Jira masih mencerna setiap kata yang penguasa kota Air lontarkan. Tubuhnya mungkin lemah, tetapi otaknya masih sanggup bekerja. Dia berpikir jika masa itu ratu Rui dan penguasa kota Air dalam kondisi remaja sehingga mengerti dan menguasai keadaan. Lalu, anak itu menjadi pendekar hebat yang menyembunyikan bunga melati di kota Besi. Itu berarti Jira masih kecil. Usianya mungkin tidak jauh dengannya.
"Yang Mulia, berarti kau tau rupa anak itu?" tanya Jira.
"Aku tidak tau. Aku tidak pernah bertemu dengannya. Penguasa kota Air sebelum aku yang mengetahuinya," jawab penguasa kota.
"Kalau begitu, kau tau tempat persembunyiannya, 'kan? Di mana bunga itu berada?" tanya Jira lagi.
"Kau ikuti saja ke arah sungai mengalir yang ada di kota Besi. Jika itu menembus hutan, maka di situlah tempatnya. Aku tidak pernah melihat bunga itu lagi. Aku hanya menjaga kadar airnya sekarang," jawab penguasa kota Air sambil menggeleng.
"Hutan? Sungai di kota Besi?" tanya Jira mengerutkan dahi.
'Mungkin pendekar itu menyembunyikannya di dalam hutan. Aku akan tau saat sampai di sana. Hah, akhirnya aku tau keberadaannya. Setidaknya sekarang jelas, tidak akan salah jalan,' batin Jira.
Jira tersenyum, "Yang Mulia, terima kasih banyak! Aku akan mencarinya setelah sembuh."
Penguasa kota ikut tersenyum. Jira mencoba untuk bangkit. Mendesis menahan sakit.
"Yang Mulia, kapan aku bisa pulih?" tanya Jira sambil tersenyum bodoh.
Penguasa kota Air terkekeh. "Jangan memaksakan diri, Jenderal. Ini masih pagi," ucapnya.
Tiba-tiba Jira ingat jika kudanya sendirian di rumah sementara penguasa kota. "Astaga! Yang Mulia, kudaku masih ada di rumahmu. Aku harus membawanya!" ujar Jira ingin bangkit lagi.
"Apa kau mau semua tulangmu patah? Jika tidak diam dan berbaringlah! Aku akan suruh orang untuk mengambil kudamu!" ujar penguasa kota Air.
Jira melongo bingung, "Ah, kudaku tidak akan menerima jemputan siapapun. Dia hanya akan menurut padaku. Aku mohon tunjukkan ini saat ingin membawa kudaku. Dia pasti mengerti jika aku yang menyuruhnya." Jira memberikan seruling yang dia cabut dari pinggang susah payah kepada penguasa kota.
Penguasa kota menerima seruling itu. Dia tersenyum tipis. "Bukankah ini bambu khusus dari kota Besi?" tanya penguasa kota.
Jira merasa tidak enak. "Benar, Yang Mulia. Kebetulan yang sama. Seruling itu terbuat dari sana," kata Jira.
"Seruling khusus... Apa kau tidak mau mengganti senjata lain? Aku punya banyak pusaka jika kau mau," tawar penguasa kota Air.
Jira tertawa pelan. "Maaf, Yang Mulia! Aku tidak butuh senjata untuk menghibur orang. Aku hanya butuh alat musik untuk melindungi kota. Serulingku sudah cukup dari senjata apapun," jawab Jira tanpa ragu.
Penguasa kota tertawa. "Jawaban yang lugu. Aku mengerti bagaimana sikapmu dalam bekerja. Baiklah, aku pergi dulu. Tabib akan ke sini untuk memeriksamu," ucap penguasa kota.
"Baiklah, Yang Mulia! Terima kasih banyak!" ujar Jira senang.
Penguasa kota Air mengangguk dan pergi membawa seruling Jira. Saat menyuruh seseorang untuk membawa kuda Jira, Jenderal kota Air datang dan memohon untuk menerima tugas itu. Penguasa kota memberikan seruling itu pada Jenderalnya.
Sepanjang jalan kaki Jenderal kota Air melangkah, orang-orang menyapanya sedikit takut. Berita sudah tersebar jika Jenderal kota mampu menghipnotis lewat matanya. Meskipun keadaan sudah berbalik, masih ada kekhawatiran bagi mereka.
Di rumah sementara penguasa kota, Jenderal itu mencari kuda Jira. Berhasil berjumpa di taman belakang. Sesuai dengan perkataan Jira, kudanya menolak diajak pergi. Bahkan melawan sampai menendang Jenderal kota Air. Bukannya marah ataupun kesal, Jenderal itu justru tersenyum miring.
'Kudanya bahkan lebih berbahaya daripada pemiliknya,' canda Jenderal kota Air dalam hati.
Dia menunjukkan seruling Jira, seketika kudanya meringkik seakan kecemasannya hilang.
"Aku utusan penguasa kota, Jenderal dari kota Air sekaligus teman tuanmu. Saat ini dia dalam kondisi tidak sehat. Dia ingin kau bersamanya. Ikutlah denganku ke istana kota, kuda cantik!" ujar Jenderal kota Air sambil menurunkan seruling Jira.
Kuda Jira meringkik lagi. Perlahan Jenderal kota mendekat dan melepaskan tali kuda Jira. Tidak ada perlawanan lagi. Jenderal kota Air tersenyum karenanya. Dia kembali ke istana kota tanpa menunggangi kuda Jira sekaligus membawa perbekalan Jira yang ada disamping kudanya.
Tabib di istana sedang memeriksa Jira dengan serius. Meskipun tabib itu sedang membuat ramuan, yang Jira cium adalah aroma bubuk ajaib yaitu aroma seperti bunga melati. Sisa-sisa keajaiban yang berhasil membantunya cepat pulih. Tabib sampai heran dengan kondisi Jira. Perkiraan mulanya bisa sampai tiga hari Jira harus istirahat, tetapi dalam sehari menunjukkan kemajuan besar. Jira tidak memberitahu tabib jika dia menerima bubuk ajaib itu. Tabib mengira jika tubuh Jira yang sangat kuat.
"Tabib, berapa lama lagi aku pulih?" tanya Jira yang sudah bersandar kepala ranjang. Dia bisa duduk dan menggerakan tangannya. Hanya kaki yang masih lemah.
"Ah, ini seperti sihir! Aku yakin tidak sampai malam kau sudah bisa berlari, hahaha." tawa tabib itu sambil mengaduk ramuan.
Jira ikut tertawa. "Tapi rasanya sangat lemas. Apa aku boleh terbang saja? Sepertinya berlari sangat sulit!" ujar Jira.
Tabib itu terkekeh. "Jenderal kota Bunga sangat murah hati! Kau bercanda, ya?"
Jira tertawa lagi. "Tabib, aku juga punya obat-obatan dari bukit yang jauh dari sini. Itu ada di kain perbekalanku. Mungkin, kau bisa menggunakannya untuk membuat obat," kata Jira.
Tabib itu menoleh penasaran. "Benarkah? Sejenis apa itu? Dari bukit mana?" tanyanya.
Jira nampak berpikir. "Emm, sejenis dedaunan dan ranting kecil. Dari bukit timur dekat pegunungan utara," jawab Jira.
Tabib itu terlihat antusias. "Bukit di arah timur? Apa itu bukit yang penuh dengan tanaman obat? Itu cukup jauh dari sini!"
"Hahaha, iya, sangat jauh! Beberapa ahli pengobatan memberikannya padaku. Hah, aku sudah berkali-kali keluar-masuk jalan bahaya. Bahkan aku hampir mati di setiap tempat... Sendirian. Meskipun begitu, selalu ada orang baik yang mengelilingiku, termasuk dirimu. Hingga aku berhasil hidup kembali seperti saat ini. Mungkin itu sebabnya tiga ahli pengobatan itu memberikan beberapa obat-obatannya padaku, untuk berjaga-jaga, haha." tawa Jira ringan setelah bercerita.
Tabib ikut tersenyum sembari tangannya bekerja. "Hah, Jenderal kota Bunga, tidak peduli seberapa kuatnya dirimu, apapun yang kau lakukan, dan di manapun kau berada... Bahaya akan selalu datang. Tidak pula semua obat bisa mengatasinya. Misalnya saja hipnotis yang baru saja terjadi. Siapa sangka jika hanya air mata jernih dari penguasa kota yang mampu menghilangkannya? Ahaha, aku bersyukur pada Yang Kuasa telah mengirimmu singgah kemari. Kalau bukan karena pikiranmu, penguasa kota juga tidak akan menemukan jalan keluarnya," terang sang tabib sembari menatap Jira yang mendengarkan dengan serius.
Jira memikirkan sesuatu membuat pandangannya menunduk. "Lalu, apa aku tetap pantas menjadi Jenderal setelah menyusahkanmu, Tabib? Kau telah bekerja keras menyembuhkanku. Begitu juga dengan orang-orang yang pernah aku repotkan sebelumnya," tanya Jira menatap sang tabib lagi.
Tabib itu menggeleng sambil mendekati Jira dengan membawa ramuan yang masih dia aduk. "Eh, kau ini bicara apa? Kau seorang Jenderal yang sangat hebat! Sangat pemberani! Aku yakin kau telah memenangkan hati banyak orang. Terlebih lagi kau seorang perempuan. Pasti lebih hebat dari yang kukira, ha? Ahahaha," tawa tabib itu menggoda.
Jira ikut tertawa. "Hahaha, tabib bisa saja! Aku hanya suka bersua dengan banyak orang, itu saja!" jawab Jira merasa sungkan.
Mereka tertawa kecil. Tabib itu menghangatkan suasana membuat Jira sedikit terhibur. Namun, pikirannya masih terngiang tentang bubuk ajaib. Dia sangat yakin jika yang digunakan penguasa kota Air itu sama dengan milik Kay. Jira melihat gelang akarnya. Karena kembali teringat Kay, dia mengusap gelang itu beberapa kali dan muncul nama Kay. Tidak sadar senyumnya terukir. Saat tulisan itu hilang, Jira menggosok gelangnya lagi sampai nama Kay kembali muncul. Senyum Jira membuat tabib penasaran dan melihat gelang akar Jira.
"Maaf, Jenderal! Apa itu pemberian seseorang yang punya nama itu? Teman dekat, ya?" tanya sang tabib tersenyum jahil.
Jira mendongak kaget dan menurunkan tangannya. "Hmm, tidak! Haha, ini gelang akar dari teman biasa. Tidak ada teman dekat!" tawa Jira menipu.
Tabib itu terkekeh. "Masa muda itu masa yang indah, Jenderal! Sesekali hiburlah diri sendiri. Cari pasangan yang baik kemudian punya keturunan yang banyak!" ujarnya.
Jira terbelalak. "Itu masih sangat jauh, Tabib! Bahkan tidak berpikir soal keturunan. Hah, semua lelaki kalau melihatku pasti takut, karena aku Jenderal!" ujar Jira.
"Mana mungkin takut? Kau gadis yang cantik dan unik! Apa kau mau aku kenalkan dengan pemuda di kota ini? Semua sangat tampan dan berkulit bersih!" tawar tabib.
Jira membuka mulutnya lebar. "Tabib, kau menggodaku, ya?!" pekik Jira tidak terima sambil tersenyum.
Tabib itu tertawa lagi, "Hah, baiklah, tidak lagi. Ini, ramuannya sudah siap. Minumlah selagi aku mengambil air." Tabib itu menyerahkan ramuannya pada Jira.
"Air? Untuk apa?" tanya Jira sembari melihat ramuan itu di tangannya.
"Untuk merendam kakimu dengan tanaman herbal. Percayalah semuanya akan membaik!" ujar sang tabib lalu keluar dari kamar Jira.
Jira mencium ramuan itu. Lalu, memalingkan wajahnya dan menjauhkan ramuan itu. "Baunya menyengat sekali!" keluhnya.
Setelah meminum itu, pintu kamar Jira terbuka. Jenderal kota Air datang menemuinya sambil membawa perbekalan dan seruling Jira.
"Salam, Jenderal kota Bunga!"
Dia memberi salam layaknya pertemuan dua utusan kota. Jira menoleh dengan wajah kacau karena menahan rasa aneh ramuan itu. Dia terbatuk sambil mengelus dadanya.
"Hah! Ramuan apa ini?! Uhukk-uhukk, rasanya sampai masuk ke hidung!"
Bukannya menjawab Jira justru sibuk dengan ramuannya. Jenderal kota Air berdeham sambil tersenyum.
Jira menoleh. "Eh! Maaf, Jenderal! Aku sampai tidak menyadarimu!" ujar Jira merasa tidak enak.
Jenderal kota Air melangkah mendekat. "Tidak masalah. Aku yang minta maaf karena tidak menyambutmu dengan baik," katanya.
Jira mengibaskan tangannya. "Ah, kau ini bicara apa? Santai saja! Apa itu punyaku?" tanya Jira melirik seruling dan perbekalan di tangan Jenderal kota Air.
Jenderal kota Air menyerahkan barang Jira. "Apa aku melukaimu? Sungguh tak kusangka, aku bahkan menyerang penguasa kota," desahnya.
Jira meneliti semua barangnya menjadi mendongak menatap temannya. "Sudahlah, biarkan berlalu. Saat ini tidak waktunya untuk sedih apalagi menyesal. Duduklah, Jenderal! Aku senang bisa bertarung singkat denganmu kemaren," kata Jira penuh senyuman.
Jenderal kota Air duduk sambil tertawa kecil. "Kau sangat ceria! Aku senang kau di sini. Terima kasih sudah membantu menyelamatkan kotaku!" menangkupkan tangan yang mengapit pedang.
"Jangan begitu, Jenderal! Kita, 'kan teman! Meskipun aku sendiri juga dalam kesulitan sekarang." kata Jira menyimpan perbekalannya di sisinya dan kembali menancapkan serulingnya di pinggang.
Jira tersentak karena Jenderal kota Air memeluknya tiba-tiba.
"Hei, kawan! Ada apa?" tanya Jira.
"Nasib baik bertemu denganmu. Jika tidak seumur hidup aku malu menjadi Jenderal. Tida bisa melindungi kotanya sendiri bahkan menyerang penguasa kota. Aku merasa malu!" ujarnya lirih.
Jira tersenyum, "Apa kau pikir aku tidak malu pada diriku sendiri? Setiap perjalanan pasti ada orang yang aku repotkan dan ada orang yang merepotkanku. Itu semua seimbang, bukan? Tabib bilang jika itu sangat hebat! Kita berdua menduduki posisi yang dimiliki laki-laki. Kita menentang jika perempuan lemah, apa itu tidak hebat? Janganlah bersedih atau aku tidak bisa melanjutkan perjalanan dengan tenang nanti." jelas Jira sambil membalas pelukan.
Jenderal kota Air melepas pelukannya dan tersenyum lebar, "Kau benar! Aku tidak akan sedih lagi mengingat reputasiku! Kau tau? Semua orang masih takut padaku. Mereka lebih takut dari sebelumnya."
Jira pura-pura kaget, "Benarkah? Pengaruhnya sangat membekas di hati mereka." menggeleng pelan.
Jenderal kota Air mengangguk kuat.
"Bagaimana dengan kudaku?" tanya Jira panik membuat Jenderal kota mendelik.
"Dia baik-baik saja. Sekarang ada di kandang kuda bersama kuda-kuda yang lain. Dia sempat menendangku. Rasanya sakit sekali! Aku rasa kuda itu lebih hebat darimu," canda Jenderal kota Air.
Jira mendesah lega kemudian tertawa. "Namanya Cen Cen. Dia teman setiaku!" jelas Jira.
"Nama yang lucu!" senyum Jenderal kota Air. Dia mendesah lagi dan lagi membuat Jira terus heran. "Sewaktu puncak bulan purnama kemaren, aku membawamu dan penguasa kota ke tabib istana. Jatuh-bangun karena jalanan licin. Karena panik, aku membuat keributan dan semua orang menjadi ikut panik. Ck, jika dipikir-pikir aku heboh sendiri. Seperti orang bodoh yang membunuh dua orang dalam genggaman alam bawah sadar," lanjutnya.
Bukannya menjawab, Jira justru bermain seruling dengan nada sumbang.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Jenderal kota Air.
Jira berhenti bermain dan menatap Jenderal kota Air bodoh. "Aku hanya mencobanya saja, apa sedikit rusak karena terkena air kemaren?" jawab Jira kembali bermain seruling dengan nada sumbang sampai Jenderal kota Air menutup telinganya meringis.
"Bisakah kau bermain dengan baik?" tanya Jenderal kota Air sekaligus meminta.
Seketika Jira tertawa lepas. "Hahaha, aku sengaja, Jenderal!"
Jenderal kota Air membuka telinganya lagi, menatap Jira tidak mengerti. "Kau ini... Memang suka mengelabuhi orang, ya!?" tanyanya seraya tersenyum.
Mereka tertawa bersama. Tabib datang membawa seember air hangat yang penuh dengan dedaunan herbal. Melihat ada Jenderal kotanya, dia menunduk memberi hormat.
"Salam, Jenderal! Maaf karena tidak menyadari kedatanganmu!" ujarnya ketakutan.
"Tidak apa-apa, Tabib! Masuklah!" kata Jenderal kota Air mempersilahkan.
Tabib itu masuk dengan perasaan takut.
"Aku akan pergi dulu. Ada yang harus aku urus," pamit Jenderal kota Air pada Jira. Dia hanya ingin tabib leluasa mengobati Jira tanpa takut padanya.
"Sudah mau pergi? Setelah aku sembuh, aku akan menemuimu lagi!" jawab Jira dengan senyum lebar.
Jenderal kota Air mengangguk membalas senyum. Dia pergi dengan gagahnya seperti laki-laki. Tabib itu meliriknya hingga pintu kembali di tutup oleh penjaga. Dia mendesah lega membuat Jira mengerutkan dahi.
"Paman tabib? Kenapa kau sangat lega begitu?" tanya Jira.
Tabib itu tersentak dan tersenyum. Dia melangkah lebih dekat dan menaruh ember air itu di dekat ranjang Jira.
"Kalau boleh jujur... Aku takut dengannya! Dia selalu membawa pedang yang berbahaya! Ah, ini airnya sudah siap!" jawab sang tabib.
"Ahahaha, itu ciri khas Jenderalmu! Kau harusnya bangga dengan itu! Ngomong-ngomong, terima kasih, Paman tabib!" ujar Jira mencoba bangkit.
Tabib itu membantu Jira untuk meletakkan kakinya yang masih lemas ke ember itu.
"Jenderal, dia memang baik dan sangat hebat! Namun, sebagai wanita dia itu terlalu mirip seperti laki-laki. Tingkahnya membuatku takut," jujur sang tabib.
"Benarkah? Tadi dia tertawa bersamaku. Kalian jangan terlalu takut dengannya. Dia hanya ingin menjaga kalian dan kota ini!" pinta Jira sambil memasukkan kakinya perlahan ke dalam ember.
Jira mendesis merasakan nyeri menjalar di kakinya. Lama-kelamaan menyalur hingga pinggang. Tabib itu menambahkan sedikit ramuan kemudian mengaduk airnya. Memijat kaki Jira di titik-titik tertentu membuat Jira ingat lagi tentang Kay.
'Kay juga menyembuhkan kakiku lewat titik-titik itu. Apa dia benar-benar mengerti pengobatan? Kay seorang tabib? Tapi dia ahli pedang!' batin Jira.
"Dia memang sesekali tersenyum dan tertawa pada orang-orang tertentu. Tetap saja aku merasa takut," sambil terkekeh dan fokus pada caranya mengobati.
Jira meringis sakit kala kakinya ditekan terlalu dalam. "Lalu, apa kau tidak takut padaku? Aku juga sama seperti dia, 'kan?" tanya Jira bercanda.
"Hahaha, Jenderal bercanda lagi! Tentu saja tidak, tetapi segan! Aku sangat menghargai dan menghormatimu. Kau sangat ramah!" puji sang tabib.
Jira kembali mengibaskan tangannya, "Itu sudah sifatku, haha."
Tabib itu terkekeh. "Setelah lewat tentang siang dan sebelum sore, kau sudah boleh mandi dan gunakan berjalan-jalan. Jika sudah merasa lebih baik lagi, cobalah berlari dan bergerak bebas seperti berlari senjata misalnya. Tulang dan ototmu sepertinya menerima cepat semua ramuan ini," terang tabib sambil berdiri.
Jira mengangguk. "Baiklah! Ini keajaiban!" seru Jira menggerakan jari-jarinya di dalam air.
Tabib itu duduk dan menghela napas lelah. Jira melihatnya menjadi kasihan. Dia tersenyum tulus. "Paman, terkadang kita memang dipermainkan takdir, tetapi kita juga bisa merubah takdir dengan berusaha. Jika tidak bisa, maka memang itulah takdir kita yang terbaik," pandangan Jira menyiratkan sebuah pesan.
Tabib itu memandang Jira dalam. "Hmm, aku mengerti maksudku, Jenderal!" jawabnya dengan senyum lebih tulus.
Jira senang mendengarnya. Kata hati sering kali tersampaikan hanya lewat pandangan. Beberapa orang juga tidak mengerti hal itu. Jira merasakan setiap perasaan yang ada. Saat ini dirinya merasa setengah puas. Entah di mana kepuasan hatinya yang lain dia dapat, tetapi hati tidak akan pernah puas.
Pagi ini Jira tidak tahu keadaan luar. Dia di kamar dengan berbagai proses pengobatan. Jira kembali melukis langkahnya. Sekarang di kota Air, tujuan selanjutnya adalah kota Besi. Namun, sesuatu di depan sana tidak ada yang tahu. Mungkin ada yang menunggu Jira lagi.