***
Tangan Fahmi mencari-cari tombol mati padan jam weker di samping nakas. Ia perlu duduk sekejap sembari merenggangkan badan. Lelah menumpuk sejak dia tiba kembali ke kota dua hari lalu, tetapi yang membuatnya lesu adalah karena mimpinya. Dua hari dua malam dia bermimpi sama, rasanya aneh karena dia bisa mengingatnya dengan jelas, padahal dia tidak pernah menganggap mimpinya.
Fahmi berjalan menuju arah jendela dan membukanya, udara mengalir lembut dan segar. Ini pagi teristimewa, pagi kebebasan, setelah beberapa bulan ini, dia bahkan tak memiliki waktu bersantai sendirian. Tidak ada yang boleh merusak harinya, tidak juga mimpi bodoh yang dialaminya. Tadi dia sudah bangun terlalu pagi, mungkin terbawa kebiasaannya selama beberapa bulan ini. Saat tersadar dia tak perlu pura-pura lagi menjadi petani, Fahmi memutuskan untuk tidur kembali.
Udara yang dia hirup memang berbeda. Apa yang dilihatnya hanya pemandangan sawah. Pemandangan sibuk dan asap kendaraan yang mengepul malah menjadi salah satu kerinduan baginya. Sekarang dia telah kembali ke rumahnya yang besar dan nyaman, tanpa ada yang memaksanya bangun pagi untuk shalat dan bekerja keras.
Dering pnsel mengalihkan tatapan tenang Fahmi. Siapa lagi yang menelponnya sepagi ini selain asisten boncelnya Romeo Terpedo.
“Bos, gawat sekali!”
“Jangan berteriak! Saya bisa denger.”
“Mantan istri Anda yang ke tujuh ada di sini.”
“Usir saja dia.”
“Tapi, Bos, dia tidak mau pergi sebelum bertemu Anda.”
“Lakukan, bagaimanapun caranya.”
“Bos--”
Fahmi mematikan sambungan. Wanita-wanita itu tiada henti mengejarnya. Padahal sudah dengan jelas dia menipu mereka, masih saja mereka terus berdatangan seperti kutu rambut.
Sesungguhnya dia tidak pernah menganggap rendah wanita. Namun, setelah mengenalnya, nyatanya mereka amat rendah, tidak seperti ibunya. Meskipun karena itu juga terciptanya lelaki b******n seperti dirinya. Mudah sekali memanfaatkannya untuk keuntungan bisnis Fahmi. Jadi, sekalipun mereka berpisah dari putri-putri konglomerat manja itu, dia tidak merugi.
Tiba-tiba saja dia jadi terpikir. Wanita-wanita itu sangat berbeda dengan si perempuan desa. Apa jadinya setelah dia meninggalkan Humaira.
“Ah, untuk apa memikirkan Si Udik, paling juga dia minta Rayhan jadi sandaran.”
Biar begitu, sedikit menganggunya. Humaira dalam pelukan Rayhan. “Terserah. Ok, saatnya kembali bekerja.”
***
Untuk
Istriku. Humaira.
Maaf Abang baru bisa membuat surat hari ini. Abang sudah banyak berbohong selama ini.
Hari itu sekelompok debt collector datang menghampiri Abang. Mereka penagih hutang orangtuaku. Abang tidak menyangka mereka bisa menemukan tempat ini. Mereka menyuruh Abang melunasi hutang-hutang dan memaksa Abang untuk bekerja bersama mereka.
Maaf Humaira, Abang tidak bisa berada di sisimu saat ini. Tapi nanti, pasti Abang akan kembali. Itu pun jika kamu masih mengharapkanku. Maafkan keegoisanku. Tolong jangan menungguku. Abang ikhlas karena Ira berhak untuk bahagia bersama pria lain.
Ps: Surat ini jangan dibalas, karena alamatnya bukan alamat asli. Abang akan selalu merindukanmu.
Dari
Suamimu, Fahmi
Humaira melipat kembali surat yang diterimanya pagi tadi . Surat yang mengisyaratkan ke mana perginya Fahmi sejak dari dua hari lalu. Tepat setelah mereka saling terbuka.
Air mata bercucuran sejak di amembaca pertama kali. Ibunya datang mengkhawatirkan keadaannya. Dia kembali sekali lagi ditinggalkan seorang yang berharga.
Fahmi. Berulang kali dia menyebut namanya. Percuma. Suaranya tidak dapat menjangkau Fahmi.
***
“Ira, makan, Nduk. Mau sampai kapan kamu melihat surat itu.”
“Ira ndak lapar, Ummi.”
“Kamu sudah dari pagi ndak makan. Nanti kamu sakit.”
Humaira terdiam, air matanya luruh. “Kasihan abang Fahmi, dia pasti harus kerja keras. Apa dia sudah makan? Apa dia cukup istirahat?”
“Sudah berhenti mengkhawatirkan orang yang pergi. Dia tidak memikirkan kamu. Awas saja kalau dia kembali. Ummi enggak akan sudi memafkan dia.”
“Ummi jangan marah egritu nanti Abang Fahmi enggak mau balik.”
“Biar saja. Masih banyak laki-laki lain, Ira. Kamu jangan mau dibodohi.”
Rahma marah tentu saja karena pria itu dengan tega meninggakan anaknya di saat pernikahan yang baru sebulan dijalani. Tanpa pernah diduga keluarga Fahmi memiliki hutang menumpuk. Terlebih Udin, pamannya juga dikatakan lari. Anaknya yang malang. Setelah tiga puluh tahun, pernikahannya tidak bisa bertahan. Rahma memandang sendu anaknya, mengusap air mata di pipinya.
“Kalau begitu Ira juga harus makan. Bagaimana kamu akan menyambut suami kamu nanti kalau istrinya tiba-tiba jadi kurus karena kurang makan.”
Humaira sadar apa yang diucapkan ibunya hanya untuk menenangkannya. “Iya, Ummi. Abang sedang berjuang sekarang. Ira juga harus bersabar.”
Rahma yakin sedikit demi sedikit Humaira pasti bisa melupakan, dan pada saatnya tiba, dia akan mencarikan pengganti yang lebih setia dan tidak punya hutang.
***
Farah jadi sering mengunjungi Humaira. Mereka memang bertemu di klinik, tetapi intensitas pertemuan mereka jadi bertambah. Apalagi sejak mengandung, Farah terlihat lebih bersemangat dari biasanya.
“Far, apa enggak masalah sama Bang Rayhan?”
“Ngomong apa toh, dia malah seneng aku sering ke sini, enggak ada yang gangguin. Hihihi.”
“Loh, gangguin gimana?”
“Semenjak hamil aku jadi sering labil dan ngelampiasin ke Mas Rayhan. Sebisa mungkin kuhindari lah.”
“Begitu toh.”
Pasti menyenangkan bisa mengganggu suami seperti Farah. Dia penasaran bagaimana kalau dia hamil nanti, apa Fahmi akan terganggu juga seperti Rayhan. Pembicaraan Farah memunculkan kembali rasa sedih yang tak tertahankan.
“Kamu baik-baik aja, Ira?”
“Aku baik-baik aja. Enggak usah khawatir aku sudah cukup dewasa untuk menerima.”
Farah mengelus punggungnya, bermaksud memberi kekuatan. “Mau ikut ke rumah? Ummik juga pasti sudah rindu.”
Keduanya pun berjalan untuk sampai ke rumah Rayhan. Farah sengaja mampir membeli beberapa camilan dan kebutuhan, dia meminta Humaira menunggunya.
“Itu Humaira anaknya Bu Rahma, kan? Denger-denger suaminya lari.”
“Katanya sih terlilit hutang.”
“Jangan-jangan kawin lari sama perempuan yang lebih kaya.”
“Makanya bu-ibu kalau cari mantu buat anak gadis itu yang jelas bibit bobotnya. Jangan sampai anak kita malah jadi janda gara-gara salah pilih.”
Kicauan ibu-ibu yang entah mengetahui kalau suara mereka terlalu keras didengar empunya atau tidak sangat melukai perasaannya. Ibunya pasti kecewa jika mendengarnya. Tidak. Ibunya tidak salah memilih, pun dirinya. Fahmi sedang berjuang demi keluarga, dia orang yang bertanggung jawab. Hanya dengan keyakinan itulah dia bisa bertahan menghadapi bisik-bisik tetangga.
Humaira menggamit lengan Farah dan pergi dari sana secepatnya. “Kenapa Ira? Kamu digangguin? Dasar ibu-ibu itu.”
“Sudahlah, Far. Aku enggak peduli kata orang lain.”
“Kamu sabar banget Ira.”
“Ayo kita ketemu Amma Nissa, aku juga kangen.”
Sesampainya, keduanya dikejutkan dengan tangisan mertua Farah.
“Ummi. Ummi ada apa?”
Amma Nissa bercerita sambil sesenggukan bahwa saudari yang berada di Bali telah meninggal dunia.