Malam semakin damai dan Jira memandang rumah orang dengan sangat tenang. Tangannya dingin terus memegang kendi. Saat Jira ingin minum air kendinya lagi, Kay menghentikannya. "Jangan minum itu terus. Terlihat seperti minum arak daripada air mujarab. Minum ini saja!" menyerahkan sekelas air es. Jira menatap Kay dan gelas itu bergantian. Meminum habis sampai es juga dia makan. Kay tidak pernah melunturkan senyumnya. Jira menjadi salah tingkah. "Kenapa melihatku begitu? Ada sesuatu diwajahku?" tanya Jira sudah tidak lemas. Kay duduk lebih nyaman sambil menekuk satu kakinya. "Tidak ada! Aku hanya senang kau kembali," jawab Kay jujur. Jira meneleng. "Senang?" Kay mengangguk. "Kalau kau tidak kembali aku pasti punya hutang pada kota Bunga karena Jenderal mereka hilang. Itu berita

