23. Pemburu Manusia

2603 Kata
 Tak disangka Jira memukul perut sang gembala menggunakan tenaga dalam hingga sang gembala terdorong sangat jauh. Gembala itu meringis sambil memegangi perutnya. Dia jatuh diantara rerumputan, sedangkan Jira mendekat dengan sorotan mata tajam penuh langkah pasti. Gembala itu masih kesakitan, dia terbelalak dan merangkak mundur.  "Aaaaaa, jangan pukul aku! Jangan pukul aku lagi, aku mohon, Jenderal! Aku tidak akan menatapmu lagi! Dasar mataku jelek! A-ampun! Ehehe, mohon maaf, Jenderal!" heboh gembala itu ketakutan kemudian berubah nyengir bodoh.   Jira terus berjalan semakin cepat. Gembala itu berteriak lagi menyilangkan tangan di depan mata, tetapi Jira melintasinya begitu saja.   "Ha?" pekik gembala itu heran.  Gembala itu berdiri dan mengikuti Jira.   "Jenderal, apa kau marah? Aku memang suka bicara, jangan marah! Tunggu aku!" menunjuk Jira sembari kakinya melangkah.   Jira tidak mau berhenti. Dia berjalan sangat cepat sampai gembala itu kesusahan.   'Hanya bunga? Ini lebih dari itu! Elemen yang dipegang keluarga istana kota bukan hanya bunga! Gembala payah itu tidak tau apapun. Seharusnya aku juga tak marah dan cerita semuanya. Aku pikir dia akan membantu, ternyata menipu membodohiku! Tidak ada waktu lagi untuk bermain di sini. Aku harus segera sampai di kota Besi!' batin Jira.   Tangannya mengepal. Menuju danau hijau dimana kudanya menanti. Gembala itu masih mengejarnya dengan napas terengah.   "Jenderal, kau mau kemana?!" teriak sang gembala.   Jira tak menghiraukan.   "Cen Cen, ayo pergi!" ujar Jira naik ke kudanya.   Gembala itu terbelalak. Dia kalang kabut menghentikan Jira. "Eh, Jenderal! Kenapa pergi? Aku bagaimana? Kau bilang minta bantuanku, sekarang mau meninggalkanku? Ayolah, jangan marah begini, aaaaaaa!" teriaknya karena Jira menodongkan serulingnya lagi di depan wajah gembala itu.   Jira menarik lagi serulingnya.   "Hiyaa!"   Pergi meninggalkan danau itu. Sang gembala masih ternganga. Pandangannya mengikuti Jira yang semakin jauh darinya. Lalu, dia tersenyum manis. Tertawa ringan sambil menggeleng kecil.   "Kau akan kembali... Di danau ini!" gumamnya menatap Jira yang menuju perbatasan.   "Jenderal! Aku tunggu kau kembali nanti sore! Tenang saja, aku tidak akan pergi sebelum kau meminta bantuanku! Aku menunggumu!!" teriak sang gembala.   Jira mendengar itu semakin mengepalkan tangan. Namun, dia berhenti lagi di tempat yang sama. Seakan ada garis pemisah antara sisi kanan dan kiri. Ada desa setelah masuk gerbang perbatasan. Jira yakin itu adalah desa yang ditinggali sang gembala.   'Apa maksudnya dia akan menungguku? Apa ada sesuatu yang aku tidak tau? Sial!' batin Jira.  Setelah menatap dua sisi yang berbeda itu dengan puas, Jira berdecak dan kembali mengarahkan kudanya masuk ke gerbang perbatasan. Ada beberapa penjaga yang bersenjata. Jira turun dari kudanya dan menuntunnya mendekat.   "Apa ini kota Emas?" tanya Jira berbasa-basi.   Mereka mengangguk.   "Boleh aku masuk?" tanya Jira.  "Tentu saja!" jawab salah satu dari mereka.   Jira mengangguk dan masuk dengan baik.  'Aneh! Apa mereka tidak takut jika aku orang jahat? Apa semua pendatang dibiarkan begitu aja? Kalau begitu kenapa harus dijaga gerbangnya?' pikir Jira.  Desa yang dia lihat jauh berbeda dengan desa di kotanya. Setiap rumah di desa itu memiliki lambang emas di pintunya. Sebagian rumah kecil yang beratapkan jerami, Jira yakini jika itu untuk binatang ternak. Jira menunggang kudanya lagi. Sembari berlari, melihat sekeliling yang penuh kilapan dari pantulan cahaya di perhiasan.   Jira berjumpa sebuah pasar. Bukan jalan pasar, melainkan jalan desa yang dibuka untuk pertokoan. Mereka menjual daging dan bahan pokok. Jira mengerutkan dahi bingung. Cara berpakaian mereka juga berbeda dengannya. Mereka memakai perhiasan entah laki-laki maupun perempuan. Sedangkan Jira tidak memakai perhiasan apapun selain gelang akar. Mebuat semua orang menatapnya heran.   'Mereka menjual daging dan bahan pokok tanpa ceria. Seperti pembeli juga jarang. Lalu, mereka memakai perhiasan? Kebanyakan dari mereka adalah emas. Mungkin, Emas dan perhiasan sangat mudah di dapat dan murah meskipun kualitas tinggi di sini. Anehnya, aku tidak melihat senyum sama sekali. Kenapa mereka semua?' pikir Jira.   Langkah kudanya menjadi melambat. Jira turun lagi, karena penasaran, bertanya pada beberapa orang yang bersebelahan menjual daging dan bahan pokok. Jira melihat dagangan mereka dengan teliti.  "Paman, Bibi, kenapa kalian murung?" tanya Jira ramah.  Mereka justru menatap Jira heran. "Kau ini siapa? Kenapa tidak memakai perhiasan?" tanya orang yang dipanggil Bibi oleh Jira.  "Aku? Aku pengembara. Tidak sengaja datang ke sini dan berjumpa kalian. Apa yang kalian resahkan? Kenapa... Tidak terlihat bahagia?" tanya Jira lagi sembari melihat sekeliling.   Mereka saling pandang. "Nona, tidak ada satupun yang membeli dagangan kami. Daging dan bahan pokok ini bisa busuk dan tak layak lagi. Kami harus bagaimana?" jawab orang yang dipanggil Paman dengan resah.   Jira menatap mereka bergantian. "Kenapa tidak dijual di pasar? Desa sebelah juga pasti membutuhkan," ucap Jira.  "Percuma saja, Nona! Tidak ada yang mau menerima semua dagangan kami."   Jira semakin bingung. "Kenapa?"   "Karena semua ini hambar! Tidak ada rasanya! Semua orang lebih senang belanja kebutuhan di desa sebelah. Mereka juga lebih baik pergi ke pusat kota untuk mendapat yang lebih baik," jawab mereka yang di belakang Jira.  Jira menoleh ke belakang. "Bibi, apa semua yang kalian jual ini tidak mempunyai rasa? Bagaimana bisa?" tanya Jira.  Seseorang di sisi lain menjawab membuat Jira menoleh. "Nona pengembara, kami juga tidak tau penyebabnya. Kami sudah laporkan pada pejabat kota, tetapi mereka masih menyelidikinya. Kalau kau lapar, pergi saja ke desa lain," jawabnya.   "Lalu, bagaimana kalian bertahan hidup? Bukannya kalau ini terjadi, kalian tidak dapat penghasilan?" tanya Jira ikut resah.  "Hah, apa boleh buat? Kami memakan apa yang kami jual. Biarkan tidak ada rasa, setidaknya kami masih bisa makan. Kami tidak bisa menambang emas yang ada di dekat pusat kota. Pekerjaan kami bertani dan berternak. Tidak punya uang, ya, kita makan apa yang ada," jawab Paman yang Jira tanya sebelumnya.   "Apa?" Jira terkejut.   'Tambang emas? Benar sekali kalau kota ini punya tambang emas. Bukannya pemerintah kota mengatasi hal ini? Mereka bisa mebuat emas dan perhiasan!' pikir Jira.  "Paman, Bibi, kenapa kalian tida menjual emas saja? Itu akan mendapatkan keuntungan!" saran Jira.  "Emas tidak dijual di sini! Hanya perhiasan yang bernilai tinggi yang bisa di jual di sini. Jika mau jual perhiasan harus di pasar kota lain. Itu jauh sekali!" jawab Paman itu lagi.  Jira ingin menjawab lagi, tetapi di dahulu seseorang. "Nona, biarkan saja begini! Pemerintah kota akan memperbaiki semuanya segera. Kalau kau tanya kenapa kami tidak ke luar kota, maka jawabannya karena kami mempertahankan desa kami, pekerjaan kami, dan kebiasaan kami! Kami tidak akan pergi kemanapun!" jawabnya.  Jira tersenyum. "Kalian sangat kompak, ya!" gumam Jira.   'Jika penguasa kota Emas sudah tau masalah ini, kenapa tidak mencari tahu penyebabnya? Aku mengerti sekarang. Ini semua terjadi sama dengan di ladang itu. Berarti, dua sisi yang berbeda itu hanya penampakannnya. Dalamnya tetap sama, hambar dan tidak memuaskan. Mungkin sebentar lagi akan merambat layu,' batin Jira.  Jira mengambil beberapa bahan pokok itu. "Bibi, bisakah aku melihat ladang kalian?" tanya Jira.  Kini Jira memegang daging domba dan menelitinya. 'Domba memakan rumput yang hambar. Dia ikut hambar juga?' pikir Jira.  Dia tidak menduga jika hewan juga merasakan akibatnya.   "Tentu boleh! Ayo ikut aku!" ajak Bibi itu.  Jira mengikuti sang Bibi setelah melepaskan apa yang dia pegang.   'Wah, desa ini luas sekali!' batin Jira memuji.   Dia sampai di sebuah ladang yang bergabung dengan ladang milik warga yang lain.   "Ini adalah milikku. Tidak ada yang aku tanami. Biarkanlah kering meskipun hujan turun dan membuat tanahnya lembab. Aku hanya bisa menunggu kan dari pemerintah kota" Bibi itu menunjuk ladangnya yang kosong.   "Sudah berapa lama ini terjadi?" tanya Jira.  "Entahlah! Aku tidak menghitungnya. Nona pengembara, kenapa kau begitu tertarik?" Bibi itu berbalik bertanya.  Jira menatapnya. "Ah, aku hanya suka memecahkan masalah saja. Lagipula ini masalah yang serius, 'kan?" kata Jira.  Bibi itu mengangguk. "Hah, andai saja ada yang tahu solusinya. Kami bisa hidup normal kembali," ucap sang Bibi.  Jira ikut mendesah. 'Paman Uang dan tiga anak buahnya memang minta di hukum! Aku tidak sabar karena kabar dari kota Bunga!' batin Jira.  Jira melihat ladang orang lain yang masih ada tanaman gandum. Jira mendekati tanaman gandum itu.   'Tidak layu, hanya terlihat hampa seperti ruangan kosong,' batin Jira.   Jira terkejut saat Bibi itu mendekat dan bicara di sampingnya. "Kau mau memecahkan masalah ini?" tanyanya.   Jira terbelalak. "Aku tidak bisa menjawabnya. Bagaimana aku kembalikan seperti semula? Tetapi aku akan cari tau," jawab Jira ramah.  Bibi itu mengangguk. "Eh? Kau tidak memakai perhiasan apapun? Perempuan harus punya barang yang indah. Ikutlah aku ke rumahku. Aku punya banyak perhiasan dari emas dan perak," ucapnya dengan senyuman.   Jira kebingungan sambil menyilangkan tangannya. "Ah, tidak perlu repot-repot! Aku tidak perlu memakai perhiasan, haha," tawa Jira kaku.  "Sudahlah, ayo!" ajak Bibi itu dan berjalan mendahului.   Jira mendesah dan mengikuti Bibi itu. Pintu rumah berderit. Rumah kayu yang sangat sederhana terlihat begitu mewah dengan perhiasan emas yang menjadi hiasan dinding. Jira sangat takjub. Bibi itu hanya tersenyum melihat Jira yang kagum pada rumahnya.   "Kau akan lebih kagum lagi aat berada di pusat kota. Di sana seperti lautan perhiasan!" ujarnya.   "Benarkah?" tanya Jira tanpa menoleh. Dia masih menatap semua isi di rumah itu.   Bibi itu mengambil sebuah kotak kecil berisi perhiasan untuk perempuan. Dia duduk di atas tikar. "Kemarilah! Lihat ini!" pinta sang Bibi.  Jira mendekat dan duduk di depannya. Kotak itu dibuka. Seketika mata Jira terbelalak. "Wah, Bibi! Jika ini dijual di kota lain pasti untung banyak!" ujar Jira.   Bibi itu terkekeh. "Emm, mari kita lihat mana yang cocok untukmu, tapi ini hanya gelang dan kalung. Kau suka yang mana?" tanya Bibi itu.  Jira merasa sungkan. "Ah, Bibi membuatku malu!" jawab Jira.   Bibi itu terkekeh lagi. Dia memilih sambil menimbang. Melihat Jira dan perhiasanya berulang kali hingga menemukan yang menurutnya cocok. "Nah! Ini bagus untukmu! Tida terlalu mewah, sederhana sepertimu. Juga tidak akan membuat risih perjalananmu." kata Bibi itu sambil menunjukkan kalung emas yang menyerupai rabatan daun.   Jira ternganga. "Wah, ini bagus sekali! Apa sungguh untukku?" tanya Jira.   Dalam hati Jira sangat waspada. 'Bisa saja ini jebakan!' batin Jira.   "Iya, ini untukmu! Aku lihat kau sudah punya gelang, jadi aku rasa kalung akan lebih pantas," kata sang Bibi.   Jira tertawa. "Bibi, gelangku ini terbuat dari akar, bukan emas. Harganya tak sebanding dengan perhiasan yang kau punya. Aku lebih suka menjadi sederhana. Pengembara sepertiku tidak mencari harta, tetapi hati. Aku harap kau mengerti maksudku," tutur jira tanpa menerima kalung itu.  Bibi itu menaruh lagi kalungnya ke dalam kotak. "Aku mengerti... Kalau kau tidak mau!" ujar sang Bibi dengan raut sedih.   Dia mengembalikan kotaknya pada tempatnya. Sebelum Bibi itu berbalik, Jira segera pergi dari rumah itu. Berlari menuju kudanya dan menunggang kuda menyuruh kudanya berlari dengan sangat cepat. Dia keluar dari desa itu ke desa lain.   'Menakutkan! Gigi Bibi itu taring semua! Aku tidak akan tau jika dia tidak tertawa pelan tadi!' gumam Jira.   Sebelum dia berhasil keluar desa, seseorang berseru mebuat Jira tersentak kaget.   "Tutup jalan keluar desa!!!" teriak seseorang itu.  Jira menyuruh kudanya berhenti mendadak sampai dia hadir tersungkur. Orang-orang mebuat dinding manusia sehingga Jira tidak bisa lewat.   'Ini sebabnya kenapa penjaga itu membiarkanku masuk begitu saja. Ini bukan desa emas, tetapi desa kosong yang penghuninya sudah berpindah. Mereka semua apa?' batin Jira menatap sekeliling.   Dia dikepung semua orang yang dia jumpai. Mereka mendesis dan mempertahankan gigi mereka yang tajam. Jira terkejut begitu juga dengan kudanya.   'Mereka bukan manusia biasa!' pekik Jira dalam hati.  Kini Jira berada di tengah-tengah mereka. Kemudian muncul Bibi yang ingin memberi Jira emas. Dia sangat marah. Jira terbelalak saat Bibi itu benar-benar menunjukkan giginya yang bertaring semua.  "Siapa kalian! Kalian bukan manusia! Kalian bukan dari kota Emas!" tanya Jira.  "Siapa kami, Nona pengembara? Kami adalah pemburu manusia! Daging yang kau lihat dan kau sentuh bukanlah daging domba, tetapi manusia sepertimu, hahahaha! Kami adalah penyihir terkutuk karena danau hijau! Jangan bertanya kenapa kami mencegahmu... Karena kami ingin memakanmu!" jawab Bibi itu sambil terus mendesis.   "Penyihir? Penyihir terkutuk? Dari danau hijau?" gumam Jira bingung.   Dia tidak takut. Justru sibuk berpikir. Mereka bingung karena Jira tidak ada rasa takut sama sekali.   "Hei, Nona pengembara? Apa kau menyerahkan diri untuk kami makan? Kenapa tidak lari?" tanya salah satu dari mereka.  Jira menoleh. "Apa? Daging yang kalian jual itu apa masih kurang? Hah, ternyata kalian menipuku, ya?" tanya Jira berbalik.   Mereka tidak bisa menjawab.   "Satu hal lagi... Kalian penyihir? Bukannya penyihir juga manusia? Kenapa makan sesama manusia dan apa hubungan kalian dengan danau hijau?" tanya Jira tidak tahu situasi.   Mereka bukannya menjawab, justru menyerbu Jira. Jira mebuat kudanya melompat tinggi hingga melewati kerumunan. Mereka berbalik bingung da mengejar Jira yang lari dengan kudanya.   "Hiyaa!! Cen Cen, gerbang masuk desa!" teriak Jira.  Suara kaki kudanya menggema dengan debu yang dia buat mebuat pandangan mereka kabur dan sebagian dari mereka berhenti mengejar. Jira terus memacu kudanya lebih cepat.   'Bahkan penjaga tadi tidak ada itu berarti mereka sama!' pikir Jira.  Dia berhasil melewati gerbang perbatasan. Sedikit menjauh da menoleh ke belakang. Dia menghentikan kudanya mendadak dan berbalik ke belakang. Mereka semua seakan ditahan oleh dinding tak kasat mata. Mereka merayap di udara seakan ingin menggapai Jira.   "Kenapa mereka seakan ditahan? Apa ini ilusi lagi? Bukan, ini bukan ilusi! Pasti ini sihir! Tapi kenapa aku bisa keluar masuk dengan mudah?" gumam Jira tidak habis pikir.  Seketika dia teringat pada ucapan sang gembala domba yang akan menunggunya di danau hijau itu. Jira berdecak kesal.   "Pasti dia tau soal ini, karena itu dia sangat percaya diri untuk menungguku!" gumam Jira lagi.  Mengajak kudanya berbalik menuju ladang dan danau. Kudanya tidak berlari, melainkan berjalan sembari Jira melamun.   "Semua yang mereka katakan tentang dagangannya itu sungguhan atau palsu? Lalu, desa yang lain juga sama?" Jira berbicara sendiri.   Bahkan belum ada sore hari, Jira sudah kembali ke danau. Matahari masih terik dan Jira heran dengan penggembala yang sedang tiduran di bawah pohon jambu dekat danau dengan senyum tersungging manis.   'Dia berlagak penting! Seolah-olah memang menungguku sekarang!' kesal Jira dalam hati.   Jira membuka bungkusan perbekalannya. Mengambil beberapa tusuk rambut runcing yang terdapat bunga dan melatikkan tepat di hadapan gembala itu.   "Huaaaaa!! Serangan jarum bunga!" teriak sang gembala.   Kaki dan mulutnya terbuka lebar karena kaget. Jira mendekat dan lompat dari kudanya. Menghunuskan serulingnya lagi tepat di tengah-tengah mata gembala itu. Lalu mengeluarkan belati kecil yang hampir menyentuh wajah sang gembala.   "Aaaaaa!!! Ampun, Jenderal! Kali ini apa lagi salahku? Jangan bunuh aku! Setidaknya... Jangan rusak wajahku yang tampan ini!" pintanya berteriak melirik belati yang hampir menggores dahinya.   "Apa itu pemburu manusia?!" desis Jira menyorot tajam.  "Ha?" gembala itu mengerjap dua kali.  "Kenapa mereka bergigi tajam?!" desis Jira lagi.   Glekk!   Gembala itu menelan ludahnya susah payah. Menatap mata Jira dan seruling bergantian. "Kau menakutkan sekali!" keluhnya ketakutan memasang wajah polos.   Jira tidak menjawab, melainkan mencabut tusuk rambutnya dan mengapitnya diantara jari. "Untung tidak mengenai kakimu. Kali ini akan pasti mengenai pusakamu!" tajam Jira sambil menunjukkan tusuk rambutnya.   Gembala itu mendesis ngilu bercampur takut. Seketika menutup k*********a membuat Jira terbelalak. "I-itu kejam! Itu kejam! Itu kejam!" Dia tidak bisa berkata-kata dengan baik.   "Katakan!" desak Jira sedikit membentak.   "Aaaa, iya-iya! Akan aku beritahu, tapi tolong jangan menakutiku!" pinta sang gembala.   Jira menarik semua yang dia pegang dan menyimpannya. Gembala itu mendesah lega sambil mengelus dadanya. Membenarkan topi jerami dan memandang kesana kemari. Jira tidak sabar dan akan mengancamnya lagi, tetapi gembala itu menahannya sambil tersenyum bodoh.   "Semua itu karena danau ini. Danau hijau yang menyegarkan ini!" ujar gembala itu dengan tenang sembari menunjuk danau.   Jira ikut menatap danau itu. Sedangkan kudanya minum air danau begitu saja. Jira bangun dan mencegah kudanya.   "Cen Cen, jangan di minum!" tahan Jira.  "Eh, biarkan saja! Airnya tidak berpengaruh apapun! Dombaku juga minum di sini, tenang saja!" ujar gembala itu sambil tersenyum menunjukkan deretan giginya.   Jira menoleh dan duduk kembali. "Kau yakin?" tanya Jira memastikan.  'Dia tidak punya gigi tajam. Apa dia manusia atau seperti mereka?' pikir Jira.  "Jenderal, kenapa memandangku begitu serius? Aku tau aku tampan! Jika kau bertanya apa aku sama seperti mereka, itu jelas bukan! Aku manusia sepertimu! Bedanya kau Jenderal dan aku rakyat biasa. Kau perempuan dan aku laki-laki," ucap gembala domba tanpa merasa bersalah.  Jira mendesah dan mencoba sabar. Menatap kudanya kembali yang tengah minum. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN