Chapter XLIX

1194 Kata
Berita tentangnya yang telah mencampakkan Humaira mungkin sudah diketahui orangtua Humaira. tidak heran jika dia mendapati Damiri mengunjunginya. Seorang penjilat yang memanfaatkan kesedihan puterinya untuk mendapatkan keuntungan. Dia jadi merasa kasihan karena hidup Humaira dipenuhi orang-orang semacam ini. "Ada urusan apa Bapak ke sini." "Saya sangat tahu kalau sifat keras kepala Humaira sudah menganggu kamu seama ini. jadi, saya di sini ingin menawarkan kesepakatan. Humaira tidak akan lagi muncul di hadapan kamu. Saya akan pastikan dia tidak akan mengejar-ngejar Anda lagi." "Langsung saja, berapa yang Bapak inginkan?" "Pengusaha memang sangat mengerti bisnis ya." Tanpa berpanjang ria dia mengusir Damiri dengan segepok uang tanpa sepengetahuan keluarga Humiara. Memastikan Humaira tidak datang ya. dari wajah bertekad Humaira saat itu justru sepertinya dia tidak akan pernah datang meski harus diberi hukuman gantung diri. Fahmi tidak memberikan uang dengan cuma-cuma, dia memperingatkan Damiri untuk tidak menyakiti Humaira dan berbuat baik padanya. Dia juga memastikan Damiri tidak memerasnya dengan perjanjian di atas kertas. Masa damai itu tidak bertahan lama. Seminggu kemudian Rahma datang mengembalikan uang lebih tepatnya melemparkan uang Damiri ke wajahnya, lalu menamparnya dengan keras. "Saya pastikan kamu tidak akan bertemu dengan puteri saya meski kamu bersujud memintanya kembali. Dengar Fahmi saya tidak akan memafkan perbuatan kamu kepada Humaira bahkan sampai saya mati." Berurusan dengan Humaira, nasibnya benar-benar sial. bukan hanya kehidupannya terganggu dia juga mendapat banyak musuh sekarang. Walaupun dia pantas mendapatkannya. *** “Apa Anda tidak bisa mempertimbangkan Humaira menjadi bagian hidup Anda?” Terikat pada satu wanita dan berakhir nelangsa? Fahmi merasa harus mengetuk kepalanya dengan palu. Bibirnya melengkungkan seringai, berubah menjadi tawa miris dan mencibir. Yang dicibir hanya mencebik di sampingnya. “Enggak salah kamu berbicara komitmen dengan saya? Hahaha. Kamu bukan orang baru, Romeo.” “Tapi Dik Humaira itu berbeda dari perempuan yang lain.” “Kamu pikir saya tidak tahu maksud dari gadis sepertinya yang pasti mengincar kekayaan.” “Bos sangat tahu kalau perempuan itu bukn tipikal penggila harta.” “Terus kamu mau bilang kalau penggila harta adalah saya?” Romeo tak tega melihat Fahmi yang trtawa kencang, efek dari mabuk. “Apa Anda yakin tidak akan menyesalinya setelah melepas perempuan itu?” “Kamu berisik sekali hari ini. Ya, kamu memang berisik. Ini kemenangan, Romeo. Pada akhirnya saya terbebas dari makhluk mngesalkan itu. Kalau kamu tidak punya hal bagus untuk diberitahu, mending kamu pergi sana.” Fahmi mengusirnya sama seperti Humaira yang tidak ingin dia melihat hatinya. Namun, bukan Romeo namanya tanpa kecerewetan yang haqiqi. Ia nyerocos panjang kali lebar. “Apa yang Anda lakukan saat ini adalah bukti bahwa Anda--” Pyarrr. Fahmi membanting botol yang dipegangnya hingga pecah berkeping-keping. Romeo langsung tersedak ludahnya sendiri. Meihat tatapan tajam Fahmi yang menusuk ke tulang rusuk. Tuannya mabuk atau tidak mabuk pun tetap menakutkan. “Bos harus tegas memutuskan. Kasihan perempuan itu, jika masih terikat sama Pak Bos.” “Pergi dari sini, atau kamu mau berakhir seperti botol ini?” Tak perlu waktu lama untuk Romeo menekan saklar supersonicnya. Tanpa babibu pria itu menghilang dari pandangan. Sukses mengusir Romeo Torpedo ngacir seperti debu, Fahmi meneruskan acara minumnya. Padahal biasanya ia tak pernah minum-minum lagi sejak terakhir kali. Ia sedang ingin menghilangkan penyakit yang tiba-tiba mengisi kepalanya siang dan malam. Beberapa wanita berpakaian ketat dengan belahan d**a rendah mendekat dan mencoba menggodanya. Fahmi mengusir mereka seperti lalat. Ia sedang tak ingin berurusan dengan makhluk sejenis mereka. Dengan sedikit kesadaran, ia memilih pulang saja daripada berlama-lama membuatnya semakin tak terkendali. Bukan ini yang ia inginkan. Mungkin, ia membutuhkan ketenangan untuk berpikir? Fahmi menghidupkan mobil, melajukannya dengan kecepatan sedang. Saat-saat lampu merah menjadi momen paling menjengkelkan. Ia menekan klakson untuk meringankan. Para pengendara lain mungkin. akan merasa terganggu dengan aksinya. Menekan beberapa kali, tetapi masih saja rasa kebas itu ada. “Bos harus tegas memutuskan. Kasihan perempuan itu, jika masih terikat sama Pak Bos.” Perkataan Romeo Torpedo kembali menghantuinya. Dia menepuk keras setir mobilnya. Tangannya merangsek barang-barang di dashboard. Dia butuh minum sekarang juga. Tangan Fahmi bergetar, dia bertingkah seperti seorang candu yang tengah sakau, tetapi masalahnya benda itu tidak semabukkan obat-obatan atau minum, tetapi justru lebih berbahaya dibandingkan keduanya. Fahmi menemukan botol anggurnya, dia membuka dan meminum cepat. “Terima kasih. Karena sudah membuatku menjadi cinderella dalam sehari. Berpakaian bagus, makan makanan enak, masuk ke rumah megah bak istana, bahkan bergandengan tangan dengan pangeran seprti kamu.” "s**t!" Fahmi menggeleng untuk mengenyahkan perkataan itu. Dia menegak minumannya seolah meminum air tawar. “Kamu mungkin tidak salah. Karena tempatku bukan di sini. Sampai kapanpun aku tak akan bisa bersanding dengan orang seperti kamu. Aku… hanya salah satu mainan yang sudah kamu buang.” Semua sudah berakhir. Seharusnya benar-benar berakhir. Fahmi mengusap wajah dengan kasar. Menghela napas yang mendadak menyesakkan. Botol di tangannya dia keluarkan lewat jendela samping, jatuh, pecah berserakan di aspal. Dia sadar tengah mabuk dan kepalanya mendadak sangat pening. “s**t!” Kepalanya tak mau berhenti mengingat. Ia menginjak pedal gas lebih kuat. Semakin ingatan itu timbul semakin dalam ia menekan. Malam dan jalan lenggang seolah bersekongkol meloloskannya. Perbuatannya berakhir dengan menyerempet seorang kakek tua di jalan sepi. “Hei, Pak tua! Kalau nyebrang liat-liat dong!” Dengan tertatih kakek tua itu bangkit. Fahmi tak menunjukkan iktikad baik untuk sekedar membantu. Kakek tua geram bukan main, wajahnya merah padam karena kelakuan immoril dan perkataan kurang ajar anak muda di hadapannya. “Kamu yang menabrak saya, kenapa kamu marah-marah!” “Pake nyolot lagi. Minggir dari jalan! Untung lu orang miskin, kalau gak udah gue minta ganti rugi. Ngotorin mobil aja!” Fahmi membersihkan depan mobilnya yang bahkan tidak bernoda. “Tunggu! Kaki saya berdarah. Tolong paling tidak antarkan saya ke rumah.” Tawa Fahmi menggelegar, bersahutan dengan bunyi guntur menyambar. Angin berembus, menggoyangkan selapis baju tipis si tua renta yang kakinya terluka. Fahmi tak peduli. Untuk apa pula dia peduli? Apa dengan kepedulian dia bisa mendapat uang? Dia sangat alergi dengan orang miskin saat ini. “Lu kira lu siapa? Presiden? Minggir, Pak Tua!” Ia mendorong pria itu ke pinggir jalan. Masuk ke mobilnya berniat meninggalkan pria itu tanpa berbalik. Sialan! sekarang pikirannya benar-benar ompong, dadanya terasa sakit dan di akesulitan bernapas. Ketika hendak menepi dan menenangkan diri, Fahmi tersentak secara tiba-tiba. Mobilnya memang berjarak belum terlalu jauh dari pemberhentiannya tadi. Dia kebingungan mengatur setir, mobilnya bergerak tak terkendali. Fahmi menjerit, mengguncang pintu mobil agar terbuka. Dia harus keluar sekarang atau semua akan terlambat. Tubuhnya berguncang hebat. Mobil itu melaju cepat hingga melompat memasuki jurang. Dengung lengkingan marah mengiris gendang telinganya. Cahaya putih merambat memenuhi matanya. Tangannya terulur menghalau sinar. Sesaat kemudian dia terlempar, seketika kesadarannya tercerabut. *** Fahmi terbangun dalam kebingungan. Romeo bernapas lega meski beberapa kali harus mengucek mata untuk meyakinkan apa yang dilihatnya. "Kenapa saya di sini?" "Anu, Pak Bos. Itu anu---" Fahmi memberi isyarat, Romeo langsung menutup mulutnya. Dia bangkit hendak menuntaskan hajatnya untuk buang air kecil. Kedua dokter berbisik akan pamit, hendak kabur, sebelum Fahmi menjerit dan menuntut mereka. Meski kenyataannya mereka tak melakukan apa pun. Belum lewat tiga detik, Raungan Fahmi merobek kesenyapan malam. Ditatapnya wajah buruk rupa yang tak lagi dia kenali. Ini dirinya. Fahmi meninju kaca hingga tangannya berdarah. Hanya satu hal yang dia ketahui dengan pasti. "Sial!" ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN