Chapter XXI

1074 Kata
Romeo Torpedo menggigiti jemarinya. Badannya panas dingin menantikan reaksi Fahmi.   "Tidak perlu malu, semua orang toh sudah pulang," Rayyan menenangkan.   Bosnya itu bukanlah malu! Diam-diam dia mengumpati Rayyan yang menyebabkan situasi  runyam saat ini. Tentu saja bosnya terdiam karena dia tak tahu bagaimana membacanya, pikir Romeo semakin kalut.   Fahmi menoleh ke arah tabir tempat Humaira dan beberapa orang wanita yang diam-diam mengintip dari celah. Alih-alih pria itu gugup dan takut kebohongannya terbongkar. Lalu, pada pria yang masih menyungging senyum, sepupu jauh dari wanita yang dia incar dan berkata akan membantunya.   Membantu apanya? Dia malah dibuatnya terpojok saat ini, Fahmi pikir. Ditatapnya kembali Al-Qur'an yang terbuka menampilkan surah random tepat di surah Luqman.   Romeo berharap akan ada bom atau gangguan yang akan menghentikan waktu saat itu juga. Dia berinisiatif bangkit dan menyela dengan sebuah alasan, sesaat terkejut mendengar lantunan ayat yang begitu indah.   Romeo mencari-cari MP3 yang biasa bosnya gunakan mengelabuhi Humaira masih berada di kantongnya, lantas suara siapa itu?   Dia melongo, bibir bosnya bergerak mengeluarkan suara-suara itu.   Rayyan tersenyum puas, diiringi kekaguman beberapa jama'ah yang belum pulang dan turut mendengarkan.   "Masyallah, Ra. Bagus banget ngajinya."   Humaira tertegun, suara Fahmi ternyata benar-benar merdu, padahal selama ini dia mengira suara mengaji yang didengarnya berasal dari murrotal MP3. Hati Humaira pun terenyuh mendengarnya.   Romeo masih tak mengerti, bagaimana bisa? Apa yang terjadi sebenarnya? Selama mengenal Fahmi, dia sama sekali belum pernah melihat bosnya mengaji. Lalu, apa bosnya tiba-tiba mendapat karomah sehingga jadi lancar begitu mengajinya?   Fahmi berperang batin dengan ingatan menyakitkan. Masih dengan tatapan datar, meski diam-diam kehangatan menyusup dalam rongga dadanya.   Sudah berapa lama dia tak mengaji? Dia bahkan sudah lupa, karena selama dua tahun ini dia lebih banyak membaca tumpukan file dibandingkan kitab sucinya sendiri, demi mendapatkan sesuatu yang tak dia dapatkan dulu, ketika masih berteman dengan sekumpulan ayat ini.   Fahmi tercenung, ketika sampai pada sebuah ayat yang begitu sulit dia ucapkan dulu.   "Yaa bunayya, bukan ya bunaya. Ayo ulangi," perintah abinya.   Fahmi mengulang untuk yang ketiga kali, namun urung menyelesaikan.   "Abi, aku gak bisa." Fahmi merengek karena sebentar dia benar lalu kembali mengulangi kesalahannya.   "Fahmi pasti bisa, sudah sejauh ini kan?" Melihat antusias anaknya kian memudar, Fadhil Alatas meletakkan perintahnya, beralih memberi seulas senyum penyemangat. "Fahmi tahu kisah di balik ayat ini?"   Replika kecil dari Fadhil itu, menggeleng. Dia meminta anaknya mendekat, lalu memangkunya.   "Coba lihat ayat lanjutannya,  Luqman memberitahu kepada anak-anaknya 'Nak, jangan menyekutukan Allah'. Fahmi tahu kenapa Luqman berkata begitu?"   Fahmi menggeleng lagi. "Dia berkata lagi, karena itu perbuatan dzhalim yang sangat besar'. Lalu dia menasehati,  dirikan shalat, berbuat kebaikan dan tumpaslah keburukan. Fahmi bisa jadi seperti ya bunayya?"   "Kenapa Fahmi harus jadi ya bunayya, kan nama Abi bukan Luqman," Fahmi bertanya polos yang ditanggapi kekehan dari Abinya.   "Nak, ya bunayya yang dimaksud oleh Luqman Al-Hakim adalah anak-anak keturunannya, pelajaran yang bisa diambil untuk semua anak-anak."   "Begitu ya, Bi. Jadi, Fahmi termasuk ya bunayya?"   "Iya. Nah, itu bisa kan nyebutnya. Coba sebut lagi, Fahmi termasuk apa?"   "Ya bunayya!"   Fahmi terdiam seketika, sontak membuat semua orang menoleh bingung.   "Maaf, saya harus pergi."   Dia bergegas bangkit dan berlalu keluar masjid. Rayyan yang hendak bertanya ada apa pun mengurungkan niatnya. Romeo menyusul dan mengucap salam kepada semua.   Humaira di tempatnya bertanya-tanya apa yang terjadi. Meski tak ada jawaban dari kebingungan mereka, Rayyan memanggil keduanya untuk pulang juga.   Di jalan, Romeo yang tak mengerti dengan keterdiaman dan wajah murung bosnya, enggan bertanya. Jadi, dia hanya mencoba menenangkan dengan memuji bosnya.   "Bos suaranya bagus banget. Adem gitu, Bos. Saya jadi berkaca-kaca."   Fahmi mendengkus sebal. "Memangnya apa yang bagus dari sekadar bisa mengaji? Toh, dirinya juga tak dihargai oleh ayahnya sendiri," gumamnya.   "Kenapa, Bos?" Romeo memastikan apa yang didengarnya tak salah. Itu memperkuat alasan bosnya datang ke tempat ini dan mengejar-ngejar Humaira.   Tak ada jawaban memuaskan dari gumaman aneh Fahmi. Pria itu berlalu, meninggalkan kening berkerut Romeo di belakang punggungnya.    *** Fahmi merebahkan dirinya pada kasur tipis di atas amben sebagai tempat tidur. Dia mengaduh, alih-alih semakin baik, punggungnya menjadi semakin sakit dari sebelumnya. Angin berembus beberapa kali menggerakkan pintu hingga berkeriut. Dengan kesal, Fahmi beranjak menutupnya. Bahkan pintu bersekongkol membuatnya kesal. "Awas aja itu cewek! Grrr, kenapa sih gue harus nyusahin diri sendiri cuma gara-gara cewek kampungan kayak dia!" Brakkk! Fahmi melompat terkejut mendengar sesuatu membentur pintu. Kedatangan Romeo yang tiba-tiba berlari sampai menabrak pintu karena tidak memperhatikan dia yang sedang menutupnya. Fahmi mengamati keadaan asistennya yang mengenaskan. Menyeret kaki dan tubuhnya yang pingsan, lalu menutup pintu kembali. Romeo kembali dalam keadaan utuh, itu berarti pria cebol itu belum tertangkap si Uripman. Fahmi membiarkan Romeo dalam posisinya dan kembali ke ranjang ranjaunya. Ia sebut ranjau, karena siapapun yang merebah di sana justru tidak akan mendapat kenikmatan tidur. Baru sekejap ia memejamkan mata, suara ketukan terdengar berkali-kali. Fahmi menjambak rambutnya frustrasi. Kenapa orang-orang ini tidak dapat tenang barang sekejap?! Itu juga yang berhasil membangunkan Romeo dari pingsan. Romeo mengusap liurnya, mengecek hidungnya yang terasa sakit. Fahmi yang turun tak sengaja menendangnya. Ia bangkit dari posisinya setelah menyadari tertidur di lantai. Begitu pintu dibuka. Sosok yang tidak dikenalnya muncul. "Assalamualaikum. Saya Pak Pariaman, yang punya rumah ini." Fahmi mengangguk-angguk dan mengizinkan pria itu masuk. "Jadi, rumah ini mau panjennengan pakai selama sebulan?" Pariaman menuangkan air panas ke dalam cangkir dan mengaduk cairan pekat yang telah diberinya gula sedikit. "Benar, Paman. Dan kita minta Paman berpura-pura jadi sepupu jauh dari saya, dan bos saya ini jadi ponakan saya dari pihak istri. Betul 'kan, Bos?" "Tidak perlu terlalu lama. Seminggu juga mungkin misi kita akan selesai," ujar Fahmi datar, tak menggubris ocehan Romeo. "Mohon maaf, kalau boleh tahu, maksud dan tujuan, panjennengan ini apa?" Fahmi berdecak dalam hati, pria ini banyak bicara. Romeo sebagai juru bicaranya tergagap. Bingung hendak menjelaskan bagaimana. "Saya menyukai seorang gadis dan saya ingin memilikinya." "Wah wah, perempuan, toh. Kenapa ndak cepat pergi ke rumahnya dan temui orang tuanya saja?" "Tidak bisa begitu, Mang. Dia belum tau dengan saya dan saya ingin mengenalnya lebih dekat." Fahmi juga menjelaskan mengapa dia tak mau memberitahu siapa, meski Pariaman hendak memberinya bantuan. Pariaman tampak berpikir dan menyetujui keputusan yang diambil Fahmi. Dia akan memberi seorang lover seperti Fahmi kesempatan itu. By the way, dia menanyakan mengapa wajah mereka babak belur. Romeo menyela dan mengatakan mereka habis dicegat penjagal. Pariaman takjub karena kebanyakan penjagal di daerah mereka tidak akan membiarkan mereka hidup. Romeo bergidik. Fahmi membenarkan dalam hati. Dia bahkan lebih sadis dari penjagal, pikirnya. Kehidupan nerakanya baru saja dimulai, dan dia masih ingin mengajak Humaira turut serta merasakannya. ***    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN