Dosen Pengganti
Kelas yang riuh mendadak hening, berganti bisik bisik saat sesosok tubuh memasuki ruangan dengan langkah tenangnya. Pak Arfa … dosen tidak tetap yang konon merupakan seorang pengusaha, menyedot perhatian seluruh penghuni ruangan. Kasak kusuk dari kelas lain membuat semua penasaran.
“ Selamat siang, sebelum mulai materi saya akan memperkenalkan diri. Saya Arfa, saya akan menggantikan sementara Pak Rayyan selama beliau menyelesaikan pendidikannya, kira kira satu atau dua semester kedepan. Akan ada beberapa perbedaan metode dan pendekatan saya dengan Pak Rayyan karena saya berangkat dari praktisi bukan akademisi. Saya harap kalian bisa menyesuaikan diri seperti saya berusaha melakukan hal yang sama.” diedarkannya pandangan, menghembuskan nafas tak kentara melihat tatapan yang sudah sering diterimanya dari sebagian besar kaum Hawa yang menatapnya dan mendengar suara beratnya.
Kalau beruntung kamu akan menemuinya dikelasmu hari ini, Bang …. Ujar Jenny tadi pagi saat bertemu di ruang dosen.
Sementara itu disudut kelas ada tiga gadis yang bertukar pandang sambil tersenyum simpul. Desas desus yang beredar benar, tidak heran Arfalover membengkak anggotanya. Bahkan hanya dengan celana kain hitam dan kemeja putih yang digulung lengannya hingga bawah siku, lelaki itu jauh dari kesan anak magang dengan seragamnya. Wajahnya tidak ramah tapi juga tidak datar, ekspresi yang sangat pas menerima perhatian dari penghuni ruangan yang hampir mencapai limapuluh orang ini.
“ Materi dan bahan semester ini.” Arfa mengacungkan satu bendel tipis kertas ,” Siapa yang bertanggungjawab disini ?”
“ Saya aja Pak.” cepat, seorang gadis dengan dandanan trendy segera menghapirinya.
“ Siapa namamu ? Selanjutnya selama satu semester kamu yang bertanggung jawab menyebarkan materi dan mengumpulkan tugas kelas ini.”tegas Arfa dengan nada datar.
Maya, gadis itu meraih diktat itu ,” Kalau begitu biar Ayu saja Pak, Hamemayu.” diletakkannya didepan meja Ayu sambil setengah cemberut mendengar teman temannya tertawa.
Ayu … Hamemayu …. Arfa menatap singkat namun intens pada gadis yang duduk di sudut ruangan dekat pintu. Tawa geli terlontar dari bibir yang dioles lipstik sangat tipis itu ,” jadi kamu yang bertanggung jawab, Ayu ?”
Ayu mengangguk setelah menatap sekeliling kelas dan mendapati senyum dan tatapan yang sama hampir lima semester ini ,” Baik Pak.”
“ Kita mulai …" Arfa memulai perkuliahannya, sesekali mendapati Ayu dengan serius menyimak.
Dia bukan mahasiswi yang cemerlang karena keren atau cantik, tapi cukup dikenal karena ramah. Dia bukan pemegang IP tertinggi tapi cukup untuk mendapatkan beasiswa sejak awal masuk karena rajin dan tekun. Jenis gadis yang biasa biasa saja ….. jauh dari gadis gadis super yang seringkali dianggap pantas denganmu Bang … Sampai saat ini dan melihat track record akademik gadis itu, Arfa tak bisa menyangkal perkataan Rayyan.
“ Ayu … ikut saya sebentar.” ujar Arfa sambil melangkah keluar. Tersenyum tipis menyadari gadis itu mengikutinya setelah meleletkan lidah pada teman temannya dengan tampang jahil.
Bruk … Ayu mengusap dahinya usai menabrak punggung kokoh dihadapannya saat pemiliknya berhenti mendadak di depan ruang dosen,” maaf Pak …"
Arfa mengguman, berbalik menatap gadis itu. Aroma segar terkuar samar saat angin menerbangkan rambut halus yang tergerai sedikit melewati bahu itu ,” Nih.” diulurkannya ponsel, menarik sudut bibirnya, menikmati mata bulat itu melebar dengan pandangan tak mengerti ,” Simpan nomormu.”
“ Oooh ….” Ayu mengangguk dan menyimpan nomor ponselnya ,” Sudah, Pak.”
“ Jangan sembarang memberikan nomerku nanti.” ujarnya sebelum mengangkat bahu tipis ,” Tapi gak perlu kuatir, nomorku di privat.” ditekannya nomor Ayu, tersenyum tipis ketika gadis itu menatapnya heran setelah melihat tidak ada nomor di layar ponselnya ,” Simpan saja privat number itu dengan namaku.”
Ayu melakukannya tanpa membantah orang terkenal mah bebas …..atas nama privacy.
“ Apa ? Kamu mengguman apa ?”
Ayu menggeleng sambil tersenyum kikuk ,” Gak ada apa apa, Pak.” tak menyangka laki laki itu mendengarnya ,” Itu saja, Pak ? Kalau sudah saya permisi.”
Arfa mengangguk, mengikuti dengan pandangannya sambil melangkah ke ruangan. Menatap gadis yang setengah berlari menghampiri dua gadis dan dua lelaki yang menunggunya di ujung lorong.
“ Ketemu ?” Jenny menghampirinya begitu Arfa meletakkan tas nya ,” Udah minta nomer aja,”
Arfa menjentik dahi Jenny ,” Dia koordinator kelasnya, “
“ Kebetulan banget ya …" Jenny tersenyum jahil.
“ Ayo temani aku makan, aku lapar.”
“ Dikantin ?”
Arfa mendesah ,” Diluar, dan sekalian antar aku ke kantor. Aku gak bawa kendaraan hari ini, ingat ?”
“ Baiklah ….. “ Jenny meraih tas nya ,” Aku sekalian jemput my honey bunny, ada kencan sore ini.”
Arfa menerima kunci mobil yang dilemparkan Jenny ,” Sudah sampai mana persiapan pernikahanmu ?” Dipasangnya sabuk pengaman sebelum menyalakan mesin.
“ Sejauh ini oke …. Kak Rayyan sama mbak Novi sudah spare waktu untuk pulang, kebetulan jadwal ujian mereka juga sudah keluar.” dibukanya jendela ,” Kalian mau kemana ?”
Lima kepala yang disapa serentak menoleh ,” Bu Jenny … Pak Arfa ... mau makan siang didepan sana bu.” sahut Rani dan Leon bersamaan. Sementara Rika, Aldi dan Ayu hanya mengangguk sambil tersenyum.
‘ Kami duluan, ya ….” Jenny melambaikan tangan.
Arfa tersenyum tipis sambil mengklakson pelan saat mobil berjalan lambat.
“ Wah ….. Pak Arfa sama Bu Jenny.” Aldi terlhat antusias ,” Oke juga sih …. banyak yang patah hati nanti.”
Ayu tertawa, menggebuk punggung Aldi ,” Hey, cowok ngegosip.”
“ Bukan gitu … pernah denger gak sih kenapa bu Jenny jarang terilhat berdua dengan dosen atau karyawan pria lainnya ? Gosip yang beredar tunangannya posesif, cemburuan.” sahut Rika diiyakan oleh Rani.
“ Dan Pak Rayyan itu kakaknya bu Jenny, sekarang yang gantiin pak Rayyan … pak Arfa, berarti hubungan mereka cukup dekat kan ?”
Ayu tergelak melihat gaya Leon sok serius ,” Lalu ?”
“ Nomor pak Arfa privat khan …. ? Posesif dan menjaga privacy itu seiring lhoo ….”
Ayu mengangkat bahu, “ Masuk akal, tapi belum tentu benar.”
“ Kayaknya kamu denial deh …..Naksir ya ?” Rani menghentikan langkah Ayu, menatapnya serius.
Ayu menghela nafas ,” Bisa gak sih kalian tidak mengambil kesimpulan dengan pengamatan sesaat ?”
“ Gak masalah kalau hanya antara kita, salah ya diralat.” Rani tergelak ,” Kamu tahu kita gak pernah membuka gosip diluar forum ini.”
“ Udah ah … lapar. Cepetan, nanti gak dapat tempat duduk kita.”
Dan kelimanya bergegas menuju deretan penjual makan di depan gerbang kampus.