3. Ciuman Pertama Dari Zara

1187 Kata
"Pacaran tuh bahagia, bukan mengundang luka!" _Rini Calista Happy Reading?! ⭕⭕⭕ Sejak pagi Iqbal tidak melihat Zara di sekolah. Ia menjadi khawatir terhadap kekasihnya. Bahkan saat istirahat di kantin pun dia tidak menemukan Zara. Iqbal memilih untuk ke kelas Zara. Saat sampai di kelas Zara, ia hanya menemukan sahabat Zara---Rini. Ia berjalan menuju gadis yang bernama Rini tersebut. "Rin," panggil Iqbal. Rini yang tengah asik membaca buku jadi terhenti, ia mendongakan kepalanya menatap Iqbal. "Apa?" jawab Rini ketus dan dingin. "Zara, mana?" Rini menatap wajah Iqbal sejenak. Ia menutup buku yang sedang dibacanya. Rini beranjak berdiri, ia menatap wajah Iqbal dengan sinis. "Ngapain lo nanyain Zara?!" "Zara kan pacar gue, jelas dong gue nanyain dia!" Rini terkekeh sinis. "Pacar? Mana ada pacar yang nyakitin ceweknya!" sewot Rini Iqbal menjadi sedikit emosi. Ia menatap Rini dengan tajam. "Gue nanya sama lo baik-baik, kenapa lo jadi sewot?!" "Orang kaya lo tuh nggak pantes jadi pacar Zara! Lo tau nggak sih, gimana sakitnya jadi Zara?! Tiap hari Zara tuh sakit hati Bal! Zara juga punya hati! Lo selalu buat Zara nangis! Pacaran tuh buat bikin bahagia bukan mengundang luka!" marah Rini, ia mengeluarkan semua unek-uneknya. Rini sangat membenci Iqbal, atas perlakuan dia terhadap sahabatnya. Iqbal menjadi diam, dirinya terpaku. Bibirnya berasa sangat sulit untuk membalas perkataan Rini. Iqbal tidak ingin membalas perkataan Rini, maka dari itu, ia lebih baik pergi dari sana. "Woii! Gue belum selesai ngomong! Dasar cowok b******k!!" ??? Sepulang sekolah, Iqbal mengantarkan Anya terlebih dahulu, setelah itu ia baru ke rumah Zara. Iqbal sangat khawatir dengan gadis itu. Kenapa kekasihnya itu tidak ada kabar? Ponselnya saja tidak aktif. Sesampainya di rumah Zara, ia langsung menekan tombol Bel yang terpasang di samping pintu rumah bernuansa putih itu. Tanpa menunggu lama, akhirnya pintu tersebut terbuka dan menampakkan wanita cantik berumur tiga puluh tujuh tahun. Rambutnya sebahu, tubuh tinggi, kulit putih, serta mata mungilnya, sangat mirip dengan Zara. Iqbal yakin, kalo dia adalah ibu Zara. Iqbal langsung meraih tangan kanan wanita itu dan menyaliminya. "Assalamualaikum Tante. Zara ada?" "Waalaikumsalam, ada. Zara lagi sakit, dia lagi tidur di kamar," jawab wanita itu, yang diketahui bernama Zila. "Apa?! Zara sakit?" Sontak Iqbal terkejut mendengarnya. Kedua matanya terbuka sempurna. "Iya, dia dari semalem badannya panas. " "Iqbal boleh jenguk Zara, nggak Tan?" "Boleh, ayo masuk," ucap Zila, dia sudah berjalan duluan masuk ke dalam rumahnya. Iqbal pun membuntuti Zila dari belakang. Mereka berdua menaiki anak tangga menuju kamar Zara yang berada di lantai dua. Cklek. Zila membuka pintu kamar Zara. Mereka berdua pun masuk ke dalam kamar Zara. Mereka mendapati Zara yang tengah tertidur pulas. "Tante bangunin dulu ya," ucap Zila, namun Iqbal langsung bersuara membuat Zila yang ingin membangunkan putrinya jadi terhenti. "Jangan Tante, nggak apa-apa, Iqbal nungguin Zara sampai bangun aja. Kayaknya Zara ngantuk banget," kata Iqbal merasa tidak enak. Zila tersenyum, ia mengusap kepala Iqbal. "Ya udah, Tante mau keluar dulu, kamu duduk dulu di sini ya." Zila menunjuk sofa yang terletak di pinggir kasur Zara. Iqbal pun mengangguk. "Iya Tan." Zila pun langsung pergi keluar dari kamar Zara. Kini hanya ada Iqbal dan Zara. Iqbal mengambil duduk di sofa, ia geleng-geleng kepala saat melihat kamar kekasihnya yang sudah seperti toko buku. Beberapa menit berlalu. Zara terbangun dari tidurnya, ia terkejut saat melihat Iqbal tengah tertidur di sofa panjangnya. Zara melepaskan selimut yang menempel di tubuhnya, ia berjalan menghampiri Iqbal. "Bal, Iqbal." Zara menepuk-nepuk pipi Iqbal, berusaha membangunkannya. Iqbal pun terbangun, ia melihat wajah kekasihnya yang sangat dekat dengannya. Iqbal beranjak duduk. "Ra, udah bangun?" Zara menganggukkan kepalanya. Iqbal meraih tangan Zara dan menyuruh gadis itu untuk duduk di sampingnya. Iqbal meraih kepala Zara dan menaruh di d**a bidangnya. "Kamu sakit?" tanya Iqbal seraya mengelus rambut Zara lembut. Zara menganggukkan kepalanya, pelan. "Iya," jawab Zara lemah. "Kamu mau apa, hm?" tanya Iqbal berusaha menawarkan keinginan untuk Zara. "Aku nggak mau apa-apa, Iqbal. Aku, cuma mau deket sama kamu terus. " "I love you, Ra." Iqbal mengecup pucuk kepala Zara. "Kamu yakin, nggak mau apa-apa?" tanya Iqbal sekali lagi. Zara mengangkat kepalanya lalu menggeleng pelan. "Kalo novel?" ujar Iqbal membuat binar di kedua mata Zara. Zara langsung mengangguk semangat. "Mauu!" jawab Zara girang, seraya mengerucutkan bibirnya. Iqbal terkekeh pelan, ia mencubit pipi Zara gemas. "Dasar Ratu, novel." "Biarin!" "Ya udah, nanti malem aku paketin novel buat kamu. Mau berapa? Sepuluh?" "Dua puluh!" seru Zara tanpa dosa. Iqbal melotot mendengarnya. Ia meneguk ludahnya kasar. "Kamu mau meres aku Ra?" "Kamu nggak mau beliin?!" "Oke, oke." Iqbal mengangguk pasrah "Aku sayang Iqbal." Zara mencium pipi Iqbal. Iqbal refleks terkejut atas apa yang barusan Zara lakukan. Biasanya gadis itu tidak pernah menciumnya, hanya ia yang mencium Zara. ??? Zara bergegas ke kelas Iqbal, ia ingin mengucapkan terima kasih terhadap Iqbal. Dan benar saja kemarin malam, Iqbal membelikan dua puluh novel. Padahal ia hanya bercanda saja. Langkah Zara terhenti saat melihat Iqbal tengah merangkul Anya di bangkunya. Sesekali mereka bercanda dengan asik. Zara menghela nafas panjang. Sabar Zara sabar. Inget mereka cuma sahabatan, nggak boleh cemburu. Zara mengusap dadanya. Zara pun kembali melanjutkan langkahnya menghampiri Iqbal. Kedatangan Zara membuat mereka semua jadi terdiam. "Ekhm, mau ngapain sih lo?! Pagi-pagi udah nongol aja!" sindir Selatan dengan tatapan sinis, yang biasa Zara dapatkan. Iqbal melirik Selatan tajam. "Tan! Jangan mulai!" "Maaf, kalo aku ganggu kalian," ucap Zara seraya memainkan jari-jemarinya. "Udah tau ganggu! Ngapain ke sini?!" timpal Bima, menatap Zara tak kalah tajam. Iqbal melepaskan tangannya yang tengah merangkul Anya. Ia beranjak berdiri mengajak Zara pergi dari teman-temannya. Iqbal tidak mau membuat Zara jadi terluka dengan perkataan mereka. Zara hanya diam, saat Iqbal menarik tangannya, ia mengikuti saja ke mana cowok itu membawanya. "Woii Iqball, mau ke mana lo!" teriak Selatan namun, Iqbal tidak menyahutinya. ??? Iqbal mengajak Zara menuju taman belakang sekolah. Mereka berdua duduk di bangku panjang yang terletak di sana. "Maafin temen, aku." Iqbal menatap wajah Zara, lalu meraih kedua tangan gadis itu dan menggenggamnya. "Nggak apa-apa, udah jadi santapan makanan buat aku." Zara tersenyum kecut seraya menundukan kepalanya. Iqbal mendekatkan duduknya dengan Zara. Ia mengangkat dagu Zara supaya menatapnya. "Apa aku harus jauhin mereka, demi kamu?" Zara terkejut mendengarnya, kedua matanya membola. Ia pun menggelengkan kepalanya cepat. "Nggak Iqbal, jangan. Aku nggak mau buat mereka makin benci sama aku." "Tapi Ra---" Zara melepaskan kedua tangan Iqbal, yang menempel di pipinya. "Bal, coba kamu pikir. Kalo kamu musuhin mereka, mereka bakal tambah benci sama aku. Kamu kan sahabatan sama Bima dan Selatan sejak SMP, aku nggak mau mereka mikir kalo aku penyebab hubungan persahabatan kalian hancur." Iqbal tersenyum, ia sangat bersyukur memiliki kekasih yang sangat baik dan lembut seperti Zara. Iqbal meraih tubuh Zara dan memeluknya dengan erat. "Makasih, udah jadi pacar yang pengertian buat aku." "Sama-sama, Iqbal." balas Zara. Ia pun langsung melepaskan pelukannya. "Btw, makasih ya, buat novelnya." "Suka?" "Banget!" Zara tersenyum merekah. "Tapi, pasti uang kamu habis ya?" tanya Zara seraya menggaruk pelipisnya yang tak gatal. Ia sangat tidak enak, dengan Iqbal. "Nggak apa-apa, aku rela ngelakuin apa aja. Asal itu, buat kamu bahagia." Iqbal tersenyum manis seraya mengacak-acak rambut Zara. Zara tersipu malu. "Aahh, Iqbalnya Ara, baik banget." Zara langsung merentangkan kedua tangannya dan meraih tubuh Iqbal ke dalam dekapannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN