Chapter XLVII

1038 Kata
Dulu Humaira menyukai kisah puteri di dalam kartun favoritnya. Yang paling membuatnya terkesan adalah kisah Ariel si Puteri Duyung. Dari semua kisah puteri-puteri yang berakhir bahagia selamanya, Puteri Duyung Ariel justru mengalami kemalangan hingga akhir hidupnya. Sekuat apapun cintanya pada Pangeran Eric, dia tetap menjadi buih. Mungkin itu yang dinamakan cinta sejati, tanpa pamrih, tanpa pengungkapan. Walau tak bisa bersama, Ariel tetap bahagia karena pernah mengenal cinta. Dan kisahnya mungkin akan sama. Sebesar apapun rasa sukanya, Fahmi tak akan mengerti sedalam apa perasaannya, dia hanya akan jadi buih karena mereka berada di dunia yang amat berbeda. Perasaan tak berdaya terus menghantui Humaira. Dia amat lelah dengan segala yang terjadi. Menangis akan percuma. Humaira kembali tanpa berpamitan dengan Afifah dan sudah ke sepuuh kalinya gadis itu mencoa menghubunginya. Humaira hanya terduduk diam di dalam bus, menatap apa yang tak terlihat. Diam hanya akan membuatnya mengingat semua perlakuan kasar pria itu. Pria yang hanya menyebut namanya saja akan membuatnya sedih. Dia sudah tidak ada hubungannya lagi dengan pria itu. Satu penumpang lain masuk, lalu duduk di sebelahnya. Sebenarnya bus itu tidak terlalu penuh dan lagi dia sedang ingin sendiri, tetapi pria bertopi yang duduk di sampingnya membuatnya tak nyaman, terus berdehem untuk meminta perhatian. “Mbak Humaira, ini saya.” Humaira agak terkejut mendengarnya, dia mendekat dan memperhatikan pria di sampingnya adalah Udin, paman Fahmi. “Paman?” “Sebenarnya saya bukan paman Fahmi.” “Jadi, kamu temannya yang sudah menipu saya.” Nada bicara Humaira terdengar sengit. Kalau sudah begitu, artinya Fahmi sudah menceritakan semuanya. “Jangan salah paham Humaira. Saya memang temannya, tapi saya tidak seperti dia. Saya minta maaf karena sudah membohongi kamu selama ini.” “Terus kenapa Anda membantunya?” “Tunggu dulu, jangan marah. Saya tidak tahu apa yang dikatakan Fahmi atau apa terjadi di antara kamu dan Fahmi. Sepertinya kamu sangat membencinya.” “Sebenarnya apa tujuan Anda mengikuti saya? Apa masih kurang puas untuk mempermainkan saya? “Bukan! Sumpah, bukan begitu.” “Kalau Anda tidak memiliki urusan lain, lebih baik Anda pergi.” Humaira geram dan mulai mendorong Romeo tanpa ampun. Romeo kewalahan menangkis setiap gebukan Humaira. “Saya di sini dikirim oleh Fahmi sendiri untuk menjaga kamu sampai tujuan!” Akhirnya terucap juga. Itu misi rahasia sebenarnya, di tangan Romeo tak ada yang namanya rahasia. Pukulan Humaira terhenti. Ekspresi bingung bersarang di wajahnya. Untuk apa pria itu-- Benar juga. Humaira hanya dianggapnya ancaman yang akan membuka kedoknya. Wajar saja Fahmi mengirim seseorang untuk “menjaganya”. “Saya tidak akan membeberkan apapun, jadi Anda boleh pulang. Meski saya miskin dan tidak tahu diri, saya tidak akan menyusahkan siapapun lagi.” “Eh? Tapi--” “Itu kan yang Anda inginkan. Saya berjanji akan tutup mulut seumur hidup saya.” Romeo kehilangan kata-kata. Sedalam apa Fahmi sudah menyakiti gadis baik sepertinya. “Dengar, Dik Humaira. Saya dikirim bukan untuk mengancam kamu. Sejujurnya, melihat Bos Fahmi sampai begini adalah pertama kalinya untuk saya pribadi. Dia tidak pernah serius dengan pernikahannya. Mendengar dia sudah menceritakan semua rahasianya, saya semakin yakin kalau Dik Humaira sangat penting untuk keberlangsungan hidup Bos Fahmi.” “Saya sama sekali tidak senang mengetahui kenyataan itu. Tolong jangan membuat saya semakin tertekan. Saya sudah memutuskan untuk melupakan pria itu selamanya. Dia sendiri juga memutuskan. Kami sudah tidak ada hubungan apa-apa.” “Mungkin hari ini Dik Humaira tidak akan bisa berpikir jernih, tetapi tolong pikirkan sekali lagi, apa Dik Humaira bisa lari dari kenyataan, apa kehidupan Dik Humaira akan sama lagi seperti saat sebelum mengenal Fahmi. Dia memang pria yang tak pandai mengungkapkan perasaan, tetapi saya yakin kalau dia mungkin sudah jatuh cinta sama Dik Humaira.” Apa kata-kata itu bisa mengubah apa yang terjadi di antara mereka? Fahmi sudah melakukan kekerasan psikologis yang berat dengan melecehkannya, bagaimana bisa dia masih mengharapkannya. Kenyataan yang dikatakan Rome tak akan mudah menggetarkan hatinya. Dia sudah memutuskan. Dia tidak akan menemui Fahmi lagi dan memulai hidup baru untuk mencapai keinginan sederhananya, membangun keluarga kecil yang normal dan bahagia. Terdengar pembacaan pengumuman keberangkatan dari speaker, bus yang ditumpangi Humaira akan segera berangkat. “Saya tidak akan menyesalinya, dan saya tidak memiliki perasaan terhadap pria itu bahkan sedetik pun. Jadi, apa yang Anda katakan semuanya percuma. Keterikatan ini akan berakhir di sini.” Romeo keluar dari bus, menatap ke arah tempat duduk Humaira untuk terakhir kalinya. Mungkin ini sebuah karma, Fahmi tidak akan pernah menemukan cintanya. Alasan apalagi yang bisa menyatukan mereka, dia tidak melihat kemungkinan. Kisah cinta Fahmi-Humaira kali ini benar-benar kandas hanya sampai di sini. *** Humaira berjalan tertunduk bahkan mengabaikan penduduk yang menyapanya. Sikap pendiam yang ditunjukkannya membuat rang yang megenalnya keheranan. Humaira terkena dengan sikap ceria yang melihat setiap orang sama. Selama ayahnya masih hidup, semua orang tertarik dengan sikap baiknya. Tidak ada orang yang penah menyakitinya seperti Fahmi. Dia saat ini tidak mood bertemu dengan orang-orang, tubuhnya hanya ingin segera sampai di rumah dan bergelung di ranjang menumpahkan semua tangis dan kepedihan di hatinya. Hanya dengan cara itu dia bisa kembali melihat ke depan. Sewaktu Rahma melihat Humaira pulang sendirian dengan wajah hampir menangis, dia tahu anaknya gagal lagi. Sudah waktunya Humaira menyerah dan Rahma yang sudah mewaniti-wanti mungkin harus mengingatkannya sekali lagi. “Assaamu ‘alaikum.” “Wa alaikum salam.” “Ira pulang, Ummi.” "Kamu ganti baju trus mandi. Ummi siapkan makan." "Baik, Ummi." Humaiara bersyukur ibunya tak bertanya lebih jauh. Dia sama sekali tak tahu harus menjawab bagaimana. dia sudah mengecewakan semua orang. Bukan hanya kepada ibunya, dia lebih kecewa pada dirinya sendiri. Humaira memang mengatakn iya, tetapi tubuhnya langsung merebah dan menumpahkan segalanya. Dasar pria sakit jiwa! Ba*ingan Breng*ek tidak tahu malu! Tega sekali menyakitinya seperti itu. Rahma masuk ke dalam kamar Humaira yang tak kunjung keluar kamar. hatinya hancur melihat Humaira yang menangis, dadanya bergetar hebat. Dia dekap puterinya erat-erat.. “Dia menipuku, Ummi.” “Meniupu?” “Semua yang dia katakan cuma kebohongan. Dia mempermainkanku.” Di saat puterinya terihat amat terguncang, Rahma tidak bisa mengorek lebih jauh tentang apa yang terjadi. Humaira menangis dengan keras, Fahmi pasti telah melakukan hal yang tak termaafkan. Tunggu saja, Fahmi. Dalam dekapan lara Humaira, Rahma berikrar, sebagai ibu dari wanita yang dia hancurkan, dia akan membalas sepuluh kali lipat demi puterinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN