2. Toko Buku

1261 Kata
Happy Reading?! ⭕⭕⭕ Sepulang sekolah, Iqbal mengajak Zara ke toko buku. Ia merasa bersalah terhadap Zara, jadi untuk menebus kesalahannya, Iqbal mengajak gadis itu ke toko buku. Zara memang sangat suka membaca buku, apalagi novel. Gadis itu mengoleksi banyak novel di kamarnya. Jika kalian melihat kamar Zara, maka kalian pasti akan mengira kamarnya seperti toko buku. Iqbal sedari tadi membuntuti Zara yang tengah sibuk memilih novel. Dia terkejut saat Zara membalikkan tubuhnya. "Ada apa?" tanya Iqbal. "Kayaknya udah cukup deh Bal, liat aku udah bawa novelnya banyak banget." Zara membawa buku novel di tangannya dengan sedikit kesusahan, berat. Ia mengambil sebelas buku novel. Iqbal mengambil tumpukan buku tersebut, ia tidak tega melihat kekasihnya yang keberatan membawa buku. "Ya udah ayo ke kasir," ucap Iqbal, ia berjalan duluan meninggalkan Zara yang masih berdiri di tempat. ??? Setelah dari toko buku, Iqbal mengajak Zara untuk makan terlebih dahulu. Cuaca hari ini panas, matahari sangat terik seperti berada sangat dekat di atas kepala. Iqbal dan Zara lebih memilih makan di pinggir jalan. Tadi Zara yang menyuruh untuk makan di pinggir jalan saja, menurutnya lebih nikmat, makan di temani angin sepoi-sepoi daripada AC. "Ra, kamu kok makannya belepotan gitu." Iqbal melihat bibir Zara yang sedikit belepotan. Zara yang tengah asik menyantap makanannya, sontak langsung berhenti. Ia meraba-raba mulutnya. "Hah, beneran?" Iqbal geleng-geleng kepala, ia meraih selembar tisu. Iqbal mendekatkan wajahnya dengan Zara dan membersihkan mulut kekasihnya. Zara dapat merasakan hangatnya napas dari hidung Iqbal yang menerpa kulit pipinya. Setelah membersihkan sisa makanan di mulut Zara, tanpa aba-aba Iqbal langsung mengecup dahi Zara. Zara terkejut bukan main, saat merasakan benda kenyal menyentuh dahinya. Ia memejamkan matanya karena refleks. Iqbal pun menjauhkan wajahnya dari Zara, ia kembali menikmati makanannya. Zara membuka matanya, ia mendengus kesal. "Iqbal! Malu tau, banyak orang!" kesal Zara seraya mengedarkan pandangannya melihat semua para pengunjung yang sedang makan di sana. "Kamu malu, punya punya pacar kayak aku?" tanya Iqbal seraya mengangkat kedua alisnya. Zara yang mendengarnya menjadi diam. Ia terkejut karena Iqbal mengatakan seperti itu. Zara meraih kedua tangan Iqbal dan menggenggamnya. "Bukan gitu. Kok kamu jadi ngomong gitu sih?" Zara menatap wajah Iqbal dengan memelas. Iqbal terkekeh pelan melihat wajah kekasihnya yang menurutnya sangat lucu. Ia mengangkat tangannya ke atas kepala Zara dan mengacak-acak rambut gadis itu, gemas. Zara mendengus kesal karena rambutnya berantakan. Zara merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Mereka berdua pun kembali menikmati makanannya dengan hening, tanpa ada yang berbicara. Hanya suara bising kendaraan yang menemani keheningan mereka. Saat mereka sedang asik makan, tiba-tiba saja ada dua anak kecil, mengamen di hadapannya. Di lihat dari postur tubuhnya seperti umur delapan tahun. Cicak cicak di dinding Diam-diam merayap Datang seekor nyamuk Hap-hap lalu di tangkap Zara sedari tadi tersenyum menatap kedua anak kecil itu, bahkan ia bertepuk-tepuk tangan menjadikannya sebagai alunan musik. "Kakak boleh minta request nggak?" tanya Zara saat kedua anak kecil itu sudah selesai bernyanyi. "Boleh Kak." "Oke, nyanyi balon ku ya." Mereka pun langsung bernyanyi, bahkan Zara pun ikut bernyanyi bersama kedua anak kecil itu. Iqbal tersenyum senang melihat kekasihnya yang sangat baik dan ramah terhadap anak kecil itu. Iqbal pun merogoh saku celananya---mengambil dompetnya. Ia mengeluarkan uang dua lembar berwarna merah dan memberikannya pada dua bocah itu. Kedua anak kecil itu tersenyum senang. Entah mimpi apa mereka semalam, bisa di kasih uang banyak. Biasanya ia hanya di beri seribu atau dua ribu rupiah saja. "Makasih banyak Kakak cantik dan Kakak ganteng," ucap mereka berdua dengan sangat girang. Zara dan Iqbal pun terkekeh pelan mendengar anak kecil itu. "Aku do'ain semoga hubungan Kakak langgeng ya, kalo bisa sampai pelaminan," ucap salah satu anak kecil itu seraya tersenyum menggoda. Zara dan Iqbal menjadi terdiam, mereka saling memandang satu sama lain. Zara kembali menatap anak kecil itu, ia mengelus pucuk kepala kedua anak kecil itu gemas. "Tau apa sih kamu." Kedua anak kecil itu pun langsung berlari. Hari ini Zara merasa sangat senang karena bisa menghabiskan waktu dengan Iqbal. Ia sangat merindukan momen seperti ini. Bahkan Iqbal pun mematikan ponselnya agar tidak ada yang mengganggunya. ??? Pukul lima sore, Iqbal mengantarkan Zara pulang. Setelah sampai di rumahnya, ia pun bergegas masuk ke dalam kamarnya untuk mengganti pakaiannya yang terasa sudah lembab karena keringatnya. Iqbal terkejut saat melihat seorang gadis tengah berbaring di kasurnya. Iqbal menutup pintu kamarnya, ia berjalan menghampiri gadis itu yang sedang tertidur pulas di ranjang kasurnya. "An, An bangun. Anya bangun." Iqbal membangunkan Anya yang tengah tertidur. Ia menepuk-nepuk pipi gadis itu, berusaha membangunkannya. Tidak butuh waktu lama, gadis itu pun terbangun. Anya beranjak dari atas kasur saat melihat wajah Iqbal tengah berada di hadapannya. "Iqbal," gumamnya. "Kamu, kenapa tidur di kamar aku?" tanya Iqbal. Anya beranjak berdiri, ia menurunkan bajunya yang sedikit terangkat ke atas. Anya berdiri di hadapan Iqbal. "Maaf, aku nungguin kamu pulang, Bal." Iqbal pun tersenyum, ia mengacak-acak rambut Anya gemas. "Maaf, udah bikin kamu nunggu." Anya pun hanya mengangguk seperti anak kecil. Iqbal berjalan menuju sofa yang terletak di pinggir kasurnya. Ia melepaskan sepatunya. Anya berjalan menghampiri Iqbal, ia duduk di samping Iqbal dan melepaskan dasi cowok itu. "Kamu kok ke toko buku lama banget sih, terus nomor kamu juga nggak aktif," ujar Anya seraya melepaskan dasi Iqbal. Iqbal terdiam sejenak. Lidahnya mendadak menjadi kelu untuk berbicara. "HP aku lobet," jawab Iqbal berbohong seraya tersenyum kikuk. Tadi saat pulang sekolah, Iqbal tidak bisa mengantarkan Anya pulang. Ia beralasan untuk ke toko buku, namun ia tidak bilang jika ke toko buku dengan Zara. "Terus, mana bukunya?" tanya Anya, ia melihat Iqbal kembali tanpa membawa buku. Iqbal membulatkan kedua matanya. Ia menjadi gelagapan. Iqbal mengusap belakang kepalanya yang tak gatal. "Itu...anu...mmmm--" Iqbal menjadi gugup, ia seperti tengah tertangkap basah karena mencuri. Anya mengerutkan keningnya bingung, kenapa Iqbal menjadi gugup seperti itu. "Itu anu, apa Iqbal?" "Mmm...Buku yang aku cari nggak ada, jadi aku nggak jadi beli," bohong Iqbal seraya tersenyum, ia harap Anya percaya dan tidak mencurigainya. Anya terdiam sebentar. Ia pun membulatkan mulutnya. "Oohh" Iqbal pun beranjak berdiri, ia meraih handuknya untuk mandi. "Aku mandi dulu, habis itu aku anterin kamu pulang," teriak Iqbal seraya bergegas menuju kamar mandi yang berada di sudut kamarnya. Hampir tiga puluh menit Iqbal di dalam kamar mandi. Akhirnya cowok itu keluar hanya menggunakan celana selutut serta kaos dalam saja. Rambutnya yang basah, membuat Iqbal terlihat sangat tampan. Iqbal mengusap-ngusapkan handuk ke rambutnya yang basah, supaya cepat kering. Ia berjalan menuju lemarinya dan mengambil kaos polos hitam kemudian memakainya. Iqbal hanya menggunakan kaos polos hitam serta celana selutut untuk mengantarkan Anya pulang. "Ayo An," ajak Iqbal, ia sudah berjalan duluan meninggalkan Anya. Anya pun beranjak berdiri dan membuntuti Iqbal. Sebelum mereka pulang. Mereka berdua mencari Santi---ibu Iqbal. Mereka menemukan Santi yang tengah asik menonton TV di ruang tamu. "Bun," panggil Iqbal pada Santi. Santi pun menoleh ke Iqbal, ia beranjak berdiri dan berjalan menghampiri mereka. "Eh, kalian berdua mau ke mana?" tanya Santi sambil melirik Anya dan Iqbal, bergantian. Anya meraih tangan kanan Santi dan mencium punggung tangannya. "Anya mau pulang dulu, Tante." "Loh, kok mau pulang? Nggak mau makan dulu An?" ucap Santi menawarkan. Anya menggelengkan kepalanya. "Nggak usah Tante, nanti ngerepotin lagi." "Nggak kok An, masa ngerepotin. Kamu kaya sama siapa aja," ucap Santi seraya menoel pipi Anya. "Nggak usah Tante, beneran. Anya nggak laper, " "Ohh, ya sudah," ucap Santi kemudian ia melirik putra semata wayangnya. "Jangan ngebut-ngebut," pesan Santi seraya menunjuk wajah Iqbal. Iqbal tersenyum dan mengangguk. "Oke Bunda." Ia menyalimi Santi. Mereka berdua pun langsung bergegas menuju pintu utama. Iqbal mengantarkan Anya pulang dengan motornya, ia tidak suka menggunakan mobilnya, mungkin jika dalam keadaan terpaksa. Ya contohnya seperti tadi. Jangan lupa follow akun author ya...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN