24. Danau Hijau

2507 Kata
 Siang yang begitu panas. Pohon jambu yang berbunga menjadi tempat berteduh. Buah mangga belum matang menjadi sajian. Lalu, danau hijau kembali menjadi pemandangan. Angin panas menerpa. Mengusik anak rambut Jira yang berterbangan. Senyum selalu terukir di wajah sang gembala. Duduk berdampingan dengan jarak sebentang tangan membuat gembala itu menahan tawa. Sifat perempuan melekat begitu kuat pada seorang Jenderal seperti Jira. Gembala itu menatap danau seakan menerawang ke beberapa waktu yang telah terlewat.   Kuda Jira juga istirahat dan mungkin akan tertidur. Domba-domba itu masih di rumput ilalang dan mulai malas makan. Sayangnya tidak ada yang dijelaskan. Semuanya mengatur diri untuk lebih tenang. Jira memutar-mutar serulingnya tanpa tenaga sembari tidak melepaskan pandangan dari danau itu. Helaan napas dikeluarkan berkali-kali mencoba sabar dan menunggu waktu.   "Saat daun cemara dari gunung jatuh, dia tertiup angin hingga kemari. Kala itu mendung tanpa hujan menyelimuti ladangku. Aku rasa itu hal biasa karena alam. Sayangnya lebih dari itu. Daun cemara itu jatuh ke danau hijau dan tenggelam hingga ke dasar. Jangan tanya kenapa daun itu bisa tenggelam, karena aku juga heran!" ucapnya sengaja dipotong karena gembala itu melirik Jira yang juga menatapnya dan mendengarkan dengan serius.  Jira berdecak membuat gembala itu terkekeh. "Sesuatu di dasar danau telah bangun. Aku yang sedang menyaksikan bersama dombaku berlindung di balik ilalang. Dia sangat kecil setinggi jari kelingking. Saat dia muncul, danau hijau ini membuat pusaran air. Jangan tanya juga kenapa air danau yang tenang bisa berputar!" kata sang gembala menatap Jira lagi.  "Sekali lagi kau menahan ceritamu, kupotong lehermu!" ancam Jira.   Gembala itu mendelik sambil bergidik. "Mengerikan! Kau perempuan yang mengerikan!" ujarnya.   Jira tidak peduli dan menyuruh gembala itu melanjutkan kisahnya.   "Aku melihat lebih teliti, dia adalah manusia kecil berpenampilan aneh. Pakaiannya mirip dengan daun cemara. Aku mendekat dan bisa melihat lebih jelas. Dia memang daun cemara itu yang berubah menjadi manusia kecil. Lalu, saat pusaran air itu mereda, dia menghilang. Masa itu aku panik ketakutan. Namun, Air itu mengeluarkan cahaya dari dasar danau sampai membentuk tulisan. Aku merasa itu sihir," terang sang gembala tanpa menatap Jira.  Jira sedikit mendekat. "Apa tulisannya?" tanya Jira.  Gembala itu berpikir. "Apa, ya? Sepertinya dia memberi kutukan! Yang aku ingat... Saat manusia kecil itu merasuki manusia, dia akan merubah manusia itu seperti dirinya, menjadi penyihir yang memburu manusia. Kekuatannya hilang dan akan menjadi pemburu sepenuhnya. Itu benar terjadi saat aku masuk desa. Orang-orang di sana berubah. Aku yakin itu ulah manusia kecil dan saat aku pergi, mereka tidak bisa mengejarku. Setelah itu... Aku tinggal di luar desa. Bertani dan berternak sendirian. Danau ini juga tidak menunjukkan reaksi apa-apa lagi. Aku bingung, aku tidak bisa mengerti maksudnya dengan mudah. Jadi... Aku santai saja. Tersenyum bebas karena memang tidak ada orang dan apapun yang bisa dilakukan," terang gembala itu lagi sembari tersenyum manis.   Jira diam sebentar. Mengetuk-ngetuk serulingnya pada lengan. "Daun cemara dari gunung? Penyihir dan kutukan danau hijau? Lalu, pusaran air. Aku rasa terjadi sesuatu di dasar danau sehingga membuat kutukan. Satu lagi yang mengganjal, kenapa manusia bisa keluar-masuk desamu sedangkan pemburu manusia tidak? Pasti di jalan itu di beri pelindung. Siapa yang memberinya? Apa danau hijau?" ucap Jira menatap danau di depannya.   "Aku bahkan tak pernah berpikir seperti itu. Lalu, kenapa danau itu bisa mengutuk?" tanya gembala itu menoleh pada Jira.  "Karena ini danau hijau. Dia memiliki kuasanya sendiri," jawab Jira.   'Sama seperti gua di desa Kurcaci yang juga punya kuasanya sendiri, bisa melindungi dari kabut beracun. Apa mungkin danau ini juga yang melindungi dan menutup desa agar para pemburu manusia tidak menyebar ke tempat lain? Aku rasa memang begitu,' pikir Jira.  Sorotan matanya serius seakan mencari titik pusaran air dalam danau. Gembala itu menggaruk kepalanya bingung.   "Jenderal, bagaimana caranya agar warga desaku bisa kembali normal? Hanya aku yang tidak dirasuki manusia kecil itu," tanya sang gembala.  "Daun cemara itu berubah menjadi penyihir kecil saat berada di dasar danau. Kemudian, dia melakukan sesuatu yang membuat danau hijau terganggu hingga membuat pusaran air. Penyihir kecil itu muncul ke permukaan dan mencari mangsa. Sebelum itu pasti danau hijau menyerap seluruh kekuatan sihirnya dan mengutuk penyihir itu. Saat penyihir kecil itu menghilang, dia pasti pergi ke desamu dan membuat semua orang menjadi sama sepertinya. Caranya dengan merasuki mereka satu per-satu. Setelah itu dia bersembunyi di mana? Lalu, kutukan itu berisi tentang... Itu dia! Awalnya penyihir daun cemara hanya seorang penyihir kecil yang berpenampilan mengerikan. Dia tidak memangsa manusia. Karena dia mengusik sesuatu di dasar danau, dia dikutuk oleh danau hijau sehingga menjadi pemburu manusia yang hilang kekuatan sihirnya. Iya, itu yang terjadi!" Jira berpikir keras tanpa mengalihkan pandangan dari danau. Dia berseru berhasil mengurutkan peristiwa.   Gembala itu segera mendekati Jira. "Apa benar begitu?" tanyanya.   Jira menoleh. "Kalau aku tidak salah, kunci penyelesaiannya juga ada di dasar danau," kata Jira.   "Lalu, kita harus apa?" gembala itu sangat antusias.   "Kalau kau mau warga desamu kembali normal, kau harus menyelam di danau dan cari tau apa yang terjadi. Aku masih bertanya-tanya soal perkataan mereka yang katanya semua bahan pokok hambar tiada rasa. Apa itu hanya sandiwara?" bingung Jira.  Gembala itu menggeleng. "Tidak, Jenderal! Kalau itu benar! Bukannya kau makan buah mangga ini? Sudah tau rasanya, 'kan?"  Jira mengangguk kecil. "Benar juga!"   Gembala domba ingin meminta sesuatu, tetapi bingung cara mengatakannya. "Emm, Jenderal! Aku ingin semua orang kembali dan penyihir kecil itu pergi, tetapi aku tidak bisa menyelam! Aku tidak sanggup bernapas dalam air! Hehe, bagaimana kalau kau membantuku? Ah, Jenderal, 'kan orang hebat! Kau juga sangat cerdas! Pasti sangat mudah menemukan sesuatu di dalam sana!" pintanya membujuk.   "Dasar bodoh! Manusia mana bisa bernapas dalam air?! Memangnya kau ikan?! Jangan banyak mengeluh! Menyelam sendiri atau kudorong kau ke danau!" ancam Jira.   "Aaaa, Jangan-jangan! Aku nyelam sendiri, hehe." gembala itu nyengir.   Jira kembali santai. "Tunggu apa lagi?!" mata Jira melotot.   Gembala itu mendelik takut. "Iya-iya! Jenderal, kalau terjadi sesuatu padaku tolong bantu aku, ya?! Aku tidak bisa apa-apa! Hah, nasib membawaku harus begini. Apa boleh buat? Semoga ketampananku tidak berkurang setelah ini!" ujarnya sambil melangkah lebih dekat ke tepian danau.   "Masih saja bercanda! Kalau kau mati pun aku tidak peduli!" jawab Jira.  Gembala domba menoleh ke belakang dengan wajah memelas. Namun, melihat Jira yang terus memaksanya membuatnya pasrah. Terjun ke dasar danau sungguhan hingga topi jeraminya lepas, Jira berdiri dan melihatnya.   "Dia sungguhan menyelam? Tak kusangka benar-benar dia lakukan!" ujar Jira sedikit tersenyum.   Seketika Jira terlonjak kaget. Danau itu membuat pusaran air tepat di mana gembala itu terjun. Mulut Jira ternganga. Dia panik, khawatir jika terjadi sesuatu yang membahayakan nyawa gembala itu.   'Astaga! Ini sungguh karena sihir! Bagaimana ini?' pikir Jira.   Matanya tak lepas pandang dari pusaran air yang terus berputar. Jira mundur satu langkah saat mendengar suara muncul dari titik pusaran itu.  "Jenderal kota Bunga, Jira Sieli War, aku memberi salam!" Suara itu menggema membuat Jira semakin tersentak.   "Bagaimana... Bagaimana tahu namaku? Siapa yang bicara? Tunjukkan dirimu!" Jira merasa dalam sebuah ruang.   Angin panas menjadi semakin kencang bersamaan pusaran air. Jira berusaha melihat danau dengan jelas. Mencari sesuatu yang sedang bicara. Namun, Jira rasa itu adalah suara danau.   "Aku menerima pesan darimu lewat pemuda ini. Kalau kau ingin kutukanku hilang, kembalikan mutiara hijau yang dia makan!" ujar suara danau itu.  Jira kebingungan. "Mutiara? Bagaimana bisa aku mendapatkannya? Dia ada di desa dan tengah bersembunyi! Jika aku ke sana lagi, aku akan mati! Lagipula aku harus menjalankan tujuanku. Jika aku membantumu, akan membuang waktu!" bantah Jira dengan dahi berkerut.   "Kau boleh meminta apapun dariku jika kau bersedia. Kau akan menemukan caranya nanti, Jenderal!" tawar suara danau.  Jira nampak berpikir. "Apapun?" tanyanya memastikan. "Kalau aku minta kau tahan penyebaran layu dan hampanya semua tumbuhan ini apa kau bisa?" tanya Jira.   "Hmm, tidak! Tapi aku bisa memberimu sesuatu," jawabnya.   "Apa itu?" tanya Jira penasaran.   "Airku!"   "Untuk apa aku menggunakan airmu?" heran Jira.   "Akan berubah menjadi senjata apapun yang kau inginkan. Dalam diriku bukan hanya kuasaku sendiri, tetapi kekuatan penyihir daun cemara yang aku serap." jelasnya.   Jira tidak bisa menentukan keputusan. Namun, dia ingat gembala itu masih berada dalam air. Dia tidak muncul dan mengambil napas. Jira menerima begitu saja tawarannya.   "Baiklah! Aku terima! Sebagai gantinya kau harus tepat janjimu!" seru Jira menunjuk titik pusaran air.  "Hmmm. Salam, Jenderal kota Bunga!" kata terakhir berakhir dengan pusaran air yang juga menghilang. Jira tersentak lagi. Danau itu sekarang tenang dan Jira panik mencari sang gembala.  "Tuan gembala! Keluar sekarang juga! Aku benar-benar tidak akan menguburkan mayatmu jika kau mati di dalam air! Keluarlah!" teriak Jira di tepian danau itu.  Seketika gembala itu muncul kelagapan di permukaan air. Dia menutup matanya dengan tangan meraba-raba. Jira mendelik.   "Jenderal! Jenderal, tolong aku! Aku merasa jadi ikan!" teriak gembala itu seraya tenggelam dan muncul lagi.  Jira tertawa renyah. "Kau memang ikan bodoh!" ejek Jira. Gembala itu masih kesulitan. "Kau tinggal berenang menepi! Jangan diam saja di situ! Aku sudah tau caranya membantumu! Sekarang giliranmu untuk membantuku! Cepat naik!" seru Jira.   Gembala itu mencoba berenang hingga ke permukaan. Dia sangat terengah. Memeluk dan menciumi tanah seakan berhasil selamat. Jira menatapnya tidak percaya.   "Haaa, aku selamat! Aku tidak tenggelam, haha!" tawanya sambil mengatur napas. "Jenderal, aku tidak menemukan apapun di dasar sana. Hanya daun-daun yang sudah melebur, Ikan-ikan kecil, dan ranting kayu. Hah, aku capek! Seakan ada ikan dikepalaku! Mereka berenang di kepalaku!" ocehnya menyambung.   Dia menoleh ke segala arah, tetapi tidak menemukan Jira. "Eh, di mana Jenderal? Jenderal! Kau meninggalkanku, ya?! Tega sekali kau!" teriak sang gembala sembari berdiri.  Tubuhnya basah kuyup dan kehilangan topi jerami. Wajahnya di tekuk kecewa. Tiba-tiba dia mendongak mencari sumber suara Jira yang tengah memanggilnya.   "Tuan gembala! Cepatlah! Kita tidak punya banyak waktu!" teriak Jira naik di punggung kudanya dengan penuh aura.   Gembala itu ternganga sebentar. Kemudian berlari kecil menghampiri Jira.   "Naiklah!" pinta Jira.  "Ha?" heran sang gembala.  "Ck, cepat naik! Kau mau jalan kaki?" cuek Jira.  "Oh, iya-iya!" gembala itu segera naik di belakang Jira.  Hampir terjungkal ke belakang saat Jira menyuruh kudanya berlari cepat.   "Jenderal! Jangan terlalu cepat! Aku bisa jatuh kemudian mati nanti!" pekik sang gembala ketakutan.   "Sebelum malam, kita harus temukan penyihir kecil itu. Dia bersembunyi di desamu. Sebelum itu, jangan biarkan kedatangan kita diketahui salah satu dari mereka. Kita harus datang diam-diam. Mengerti?" kata Jira sekaligus bertanya.   "Aku mengerti! Kau bisa tau dari mana?" tanya sang gembala.  "Suara danau yang memberitahu. Saat kau menyelam tadi, apa tidak merasakan pusaran air?" Jira balik bertanya.   Gembala itu mengerutkan dahi. "Pusaran? Tidak ada apa-apa yang terjadi. Aku hanya menyelam sebentar dan keluar karena kehabisan napas. Tidak mendengar suara apapun juga," jawabnya.   Jira mengangguk. 'Kalau begitu memang danau itu ingin bicara denganku," pikir Jira.  Dugaan Jira benar. Tidak ada penjaga yang menjaga gerbang perbatasan. Jira mengikat kudanya di luar gerbang agar aman. Jira masuk mengendap-ngendap bersama sang gembala.   "Sstt, terakhir kali kulihat mereka ada di pasar desa. Hati-hati!" bisik Jira yang ada di depan sang gembala.  "Eh, tunggu dulu, Jenderal! Desa ini cukup luas, gimana nyarinya?" tanya gembala itu pusing sambil menggaruk kepala.   Jira menoleh. "Kalau begitu tidak ada cara lain. Kita harus memancingnya keluar, tapi itu terlalu beresiko. Kau saja yang jadi umpan!" suruh Jira.  Gembala itu mendelik. "Ah, tidak mau! Kalau aku mati gimana? Gigi mereka itu jelek mengerikan! Ih!" Dia bergidik.   Jira tersenyum miring. Menatap sang gembala dari atas sampai bawah. "Pakaianmu masih basah. Apa tidak mengganggu?" tanya Jira.  Gembala domba ikut menatap pakaiannya. "Tenang saja, ini sedikit berat dan dingin, tapi aku kuat!" jawabnya tersenyum manis menatap Jira.  Tanpa sadar Jira ikut tersenyum. "Melihatmu aku jadi ingat penipu itu. Dia punya senyum yang sangat manis sepertimu. Begitu manisnya sampai aku terus dibuat marah karena tidak tahu harus berekspresi apa. Dia... Manis sekali!" celetuk Jira.   Gembala itu mengernyit. "Eh? Kau memuji seorang laki-laki? Siapa? Penipu mana yang punya senyum sepertiku? Apa lebih manis dariku? Apa lebih tampan dariku? Apa dia kekasihmu, Jenderal?" godanya.   Jira berdecak. "Dia lebih menyebalkan darimu!" ujar Jira sambil tersenyum lebih lebar.   Gembala itu terkekeh. "Hah, indahnya tersenyum," ucapnya bangga.  Jira menangkap sesuatu. "Itu pasti bisa berhasil! Kalau kita menarik salah satu dari mereka, kita bisa mendapatkan petunjuk di mana penyihir kecil itu bersembunyi. Kau harus mau memancing mereka. Tersenyum dan jangan buat ulah. Sampai mereka ingin memangsamu, kau lari ke gerbang perbatasan," bisik Jira kembali serius.   "Kenapa harus aku, Jenderal? Aku sangat takut!" desis gembala domba.  "Kau harus berani! Aku sudah datang dan mereka tau. Tidak mungkin kalau aku yang memancingnya." jawab Jira sambil meneliti persekitaran.   Gembala domba berdecak. "Memangnya selain penyihir kecil, apa lagi yang harus dilakukan? Gimana caranya agar semua kembali normal? Mungkin ada cara lain selain aku yang jadi umpan?" tanya memelas.  "Suara danau bilang mutiara hijau miliknya dimakan oleh penyihir itu. Itu sebabnya dia mengutuk dan menyerap kekuatan penyihir. Jika kita menangkap lalu mengambil mutiara hijau itu dari penyihir kecil, kutukannya akan hilang," terang Jira.  Gembala domba mengangguk ringan. "Mutiara hijau? Apa hijau sebening permata yang ada di sana?" tanya sambil menunjuk sebuah rumah.   Jira mengikuti arah jari telunjuk sang gembala. Dia terkejut. "Itu rumah yang aku masuki tadi. Rumah orang yang ingin memberiku perhiasan kalung. Tapi di mana permatanya. Aku tidak melihatnya!"   "Sungguh? Itu terlihat jelas di dinding rumah! Apa matamu buram?" tanya sang gembala.  "Mulutmu minta kupotong? Aku memang tidak melihat permata hijau! Seperti apa bentuknya?" tanya Jira masih meneliti rumah itu.  "Bentuknya tidak beraturan. Aku hanya tanya apakah mutiara hijau itu sama seperti permata itu? Kenapa kau tidak bisa melihatnya sedangkan aku bisa?" heran sang gembala.  "Mungkin karena kau penduduk asli di sini. Jadi bisa melihat perhiasan apapun yang tidak bisa dilihat orang luar. Ayo ke sana!" ajak Jira.  "Benarkah? Ini hebat! Berarti aku tidak perlu jadi umpan, 'kan?" tanya gembala itu, tetapi Jira tidak menjawabnya.   Dia berdecak dan kembali mengikuti Jira. Sampai di rumah itu, gembala domba menyentuh dinding yang menurutnya ada permata berwarna hijau cerah. Namun, Jira masih tidak bisa melihatnya. Jira memilih masuk ke dalam rumah dengan penuh waspada. Gembala itu ikut masuk dan melihat seisi rumah.  "Kau kenal pemilik rumah ini?" Jira berbisik.  "Iya! Ini milik wanita yang sangat baik. Dia bekerja di ladangnya sendiri," jawab gembala domba juga berbisik.  "Tidak ada orang. Sepertinya mereka memang berada di pasar." kata Jira sambil mendekati sebuah kotak perhiasan yang dia lihat sebelumnya.   "Aku masih heran kenapa aku bisa melihat permata itu dengan jelas. Loh, permatanya menghilang!" gembala itu berbalik ke belakang dan menunjuk permata itu, tetapi permatanya sudah tidak ada.   Jira kaget dan ikut menoleh ke belakang. "Apa sungguh tidak ada?" tanya Jira.   Gembala itu mengangguk. "Benar, Jenderal! Tadi ada sekarang tidak ada!" ujarnya.  "Sial! Mungkin di dalam sana ada sesuatu. Bisa jadi mutiara hijau beserta penyihir itu! Ayo cari dia! Pertajam penglihatanmu, Tuan gembala!" seru Jira menepuk pundak sang gembala dan pergi keluar rumah tanpa arah yang jelas.   Gembala itu berdecak lagi sambil mengejar Jira. "Setidaknya aku tidak dijadikan umpan!" gerutunya.   Mereka hampir tiba di pasar dan gembala itu tidak melihat permata hijau lagi. Jira terus mendesah menyuruhnya melihat lebih jelas, tetapi tidak menemukannya. Sampai mereka berhenti dan sembunyi di balik rumah warga dan melihat kondisi pasar. Banyak orang yang sama seperti yang Jira lihat. Bibi yang menawarinya perhiasan juga ada di sana. Mereka masih menjual daging dan bahan pokok. Sama sekali tidak ada senyum. Mereka layaknya manusia biasa yang memang memiliki masalah pangan dan keuangan. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN