Happy Reading?!
⭕⭕⭕
Iqbal mengajak Zara ke dalam kamarnya. Mereka berdua duduk di atas tikar bulu berwarna hitam. Padahal di sana ada sofa, tapi Zara malah ingin duduk di bawah.
"Mau minum apa?" tanya Iqbal, ia duduk di samping Zara.
Zara mengetuk-ngetuk dagunya, tampak berfikir. "Mmm...Ada yogurt nggak?"
Iqbal terdiam sejenak, lalu menggelengkan kepalanya pelan. "Kayaknya nggak ada deh, Ra."
Zara langsung cemberut. "Yahhh, padahal aku lagi pengen yogurt."
Iqbal mengulurkan tangannya ke atas kepala Zara, ia mengacak-acak rambut Zara gemas. "Bentar, aku ke minimarket," ucap Iqbal. "Mau berapa yogurt hm?" lanjut Iqbal menawarkan.
"Nggak usah banyak-banyak, dua aja deh," jawab Zara seraya tersenyum merekah.
"Yakin cuma dua?" tanya Iqbal memastikan.
Zara mengangguk mantap. "Iya Iqbal."
Iqbal pun mengangguk, ia beranjak berdiri dan ingin bergegas keluar, namun langkahnya terhenti saat Zara memanggilnya. Ia membalikkan badannya menatap Zara. "Apa lagi? Masih ada yang kurang?"
Zara beranjak berdiri dan berjalan menghampiri Iqbal. Ia menggeleng. "Nggak ada," ucapnya. "Pinjem HP kamu." Zara menadahkan tangannya.
Iqbal pun langsung merogoh saku celananya dan memberikan ponselnya pada Zara. "Buat apa, Ra?"
"Aku mau pinjem aja, mau main game. HP aku lobet Iqbal," jawab Zara berbohong, sebenarnya batrai HP-nya masih penuh.
Iqbal pun mengangguk, ia mencium pucuk kepala Zara, setelah itu ia kembali melanjutkan langkahnya untuk ke minimarket.
Zara duduk kembali di atas tikar. Ia langsung membuka ponsel Iqbal. Zara tersenyum senang karena tanggal lahirnya masih jadi pasword ponsel Iqbal. Tujuan Zara meminjam ponsel Iqbal sebenarnya bukan untuk main game, tapi untuk mengecek pesan Iqbal dengan Anya.
Zara membuka aplikasi w******p di ponsel Iqbal, ia melihat banyak pesan dari Anya yang belum di baca.
Anya
Bal, Zara udah pulang belum?
Bal, kepala aku pusing banget, kamu bisa ke sini?
Bal, perut aku sakit
Bal, aku nggak mau pulang sama Selatan lagi. Dia bawa motornya ngebut.
Besok kamu jemput aku kan?
Bal makasih ya buat boneka pandanya, aku suka. Lucu banget.
Bal, HP kamu lobet?
Bal, Papa aku nyariin kamu. Masa kata Papa, kita disuruh pacaran?
Zara menatap ponsel Iqbal dengan kesal, masih banyak pesan yang belum ia baca. Ia sangat muak untuk membaca semua pesan itu. Zara menghapus semua pesan dari Anya, bodo amat jika Iqbal marah, ia akan menanggung konsekuensinya. Dulu Iqbal pernah marah padanya saat ia menghapus pesan dari Anya.
Zara membuka i********: Iqbal, dan di sana banyak sekali foto Iqbal berdua dengan Anya. Bahkan banyak komentar netizen yang bilang mereka tuh pasangan yang cocok. Sebenernya pacar kamu, Anya apa aku sih?
Zara tersenyum miris saat membaca semua komentar itu. Kenapa ia sangat cemburu melihat kedekatan Iqbal dengan Anya? Padahal Iqbal menganggap Anya cuma sebatas sahabat.
Tapi Zara yakin, kalo Anya punya perasaan lebih terhadap Iqbal. Mana ada bersahabat antara laki-laki dan perempuan murni karena persahabatan. Pasti dari salah satu mereka mempunyai perasaan yang lebih, dari sekedar sahabat.
Zara refleks ingin membanting ponsel Iqbal, namun ia kembali mengurungkan niatnya, bisa-bisa ia di marahi Iqbal habis-habisan.
???
Iqbal menghentikan motornya di gerbang rumah Zara. Setelah pukul lima sore, Iqbal mengantarkan Zara pulang.
Iqbal melepaskan helm Zara. Iqbal menatap wajah Zara sedikit khawatir, karena akhir-akhir ini wajah gadis itu sangat pucat. "Kamu sakit, Ra?"
Zara merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, lalu menggelengkan kepalanya. "Enggak. Kenapa emang?"
"Muka kamu, pucet banget."
"Mungkin liptint aku luntur, jadinya bibir aku keliatan pucet," kata Zara seraya membasahi bibirnya.
Iqbal mengerutkan keningnya bingung, tidak mungkin karena liptint. Walaupun tidak memakai liptint, bibir Zara tetap berwarna pink alami.
"Hei!" ujar Zara saat melihat Iqbal melamun.
Iqbal tersadar dari lamunannya. "Apa?"
"Kamu kenapa ngelamun?"
Iqbal terdiam sejenak, ia pun malah tersenyum.
"Mau mampir dulu, nggak?" tanya Zara seraya menunjuk ke dalam rumahnya.
Iqbal mengangguk cepat. "Boleh." Iqbal langsung melepaskan helm nya.
Iqbal turun dari motornya, ia menggandeng tangan Zara saat masuk ke dalam halaman rumah Zara. Langkah Iqbal terhenti saat ponselnya berbunyi.
Iqbal mengeluarkan ponselnya.
"Dari siapa?" tanya Zara seraya mengangkat sebelah alisnya.
"Anya," jawab Iqbal, saat melihat nama Anya yang tertera di layar ponselnya.
Zara langsung tersenyum kecut saat Iqbal menyebutkan nama Anya.
Iqbal pun menjawab panggilan itu.
Zara melihat wajah Iqbal yang sangat panik saat menerima panggilan itu, sebenarnya apa yang mereka bicarakan?
Iqbal sudah selesai menelponnya. Ia langsung menatap Zara dengan raut wajah yang sangat panik. "Aku harus ke rumah Anya, dia anfal!"
Belum sempat Zara menjawab, Iqbal sudah terlebih dahulu berlari menuju motornya. Zara menatap Iqbal seraya tersenyum getir. "Segitu paniknya kamu sama Anya? Kalo aku yang sakit, kamu cuma bilang minum obat warung Ra, aku lagi urus Anya dulu." ucap Zara menirukan ucapan Iqbal saat Iqbal menyuruhnya untuk meminum obat warung.
"Kalo aku pergi apa kamu merasa kehilangan Bal? Aku juga punya penyakit lebih parah dari Anya Bal. " gumanya. Zara menghapus air matanya saat tiba-tiba mengalir. Dadanya sangat sesak, seperti ada benda tajam yang menusuknya.
???
Iqbal lari terburu-buru masuk ke dalam rumah Anya. Tadi saat di telepon, Om Reno---ayah Anya, yang berbicara dan memberitahukan kalo Anya anfal.
Iqbal masuk ke dalam kamar Anya, ia melihat kedua orangtua Anya tengah berdiri di hadapan Anya. Iqbal pun menyalimi mereka.
"Gimana kondisi Anya, Tan?" tanya Iqbal, ia melihat Anya yang tengah tertidur di ranjangnya serta wajah pucat pasi yang membuat Iqbal sangat khawatir.
"Tadi Anya sempet kesakitan, terus dia juga nggak mau di bawa ke rumah sakit, dia cuma nyebut-nyebut nama kamu terus Bal," ucap Reno menjelaskan.
Iqbal hanya diam, ia mengambil duduk di sebelah Anya. Iqbal menyentuh dahi Anya menggunakan punggung tangannya, dan benar saja tubuh gadis itu sangat panas.
"Katanya dia udah chat kamu, tapi kamu cuma read doang," ujar Lala--ibu Anya.
Iqbal melirik wajah Lala dengan bingung, pasalnya tidak ada pesan dari Anya. "Anya chat Iqbal? Tapi nggak ada pesan dari Anya."
"Masa sih?"
Iqbal pun mengeluarkan ponselnya, ia tidak melihat pesan dari Anya. Iqbal terdiam sebentar. Ia baru sadar kalo tadi ponselnya di pinjam Zara, pasti gadis itu yang sudah menghapusnya.
???
Iqbal bergegas ke kelas Zara untuk memarahi gadis itu karena sudah menghapus pesan dari Anya. Iqbal mendapati Zara yang tengah asik mengobrol dengan Rini.
"Ra, aku mau ngomong," ujar Iqbal dengan raut wajah dingin dan menahan marah.
Zara yang tengah asik bersenda gurau pun jadi terhenti, ia menatap Iqbal sedikit takut, karena wajah cowok itu seperti sedang marah.
Zara meneguk ludahnya susah payah. "Apa Iqbal? Mau ngomong apa?"
"Kamu hapus pesan dari, Anya?!" tanya Iqbal seraya membentak.
Zara terkejut, ia sekarang mengerti kenapa raut wajah Iqbal seperti itu. Pasti Iqbal sangat marah atas perbuatannya. Zara menunduk. "Maaf." Hanya kata maaf yang keluar dari mulutnya.
Iqbal mengacak-acak rambutnya frustasi. Kenapa lagi dan lagi Zara melakukan hal itu? Iqbal menggebrak meja Zara membuat Zara serta Rini terpelonjat kaget. "Kamu tau nggak sih Ra?! Anya tuh anfal! Dia cuma mau minta tolong sama aku!" ucap Iqbal dengan emosi.
"Aku--aku---" Zara menjadi gugup, ia sangat takut melihat wajah Iqbal yang sangat marah.
"Perbuatan kamu itu udah keterlaluan Ra! Anya, tuh sampai pingsan, dan itu semua gara-gara kamu!" bentak Iqbal seraya menunjuk wajah Zara.
"Aku cemburu Iqbal," jujur Zara.
"Cemburu? Kamu bilang cemburu?! Ra, aku kan udah bilang, Anya itu sahabat aku! Jadi kamu jangan cemburu!"
"Apa aku salah saat liat kamu sama Anya, aku cemburu? Apa aku salah Iqbal? Hati aku sakit Iqbal, liat kamu perhatian sama Anya! Aku juga punya hati, aku cemburu Iqbal!" Zara mengeluarkan semua unek-uneknya, ia pun tidak sanggup menahan air matanya. Gumpalan bening itu terjun dengan deras membasahi pipinya.
Semua murid yang ada di kelas melirik ke arah Zara dan Iqbal, mereka malah senang melihat Iqbal dan Zara berantem.
Iqbal terpaku, lidahnya mendadak kelu untuk berbicara. Ia merasa bersalah atas ucapannya yang terlalu kasar, hingga membuat gadis itu menangis. Iqbal langsung menggeser meja di hadapannya. Dan meraih tubuh Zara lalu mendekapnya. "Maaf, jangan nangis," lirih Iqbal.
Rini yang melihat pun merasa kesal. Iqbal sudah membuat sahabatnya menangis. Ia pun beranjak berdiri dan menjauhkan tubuh Zara dari Iqbal. Rini menatap Iqbal penuh kemarahan.
Plakk!
Rini melayangkan sebuah tamparan yang sangat keras di pipi Iqbal hingga membuat wajah cowok itu menoleh ke samping. Semua murid terkejut atas perbuatan Rini terhadap Iqbal.
"Lo itu cowok b******k! Mana ada cowok yang ngebentak pacarnya! Wajar aja kalo Zara, cemburu liat lo sama Anya! Lo pernah nggak sih ngebayangin gimana jadi Zara?! Pernah nggak?!" Rini mendorong tubuh Iqbal dengan kasar. Ia benar-benar sangat marah terhadap Iqbal.
"Rin udah Rin." Zara melingkarkan tangannya di pinggang Rini.
Rini melepaskan tangan Zara dengan kasar. Ia tetap akan memaki-maki Iqbal. "Zara tuh tiap hari sakit hati ngeliat lo sama Anya! Lo tuh punya otak nggak sih?! Lo---" Omongan Rini terhenti saat Zara menarik tangannya dan menyeretnya keluar kelas. Zara tidak mau Rini semakin mengamuk terhadap Iqbal.
Iqbal hanya mematung di tempat. Mulutnya terasa asin saat mengecap ujung bibirnya yang berdarah. Tamparan Rini benar-benar sangat keras hingga membuat darah segar mengalir di sudut bibirnya.