Chapter XXXIV

1027 Kata
Peri yang cantik. Tubuhnya berkilau seumpama mutiara, indah. Rasanya enak di pandang, sangat sulit mengalihkan perhatiannya. Bahu putih yang tersingkap, wajah tidur yang tenang, bibirnya merekah merah muda. Fahmi berhenti berpikir sejenak, sebelum kesadaran menghantamnya dengan telak, bahwa apa yang dilihatnya itu, peri itu adalah seorang gadis yang beberapa jam lalu masih gadis dan merupakan seseorang yang dijanjikannya beberapa bulan lalu, tak akan pernah dia….. Hampir-hampir dia berteriak seperti wanita yang menjadi korban, padahal dia pelakunya. Tidak mungkin. Ini tidak mungkin. Apa yang sudah dia lakukan? Tak peduli berapa kali pun dia memukuli kepalanya Fahmi sudah melakukan kesalahan yang tak dapat dikembalikan. “Bodoh! Apa yang kulakukan sih?” Fahmi sedikit berjengit melihat gerak-gerik tubuh indah yang membuatnya lagi-lagi terpana untuk sekejap. Segera dia palingkan wajah, tidak mungkin dia akan terpedaya untuk kedua kalinya. Mata lentik itu perlahan terbuka, pemandangan Fahmi yang sedikit tercengang di sampingnya mengorbitkan senyum malu-malu tanpa bisa dicegah. Dia ingat apa yang terjadi semalam. Mereka mungkin terlalu mabuk bahkan untuk sesaat memikirkan masa depan atau cinta yang sesungguhnya. Humaira tidak mengenali perasaan apa yang dia miliki untuk Fahmi, tetapi setiap saat yang mereka habiskan malam tadi membuatnya percaya bahwa dia mungkin telah mencintai Fahmi, mungkin selama ini dia tak menyadari bahwa dia terpikat pada pria yang kerap kikuk saat berdekatan dengan wanita. Fahmi perlu mengusap wajahnya berulang kali, meyakinkan bahwa ini nyata. Dia pasti mabuk kan? Tapi perasaan lega, genggaman lembut surai Humaira dia tangannya, juga senyuman yang wanita ini perlihatkan seolah merenggut napasnya. Melihat itu wajar saja dia kehilangan kendali. Humaira yang tanpa sadar memancing insting kelakiannya. Mengapa harus Humaira yang bahkan tak masuk standar tipe kesukaannya? Fahmi masih bingung dengan keadaan tidak masuk akal ini. Dia tersihir saat suara yang sebenarnya imut itu terdengar menggoda di telinganya. “Bang Fahmi kenapa?” Saat dilihatnya, Humaira sudah mengenakan pakaian atasnya. Namun, dorongan hina itu kembali memenuhi kepalanya saat wanita itu kembali menyentuhnya. Fahmi bergeming, sekuat tenaga dia menahan hasrat untuk tidak mendekat, tetapi Humaira memangkas jarak dan Fahmi akan kalah jika dia mundur dan terlihat takut menghadapinya. “E-enggak apa-apa. Kamu tidur aja lagi.” Humaira mengatakan akan pergi ke kamar mandi yang justru menebarkan pasir kotor ke dalam kepalanya. Humaira mencium pipinya sekilas sebelum beranjak. Pergerakan tak terduga itu justru menyulut api yang telah padam. Fahmi tak menyadari karena spontan terpicu hawa nafsunya sendiri, bahwa dia mengulangi kesalahan yang sama dua kali. Desis suara di balik jendela meminta Fahmi segera keluar, mereka akan menjalankan rencana yang telah disusun selama berbulan-bulan ini. Operasi kabur dari jeratan Gadis Cinderella Ndeso. Sebelumnya operasi ini sempat gagal karena kapal yang akan mereka naiki tidak datang. Kapal itu memang hanya beroperasi setiapa dua minggu sekali, yang sudah menjadi ketentuan masyarakat desa ini. Seharusnya mereka memilih jemputan kapa lain, tetapi Romeo sempat mengorek informasi bahwa masyarakat skeptis dengan adanya kapal lain selain kapal reguler, bisa-bisa justru menarik perhatian. Sulit mencari jalan keluar. Fahmi akhirnya harus merelakan untuk tetap di sana selama dua minggu ini. Romeo sebenarnya agak prihatin dengan keadaan bosnya saat ini. Bosnya juga tidak ingin diganggu selama masa penyamaran. Biar begitu, ia yakin Humaira adalah gadis baik dan mempercayakan Fahmi, keputusannya sudah tepat. Romeo berjaga, tetapi tidak ada tanda-tanda Fahmi muncul dari jendela. Romeo nekat menyusup ke pagar untuk sampai di samping rumah pada jam tiga pagi ini untuk mengkonfirmasi keberangkatan mereka. Tak seberapa lama, Fahmi memunculkan dirinya dari jendela. Romeo melihat keadaan Fahmi yang cukup berantakan, Romeo mengendus aroma manis yang tak biasa dari bosnya itu. Bola mata Romeo melebar saat mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Jangan-jangan…. “Bos, Anda--” “Ssst, diam dulu. Jadi jam berapa kapalnya datang?” “Itu… jam tujuh pagi, Bos. Tapi Bos--” “Diam. Sekarang kamu pergi dulu, nanti akan saya temui setelah Shubuh.” “Bos, Anda, jangan-jangan?” Fahmi menutup tirai dan menggantung pertanyaan Romeo di udara. Tidak diragukan lagi. Aroma itu, Romeo cengengesan. Benar-benar si Fahmi sudah tumbuh dewasa. Lagi-lagi ia bertingkah seperti bapaknya, padahal usia mereka hanya terpaut tiga tahun dari usianya. Romeo bersiul tanpa sadar, kemudian berhenti dan memukuli bibirnya, sadar di mana ia berada saat ini. Entah bagaimana ini akan membawa perubahan di hidup Fahmi ke depannya. *** Romeo merasa benar-benar harus berbicara serius mengenai apa yang terjadi. Wajah serius Romeo tentu saja menggelikan saat Fahmi berhasil tiba dengan selamat tanpa dibuntuti. “Tidak ada yang membuntuti?” “Aman, Bos.” “Bagus. Ayo naik ke kapal. Apalagi yang kamu tunggu?” “Sebenarnya, Bos saya berpikir untuk tetap tinggal bersama gadis itu? Eh, maaf maksudnya wanita itu.” Raut Fahmi seketika berubah kejut. “Untuk apa? Kita sudah tidak membutuhkannya lagi.” “Tapi… apa tidak keterlaluan? Anda sudah melanggar janji Anda sendiri, Bos.” “Apa yang kamu katakan? Kami hanya tidur seperti biasa.” Romeo tahu Fahmi berbohong karena saat ini, pria itu memalingkan pandangannya. Romeo bersikeras. “Meskipun saya b**o begini, tapi saya ini pernah nikah meski cuma sebentar. Jadi, saya tahu kalau si Bos sudah tembus.” Fahmi tidak pernah tahu rahasia Romeo yang itu. Ia tak memperpanjang juga tidak membantah. “Saya bingung harus sedih buat perempuan itu atau senang karena Bos Fahmi udah buka segel.” Fahmi segera menutup mulut ember Romeo, malu mengumpul tanpa sempat dia cegah. Sialan si Romeo! Itu mungkin benar tapi kan Romeo tidak harus membesarkannya begini. “Sekali lagi kamu buka congor, saya tenggelamkan kamu di laut, biar hiu yang makan kamu.” “Yaelah, ampun, Bos. Saya kan cuma menyarankan. Soalnya Bos keliatan lebih hidup setelah ketemu sama dia.” “Ro-me-o! Perlu saya ulangi?” “Ok, ok, saya nyerah.” Fahmi baru melepaskannya. “Tapi ya dipikirkan dulu-- Ah, ok, ok, saya pergi.” Berhadapan dengan bibir lincah seperti Romeo memang membutuhkan stok kesabaran ekstra. Meskipun begitu begitu, Romeo adalah teman terbaiknya. Memikirkanya kembali. Apa maksudnya dia jadi lebih hidup. Semua yang dia lakukan kepad Humaira, tidak lebih dari bermain-bermain. Semua hanya karena dia tidak ingin kalah d******i dari perebutannya dengan Rayhan kutu kupret. Sekarang dia akan menuju pada kebebasannya yang dulu. Tanpa perlu hidup miskin dan tanpa Humaira. Ya tanpa gadis desa udik yang sudah mengekangnya dengan pernikahan bodoh. Dia bebas, pikirnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN