Fei Andreas Lee adalah putra sulung dari Mira Nadia yang merupakan mantan model terkenal di era delapan puluan dan ayahnya yang bernama Juan Lee seorang pengusaha asal Korea Selatan. Fei lahir di Distrik Gangnam, Seoul Korea selatan pada tanggal 20 September 1989 dan menetap disana, ia memiliki dua orang adik bernama Fera Anastasia Lee dan Fadina Ameera Lee.
Pada tahun 1997 saat asia dilanda krisis moneter, ia beserta seluruh keluarga intinya pindah ke Jakarta, yang merupakan kota asal sang ibu sampai lulus SMA, kemudian Fei memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya keperguruan tinggi di Yogyakarta, disanalah ia bertemu dengan seseorang yang sangat ia cintai yaitu Rania Putri Maheswari.
Mereka pertama kali bertemu dikoridor kampus, tanpa sadar Fei tidak sengaja menjatuhkan ponselnya saat ia akan memasukannya kedalam saku dan Rania melihatnya lalu memanggil Fei.
“Mas!” Ujar Rania, lalu Fei berbalik.
“Ini hpnya jatuh,” Ucapnya lagi, mengasongkan ponsel itu kepada pemiliknya.
“Oh iya terimakasih,” Jawab Fei tersenyum.
“Iya sama-sama.” Ucap Rania membalas senyumnya.
…..
Fei tipikal laki-laki yang mudah jatuh cinta sebenarnya, asalkan wanita itu mampu membuatnya nyaman, masalah rupa baginya tidak begitu penting. Karena semasa SMA ia pernah dikecewakan oleh wanita yang luarnya begitu menawan, namun tidak dengan hatinya, itulah alasan kenapa Fei tidak lagi menomor satukan fisik dalam mencari pasangan hidupnya.
Ia memang dikenal baik dan sopan oleh teman juga keluarga, lagi ia tidak pernah tebang pilih pada siapapun, semuanya ia perlakukan sama. Tetapi, jika kepercayaannya telah dirusak akan sangat sulit mendapatkannya kembali, baginya kepercayaan itu ibarat kertas jika sudah diremas tidak akan pernah bisa sama lagi sekalipun sudah berusaha memperbaikinya.
Fei mengambil program studi managemen ketika berkulian di Jogja, sebab dirinya sudah pandai berbisnis sejak masih SMA, mungkin ini yang dinamakan buah tak jauh dari pohonya mengingat sosok sang ayah yang juga seorang pengusaha, ia menekuni bisnis pakaian dengan hasil tabungannya sendiri.
….
Dimasa kuliah Fei sangat dekat dengan Rania selain karena satu jurusan, mereka juga teman sekelas yang duduknya pun bersebelahan. Kedekatan diantara mereka membuat sebagian mahasiswi iri terhadap Rania, yang menurut banyak orang tak pantas untuk Fei. Padahal pada saat itu mereka hanya bersahabat baik.
Fei mulai tertarik dengan Islam karena mereka sering berbebat, dan menurut Fei argumen Rania mudah ia terima. Dan puncaknya ketika melihat Rania sholat padahal kondisinya tidak memungkinkan, di situlah Fei mendapatkan getaran untuk menjadi seorang mu’alaf. Lalu memberitahukan niatnya itu pada sang sahabat.
Ketika Rania sedang istirahat makan siang dikantin, Fei tersenyum melihat gadis itu lalu menghampirinya.
“Hai Ra, kok gak nungguin aku sih.” Ucap Fei memasang wajah cemberut lalu duduk dihadapan Rania.
“Hai Fei, maaf tadi ada janji sama Mita. Jadi aku duluan kesini.” Jawab Rania menjelaskan.
“Oh iya ada yang mau aku omongin nih.” Ucap Fei sedikit ragu.
“Apa?” Jawab Rania. Lalu Fei menghembuskan nafasnya kasar membuat Rania menatapnya heran.
“Aku mau asuk Islam.” Ujar Fei, Rania sedikit terkejut namun hanya meresponnya dengan senyuman.
Pada keesokan harinya Rania membawa Fei ke masjid dekat kampus, Fei mengucapkan dua kalimah syahadat disana, didampingi oleh Ulama setempat, Fei menjadi mu’alaf tanpa sepengetahuan orang tuannya, bahkan menyembunyikannya selama beberapa tahun, Fei takut mereka akan marah dan membenci dirinya jika mengetahui hal itu.
…..
Memasuki semester ketiga, sudah beberapa hari Rania tidak masuk juga tidak memberinya kabar, Fei sangat khawatir. Ia tidak tau kalau gadis itu tengah berjuang melawan penyakitnya diranjang operasi. ayah Rania mengiriminya pesan dan memintanya untuk segera datang ke rumah sakit setelah kelas selesai.
Dengan kecepatan tinggi Fei mengengendarai motor sport berwarna biru miliknya. Banyak pertanyaan dikepala yang sudah sejak lama mengganggu pikiranya. Apa maksud ayah Rania memintanya datang kerumah sakit tanpa memberitahukan alasannya. “Apa Rania sedang sakit?” Gumam Fei terus menduga-duga.
Setibanya di rumah sakit, ayah Rania tiba-tiba menangis dan membawanya ke sebuah ruangan. Dari luar Fei melihat ibu Rania yang juga sedang menangis memegangi lengan seseorang. Fei penasaran lalu memasuki ruangan itu, ia terkejut melihat siapa yang sedang terbaring.
Dengan spontan ia memeluk raga tak bernyawa gadis itu, airmata nya berjatuhan, membuat semua orang yang melihatnya ikut terharu dan ikut meneteskan airmata.
“Bangun Ra!” Ucap Fei mengusapi kening Rania, air matanya berjatuhan diwajah sang gadis.
“Ra, hey.. Bangun!” Ucapnya lagi, berusaha menyadarkannya sambil menepuk-nepuk pipi Rania.
“Pak, bu, Rania kenapa? Kenapa Rania disini?” Tanya Fei panik, menatap kedua orang tua Rania bergantian.
“Sudah nak, ikhlaskan Rania pergi.” Jawab ibu Rania, mengelus pundak lebar itu.
“Enggak Bu, Ra ayo bangun !” Ucapnya masih berusaha agar gadis itu terbangun.
Beberapa orang suster mencabut alat pernafasan dari tubuh Rania, membuat Fei hilang kendali.
“Kalian apa-apaan ! dia belum meninggal” Ucap Fei penuh amarah, karena perangai Fei mengganggu pasien lain dengan terpaksa ayah Rania mengeluarkannya dari ruangan itu.
“Aku iki bapake Rania. Aku juga sedih, ibune juga sedih tapi kita harus ikhlas, semua ini takdir dari Gusti Alloh, ini ada surat dari Rania untuk kamu.” Ucap ayah Rania menguatkan Fei, lalu menerima surat itu kemudian membacanya.
Assalamu’alaikum orang paling tampan di kampus, apa kabar ? aku tau pasti kamu sedang duduk dikoridor Rumah Sakit sambil menangisi kepergianku. Hey oppa korea ! jangan cengeng, semua yang terjadi padaku sudah Alloh gariskan jauh sebelum aku lahir ke dunia. Jadi berhentilah menangis. Arrasso!
Oh iya Fei, maaf aku sempat lancang sudah membaca buku diarimu yang terjatuh waktu itu, Kamsahamnida Fei shi sudah mencintai wanita seperti diriku yang penuh kekurangan ini, walaupun aku tidak sempat mendengarnya langsung dari mulut mu.
Dan aku juga minta maaf sekali lagi karena tidak pernah memberi tahu tentang keadaanku yang sebenarnya, aku tidak mau kamu khawatir, aku sudah berusaha untuk sembuh tapi Alloh terlalu menyayangiku.
Fei aku perhatikan kamu sangat berbakat di sains, tapi kenapa kamu memaksakan masuk managemen? Kenapa tidak masuk kedokteran saja, siapa tau kelak kamu bisa menolong orang-orang sepertiku,tapi aku tidak memaksa hanya memberi saran.
Selamat tinggal Fei, terimakasih karena selama ini sudah mau menjadi sahabat baikku, aku do’akan semoga kamu mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku, dan satu lagi aku juga mencintaimu.
Dari sahabatmu : Rania Putri Maheswari
Tubuh Fei gontai setelah membaca surat itu, padahal ia sudah berencana untuk menikahi Rania setelah mereka lulus, maka dari itu ia tidak mengatakannya dalam waktu dekat, tetapi takdir berkata lain.
….
Kesedihan yang Fei alami mengubahnya menjadi pendiam sudah satu minggu Fei tidak masuk kuliah. Fei sangat kehilangan gadis sederhana itu, meski mengenalnya singkat, namun semua kenangan saat bersama tertanam dalam di hatinya. Nyaman dan bahagia seperti itulah yang Fei rasakan ketika berada disamping almarhum sang gadis.
Saat luka dihatinya belum juga mengering karena kepergian Rania, beberapa bulan kemudian Ayahnya meninggal karena sakit membuat hidupnya kian kacau dan terpuruk, kenapa Alloh mengujinya seberat ini namun Fei tetap berusaha kuat untuk ibu dan adik-adiknya. Sebagai anak pertama dan laki-laki satu-satunya, kini tanggungjawab keluarga berada dipundaknya.
Fei memutuskan tidak melanjutkan pendidikannya di yogya bayang-bayang Rania selalu menganggu pikirannya, Fei memilih mengulang studinya di Singapura mengambil fakultas kedokteran, sesuai saran gadis yang begitu dicintainya itu.
Setelah menyelesaikan pendidikannya dan berhasil menjadi seorang dokter muda, Fei memutuskan kembali ke Indonesia, bekerja di salah satu rumah sakit swasta terbesar di Jakarta. Ada dua keuntungan yang bisa Fei dapat jika bekerja di Jakarta ia bisa bekerja sekaligus dekat dengan keluarganya.
kesibukan nya di Rumah Sakit membuatnya tidak memiliki banyak waktu untuk mencari cinta baru, ia lebih memprioritaskan keluarga dan pekerjaanya saja, meskipun banyak wanita-wanita menyukainya.