21. Kembali Ke Perjalanan

2528 Kata
 Tabib itu meninggalkan Jira sendirian. Ingin sekali rasanya Jira menemui kudanya dan mengeluh. Sayangnya dia menunggu waktu agar segera pulih. Memandang pintu dengan kaki masih terpendam air ramuan. Rasanya mulai nyaman dan bereaksi. Mengerjap sesekali saat matanya lelah. Pintu yang dijaga dua prajurit di depan sana tidak ada yang membukanya lagi. Pikirannya melayang.   'Akankah semua pertanyaanku terjawab saat menemukan bunga itu? Apa kota Bunga baik-baik saja? Banyak kata apa yang terngiang di kepalaku,' batin Jira.   Napas sejak tadi rasanya sesak. Sesuatu mencekik lehernya dalam kesendirian. Bertemu dan dikelilingi banyak orang, tetapi hatinya kesepian. Beberapa orang menyinggung kisah hatinya. Perasaan yang tak pernah terpikirkan bagi Jira. Namun, tidak menolak jika Jira memang penasaran. Dia juga menginginkannya. Teman selain Cen Cen yang menemani sepanjang hidupnya.   Rumitnya dunia yang tidak ada habisnya. Jira tidak menemukan titik terang. Dia mendongak, langit-langit istana nampak sangat indah. Dia rindu kota Bunga. Rindu istana kota dan rumahnya. Kakinya seakan tidak merasa terendam air karena terlalu lama.   "Menunggu siang bukanlah hal mudah. Lebih baik aku berkeliaran dari pada duduk di sini," gumam Jira menunduk lagi. Menggerakan kakinya membuat air menyiprat keluar.   Tabib datang lagi setelah tengah siang berlangsung. Mengeluarkan kaki Jira dari dalam air dan memeriksa lagi. Sudah lebih baik dari sebelumnya. Jira sangat senang setelah seharian menunggu, sore hari dia sudah pulih sepenuhnya. Jira akui bubuk ajaib itu luar biasa. Dia berpikir jika penguasa kota Bunga menggunakan bubuk itu pasti juga akan cepat sembuh, tetapi obat utamanya adalah bunga melati.   Keluar dari ruangan Jira berlari menuju kandang kuda istana. Membawa perbekalan dan serulingnya seperti orang melarikan diri. Kudanya meringkik sambil mengangkat kakinya saat melihat Jira.   "Cen Cen!!! Aku sudah tau kau akan menungguku!" pekik Jira memeluk leher kudanya.   "Cen Cen, aku tau di mana bunga melati berada. Setelah ini kita harus langsung pergi!" ujar Jira melepaskan pelukannya.   Penuh percaya diri melepaskan ikatan tali kudanya dan pergi, tetapi penguasa kota Air datang dan menghentikannya.   "Bawalah sedikit air ini. Jika kau kepanasan di kota Besi, ini bisa menyejukkan tubuhmu." Penguasa kota Air memberikan satu kendi kecil berisi air.   Jira menerima kendi itu bingung. "Yang Mulia, terima kasih banyak! Hari sudah hampir petang, aku tidak bisa terus-menerus di sini," ucap Jira menatap sekeliling.   Penguasa kota Air ikut memutar pandangan ke segala arah. "Baiklah, terima kasih sudah membantuku. Aku akan ke kota Bunga setelah menghilangkan ketakutan yang masih ada pada rakyatku. Pergilah!" ujar penguasa kota Air.   Jira memberi salam, penguasa kota Air hanya mengangguk dengan senyum. Membawa kendi itu bersamanya, Jira pergi dengan kudanya dan meninggalkan istana kota. Penguasa kota Air menatap kepergian Jira dengan penuh harap.   "Semoga tidak ada yang perseteruan lagi karena bunga melati jika bunga itu diketahui keberadaannya," gumam penguasa kota Air.   Jira mencicipi air dalam kendi itu sembari Cen Cen membawanya lari dari desa ke desa. Membuka tutup kendi itu dan terlihat udara dingin mengepul.   "Wah! Ini dingin sekali!"   Takjub melihat air yang sangat dingin. Kesusahan karena dia duduk di atas kuda yang tengah berlari, Jira mencoba air itu. Hanya seteguk Jira sudah menutup matanya rapat-rapat.   'Dingin seperti es! Huftt, kalau aku minum di sini bisa-bisa kedinginan parah!' batin Jira sambil menutup kendi itu kembali.   Dia tersenyum lebar merasakan udara bebas. Harapan yang sangat besar. Tiga minggu yang tersisa akan menjadi sejarah.   ~~~  Pertarungan sengit dua perempuan menjadi pertunjukan di jalan menuju perbatasan. Sorotan tajam serius membaca pergerakan. Sejak beberapa menit yang lalu pertarungan belum selesai. Rasa was-was penuh penasaran terpancar di raut semua orang. Laki-laki dan perempuan saling beradu dan memanfaatkan kesempatan untuk taruhan. Siapa yang menang maka siapa yang dapat uang.   Mereka berdua mundur dengan senjatanya masing-masing. Senyum miring terukir. Satunya memutar seruling, satunya lagi memutar pedang. Keduanya seimbang, tidak ada yang terluka.   "Hei, aku mendukung dia yang pakai seruling berbaju merah muda itu! Aku berani bertaruh lima puluh koin!" bisik seorang laki-laki yang menyaksikan tidak jauh dari jalanan.   "Ck, tentu saja aku dukung Jenderal kita! Lihat saja pedangnya sangat mengkilap! Aku bertaruh tujuh puluh koin!" balas temannya yang di ajak berbicara.   Mereka melihat dua orang itu masih diam mengatur napas.   "Dasar para orang bodoh! Uang sebanyak itu bisa buat makan satu bulan! Dari pada kalian taruhan, lebih baik berikan semua uang kalian padaku, sini!" pinta perempuan yang bergaya seperti laki-laki sambil menengadahkan tangannya.   Dua orang itu menatap perempuan itu. "Hah, pengganggu! Kau tidak usah ikut campur!" ujar orang yang lebih dulu mengajak taruhan.   "Oh, ya? Hmm, kalau begitu aku juga ikut taruhan!" ujar perempuan itu tanpa takut.  "Sstt! Jangan keras-keras! Kau mau taruh berapa?" tanya teman orang itu.  Perempuan itu menatap Jira dan Jenderal kota Air dengan senyum. "Hmm, aku mendukung mereka berdua! Aku yakin tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah! Kalau aku benar, berikan semua uang kalian padaku! Kalau aku kalah, semua uang yang aku punya untuk kalian. Ngomong-ngomong, aku ini orang kaya!" ujar perempuan itu berbisik.   Dua laki-laki itu terjingkat kecil. "Mana boleh begitu?"   "Tentu saja boleh. Kenapa juga tidak boleh?" elak perempuan itu.  "Ck, terserah! Aku yakin, aku yang menang! Gadis cantik itu pasti menang!"  "Hei, Jenderal kita yang menang! Bukannya dia juga menawan dengan pakaian biru itu? Pedangnya kalau sampai mengenai lawannya, matilah sudah!" balas temannya sambil menyilangkan tangannya.   Perempuan itu menggeleng pelan sambil berdecak. Menepuk kedua pundak laki-laki itu. "Heh, itu mereka mulai lagi!" serunya.   Jira dihadang Jenderal kota Air dengan kudanya saat berada di desa terakhir menuju perbatasan kota Air. Membawa kepercayaan diri yang tinggi, penuh wibawa mengundang penasaran semua orang. Jira berhenti mendadak dengan Cen Cen. Senyum terbit penuh arti. Seakan mengerti, Jira lompat dari punggung kudanya bersamaan Jenderal kota Air yang juga turun dari kudanya sambil mencabut pedang. Peperangan terjadi begitu saja. Jira melawan tanpa melukai sampai keluar darah.   Semua orang di jalanan itu penasaran. Mereka saling berbisik dan menunjuk. Setengah jam berlalu, pertarungan belum selesai dan Jira memilih menyudahi permainan mereka karena matahari sudah hampir tenggelam. Dia berputar mungkin dua dan menghentikan Jenderal kota Air dengan tangannya.   "Berhenti, Jenderal! Kita sudahi untuk hari ini!" ujar Jira melirik matahari di barat.  Jenderal kota Air juga ikut melihat ke barat. Dia memasukkan pedangnya kembali ke dalam sarung pedang. Tersenyum menghampiri Jira dan memeluknya. Jira ikut tersenyum dan membalas pelukan.   "Cukup berkesan! Aku akan mengantarmu hingga ke perbatasan!" ujar Jenderal kota Air seraya melepaskan pelukannya.  Jira mengangguk sambil menyimpan serulingnya lagi. "Tentu saja! Hahaha, ayo!" ajak Jira ramah.   Mereka berdua pergi menunggang kudanya masing-masing. Semua orang melihatnya heran.  "Heh, sudah selesai? Hari sudah malam, ayo kembali saja!" seru seseorang di balas bisik-bisik kecewa semua orang dan mereka perlahan berpencar.   Perempuan yang bertaruh itu bertepuk senang membuat kedua laki-laki yang menjadi lawannya berdecak sial.  "Ahahaha, aku menang, huuu! Berikan uang kalian! Sudah kubilang, 'kan, kalau mereka seimbang! Kalian tidak tau, ya? Perempuan yang membawa seruling itu adalah Jenderal dari kota Bunga! Dia berteman dengan Jenderal kita!" ujar perempuan itu sambil menerima uangnya.   Kedua laki-laki itu terbelalak sampai uang mereka jatuh berserakan. "Apa?!" mereka berseru bersamaan.   "Hah, uangku!" pekik perempuan itu karena uangnya tersebar kemana-mana.   Tepat matahari sudah terbenam di depan mata. Langkah kaki kuda berhenti di gerbang perbatasan. Senyum terukir melihat bayangan jingga. Napas kini bisa lega. Mereka berdampingan.   "Aku harus melanjutkan perjalananku. Terima kasih," ucap Jira masih menatap langit barat.   Helaan napas terdengar dari Jenderal kota Air. "Jangan ragu untuk meminta bantuanku. Panggil saja namaku bersamaan air. Air itu akan mengalir padaku dan aku akan datang," balasnya.  Jira tertawa renyah, "Bertemu denganmu saja sudah membuatku lega. Beberapa orang diperjalanan membicarakanmu. Mereka bilang kau hebat. Ternyata banyak yang mengetahui jika ada dua Jenderal perempuan di negeri ini." pandangannya menerawang beberapa hati yang dia lewatkan.   "Kedudukan hanyalah nama. Orang dipandang karena perilaku dan cara hidupnya. Aku mengalir mengikuti takdir. Jika orang berbicara, maka itu hanya untaian kata saja. Kecuali ada ketulusan di hatinya," kata Jenderal kota Air juga sembari menatap langit.  Jira mendesah. "Ucapanmu begitu mendalam, ya? Haha, tidak keluar dari jalan hidup, kita berjuang untuk sesuatu yang menunggu yaitu tujuan. Sederas dan sebebas apapun manusia mengikuti jalan takdir, akan ada banyak baik dan buruk yang mengiringi. Ucapan tidak bisa ditebak, apakah sama dengan kata hati. Namun, ketulusan itu bisa dilihat dari tatapan matanya. Keraguan, tanda tanya, biarkan itu menjadi warna yang mendampingi kebahagian. Jangan lupa untuk menghibur hati, Kawan! Kau terlihat begitu cantik jika tersenyum!" ujar Jira menoleh.   Jenderal kota Air tertawa kecil. "Kau cerewet sekali!" ujarnya bercanda.   Jira tertawa lagi. "Mau bagaimana lagi? Aku memang suka bicara!"   Jenderal kota Air menatap Jira. "Jika ada waktu, kita bisa berjumpa lagi! Aku akan ingat kata-katamu yang sangat panjang!" candanya.   Jira tersenyum bodoh, "Itu pasti! Ngomong-ngomong, aku ada beberapa obat-obatan. Kau ambillah! Ini akan berguna untukmu. Lalu, yang ini untuk paman tabib. Dia belum mengambilnya tadi. Bisakah kau berikan padanya? Aku minta tolong sekarang." ringis Jira sambil memberikan dua kantung obat-obatan herbal.   Jenderal kota Air menerimanya dengan senyum. "Ini sangat bagus! Terima kasih! Aku akan berikan pada tabib nanti," jawabnya.   Jira mengangguk.   "Kalau begitu, aku kembali sekarang!" ujar Jenderal kota Air sambil menyuruh kudanya berbalik.   "Jangan lupa tersenyum!" teriak Jira karena Jenderal kota Air segera kembali ke kota.   Tanpa jawaban membuat Jira tersenyum. "Dia masih merasa bersalah. Hah, aku juga harus pergi," gumam Jira.   Memandang kota Air sekali lagi. Pandangannya menjadi meredup. Senyum saya terukir San selalu terukir. Sangat lama dia ada di kota Air. Terlewat tanpa ingat membuat Jira semakin melebarkan senyuman.   Kembali ke jalan barat. Kota Besi juga ada di barat. Perjalanannya tidak sia-sia. Jira membawa kudanya berlari tanpa celingukan mencari bunga. Tujuannya sudah pasti.   Sejak keluar dari sisi perbatasan kota Bunga, Jira menuju barat. Matahari bersinar terang hingga malam tiba. Berjumpa dengan banyak orang yang menuntunnya menuju barat. Keraguan kini hilang, semua itu adalah jalan bagi Jira. Jira mengerti sekarang jika tidak ada kebetulan. Ini sudah jalan takdir yang diberikan Sang Kuasa.   Masih ada beberapa kota yang harus Jira lewati. Jira sedikit khawatir jika dia berhasil menemukan bunga melati, tetapi tidak bisa membawanya ke kota Bunga. Waktunya sangat sedikit. Dia berjalan terlalu jauh. Tidak memungkinkan bisa pulang dalam waktu singkat. Jira tidak mau memikirkan itu sekarang. Pasti ada cara untuk pulang. Saat ini yang terpenting menemukan bunganya.   Langit cerah memancarkan cahaya. Gelap meskipun tidak ada penerangan, Jira bisa melihat dengan jelas. Dia mendongak memastikan cuaca.   "Cen Cen, kuharap kau sudah cukup beristirahat! Ayo terus berlari! Kita tidak akan tidur malam ini!" seru Jira serius menghadap ke jalanan.   Memacu kudanya lebih cepat. "Hiyaa!"   Berlari kencang melewati semua tempat.   Dua desa terlewati dalam semalam. Pagi harinya Jira bersinggah hanya untuk numpang mandi dan memberi kudanya makan. Tanpa uang yang dia punya. Jira bermodal senyum dan keramahan. Mengganti pakaiannya menjadi lebih bersih dan mengikat rambutnya menjadi satu. Layaknya orang dalam perjalanan, dia tidak memakai perhiasan apapun sekarang. Pakaian putih yang mencerminkan suasana hati. Seruling dan besi lambang kota Bunga setia menempel di tubuhnya.   Menemani kudanya makan, dia juga memakan buah yang memetik sendiri dari pohon. Merasa lebih baik, kembali melanjutkan perjalanan ke kota selanjutnya. Sayangnya masih terlalu jauh untuk ditempuh. Jira dikejar waktu. Sangat cepat hingga dua kota berhasil dilampaui dalam sehari. Kembali malam dengan angin menerjang hebat. Jira terpaksa berteduh. Saat angannya sedikit tenang, Jira memaksa kudanya lagi untuk berlari lebih jauh.   Semakin hari Jira semakin khawatir dengan keadaan kotanya. Ini sudah hari ke tiga saat keluar dari kota Air. Jira berada di ladang sebuah desa. Beberapa bunga di sana layu dan hampir kering. Cen Cen berjalan semakin lemas. Terdapat danau di dekat ladang. Jira membawa kudanya istirahat di tepi danau. Danau berwarna hijau segar. Pohon buah, gandum, rumput ilalang dan semua tumbuhan yang sengaja ditanam. Jira celingukan gelisah.   Tidak ada tanda-tanda rumah atau pemilik ladang itu. Jira tahu jika kota selanjutnya adalah kota Emas. Kota yang penuh perhiasan dan pernak-pernik. Barang-barang mahal dan unik ada di sana. Bagai berlian berkilau yang memikat, kota Emas seakan surganya orang kaya. Namun, Jira tidak mengerti dengan ladang disekitarnya. Mereka berbuah dan tumbuh, tetapi sangat lemas seakan sedang sakit.   Hati Jira langsung tertuju pada kota Bunga. Jika sejauh ini ada tanaman yang layu, lantas bagaimana dengan kotanya, Jira gelisah tanpa kepastian. Memandang rumput yang dia duduki. Mencabut satu dengan begitu mudah seakan akarnya sangat rapuh.   Dahi Jira semakin berkerut. Mengusap rumput itu hati-hati. Meskipun berada di dekat danau, rumput itu tidak segar walau warnanya hijau. Kudanya meminum air dengan sangat rakus. Dia ikut menatap air danau. Tidak ada yang salah dengan air itu. Tepian danau juga indah dipenuhi rumput. Tetap saja ada yang mengganggu pikiran Jira. Menurutnya di sini tidak wajar.   Jira melihat kudanya sebentar kemudian melangkah menuju pohon di dekatnya. Pohon jeruk yang tengah berbunga. Jira tersenyum, tetapi saat mencium bunga itu tidak ada aroma. Senyum Jira jadi hilang. Dia memetik bunga itu pelan. Sangat rapuh bahkan Jira bisa merasakan bunga itu kehilangan sesuatu.   'Kenapa ini terjadi? Apa yang terjadi?' batin Jira bertanya-tanya.   Dia beralih ke pohon lain. Sedikit jauh dari danau ada beberapa pohon mangga. Pohon itu berbuah lebat dan buahnya belum matang. Saat mendekat, Jira melihat dengan jelas jika buah itu kulitnya sedikit berkerut. Jira semakin bingung.   Jira memetik satu dari mereka. Mencium aromanya yang juga tidak tercium. Jira sempat berpikir jika indera penciumannya yang tidak bekerja. Namun, itu tidak mungkin karena sebelumnya masih berfungsi baik. Jira memakan buah mangga itu. Biasanya rasa mangga yang belum matang akan terasa asam, tetapi itu tidak berada. Hanya sedikit rasa mangga yang Jira dapat.   'Hambar?' batin Jira.  Melihat bekas gigitannya, warna buah itu sangat pucat. Jira semakin takut.  "Apa mereka semua sakit? Tapi dari luarnya terlihat baik. Hanya sedikit layu seperti tak terawat," gumam Jira.   Jira menuju rumput ilalang di sebelah tanaman gandum. Ilalang yang cukup tinggi sampai di lututnya. Buah mangga itu masih ada di tangannya. Melihat ilalang dan buah mangga bergantian. Mencari persamaan mereka.   "Tidak, ini tidak seperti biasanya," gumam Jira.  Dia berjalan menyusuri ilalang hingga kembali ke danau. Jira bisa merasakan ada sesuatu yang terjadi pada semua tumbuhan itu. Tidak ada yang menjaga. Jira kembali duduk di tepi danau sambil memakan buah mangga.   'Kenapa bisa hambar begini? Ke mana yang punya?' pikir Jira heran.  Sunyi rasanya di danau dan ladang yang tak bertuan.   "Mungkin ini milik warga kota Emas, tapi bukankah kota itu masih lumayan jauh?" gumam Jira berpikir. "Jika keadaannya seperti ini, apa terjadi sesuatu pada kota Bunga? Apa di sana lebih parah? Ck, kenapa Paman Uang tidak memberi kabar sama sekali? Aku jadi tidak tahu dan cemas! Kalau Paman Uang tidak memberi pesan berarti ratu Rui masih baik-baik saja, tapi ini sudah sebulan lebih. Bagaimana bisa baik-baik saja?" lanjut Jira.   Dia berdecak gelisah. Menatap langit berharap ada surat terbang dari Paman Uang. Pagi yang cerah. Sangat cerah sampai Jira tertidur merasakan terpaan angin. Kudanya berjalan kesana-kemari talinya tak diikat. Sampai meninggalkan Jira dan menyusuri ladang. Dia meringkik karena bertemu seseorang. Orang yang memakai topi jerami dan membawa tongkat. Beberapa domba mengikutinya dari belakang. Menatap kuda Jira yang begitu menawan membuatnya terpikat.   "Wah, kuda cantik! Siapa pemiliknya?"   Suara yang sangat mendalam dengan senyum yang tak pernah pudar. Kuda Jira menggeleng dan berbalik menuju Jira membuat orang itu terkekeh dan mengikutinya.   "Eh? Siapa di sana?" tanya orang itu dengan dahi berkerut. Melihat Jira yang sedang tidur dengan lengan sebagai bantalan.   Orang itu semakin melebarkan senyumnya. Membawa semua domba miliknya mendekati Jira. Pemandangan danau yang tak pernah bosan dipandang, orang itu menghirup udara dalam-dalam. Kuda Jira berhenti di sekitar Jira. Orang itu terkejut karena Jira perempuan. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN