Pariaman yang gembira habis mendapat pembayaran Fahmi, membeli kasur baru untuk diletakkan di lantai rumahnya, na'asnya Fahmi harus siap tidur berdesakan dengan penghuni lain.
Kasur yang tak lebih berprikekasuran itu paling tidak terlihat akan membuatnya tidur nyaman, ia harap.
Hariawan dan Surip, keduanya adalah kawan Pariaman yang ia panggil untuk membantu memanen karena musim panen sudah semakin dekat.
Fahmi mungkin akan dapat terpejam barang sekejap, jika seandainya bunyi dengkuran keras dan lasaknya tiga orang di dekatnya lebih diminimalisir.
Ia memilih keluar dan manghirup udara malam, sembari berjalan-jalan di dekat sana, atau bisa saja ia bertemu dengan Humaira dan dapat memulai aksinya.
Humaira memang tengah berada di atap, seperti kebiasaannya. Fahmi tidak habis pikir bagaimana cara gadis itu naik ke sana dengan mudah tanpa takut terjatuh.
Fahmi bersandar dan bersiul untuk menarik perhatiannya. Humaira yang mulai menyadari kehadirannya, mengernyit tidak mengenali siapa pria yang bersandar di baduk dekat pohon yang ia paham hendak menggodanya.
" Jangan terlalu sering menatap bulan, bulannya jadi semakin indah ketika ditatap wanita cantik."
Bukannya tersipu, Humaira mendesis, tampak kesal. Ia bergegas turun dengan segera.
"Tunggu!" Fahmi kelabakab mencegahnya masuk ke rumah. Tidak menyangka reaksi Humaira akan berbeda.
Humaira memberi isyarat padanya untuk tidak berisik karena ini sudah malam.
"Iya, iya. Saya hanya ingin tahu nama kamu?" tanya Fahmi berpura-pura.
Kerutan di kening Humaira semakin banyak. Mau apa pemuda ini?
Humaira memberi isyarat "Dasar gila", seolah-olah dirinya benar-benar gadis tunawicara.
Fahmi tersenyum menangkap tingkah Humaira hendak mengelabuinya.
"Saya tahu kamu bisa bicara."
Dan benar saja, pria itu menyebalkan, tak ada bedanya. Humaira mendesah kasar, lantas masuk ke rumah membiarkan Fahmi berdiri seperti orang bodoh.
"Jadi, kamu tidak senang pujian? Baiklah, mungkin kamu lebih menyukai cara yang berbeda," monolognya. Ia berlalu dengan kepala penuh ide.
***
Harus pening setelah terjaga semalaman, Fahmi langsung disibukkan dengan kegiatan para petani. Bangun ba'da shubuh, mereka mulai berjalan atau naik sepeda menuju sawah tempatnya bekerja.
"Tidur nyenyak, Bos?"
Romeo bersiul tidurnya makin nyaman dengan kasur baru, meski harus berbagi dengan tiga orang lainnya.
"Nyenyak batokmu! Yang ada terjaga semalaman."
Fahmi mendengkus, berjalan gontai menuju kamar mandi aliasa sumur di luar rumah. Romeo menggaruk leher, merasa tak enak hati, sedikit banyak karena dirinya jugalah Fahmi si anak konglomerat harus merasakan hidup melarat. Membuntuti Fahmi hingga ke sumur, Romeo mencetuskan ide terbaiknya.
"Eh, anu, Bos. Apa kita pindah tempat aja? Nanti kalau Bos keseringan gak tidur, kegantengan bos bisa berkurang loh."
Fahmi mengabaikan kelakar Romeo dan menyiram asal tubuhnya. Romeo masih berceramah meminta dituruti karena semua demi kebaikannya juga.
Fahmi telah mengenakan pakaian kerjanya saat pria itu selesai bicara. Tentu saja bukan lagi jas dan dasi, melainkan kaos training olahraga, plus sarung tangan dan sepatu boot.
"Gak perlu. Nanti yang ada malah mereka curiga saya keluar dari hotel."
Panas mentari yang menyengat, memanggang kulit putihnya. Ia mengipasi diri sementara Romeo mengerjakan bagian pekerjaannya juga.
Semua mengeluh matahari serasa lebih dekat sejengkal dari kemarin. Dan bagai sebuah oase di tengah gurun, teriakan beberapa perempuan yang membawa makanan menjadi penyelamat mereka.
Hal ini merupakan inisiatif Rayyan ketika mendekati musim panen, sebagai suntikan yang akan membuat pekerjanya lebih semangat sembari mengingatkan mereka untuk tidak melupakan istirahat dan salat. Humaira merupakan salah satu personilnya. Fahmi berseru senang, karena hari ini bisa jadi kesempatannya mendapatkan hati gadis itu.
"Ini, Bang. Makan yang banyak kerja yang giat," Humaira memberi semangat.
Wajahnya yang semula cantik berubah cemberut begitu menyadari kehadiran Fahmi. Ternyata dia salah satu pekerja Bang Rayyan, aku kira orang gila.
"Boleh minta nasinya?"
Humaira memberikan bungkusan nasi tanpa minat untuk memadang si peminta.
"Ketus betul, Neng." Humaira hanya melirik Fahmi yang kemudian menjauh dan membuka bungkusan nasi.
Sungguh, seumur ia hidup dan makan tak pernah melihat makanan sesederhana ini sebelumnya, meski begitu Romeo berinisiatif menanyakan apakah ia ingin dirinya menaiki bus dan membelikan nasi dari restoran di kota. Ia menolaknya.
Sayur urap, ikan takar dan kerupuk sudah cukup untuk membuatnya bergidik, meski begitu ia mencoba beberapa suap, dan rasa lapar membuatnya terasa nikmat.
Ia berseru sembari bersyair.
"Kalau cinta datang dari hati, cintaku datang dari pemberi makanan ini."
Syair itu lantas menyemarakkan makan bareng para petani di siang hari. Mereka bersorak dan menimpali dengan pujian lain.
"Bukan semak namanya tumbuhan pengganggu.
Nasinya jadi lemak, jika sambil memandangmu."
Ia mengerling pada Humaira yang disalah artikan para gadis. Dengan rona-rona malu mereka terkekeh genit. Humaira berdecih, membuang muka, dan pergi dengan segera. Fahmi masih mengikuti langkah gadis itu hingga bertemu pandang dengan Rayyan yang baru datang.
Rayyan bersama Farah bermaksud melihat keadaan sekaligus mengantarkan termos yang tertinggal. Fahmi mengerutkan kening melihat tatapan memuja Humaira kepada Rayyan. Ia juga tidak tahu bagaimana kemudian gadis itu memilih tinggal di rumah bosnya Pariaman dibandingkan rumahnya sendiri.
Tetapi, yang ia tahu pasti, Rayyan mungkin akan menjadi batu sandungan besar dalam rencananya.
Romeo yang menyadari perubahan raut bosnya segera menenangkan.
"Tenang aja, Bos. Yang saya tahu, Rayyan itu sudah beristri."
Baiklah, mungkin memang Rayyan tidak begitu berbahaya, tetapi hati Humairalah yang harus ia alihkan dari pria yang ia kagumi.
***
"Gadul bashar, akh!(*)"
Fahmi menjatuhkan cangkul yang dipegangnya. Panggilan Rayyan, menyadarkannya dari keterpanaan. Ia berdehem sebelum lebih lanjut menggodanya.
"Saya lihat, Mas Fahmi ini sering diam-diam mengamati Humaira, ya."
Fahmi hanya tersenyum sungkan karena tertangkap basah. "Saya mana pantas untuk Mbak Humaira, Mas."
"Ah, siapa bilang begitu. Mau saya bantu?"
"Sebenarnya Mas Rayyan inI siapanya toh?"
"Saya sepupu jauhnya."
Fahmi tak dapat berkata-kata, karena tak menyangka, pria yang ia kira akan menghalangi justru berniat membantunya.
"Serius, Mas?"
"Insyaallah, tapi semua kembali sama pribadi Mas Fahmi juga untuk menentukan."
"Terus, saya harus bagaimana, Mas Rayyan?"
Rayyan tersenyum penuh misteri.
***
Humaira itu senang tipe cowok yang baik agamanya.
Fahmi menjadikannya mantera untuk membujuk Humaira mendekat. Ia mengubah kebiasaannya seratus delapan puluh derajat.
"Bos yakin cara ini berhasil?"
Fahmi memasang peci putih sebagai pelengkap dandanan ala santri miliknya.
"Kita ikuti saja alurnya, Meo. Lagi pula Rayyan juga berniat membantu memuluskan rencana kita."
Fahmi duduk bersila di atas sajadah, posisinya dekat dengan pintu untuk memudahkan rencananya. Tepat saat beberapa wanita melintas termasuk Humaira, Romeo menyetel bacaan murrotal, tidak terlalu keras agar tidak membuatnya curiga.
Beberapa wanita itu berhenti sambil berseru takjub, tidak lama, lalu kembali melanjutkan perjalanan. Fahmi melakukan itu dengan intensitas cukup sering. Dia bahkan rela untuk pergi ke musholla agar kesan "alim" dapat tersemat padanya dan mengubah sudut pandag Humaira atas dirinya.
Fahmi melangkahkan kakinya ke arah masjid. Rayyan menyuruhnya datang ke sana, alih-alih musholla yang tak cukup jauh dari rumahnya. Pria itu berkata, tawarannya masih berlaku jika Fahmi menginginkannya. Jadi, ia datang tanpa ekspektasi apapun.
"Selamat datang, akhi Fahmi."
Mereka berbincang hingga adzan dzuhur berkumandang. Rayyan menyuruhnya mengimami, ia menolak dengan sebuah alasan, bacaannya lebih buruk dari Rayyan.
Sebuah kesalaha, karena kemudian ia ditenpatkan dalam situasi teramat pelik.
"Kamu pandai mengaji, bukan? Tolong buktikan di hadapan saya."
Pria itu meletakkan mushaf Al-Qur'an di hadapannya dengan tatapan menyelidik. Fahmi mati kutu.