“Sejak kapan saya berubah begini?”
“Keajaiban, Bos. Anda selamat dari jurang itu adalah hal yang patut disyukuri.”
“Kamu bersyukur wajah saya menjadi begini?”
“Ya enggak begitu juga ceritanya.”
“Bah! Cepet carikan saya dkter, dukun atau apa. Kenapa tiba-tiba saya bisa berubah? Emang saya Power Rangers.”
“Kayaknya sih bukan Power Rangers, Bos. Anda lebih mirip Beast.”
“Romeo!”
“Ya maap, habisnya Bos bawa-bawa PR, jiwa kewibuan saya bangkit.”
“Pertama-tama, kita cari tahu penyakit macam apa ini.”
“Saya rasa ini kutukan penyihir, Bos.”
“Seriuslah.”
“Saya serius Bos. Dan menurut cerita Beauty and the Beast, cara untuk melepas kutukan yakni dengan mencium seorang yang tulus mencintainya. Ini mungkin ada kaitannya dengan pernikahan-pernikahan Anda. Pasti salah satu dari mantan istri Anda yang mengirimnya.”
“Kalau saya dikutuk, terus kenapa kamu enggak berubah juga?”
“Soalnya saya udah Beast, Bos. Mau seburuk rupa gimana lagi coba.”
“Kali aja kamu jadi p****t panci.”
“Lebih penting lagi, apa Bos enggak ingat sama sekali dengan kejadian tabrakan?”
Benar juga, saat itu mendadak dia kehilangan kendali mobilnya, rasa mabuknya juga sudah hilang, beruntung dia tidak perlu mengeluarkan makan siangnya.
“Sudah berapa lama saya tidur?”
“Enam jam, Bos.”
Fahmi jadi ingat dia menyerempet seseorang. “Eh, kakek itu! Romeo cari tahu tentang kakek di pinggir jalan yang terluka.”
“Apa huungannya, Bos?”
“Dia mungkin tahu apa yang terjadi. Ini karena saya nyerempet dia, jadi mungkin kakek itu marah. Seasurd apapun itu kita harus cari tahu ke man perginya kakek itu.”
“Ciri-cirinya gimana, Bos?”
“Dia pake baju putih, sorban dililit di leher kotak-kotak, turban di kepalanya, dan dia jalan pake tongkat.”
“Waduh, gawat. Itu citranya orang alim, Bos. Mungkin dia itu pendakwah yang doanya mustajab. Bos harus segera minta maaf.”
“Mana ada orang alim ngutuk-ngutuk. Paling dia itu dukun yang kirim santet.”
“Udah Bos taubat aja. Agian kenapa enggak dibantu coba. Kalau Bos bantu kan ceritanya enggak jadi begini.”
“Saya lagi mabuk dan enggak berpikir jernih.”
“Intinya, jangan mabuk-mabukan, entar dikutuk jadi Beast.”
“Saya coba cari rangnya kayak apa lewat blackboard mobil.”
“Black box maksudnya?”
“Nah itu. Sekarang mending Bos tidur, siapa tahu orang itu datang dalem mimpi.”
Setidak masuk akal pun akan dia ikuti. Jadi, Fahmi menuruti Romeo tidur dan berharap sebuah ihlam akan turun.
Benar saja, dia bermimpi tentang kakek itu.
“Suatu saat kamu akan berlajar cara menghargai orang lain.”
Sambil berucap itu, kakek memalingkan badan dan pergi. Semakin keci dan kecil. Lalu, tiba-tiba pria itu berada di sampingnya.
“Apa yang terjadi padamu adalah balasan dari perbuatanmu sendiri. Bersyukurlah kamu dihukum hanya di dunia.”
“Apa maksudnya ini?! Tolong kembalikan saya seperti semula. Saya mhon. Ada banyak hal yang sudah say akorbankan demi mencapai tujuan. Jika saya dihentikan di sini, saya tidak punya apapun lagi.”
“Tidak sebelum kamu belajar, Anak Muda. Kamu harus belajar memprioritasakan sesuatu yang berharga dan menghormati orang lain.”
“Tidak tidak, saya tidak mau seperti ini. Kembalikan saya, Pak Tua!”
“Jangan buang waktu dengan pergi ke dokter, dukun, atau orang pintar. Kutukan itu hanya akan hilang saat kamu menemukan seseorang yang berharga dan menghargai momen kamu bersamanya. Waktu kamu hanya dua bulan. Ulat-ulat dalam tubuh kamu akan mulai menggergoti jiwa kamu, dan kamu akan meninggal seketika.”
“Apa?! Tidak tidak. Tolonglah saya minta maaf. Saya berjanji tidak akan mengulanginya. Tolong cabut kutukan ini.”
“Kutukan ini bukan berasal dari saya. Ini hukuman langit dari orang-orang sudah kamu sakiti. Jika kemudian kamu mengerti kata maaf yang tulus, kamu pasti akan menemukan jawabannya. Pertama yang haru skamu lakukan adalah mengatakan jujur kepada semua orang yang telah kamu sakiti.”
Percakapan terhenti dan pria tua itu menghilang.
Fahmi bangun gelagapan seperti orang yang tenggelam. Romeo berada di sampingnya, menatap ponsel dengan serius.
“Bos sudah bangun. Gimana? Ada petunjuk? Kalau dilihat dari cara bangunnya tadi sih kabar buruk.”
“Ini lebih dari kabar buruk Romeo!”
“Eh, gimana, Bos?”
Fahmi amat panik sampai tidak bisa berpikir lagi. “Lakukan cara apapun untuk mengembalikan saya.”
***
Ini sudah dokter kelima yang mereka datangkan dari jauh, termasuk tiga orang di antaranya spesialis dermatologi. Dan hasilnya tidak satu pun tahu apa penyakit yang dideritanya maupun cara mengobatinya.
“Kejadian ini merupakan kejadian langka dan membutuhkan uji coba.”
Dari sebagiannya tertarik untuk menjadikannya kelinci percobaan. Fahmi mengusir semuanya sambil mengancam akan mengakhiri karir mereka apabila sampai buka mulut atau gosip tersebar.
“Bos, urusan kantor akan saya bawakan, tapi memang ada beberapa inestor yang minta bertemu langsung. Apa saya harus menyamar jadi Anda? Kemampuan saya bisa menipu mata orang hebat sekalipun. Romeo super ninja on.”
“Mustahil. Memang kamu mata-mata? Lah, badan kamu nambah tinggi berapa sejak terakhir kali, huh?
“Enggak akan tahu kalau belum dicoba kan?”
“Menyerahkan sama kamu itu bahaya, dan lebih bahaya ngebiarkan kamu berbuat seenaknya.”
“Jadi, gimana?”
Fahmi tidak menyangka dirinya akan mengikuti saran Rmeo untuk menyewa seorang agent yang akan berpura-pura menjadi dirinya sementara. Keputusan akan dibuat olehnya sendiri.
Fahmi memberikan foto trbaru dirinya sebagai referensi penyamaran. Dengan kamera dan komunikasi jarak jauh dia menuntun sang agen berbincang dengan para investor. Sejauh ini masih berhasil dengan gemilang.
“Anda yakin ini tidak apa-apa, Bos. Saya pikir sebaiknya os segera mengambil cuti dan menyerahkannya pada Tristan.”
Tristan adalah Wadirut yang dipilih langsung olehnya. Dia mengakui kemampuan Tristan dibanding rang lain. Tidak ada salahnya jika dia mencoba peruntungan untuk menyerahkannya keputusan pada Tristan.
Lagi-lagi dia menuruti saran Romeo. Melihat keadaannya saat ini, lebih baik fokus menyembuhkan.
Tiga orang keluar dari kediaman Fahmi. Semua dukun dan rang pintar yang dipanggilnya menyerah dan menganggap penyakit Fahmi akan sulit disembuhkan.
Dilihatnya cermin yang memantulkan figur dirinya. Fahmi yang ketampanannya digandrungi semua kalangan, wanita mampu dibuatnya bertekuk lutut hanya dengan satu senyumnya, sekarang wajah itu bersembunyi di balik kantung yas bahan belluci dengan dua bolongan mata seperti hantu jadi-jadian. Seluruh tubuhnya terasa sakit, urat-uratnya menonjol karena ulat-ulat yang terus bergerak menggerogotinya dari dalam.
“Waktu itu Anda bermimpi bagaimana? Apa tidak ada petunjuk seama dua minggu ini?”
“Entahlah. Dia cuma bilang kalau--”
Suara bel yang ditekan mengabarkan keduanya kedatangan seorang Kyai Badur yang terkenal dengan penyembuhan alternatif.
“Siapa yang kamu panggil ini?”
“Ini Kyai Badur, Bos. Silahkan Pak Kyai dimulai saja.”
Pria itu mmebuka senuah tas berisi minyak dan entah apa. Dia muai memegang tangan Fahmi, mengoleskan minyak dan seperti tersetrum Kyai Badur kejang-kejang.
“Pak Kyai!.”
Sulit melepaskan tangan pria itu dari Fahmi.
“Bukankah sudah kukatakan apa yang kamu lakukan akan percuma. Kamu tidak akan mendapatkan kesembuhan hanya dengan mengamnda sesuatu dari dalam. Jawabannya terletak di d**a kamu sendiri.”
Fahmi ketakutan mendengar suara orang itu berubah menjadi kakek berbaju putih yang ditabraknya tempo hari. “Romeo cepat lakukan sesuatu!”
“Gawat! Pak Kyai kesurupan.” Romeo yang kebingungan mengambil seember air dan menyiramkannya berikut Fahmi. Namun, tangan Kyai Badur justru semakin mengerat. “Camkan ini, Anak Muda. Kalau kamu tidak juga berubah, masa menunggu kamu akan segera habis. Semakin banyak kamu melakukan kesalahan, semakin banyak jiwa kamu akan hilang.”
Fahmi mendorong Kyai Badur hingga terjatuh, kepalanya membentur pinggiran sofa dan pingsan. Romeo bertugas memeriksa keadaannya. “Sepertinya masih hidup, Bos.”
Fahmi menyuruh Romeo membaringkannya di kamar tamu.
“Jadi yang tadi itu Kakek yang Bos ceritakan? Dia pasti ingin menyampaikan sesuatu.”
Masa bodoh dengan kakek, dia sungguh ketakutan tadi, Fahmi jarang merasakan perasaan seintens ini, menyebalkan dan menguras tenaga.
“Dia bilang kaau jawabannya ada di diri Bos, maksudnya bagaimana?”
“Dia bilang kalau penyakit ini bisa disembuhkan kalau saya harus belajar memprioritasakan sesuatu yang berharga dan menghormati orang lain. Kutukan ini berasal dari orang-orang yang sudah saya sakiti. ‘Jika kemudian kamu mengerti kata maaf yang tulus, kamu pasti akan menemukan jawabannya. Pertama yang harus kamu lakukan adalah mengatakan jujur kepada semua orang yang telah kamu sakiti.’ Apa maksudnya? Saya tidak percaya mimpi, dan saya merasa itu cuma mengada-ada.”
“Dari pembicaraan itu, ada kemungkinan kalau kutukan itu dibawa salah satu istri Anda, Bos.”
“Maksud kamu ini terjadi karena saya pernah mempermainkan mereka?”
“Ya, Bos. Bagaimana kalau kita coba saran dari Pak Tua. Kita juga harus mencari kakek yang Bos tabrak.”
Fahmi merasa enggan, tetapi juga tak punya pilihan. Dia tidak bisa terus berada ditubuh jelek yang bahkan tidak bisa digores dengan benda tajam ini selamanya.
***