Chapter XLVI

1038 Kata
Fahmi menenggelamkannya. Baru beberapa waktu dia merasakan kebencian tak tertahan, lalu ciuman yang memabukkan langsung membuatnya lupa arah, Humaira limbung kerana sentakan dahsyat tanpa ancang-ancang. Harusnya dia tidak datang. Dia jadi terlihat seperti wanita murahann. Dan dia baru saja melupakan tentang pemikiran wanita murahann dan sebagainya, saat napas Fahmi menggerayangi ceruk lehernya. Fahmi melambungkannya dengan hasrat dan mungkin akan menjatuhkannya dalam sesaat. Humaira tak merasa pernah memikirkan akan ditendang setelah mendapat kenikmatan, karena nyatanya Fahmi mendorongnya ke ranjang, menindihnya dengan kekuatan. Lalu, dia kalah dan tak berdaya melawan godaan. Otaknya memberitahu bahwa ini kesalahan yang tidak seharusnya mereka perbuat. Lalu, apa gunanya perdebatan dan hinaan dan makian yang belum sampai sehari dia rasakan. Mungkin Humaira merasakan perasaan Fahmi yang terdalam, hingga dia mengerti, Fahmi bukan menjadi dirinya saat itu, dan hanya saat ini Fahminya kembali. Apakah ini perasaan iba, ataukah cinta? Keduanya hanya tersekat tali tipis. Dia tidak pernah benar-benar mengenali perasaan asing ini sampai seorang itu benar-benar pergi. Saat Fahmi memeluknya, saat itulah dia sadari apa yang dia inginkan. Dia memeluk punggung Fahmi, mendekat dan menempelkan tubuh mereka. Kehangatan yang dia cari. Humaira ingin terus merasakannya. Selama ini dia menginginkan Fahmi, merindukannya, dan menikmati kedekatannya tanpa perlu berpikir tentang hari esok. Dia berdoa semoga apa yang dia rasakan hanya ilusi. Air matanya mengalir dan untuk pertamakali dia mengucapkan kalimat itu. “Aku mencintai kamu.” Tubuh Fahmi menegang karenanya. Dia seolah tersadar bahwa dia terbawa suasana dan justru merusak rencananya. Fahmi selesai menuntaskan hasrat, lalu tanpa kata merapikan kembali pakaiannya. “Tunggu, kamu mau ke mana?” “Pulang tentu saja. Apa kamu masih ada urusan denganku?” “Apa? Tapi, baru saja, kupikir….” Humaira menyadari dia telah salah langkah dan terbuai dengan kesenangan sesaat. Dia enar-benar melupakan siapa yang dia hadapi. “Kamu mempermainkanku.” “Itu hukuman.” “Apa itu membuat kamu senang?!” “Tidak. Itu menjijikkan.” “Itu keterlaluan!” “Tidak perlu marah, Toh, kamu juga senang.” Humaira melompat tanpa menutupi ketelanjangan dia menampar Fahmi dengan keras. “Tidak ada urusannya lagi denganku.” “Apa bahkan sedetik pun kamu tidak memikirkan perasaanku?” “Tidak sama sekali. Kamu bukan orang penting.” “Aku bilang aku mencintaimu karena kamu suamiku. Tapi--” “Cinta? Jangan salah paham. Kamu hanya mainan yang kubeli dengan mahar.” Humaira begitu terluka mendengar kata-kata itu keluar dari mulut pria yang baru saja dia kira memiliki perasaan yang sama. Dia begitu bodohnya sampai tidak bisa berpikir. “Biar kuberitahu, apa yang kamu rasakan bukan cinta, Humaira. Kamu hanya merasa senang karena kamu kesepian.” Dia sudah akan melayangkan tinju kedua dan berhenti. Apa gunanya memukuli ikan mati. Tatapan Fahmi bukan lagi tatapan manusia, dingin, beku dan kosong. Kendati kata-katanya luar biasa jahat dan tak termaafkan, kerlipan rasa bersalah dan kebohongan, Fahmi menutupinya, tetapi Humaira melihat melebihi dirinya. Fahmi masih seperti buku yang terbuka, dia tidak mudah mengungkapkan atau menyembunyikan perasaan. “Aku bukan kamu dan pandangan kita sangat berbeda.” “Aku tidak peduli. Selamat tinggal.” Fahmi melenggang pergi meninggalkannya di ruangan yang terasa menyesakkan. Ingin dia akhiri segera rasa sakit ini. Humaira menutup mata, menahan teriakan di d**a. Dia wanita paling bodoh yang dengan mudahnya dibuang begitu saja. Humaira melihat cincin yang melingkar di jari manisnya dan bertekad untuk melupakan Fahmi selama-lamanya. *** Fahmi nyaris kehabisan napas sebelum mencapai lift. Menuruni lift terasa menyiksa. Dia ingin segera sampai di zona amannya. Berada di satu tempat yang sama dengan peri, tidak akan baik untuk kesehatan mentalnya. Kakinya berjalan cepat-cepat untuk sampai ke mobil. Setelah sampai di sana dia akan lebih tenang, langkahnya seketika terhenti mendengar teriakan seseorang. “Fahmi, tunggu!” Perempuan itu berlari untuk menyamai kecepatannya. Tidak perlu menoleh. Wanita itu mungkin ingin menghajarnya atau memukulnya. Akan dia terima apapun itu, karena dia sendiri yang memulainya. Tidak ada suara atau pergerakan lebih jauh selain helaan napas berat Humaira. “Terima kasih,” ujarnya, membuat Fahmi tersentak. Apa yang gadis gila ini katakan? “sudah menyenangkanku. Kamu mengizinkanku naik mobil mewah, berdandan, memakai pakaian indah, bahkan berdansa di pesta bersama pangeran seperti kamu. Itu semua adalah impian seorang wanita mana pun setidaknya sekali seumur hidup. Terima kasih, Fahmi, sudah memberiku satu hari yang istimewa. Meskipun kamu mungkin lupa, hari ini adalah ulang tahunku. Aku tidak akan pernah melupakan kebaikan kamu. "Jujur saja melihat kamu sangat menyakitkan untukku. Tetapi lebih menyakitkan saat aku tidak bisa menemukanmu. Dulu hidupku baik-baik saja. Aku hanya ingin berumah tangga, memiliki seorang anak yang lucu dan suami yang akan pulang ke rumah dan memakan masakanku. Hanya itu. Apa aku salah mengharapkan rumah tangga yang sederhana? "Dan hari ini kamu membuatku sadar bahwa kita berada di dunia yang sangat berbeda. Kamu hanya salah satu episode dalam hidupku, mungkin bukan kamu satu dari pria di dalam episode hidupku yang kelak akan menjadi suami baik di dalam dunia sederhana itu. Kamu mungkin tidak salah, karena tempatku bukan di sini. Sampai kapanpun aku tak akan bisa bersanding dengan orang seperti kamu. Aku… hanya salah satu mainan yang sudah kamu buang. "Aku akan pergi dari hidup kamu seperti yang kamu inginkan, bahkan meski harus menanggung rasa sakit itu lagi aku akan bertahan, dan pada saatnya aku pasti akan melupakan. Dan Fahmi… jangan pernah muncul di hadapanku meski kamu menginginkan. Karena aku bukan w************n yang bisa seenaknya kamu buang ketika bosan, dan akan datang ketika kamu inginkan. Selamat tinggal, Fahmi. Jaga diri kamu baik-baik.” Wanita gila. Dari mana kepercayaan diri itu berasal. Jangan muncul di hadapanku meski kamu menginginkan, kata-kata itu diucapkan begitu dalam dan entah apa maksudnya. Tiba-tiba saja dadanya terasa penuh, Fahmi tak bisa bernapas. Dia membuka jendela mobil dan melaju kencang. Dia tidak berbalik melihat HUmaira pergi justru mematung di dekat mobilnya. Suara denting cincin yang jatuh membuatnya menoleh seketika. Sudah berakhir. Dia tidak pernah menyangka hal terakhir yang akan dilihatnya adalah wajah kesakitan Humaira yang merah karena tangis. Mobilnya akan segera sampai di halaman kantor, dia bisa terbebas dari rasa sesak yang menghimpit dadanya. Fahmi menutup pintu kantor dan limbung memegangi meja. Untuk penjahat sekaliber dirinya, apa yang dia lakukan benar-benar tak termaafkan. Ini bagus jika Humaira sekarang akan membencinya. Kehidupan bebasnya akan kembali. Fahmi menekan tombol panggil. “Jaga dia sampai tiba di tujuan.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN