9. Mulai Jatuh Cinta

1410 Kata
          Pagi ini jalanan tidak seramai seperti biasanya, tapi entah kenapa Fei tidak begitu focus beberapa kali ia hampir menabrak pengendara lain, dan benar saja kali ini sasarannya seseorang yang sedang mengambil barangnya yang terjatuh  jika Fei tidak segera menginjak rem mobil nya mungkin perempuan itu sudah terpental kejalanan.             “Aaa..! brughhh.! Aww!” Teriak perempuan itu, Fei pun segera keluar dari mobil dan menghampirinya. Matanya terbelakak ketika melihat keadaan si wanita yang sudah terkapar dipinggir jalan. Fei bergegas keluar dari mobilnya lalu membangunkan wanita itu.           “Astagfirullah .. Kamu tidak papa?” Ucapnya panik.           “Arin ! Ya ampun. Kepala kamu berdarah saya antar ke rumah sakit ya?” Ucapnya dengan tinggi, karena terkejut mendapati siapa yang ia tabrak, darah segar mengalir diatas dahi sebelah kanan Arin membuat hijab silver-nya ternoda.           “Gak papa ko, ini hanya luka kecil saya bisa mengobati nya sendiri, tidak perlu ke rumah sakit.” Jawab Arin, ia tidak nyaman saat Fei memegangi tubuhnya, yang menurut Arin reaksi Fei terlalu berlebihan.           “Jika luka ini ada dibagian lain selain kepalamu, tentu kamu bisa mengobatinya, kebetulan saya seorang dokter dan jika kamu menolak di bawa kerumah sakit maka saya akan bawa kamu kerumah.” Tegas Fei langsung menggedong Arin tanpa izin, ekpresi Arin yang membulatkan kedua matanya dengan mulut terbuka saat Fei menggendongnya, membuat Fei tersenyum tanpa sepengetahuan Arin.           “Tidak perlu, saya masih kuat berdiri biar nanti saya pesan taksi online untuk pergi ke klinik.” Cerocos Arin sedikit meronta ketika berada digendongan Fei.           “Kalo kamu pingsan gimana? Hanya akan merepotkan pak supirnya lebih baik saya saja, walau bagaimanapun saya harus bertanggungjawab.” Jawab Fei, kemudian mendudukan Arin dikursi depan, tak lupa memasangkannya seatbelt, lalu mengatur posisi sandaran kursi sedikit kebelakang. Wangi tubuh Fei menyeruak disana ia memang sangat menyukai parfum, membuat Arin menelan ludahnya kasar.           Wajah Arin benar-benar terlihat lebih cantik ketika dilihat dari jarak dekat, sukses membuat jantung Fei berdebar berada rapat itu dengan Arin, ingin rasanya terus berlama-lama memperhatikan wajah indah itu lalu tersadar “Astagfirulloh sadar Fei, ini bukan saat yang tepat.” Gumamnya, lalu kembali ke kursi kemudinya.           Fei dapat merasakan Arin sangat kesal atas tindakan yang ia lakukan, disepanjang perjalanan mereka tidak berinteraksi sama sekali, sedari tadi Arin hanya menatap kearah jalanan, karena merasa bersalah Fei akhirnya meminta maaf.           “Rin, saya minta maaf karena saya lancang menggedong kamu begitu saja.” Sahut Fei sambil melirik kearah Arin, tapi tak ada jawaban disana.           “Rin kamu marah?” Sahutnya lagi namun Arin masih terdiam. Fei pun tidak bertanya lagi. …           Sesampainya dirumah Fei melihat ke arah Arin yang posisinya tidak merubah, masih menghadap ke arah yang sama, ia menepuk pundak Arin pelan-pelan untuk memastikan wanita itu baik-baik saja.           “Rin, sudah sampai.”  Ucapnya. Arin masih belum menjawab, Fei membalikan wajah itu dan Arin sudah tidak sadarkan diri. Fei tidak heran karena itu salah satu gejala umun tatkala seseorang mengalami benturan dikepala.           Fei menggendong Arin keluar dari mobil, lalu membaringkannya di salah satu kamar tamu, kebetulan  ibunya sedang tidak dirumah karena ada urusan pekerjaan di luar kota dan jika beliau mengetahui kondisi Arin seperti ini, hanya akan membuat kepalanya meledak disambar ratusan pertanyaan. Fei mengambil stetoskop lalu memeriksa keadaan Arin.           Wajah menawan itu ia perhatikan lagi dan menjadi semakin indah saat sedang terlelap, ternyata luka Arin tidak hanya dikepala tetapi juga ditangan dan kakinya, terlihat sedikit bercak darah dari kaos kaki Arin yang menyerupai warna kulit. Fei benar-benar mengobati luka Arin dengan hati-hati. Hari ini Fei memutuskan untuk mengambil cuti setengah hari karena harus menemani Arin yang masih belum sadarkan diri, kemudian setelah tiga jam kemudian Arin siuman.           “Dimana ini?” Ucap Arin heran karena tidak mengenali ruangan itu.           “Dirumah saya, alhamdulillah kamu sudah sadar. Gimana, masih terasa pusing?” Jawab Fei lembut. Arin menggeleng.           “Saya harus pulang.” Ucap Arin saat hendak bangkit dari ranjang itu.           “No no no, kamu harus istirahat. Saya tau kamu belum sarapan jadi saya sudah suruh bibi membuatkan kamu bubur.” Ucap Fei sambil menahan tubuhnya.           “Maaf saya  tidak lapar, saya harus pulang.” Ucap Arin menolaknya halus.           “Makan lah sedikit, kasian bibi sudah cape-cape buatin ini untuk kamu.” Ucapnya Fei merayu Arin sambil menunjuk mangkuk bubur yang pegangnya,           “Baiklah tapi tidak perlu disuapi” Jawab Arin saat Fei hendak menyuapinya.           “Baiklah, hati-hati panas.” Ucap Fei tersenyum tanpa membuka mulutnya, menyodorkan mangkuk bubur kepada Arin, Arin pun menerimanya kemudian memakannya, hanya habis setengahnya saja dan itu sudah bagus yang penting perut Arin terisi.           “Oh ya, saya harus kerja karena ada jadwal operasi yang tidak bisa ditinggalkan. Setelah ini kamu istirahat, ingat ? Jangan kemana-kemana sebelum saya pulang.”           “Tap…”           “Ssst, tidak ada tapi-tapian.” Jawab Fei, lalu keluar dari ruangan itu dengan perasaan yang membuatnya merasa sangat bahagia. Ia berpesan kepada bi Ati dan bi Anah untuk mengawasi dan menjaga Arin sampai ia kembali. …..           Akhirnya Fei pulang pada pukul tujuh malam, ia tersenyum melihat keakraban Arin dan adik bungsunya Fadina. Arin terlihat senang saat melihat kedatangannya.           “Yuk pulang.” Ucapnya begitu polos.           “Iya, nanti setelah kita makan malam.” Jawab Fei lembut.           “Sekarang saja, saya sudah makan ko. Tapi.. Mas sudah makan?”           “Gak papa, nanti saja setelah mengantarmu. Saya ganti baju dulu sebentar.” Jawab Fei, kemudian Arin mengangguk. Fadina sedikit heran mendengar interaksi diantara mereka, yang terlihat cocok jika menjadi pasangan suami istri.           “Kakak kenapa gak nginep aja sih, besok aja pulangnya.” Ucap Fadina.           “Ada hal yang harus kakak kerjain dirumah, nanti kamu main aja kesana.” Jawab Arin lalu tersenyum sambil mengusap kepada Fadina seperti adiknya sendiri.           “Hmm, yaudah deh.” Jawab Fadiana sedikit cemberut. Tak lama kemudian Fei menuruni tangga. Lalu Arin bergegas mengambil barang-barangnya di kamar tamu.           “Fa kakak pamit ya?” Ucap Arin kepada Fadina, Fadina langsung menghampiri Arin lalu memeluknya. Fei tidak menyangka jika adiknya begitu akrab dengan Arin.                    “Hati-hati ya, titip ka Arin ya kak?” Pesan Fadina kepada Fei.           “Iya.” Jawab Fei. ….. Sesampainya dirumah Arin, Fei takjub dengan dekorasi rumah Arin, menurutnya sangat bagus, Arin menerapkan gaya Scandinavian mix shabby chic pada huniannya benar-benar mencerminkan pribadi sang pemilik, sederhana namun mempesona.           “Semua ini kamu yang men-design ?” Ucap Fei, memandangi halaman depan rumah Arin, karena baru pertama kali melihatnya walau sebelumnya ia sempat mengantar Arin tetapi hanya sampai depan komplek sesuai permintaan Arin.           “Iya” Jawab Arin.           “Saya benar-benar minta maaf sudah membuat kamu seperti ini, juga sudah lancang menggendong kamu tadi, sampai bikin kamu kesel.” Ucap Fei yang menyesali tindakannya.         “Saya sudah memaafkan mas ko, terimakasih sudah mengobati dan mengantar saya pulang” Jawab Arin ramah.         “Sama-sama, itu sudah menjadi tanggungjawab saya.” Jawab dokter itu sambil tersenyum.         “Kalau begitu saya pamit pulang, istirahat dan jangan lupa diminum obatnya.” Tambahnya, lagi-lagi Arin hanya mengangguk.           Fei langsung pulang setelah mengantar Arin, Fei tidak sempat masuk kerumah seorang wanita yang tinggal sendirian itu, karena rawan akan timbul fitnah. Diperjalan pulang sosok Arinda Pramudina terus memenuhi isi kepalanya.            “Hahh.. Arin, sepertinya aku sudah yakin ingin mengenalmu lebih jauh.” Gumam Fei setelah membuang nafasnya kasar. Ini memang terdengar berlebihan ketika Fei bisa sebegitu mudah membuka hatinya, semua ini berawal dari nasihat  Radit beberapa waktu lalu, agar Fei jangan terus berlarut dalam kesedihan dan segera mencari pengganti Rania.           Fei mulai mempertimbangkan perkataan orang-orang terdekatnya, yang meminta Fei untuk mengikhlaskan Rania dan mulai mencari pasangan hidup, Fei mulai sedikit demi sedikit mencoba membuka hatinya untuk wanita lain, dan orang itu adalah Arin.           Banyak memang wanita yang mengejarnya dan berkali-kali lipat lebih dari Arin, tetapi tidak menjamin bisa membuatnya tertarik, buktinya sudah delapan tahun lamanya ia melajang. dan satu-satunya wanita yang sekarang berhasil mencuri hatinya hanyalah Arin.           Fei merasa Arin berbeda dari wanita-wanita kebanyakan, yang terobsesi dengannya karena melihat sisi luarnya saja, Arin justru seperti tidak tertarik dengannya sama sekali, itu adalah sebuah tantangan tersendiri untuk Fei dalam mendapatkan cinta Arin.          Ketika mereka sempat berbincang akrab dari situ lah Fei merasa nyaman bersama Arin, dan yang membuatnya Fei semakin yakin Arin adalah orang yang tepat untuknya. Apa lagi mereka beberapa kali dipertemukan secara tidak sengaja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN