Seiring desas-desus yang terus dibiarkan warga, Jira kebingungan. Dia berada di salah satu kamar istana kota Air. Tidak bisa bangun, membuatnya sedih. Tubuhnya kaku meski lemas. Tabib menyarankan Jira untuk istirahat. Jira hanya bisa mendesah pasrah.   "Sampai kapan aku di sini? Semuanya sudah selesai, apa aku masih tidak boleh pergi?" gumam Jira menatap dinding.   Terdengar deritan pintu terbuka. Jira menoleh dan berusaha bangun. "Yang Mulia?"   "Jangan bangun, Jenderal!" pinta penguasa kota dengan halus.   Jira menatap penampilan penguasa kota yang sudah berubah sangat elegan dengan wajah pucat dan kulit bersinar cerah. Cantiknya seperti air.  Penguasa kota mendekati Jira dan duduk di kursi sebelah ramuan. Tersenyum lemah memandang Jira.   "Apa yang harus kukatakan padamu? Aku berhutang budi pada kota Bunga karena mengirimmu di tengah perjalanan untuk membantuku menguak segalanya. Kay Jenderal yang baik dan cerdik!" puji penguasa kota.   Jira menggeleng pelan. "Jangan memujiku, Yang Mulia! Aku bahkan tidak ingat setelah aku terlempar ke dinding," jawab Jira.  Penguasa kota terkekeh dan menjelaskannya pada Jira. "Air mata merubah segalanya. Jernihnya mampu menghancurkan. Ketulusan dan kekuatanku membuatnya lebih kuat. Gelombang hipnotis hilang dan adikku menyatu bersama air," terangnya.   Jira terkejut. Namun, hanya tersenyum karena tidak tahu bagaimana menjawabnya. Dia senang, semuanya sudah selesai.   "Jenderal, aku datang untuk membantumu tentang bunga melati!" ujar penguasa kota.  Jira tersentak. "Mohon, katakan, Yang Mulia!" pinta Jira.   Penguasa kota tersenyum. "Sebelum itu tutup matamu!"   Jira bingung, tetapi menurut. Penguasa Kota mengambil sebuah bubuk yang dia bawa dan menaruhnya di dahi Jira. Dia juga menutup matanya dan membacakan mantra. Namun, penguasa kota tersentak kala melihat sesuatu dalam diri Jira.   'Sepertinya Jenderal kota Bunga tidak menyadari kekuatannya. Dia orang yang penuh kelebihan. Namun, dia selalu berada di jalan bahaya yang menantang kematian,' batin penguasa kota.   Jira tersentak kala merasakan kesegaran yang pernah dia rasakan sebelumnya. Seakan energinya kembali.   'Ini bubuk ajaib yang pernah Kay gunakan padaku. Bagaimana penguasa kota Air juga memilikinya?' batin Jira.  Saat bubuk itu meresap di dahi Jira, penguasa kota menarik tangannya lagi dan membuka mata. Jira ikut membuka matanya.   "Yang Mulia, serbuk sihir ini...," ucap Jira segera, tetapi tidak dilanjutkan. Dia memutar bola matanya sambil berkedip.  "Ini adalah bubuk keajaiban. Kau layak mendapatkannya. Hanya itu yang tersisa. Semoga dengan bubuk itu, keadaanmu pulih dengan cepat. Aku berharap, besok kau sudah bisa melanjutkan perjalanan. Aku akan menyuruh tabib terhebat untuk merawatmu," kata penguasa kota Air sambil senyum.   Jira mengangguk pasrah. "Terima kasih, Yang Mulia!"   'Aku tidak mungkin memberitahu penguasa kota Air jika aku pernah menerima bubuk ini sebelumnya. Biar aku mencari tau sendiri, misteri bubuk sihir ini,' batin Jira.   "Kau mau mendengar kebenaran? Aku berpengaruh besar pada langkanya bunga melati sehingga bunga itu tidak hilang meskipun tersembunyi dari orang-orang."  Ucapan penguasa kota membuat Jira tertarik. "Iya! Apa maksudnya, Yang Mulia? Aku sudah tau ramalannya, tetapi aku belum bisa menemukannya!" kata Jira.  "Kau sudah dengar ramalannya? Baguslah! Aku ingin bertanya, apa Rui sakit parah sampai harus bunga melati yang menyembuhkannya?" tanya penguasa kota.  Jira mendesah. "Jika tidak, aku tidak akan sampai sejauh ini," jawab Jira tanpa sungkan.   Penguasa kota Air ikut mendesah. "Anak pemberani itu nekat membawa bunga melati pergi dari kecaman semua orang. Penguasa kota sebelum aku membantunya untuk menghidupkan tanaman bunga melati. Di kota Besi, anak itu merawatnya susah payah. Dia tumbuh menjadi pendekar hebat diusianya yang masih kecil. Gurunya yaitu tabib yang membuat ramuan bunga melati telah mewarisi semua kesaktian dan ilmu pengetahuan pada anak itu. Hanya menjaga air agar tetap sejuk dan cukup untuk bunga itu tumbuh di kota Besi yang panas. Itu yang aku lakukan sekarang. Aku mengalirkan airku ke tanaman bunga melati dan menjaganya tetap aman bersama anak itu. Mungkin, anak itu sudah tumbuh hebat sepertimu. Sempat terjadi kericuhan di kota Bunga. Orang-orang berpikir jika bunga melati ada di kota Bunga dan disembunyikan. Saat itu penguasa kota sebelum Rui terbunuh dalam mempertahankan kotanya yang di porak-porandakan orang-orang gila akan melati. Itu masa sulit kota Bunga dalam mengendalikan keadaan. Aku dan Rui bergabung untuk membangun kota Bunga kembali. Airku mengalir membuat tumbuhan dan bunga di sana kembali pulih. Rui menghidupkan semua tumbuhan yang mati. Kami menjadi kawan. Jika kota Bunga membutuhkan airku, aku siap mengalirkannya lagi ke kota Bunga. Jika tidak diminta, aku tidak bisa sembarangan mengalirkan air kemanapun. Itulah kisahnya... Kau tau apa yang harus kau lakukan sekarang?"   Terang penguasa kota membuat Jira mengerutkan dahi. "Kisah yang sangat panjang. Aku mengerti sekarang. Kota Besi... Bunga itu ada di sana!" ujar Jira.   Sekalipun harus melewati beberapa kota dalam satu hari, Jira akan melakukannya. Dugaannya benar jika ada sesuatu di kota Besi menyangkut bunga melati. Semenjak dia di persinggahan sementara, tahu beberapa petunjuk yang mengarah ke kota Besi. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN