Ayu terpaksa menurut ketika Mama dan Novi memaksanya mengganti pakaiannya dengan gaun berwarna maroon ,” Ini punya siapa ?” ditatapya banyangan tubuhnya dicermin ,” Kok bisa pas ?”
“ Punyamu lah ….” sahut Novi ,” Pakai ukuran gaunmu yang dikasih nenek.”
Ayu memajukan bibirnya ,” Tante ….”
“ Mama, sayang …" sergah mama ,” Kenapa ?”
“ Kita kembaran ?” ditatapnya.
“ Iya …. sama keluarga Daffa.” tertawa melihat wajah bingung ,” Kamu menggemaskan kalau bengong gitu.”
“ Semoga saja abang bisa menahan diri ya Ma …" gelak Novy sambil melihat dari cermin.
“ Tante … ehm …. Ma, Ayu sama abang kan belum …..”
“ Belum apa ?”
“ Belum pasti ….” sahut Ayu pelan.
“ Ya segera dipastikan.” sahut Novy cepat.
“ Kami terlalu memaksa, ya Ay ?” Mama meraih tangan gadis yang berdiri gugup dihadapannya ,” Kamu merasa tidak nyaman ? Keberatan ?”
“ Bukan gitu ….” Ayu menggosok tengkuknya ,” Ayu masih bingung … Ayu ….”
“ Jalani saja, biarkan Arfa yang menuntunmu. Ikuti selama itu tidak mengganggu kenyamananmu.”
“ Ehm …"
“ Kamu bisa mengatakan terus terang kalau dia terlalu mendesak.”
“ Tapi tolong pahami …. abang sudah didesak dari luar dan dalam, atas dan bawah.” sambung Novy jahil.
“ Hush.” Mama melemparkan gumpalan tissue ke arah menantunya yang tertawa lepas melihat wajah Ayu kebingungan.
“ Sini Ay …. make up sama rambutmu biar di perbaiki sebentar.” Novy bangkit dari kursinya, menuntun Ayu duduk di depan cermin.
Ayu hanya bisa pasrah ketika perempuan berbaju hitam itu melepas cepolnya dan membuat rambutnya terurai dengan sedikit sentuhan ikal dan assesoris mutiara kecil di sisi kepalanya ,” Terima kasih.” ujarnya ketika perempuan dengan masker itu menyudahi pekerjaannya memperbaiki make up yang hanya merapikan dan mengganti warna lipstik.
“ Ada yang kurang, kak ?”
Ayu menggeleng, gaya simple begini membuatnya nyaman ,” Sudah bagus kok. Terima kasih.” ujarnya lalu berdiri dan melangkah ke kursi untuk membereskan kebaya dan sarungnya.
“ Ay ….” seru Novy
“ Ya …? Ish …..” tukasnya ketika mendapati istri Rayyan itu mengambil foto selfie mereka berdua dan mengirimkannya pada seseorang ,” Apa sih bu …. ehm … kak.”
Novy dan mertuanya tertawa melihat gadis dihadapan mereka cemberut.
Novy bergerak ke pintu ketika bel berdering lembut ,” Ada yang gak sabar kelihatannnya.” ledeknya melihat Arfa di depan pintu bersama suami dan anaknya.
Rayyan tertawa, mengulurkan Niel pada istrinya lalu duduk diatas tempat tidur.
“ Bajunya pas ?” Arfa mendekati Ayu yang berdiri disamping sofa.
“ Heem.” Ayu mengangguk.
“ Suka modelnya ?”
Ayu menatap bayangan dirinya di cermin panjang, gaun lengan panjang dengan kerah bulat pas membalut tubuh bagian atasnya lalu sedikit melebar sampai dibawah lutut. Bahan dan potongan kelas atas membuat gaun sederhana itu tampak mewah dengan sedikit sentuhan renda krem dan mutiara di tempat yang tepat ,” Suka.”
Arfa tersenyum dari balik punggung Ayu, lalu bergeser ke samping gadis itu ,” Bagus kan ?” tanyanya sambil menatap bayangan mereka di cermin.
Ayu tergagap setelah menyadari untuk beberapa saat mengangumi sosok dengan setelan krem dan kemeja maroon disampingnya.
Rayyan, Novy dan mamanya bertukar pandang sambil tersenyum geli. Tingkah kikuk Ayu menggemaskan, tapi lebih menarik bagi mereka mendapati Arfa begitu antusias dan nyaris tidak tahu malu tidak menutupinya.
“ Modelnya yang pilih Arfa itu, Ay.” ujar Novy, tertawa melihat kakak iparnya yang biasa dingin itu mengangkat alisnya pada Ayu yang hanya geleng kepala.
“ Kenapa geleng kepala, Ay ?” Rayyan mengulum senyum.
“ Kelihatannya ada yang salah minum obat.” gerutunya sambil melepaskan tangan Arfa dari bahunya dan menjauh, memilih duduk disamping Novy.
Rayyan tertawa keras sementara Arfa hanya tersenyum dan duduk di sofa.