Laki-laki itu duduk di samping Jira tanpa melepas semua tali dombanya. Dia meneleng heran. Menatap Jira dari atas sampai bawah, kemudian menggeleng.
"Sepertinya dia sangat lelah. Seruling?" dahinya berkerut melihat seruling Jira.
'Dia pasti bukan dari sini. Dandanannya sederhana, tetapi cantik juga,' batin orang itu.
Seketika Jira bangun sambil menariknya serulingnya, menghunus tepat di leher orang itu.
"Huaaaaa!" teriak orang itu dengan mata melebar.
"Siapa kau?" tanya Jira tajam.
Orang itu ketakutan. "A-aku hanya gembala domba! Ja-jangan bunuh aku!" ujarnya tertatih.
Jira melirik domba-domba di belakang orang itu. Seketika menarik kembali serulingnya. Orang itu mendesah lega.
"Huft, untung saja!" gumam orang itu sambil mengelus dadanya.
Jira memperhatikan orang itu sangat menelisik. "Penggembala?" tanya Jira.
Orang itu meringis. Membenarkan topi jeraminya sebentar. "Hehe, Nona, dari penampilanku saja sudah jelas ditebak. Lihat, mereka semua dombaku. Sedangkan kau siapa? Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya," ucap gembala itu setelah menunjukkan dombanya.
'Aku rasa dia bukan orang jahat. Dia penggembala biasa,' batin Jira.
Jira sedikit tersenyum. "Namaku Jira, berasal dari kota Bunga. Aku pengembara!" ujar Jira.
Gembala itu membuka mulutnya lebar. "Dari kota Bunga? Itu sangat jauh sekali!" pekiknya.
Jira terkekeh. "Sangat jauh! Ngomong-ngomong, siapa namamu?" tanya Jira basa-basi.
Orang itu tersenyum malu. "Aku tidak punya nama. Orang-orang memanggilku gembala domba. Panggil saja aku gembala dari kota Emas!" ujarnya senang sambil merapikan anak rambutnya.
"Kau cukup percaya diri. Pantas saja wajahmu bersinar, ternyata dari kota Emas. Bukannya itu juga lumayan jauh? Kenapa membawa dombamu kemari?" tanya Jira mengerutkan dahi.
"Seharusnya aku yang tanya begitu padamu, Nona! Kenapa kau bisa tidur di sini? Aku biasa membawa dombaku ke sini. Tadi sempat kaget karena kudamu menghalangi jalanku. Itu... Kudamu, 'kan? Aku terpikat dan mengikutinya sampai di danau ini. Lalu, melihatmu tertidur. Nona, selebihnya tidak pernah ada perempuan berkuda yang istirahat di sini," jelas sang gembala.
"Benarkah? Danau ini sangat indah dan tidak ada yang pernah singgah?" tanya Jira memancing. Dia sengaja karena laki-laki di depannya sangat cerewet dengan paras yang lugu.
Gembala itu mengangguk. "Tidak pernah! Karena itu aku senang membawa dombaku ke sini. Tidak ada yang mengganggu dan juga banyak makanan, haha," tawanya ringan.
Jira semakin menaikkan senyumnya. "Kau tau pemilik ladang ini?" tanya Jira menunjuk ke arah gandum.
Gembala itu menggeleng sambil melengkungkan bibirnya ke bawah. "Aku tidak tau, Nona. Aku rasa ini memang tempat terbuka. Gandum itu pasti ditanam oleh warga kota Emas," jawabnya akrab.
"Kota itu cukup jauh dari sini. Butuh waktu mungkin seharian untuk bisa ke sini. Mungkin, kau juga sama. Iya, 'kan?" tanya Jira menelisik.
"Hehe, perkiraanmu tepat sekali! Memang butuh waktu seharian berjalan kaki dari kota ke sini. Sayangnya, aku bukan dari dalam kota, tetapi dari desa di pinggir perbatasan. Hanya satu jam saja untuk bisa ke sini," jawabnya penuh senyum ceria.
Jira tertawa kecil. "Kau sangat ceria! Dari mana kau dapat topi jerami itu? Terlihat seperti petani bukan penggembala!" Jira bergurau.
"Ah, Nona bisa saja! Aku membelinya. Lagipula ini nyaman!" jawabnya melirik ke topinya.
Jira mengangguk pelan kemudian mendesah, "Hah, akan sangat indah jika aku bisa menikmati semua ini." Jira menoleh ke danau.
Gembala itu berkerut dahi bingung. "Apa maksudmu? Bukannya kau sedang menikmatinya sekarang. Angin menerpa sangat sejuk! Danaunya hijau indah dan...," ucapan gembala itu dipotong Jira.
"Semuanya sedikit layu dan tanpa rasa. Benar, 'kan?" Jira menatap gembala itu lagi.
Sang gembala merasa tersentak. "Ah, tidak! Semuanya baik-baik saja!" ujarnya sangat riang.
"Matamu buram atau tidak mau menerima kenyataan?" tajam Jira.
Gembala itu tersentak sungguhan. "Eee, aku harus jawab apa? Memang ini yang terlihat! Sebentar, aku mau bawa dombaku ke rumput ilalang itu, nanti aku kembali lagi!" jawab gembala dan pamit membawa dombanya.
Jira mengangguk. Menatap punggung gembala itu yang berjalan dengan riang seakan tidak menyadari hal di sekelilingnya.
'Laki-laki itu pasti tau sesuatu. Dia gembala di sini, 'kan? Dia hanya pura-pura ceria di depanku!' batin Jira.
Gembala itu menancapkan kayu untuk mengikat tali dombanya yang sudah besar. Selebihnya dibiarkan liar. Domba-domba itu makan tanpa bergaduh karena banyak rumput. Gembala itu kembali berjalan sambil tersenyum.
Menatap wajah gembala itu, Jira mendadak terdiam. Seketika di bayangannya adalah penipu yang membawa pedang alias Kay yang sedang tersenyum dan berjalan kearahnya. Tanpa berkedip Jira memandang gembala itu. Sampai tidak sadar jika sang gembala sudah ada di depannya sambil berjongkok. Melambaikan tangan di depan wajah Jira kebingungan.
"Nona? Nona Jira? Kau lihat apa?" tanya gembala itu sambil meneleng.
Jira terperanjat. Dia mengerjap beberapa kali sambil mengusap wajahnya. "Ah, tidak-tidak! Bukan apa-apa, hehe," tawa Jira kaku.
Gembala itu mengangguk dan duduk dengan benar, "Hah, ini hampir tengah siang. Kau mau makan? Aku bawa sedikit roti." katanya sambil mengambil roti di kantungnya.
"Aku tidak lapar! Kau makan saja!" ujar Jira tanpa mengalihkan pandangan dari gembala itu.
Gembala itu menoleh. "Heh? Tidak lapar? Aku jadi tidak enak makan," sang gembala merasa sungkan.
Jira menggeleng. "Jangan begitu! Makan saja nanti kau bisa lapar kalau nggak makan!" ujar Jira.
Gembala itu semakin tersenyum manis. "Kau mengkhawatirkanku, ya? Haha, aku tau kau juga belum makan. Ambillah! Buah mangga mentah tidak cukup untuk mengganjal lapar!" memberikan separuh roti miliknya.
"Bagaimana kau tau?" Jira mendelik bingung.
Gembala itu melirik buah mangga di tepi danau yang sudah digigit, "Itu tergeletak di sana! Ini ambil!" mengulurkan rotinya lagi.
Jira menengok ke buah mangganya. Lalu, menerima potongan roti itu. "Terima kasih," ucap Jira.
"Sama-sama!" gembala itu memakan rotinya dengan lahap.
"Dombamu kau biarkan berkeliaran, apa tidak takut jika lari?" tanya Jira yang hanya memandang roti itu.
"Kau sendiri? Kudamu juga tidak terikat. Tidak takut jika hilang?" tanya gembala itu balik sambil melihat domba-dombanya.
"Ck, pertanyaan tidak dibalas dengan pertanyaan, Tuan penggembala!" ujar Jira menatap gembala itu.
"Lalu, bagaimana jika aku jawab iya untuk pertanyaanmu sebelumnya?" Gembala itu menatap Jira balik. Jira terdiam. "Ini tidak seperti biasanya. Seperti yang kau lihat, dombaku saja merasakannya," lanjut sang gembala.
"Semuanya memudar. Ini bukan tanpa sebab. Untuk memastikan dugaanku benar, aku harus bertemu pemilik ladang ini," gumam Jira.
"Apa? Kau... Sangat memikirkan hal ini. Apa berpengaruh padamu?" tanya gembala itu penasaran.
Jira menatap ke hadapan, menghela napas panjang. "Aku harus mencari tau!" gumamnya.
Tiba-tiba rautnya menjadi gelisah. Gembala itu kebingungan.
"Ja-jangan nangis! Aduh, apa aku berbuat salah?" tanya gembala itu.
Jira kembali menoleh. "Hmm? Hahaha, aku tidak sedih! Lanjutkan saja makannya!" ujar Jira tertawa kaku.
Gembala itu mengernyit bingung. "Kau ini siapa sebenarnya. Pengembara dari kota Bunga? Apa yang kau cari dan mau ke mana? Mungkin aku bisa membantu," ucapnya menawarkan.
Jira tersenyum pahit. "Aku Jenderal kota Bunga. Hendak ke kota Besi untuk tujuan sesuatu," jawab Jira.
Gembala itu terkejut sampai tersedak. Matanya melotot lebar. "Je-Jenderal? Se-seorang Jenderal?" tanya gembala itu.
Jira mengibaskan tangannya. "Ah, jangan takut padaku! Aku tidak bawa pedang! Hanya seruling dengan kuda. Kau sungguh mau membantuku?" tanya Jira menaikkan satu alisnya.
Gembala itu ternganga heboh. "Jenderal meminta bantuanku? Aku? Gembala sepertiku?" tanyanya sambil menunjuk diri.
Jira mengangguk. "Kenapa? Tidak mau membantu?"
"E-eh, bukan begitu! Hanya saja aku rakyat biasa. Gembala kotor sepertiku mana mungkin bisa membantumu? Bukannya aku tidak mau, tapi ini terlalu luar biasa, hehe." gembala itu menggeleng, meringis sambil menyilangkan tangannya.
Jira tersenyum miring. "Kau yang menawarkan, Tuan gembala! Aku terima tawaranmu! Saat ini... Pemilik ladang ini harus diketahui! Ayo, sebelum hari semakin siang!" Jira berdiri meninggalkan gembala itu yang masih terkejut.
Jira mendekati kudanya. "Cen Cen, tunggu di sini dan awas para domba itu, ya! Aku akan segera kembali!" mengelus kepalanya kudanya.
"Jenderal! Apa kudamu mengerti bahasa manusia? Eh, maaf-maaf! Aku lancang! Mulutku memang minta dipukul!" ujar gembala itu heboh sendiri memukul pelan bibirnya.
"Hah, sudah-sudah! Ayo pergi!" ajak Jira melintasi sang gembala begitu saja.
Gembala itu buru-buru berdiri sampai menjatuhkan rotinya. "Jenderal, tunggu!" pekiknya karena Jira sudah jauh melangkah. Dia mengejar sambil berdecak kesusahan.
Pohon yang sama dan persekitaran yang sama. Semakin membuat dahi Jira berkerut gelisah. Tangan di belakang, berjalan tanpa melihat jalan. Gembala itu sampai bingung menatap Jira kemudian ikut melihat semua tumbuhan yang ada.
'Paman Uang, kau lambat sekali! Apa kau tidak melakukan tugas dengan baik? Kalau iya maka aku tidak akan mengampunimu! Aku menunggu surat darimu, bodoh! Sejauh ini sudah begini keadaannya. Rasanya aku kesulitan bernapas!' suara hati Jira tanpa berhenti berjalan.
Bola matanya berputar-putar seiring langkah. Gembala domba menggaruk kepalanya heran karena Jira.
'Dia Jenderal? Sangat sederhana! Kalau musuh menyerang bagaimana? Dia bahkan tidak membawa senjata. Hmm, kalau dilihat dari cara berjalannya, dia seperti anggota penting di pemerintahan kota. Bagaimana aku bisa membantunya?' batin gembala itu. Matanya meneliti Jira dari atas sampai bawah.
Mengikuti gaya berjalan Jira yang menaruh tangan di belakang dengan d**a tegak. Gembala itu tersenyum bangga.
'Wah! Aku lumayan juga!' batinnya lagi.
Jira tahu gembala itu mengikuti gayanya. "Apa yang kau lakukan?" tanya Jira.
Gembala itu menoleh sambil tersenyum bodoh. "Hehe, Jenderal! Aku ini orang biasa. Hanya meniru tingkahmu saja, tidak masalah, 'kan?" jawabnya bertanya.
Jira hanya menggeleng sambil memutar bola matanya. Gembala itu terkekeh. "Jenderal, aku akan mengatakan sesuatu. Mungkin kau tertarik atau bisa membantumu. Sebenarnya, semua tumbuhan sedikit kehilangan aroma dan rasanya. Mereka juga agak layu. Mungkin sejak satu minggu yang lalu. Aku keluar-masuk kota Emas. Di sini dan di sana agak berbeda. Di kota Emas semua tumbuhan masih normal, tetapi di sini tidak. Sampai perbatasan kota Emas, seakan semua terputus dan seterusnya baik-baik saja," terang sang gembala.
Jira tersentak. "Kalau begitu ini perlahan menyebar! Tidak salah lagi, pasti dari kota Bunga! Ayo kita ke perbatasan kota Emas!" ajak Jira langsung berlari begitu saja.
"Eh, Jenderal! Ck, kenapa dia selalu meninggalkanku?!" decak sang gembala kemudian mengejar Jira.
Tiba di perbatasan, Jira terkejut hebat. Namun, gembala itu bersikap biasa sambil mengawasi Jira dengan wajah polos. Sisi menuju kota Emas terlihat subur dan segar. Sedangkan sisi yang dia lalui sama layunya seperti di ladang.
"Mustahil! Bagaimana bisa ada dua sisi? Ini seperti garis pemisah! Tidak! Ini pasti akan menyebar! Akibatnya bisa buruk!" gumam Jira melihat sekeliling.
"Aku bahkan tidak pernah memikirkan akibatnya. Memangnya apa akibatnya?" tanya gembala itu.
Jira menoleh. Dia mendekat dan menunjuk wajah sang gembala sampai sang gembala memundur ketakutan. "Kau tanya apa akibatnya? Akibatnya semua buah dan bunga tidak akan ada lagi! Tidak ada makanan! Tidak ada keharuman! Keindahan juga hilang! Pesona dan wibawa turun seketika! Mungkin tumbuhan akan masih ada, tetapi tidak layak disebut tumbuhan jika tidak memiliki fungsinya lagi! Apa kau pikir itu baik? Akibat yang baik, ha?! Apa kau tau ini semua dari mana? Akibat dari sekaratnya kotaku yang bahkan lebih parah dari ini! Penguasa kota, sang pengendali kekuatan kota Bunga sedang sekarat! Kekuatan di kota ikut menghilang bersama dirinya. Itu berdampak bagi semua kota! Lihatlah sekarang! Lihat disekelilingmu! Apa kau mengerti sekarang?" Jira terbawa emosi sehingga marah.
Napasnya terengah, tetapi tidak memadamkan suasana buruk di hatinya. Gembala itu terdiam tanpa berkedip. Dia berdeham untuk mebuat Jira mendengar ucapannya. "Aku mengerti. Sangat mengerti," gumamnya tidak berani menatap Jira. Hanya melirik karena menurutnya Jira sangat menakutkan.
Namun, terlintas sesuatu di pikirannya. "Jenderal, tolong redakan emosimu. Kau boleh memarahiku untuk melampiaskan rasa susah hati, tetapi aku ada pertanyaan. Bukankah kota Bunga itu pengendali bunga? Kenapa berdampak pada buah dan tumbuhan?" tanya gembala itu mengernyit.
Jira terduduk lemas.
"Eh, Jenderal, kau tidak apa-apa?" tanya gembala itu ikut duduk ingin membantu Jira.
Jira menggeleng. "Tidak apa-apa!" lirihnya dengan pandangan kosong.
Gembala itu mendesah panjang. Dia duduk lebih santai dan melepas topi jeraminya.
"Penguasa kota Bunga bisa menghidupkan tumbuhan. Rumput kering pun jika tersentuh tangannya bisa segar kembali. Dia mengerti bahasa tumbuhan yang menginginkan kehidupan. Untuk itu, dia membuat lebih banyak bunga. Itu sebabnya kota kami disebut kota Bunga. Tumbuhan yang tidak punya bunga pun bisa memiliki bunga. Rumput di sana juga penuh bunga. Semua tempat terdapat bunga. Sejak perang perebutan wilayah, penguasa kota sakit parah. Kamu para pengendali bunga akan kehilangan martabat kami jika bunga sampai tidak ada. Tentu saja dampaknya besar. Tidak ada bunga, sebagian tanaman tidak bisa berbuah. Kami juga pasti akan tidak dipandang. Dilecehkan karena khas kami tiada. Putri Sanna Kaltera adalah putri pertama di kota Bunga. Dia mengendalikan ilmu kekuatan bunga lewat perasaan. Sebelum aku pergi, dia sangat sedih. Itu sebabnya penyebarannya sudah seluas ini. Andai dia bisa sedikit tenang, pasti hanya akan berpengaruh pada kota Bunga. Mereka berdua peranan yang penting, bukan? Kau bayangkan saja tidak ada bunga dan buah di seluruh penjuru negeri. Semuanya layu dan hilang fungsi. Putri Sanna berharap besar padaku. Kalau sudah begini, adakah orang yang mampir ke kotaku untuk membantu? Aku rasa untuk melihat saja enggan. Sebentar lagi akan tiba waktunya untuk kehancuran. Kalau aku tidak segera mengatasinya, bersiaplah... Imbasnya akan lebih besar dari ini. Penyihir, pendekar sakti sekalipun tidak akan mampu menghentikan, kecuali...," ucapan Jira menggantung.
"Kecuali?" tanya gembala itu.
Jira menoleh. "Kecuali bunga melati," jawab Jira.
Gembala itu tersentak. "Bunga terkutuk itu? Yang benar saja, Jenderal! Bukannya itu sudah musnah?" gembala itu memekik.
"Sekarang kau tau kenapa kami bisa mengendalikan tumbuhan, bukan hanya bunga?" tanya Jira sambil menggosok hidungnya sekali.
"Emm, aku mengerti lagi. Layu telah layu. Itu perasaan Putri Sanna. Hilang juga akan menghilang. Itu karena penguasa kota. Tak bisa kubayangkan bagaimana keadaan kotamu. Lantas, kau disini datang sebagai penyelamat yang belum mendapat hasil? Jenderal, meskipun penampilanmu tidak mencerminkan Jenderal, aku yakin kau orang yang tangguh! Tunggu apa lagi? Ayo cari apa yang kau cari! Aku siap membantu apapun itu!" tutur sang penggembala dengan serius.
Jira tersenyum tipis. "Sok berani! Ayo!" ajak Jira berdiri.
"Kemana?" tanya gembala itu masih duduk.
"Cari pemilik ladang!" seru Jira.
"Oh, baiklah!" gembala itu ikut berdiri.
Seketika Jira terdiam. "Tunggu dulu! Kau mengerti kondisi di sini dan kau bilang tidak pernah ada yang datang di sini. Kau selalu sendirian dengan dombamu. Itu artinya... Kau pemilik ladang ini!" seru Jira menunjuk wajah gembala itu dengan tajam.
Gembala domba mendelik. Lalu, tersenyum miring dan memakai topi jeraminya lagi. "Jenderal, kau terlambat sekali!" ujarnya tanpa segan.
Jira menarik serulingnya dan menodongnya tepat di leher sang gembala. "Beraninya kau! Pantas saja kau memakai topi jerami!"
Bukannya takut, gembala itu justru tersenyum lebih lebar. "Ternyata benar kata orang. Seseorang yang sudah kalut hatinya akan mudah dibohongi. Contohnya adalah dirimu," kata sang gembala.
Jira menatapnya tajam. "Omong kosong! Kau harus dihukum atas kelancanganmu!" seru Jira mendorong serulingnya, tetapi gembala itu menahannya. "Sekuat apapun kau sebagai Jenderal, tapi perasaanmu tetaplah perempuan. Belas kasihmu sangat tulus, aku bisa melihatnya. Kau tau jika aku berpura-pura bahagia. Kenapa tidak katakan sejak awal? Kenapa masih menganggapku gembala bodoh? Sampai kau menceritakan semuanya sekaligus tujuanmu. Kau juga tau kalau aku bukan orang jahat, itu sebabnya kau berani terus terang dan menginginkan bantuanku. Jenderal, aku pun tulus ingin membantu. Hanya satu pesanku, jika bunga melati memang masih ada, berhati-hatilah karena itu bisa lebih besar dampaknya. Apa sekarang kau sudah mengerti, Jenderal?" sang gembala kembali bertanya membuat Jira berkedip.
Jira menurunkan serulingnya. "Pemikiranmu cukup bagus!" seru Jira sambil menyimpan serulingnya.
"Jenderal, aku tidak punya senjata selain untuk bercocok tanam. Perhiasan yang aku miliki juga tak sebagai di dalam kota. Meskipun begitu, aku berani bicara pada orang penting sepertimu. Ck, dunia yang luas!" ujar sang gembala menatap langit.
"Apa yang kau rasakan saat semua tanamanmu layu?" tanya Jira.
"Aku hanya diam. Aku merasa itu sudah takdir." jawab sang gembala dengan mudah.
"Takdir? Kau diam saja melihat tanamanmu tidak berdaya?" tanya Jira sedikit menuntut.
Gembala itu menatap Jira. Sedikit mendekatkan wajahnya, tetapi Jira tidak mundur. "Iya," jawabnya lirih.
Pandangan mereka bertemu lebih dekat. Tidak ada pembicaraan, hanya batin yang bicara.