4. Zara atau Anya

1344 Kata
Happy Reading?! ⭕⭕⭕ Hari ini adalah hari senin, hari dimana di laksanakannya kegiatan upacara. Sejak awal upacara, Zara merasakan kepalanya sangat pusing, namun ia menahannya supaya tidak ambruk. Rini menoleh ke arah Zara, ia terkejut saat melihat wajah sahabatnya yang sangat pucat pasi seperti kekurangan darah. "Ya ampun Ra, muka lo pucet banget, kita ke UKS ya?" ajak Rini sangat khawatir, seraya merangkul pundak Zara. Zara melepaskan tangan Rini. Ia menatap Rini seraya tersenyum. "Nggak apa-apa, gue kuat." Rini hanya menghembuskan napasnya pasrah, sahabatnya ini memang sangat keras kepala. Iqbal yang sedang berbaris di barisan cowok, sesekali melirik barisan kelas Zara. Ia melihat wajah Zara yang sangat pucat. Iqbal menjadi khawatir melihat Zara yang sangat pucat pasi. Selatan sedari tadi melihat Iqbal tengah menatap Zara. Ia memukul pundak Iqbal membuat cowok itu terpelonjat kaget. Iqbal menoleh ke belakang. "Apa sih Tan?!" "Jangan ngelamun! Ada Pak Rama di belakang, lo mau di hukum?!" Iqbal pun kembali membalikkan badannya. Ia tidak mempedulikan omongan Selatan, ia tetap memperhatikan Zara. Iqbal menjadi semakin khawatir ketika Zara sedang memegangi kepalanya, sepertinya gadis itu tengah kesakitan. Rini menahan tubuh Zara saat gadis itu akan jatuh. "Ra, lo ke UKS ya, muka lo pucet banget, jangan maksain diri kalo nggak kuat. " "Gue nggak apa-apa, Rin." Zara semakin memegangi kepalanya yang terasa berat, ia sangat pusing. Selang beberapa detik kemudian, tubuh Zara pun ambruk. Gadis itu pingsan. Rasa sakit, yang menyerang kepalanya benar-benar sangat kuat. "Zaraaa!" Iqbal yang melihatnya sontak ingin berlari menyusul Zara, namun langkahnya terhenti saat mendengar teriakan dari sebelahnya. Ya dengan detik yang bersamaan Anya pun pingsan. Iqbal menjadi bimbang sendiri, ingin menolong Zara atau Anya? "An bangun An." Selatan berusaha membangunkan Anya. "Iqbal! Tolongin Anya!" teriak Selatan Semua murid yang sedang upacara sontak menoleh ke Iqbal. Mereka semua berteriak menyuruh Iqbal membopong Anya. "IQBALL TOLONGIN, ANYA!" Rini berteriak meminta bantuan pada Iqbal. "BALL, TOLONGIN ZARA!!" Iqbal benar-benar bingung, ia harus menolong Zara atau Anya? Kenapa mereka harus bersamaan pingsan? Iqbal sangat bingung. "Bal! Zara bisa di bantu sama petugas PMR! Lo harus tolongin Anya! Dia punya penyakit, Bal!" teriak Selatan sangat emosi. Upacara menjadi terhenti. Mereka semua sibuk melihat adegan tersebut. Bahkan para guru pun jadi melirik ke arah kejadian. Dengan pilihan yang terpaksa di detik itu juga, Iqbal memilih untuk menolong Anya. Dia berlari menuju Anya dan menggendongnya ala bridal style menuju UKS. Sedangkan Zara di bantu petugas PMR. Rini yang melihat pun merasa sangat marah, awas saja ia akan memberikan pelajaran terhadap Iqbal. Camkan itu! ??? Zara mengerjap-ngerjapkan matanya, ia memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri. Zara melirik ke samping, ia melihat Iqbal yang tengah membantu Anya meminum teh hangat. Hati Zara sangat sakit melihatnya, dadanya sesak seperti di tikam belati saat melihat Iqbal lebih perhatian kepada Anya daripada dirinya. Sumpah rasanya sangat menyakitkan di banding luka fisik. Dengan sekuat tenaga Zara berusaha meraih teh hangat yang berada di atas nakas. Prang Gelas yang akan Zara minum jatuh dan pecah berserakan di lantai. Iqbal yang tengah membantu Anya minum, sontak langsung menoleh ke brankar Zara. Iqbal melihat Zara yang sudah bangun. Iqbal meletakkan gelas Anya, ia pun bergegas menuju Zara. Iqbal terkejut saat melihat gelas Zara pecah. Ia mencegah Zara saat gadis itu ingin memunguti pecahan beling gelas. "Jangan! Biar aku aja." Iqbal kemudian membantu Zara untuk kembali tidur di atas brankarnya. Setelah itu Iqbal bergegas menuju dapur UKS---mengambil sapu untuk membersihkan pecahan beling. Setelah membersihkannya, Iqbal langsung mengambil duduk di hadapan brankar Zara. "Mau aku, beliin teh hangat?" "Nggak usah." Iqbal mendekatkan tangannya ke pelipis Zara berniat untuk memijit pelipisnya, namun Zara langsung menepis tangan Iqbal. "Sana jagain Anya aja!" Secara tidak langsung Zara mengusir halus Iqbal. "Kamu marah?" Zara hanya diam. Anya beranjak dari brankar. Gadis itu berjalan menghampiri Iqbal dan Zara. "Zara, jangan marah sama Iqbal, maaf ini semua gara-gara aku." Zara melirik Anya dengan raut wajah yang sulit di artikan. "Bukan salah kamu." "Sayang jangan marah. " Iqbal meraih tangan Zara kemudian mencium punggung tangannya. Zara hanya diam. Hatinya masih sangat sakit melihat kejadian itu, tidak mudah untuk memaafkannya. ??? Pulang sekolah Iqbal mengajak Zara untuk ke rumahnya. Iqbal ingin memperkenalkan Zara pada ibunya. Jujur Zara sangat gugup karena ini adalah pertemuan pertamanya dengan ibu Iqbal. Tadi Iqbal tidak bisa mengantarkan Anya pulang, ia menyuruh Selatan untuk mengantarkan Anya pulang, ya walaupun sedikit berdebat. Iqbal memarkirkan motornya di halaman rumahnya yang sangat luas. Zara pun turun dari motor Iqbal. Iqbal melihat Zara yang sepertinya sangat gugup, gadis itu bergetar ketakutan. Ia membantu melepaskan helm Zara. "Nggak usah takut, Bunda aku nggak gigit." Zara menatap Iqbal, ia pun mencoba menetralisir tubuhnya agar tidak gugup. Mereka berdua pun berjalan menuju pintu utama rumah Iqbal. Rumah Iqbal sangat besar, tingginya tiga lantai serta ada air mancur di tengah halamannya. Ukiran yang sangat cantik nan mewah, membuat siapa saja yang memandangnya akan terkagum. Saat mereka ingin masuk, sudah ada wanita paruh baya yang tengah berjalan ke arahnya. Zara tercengang melihat ibu Iqbal. Walaupun sudah lanjut usia, namun tidak mengurangi kadar kecantikannya. Benar-benar sangat cantik, mungkin wajah Iqbal juga turunan dari ibunya. "Jadi kamu yang namanya Zara?" tanya Santi sambil tersenyum ramah. Zara menganggukan kepala, ia menyalimi Santi. "I--iya Ta--Tante," gugup Zara. Santi terkekeh melihat Zara yang gugup seperti itu. "Nggak usah gugup gitu, Tante nggak gigit kok." ucapnya. "Ya udah, ayo kita masuk." Santi merangkul pundak Zara dan mengajaknya masuk. Iqbal yang melihat ibunya bersikap baik terhadap Zara merasa sangat senang. Ia memang sering menceritakan tentang Zara pada ibunya. Santi mengajak Zara duduk di sofa ruang tamu. "Kamu ngobrol dulu sama Bunda, " ucap Iqbal "Kamu mau ke mana, Bal?" Zara menatap Iqbal bingung. "Mau ganti baju, kamu mau ikut?" tanya Iqbal seraya tersenyum jahil. Zara menggelengkan kepalanya cepat. Ia pun langsung bergidik. "Enggak!" Iqbal terkekeh pelan. Cowok itu berjalan menuju lift yang terletak di pojok tangga. Kamar Iqbal berada di lantai tiga. Zara sedari tadi merasa canggung berduaan dengan Santi. Kedua tangannya sudah bergetar hebat. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. "Kamu udah pacaran berapa lama, sama Iqbal?" tanya Santi memecahkan keheningan. Seketika Zara langsung terkejut, karena Santi bersuara. Ia menoleh kw arah Santi, dan berkata,"Dua bulan, Tante." Santi tersenyum dan mengangguk. "Kamu cantik banget sih," puji Santi seraya menoel dagu Zara. Zara tersipu, wajahnya memerah karena malu. "Bisa aja Tan, Tante juga cantik." Santi hanya tersenyum manis. "Ngomong-ngomong, gimana sikap Iqbal, di sekolah?" "Baik kok Tan, dia nggak pernah bikin masalah di sekolah." "Ohh, baguslah." Santi tersenyum senang. Mereka berdua pun terus mengobrol, membahas tentang sifat Iqbal terhadap Zara, serta kelakuan Iqbal di sekolah. Iqbal sudah selesai mengganti pakaiannya. Cowok itu memakai baju polos navy serta celana training berwarna dark blue. Iqbal menghampiri mereka yang tengah asik bercanda. Iqbal mengambil duduk di hadapan mereka. Ia menatap mereka dengan horor saat mendengar namanya di sebut-sebut. "Ngomongin aku ya?" tuduh Iqbal. "Ih, apaan sih Iqbal! GR banget." Santi melirik Iqbal seraya memutar bola matanya malas. Iqbal hanya diam, ia merogoh saku celananya--mengambil ponselnya. Ia lebih memilih memainkan game online di ponselnya. "Kamu kenal sama, Anya?" tanya Santi pada Zara. "Kenal kok Tan, dia kan deket banget sama Iqbal, masa aku nggak kenal," jawab Zara. "Anya baik ya, Tan?" lanjut Zara. "Iya baik banget, bahkan Anya tuh udah kayak keluarga di rumah ini. " "Anya sering main ke rumah, Tante?" "Sering banget, sampe nginep juga. Kalo dia pulang kemaleman, kadang dia suka nginep di sini," ucap Santi memberitahu. Zara menjadi terdiam. Iqbal melirik Zara, ia bisa melihat raut wajah gadis itu yang tampak berubah saat membahas Anya. "Any---" ucapan Zara terhenti saat Iqbal memotongnya. "Bun, kayaknya bau gosong deh. Bunda, lagi masak apa?" potong Iqbal, ia sengaja menyuruh Santi untuk ke dapur. Iqbal tidak mau Santi terus membahas Anya di depan Zara. "Ah, masa sih? Perasaan Bunda, nggak masak," sahut Santi bingung. Pasalnya ia tidak sedang memasak apapun "Tapi bau gosong Bun. Sana cepetan Bunda liat!" suruh Iqbal sambil menyuruh ibunya untuk ke dapur. Santi pun beranjak berdiri kemudian bergegas menuju dapurnya. Zara melirik ke arah Iqbal. Ia bisa melihat dari wajah Iqbal, kalo cowok itu sengaja membiarkan ibunya pergi. Zara mengembangkan senyumannya. Makasih Bal, ucapnya dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN