Saat dia terbangun, dia sudah ada di ranjang, menggeliat hangat dalam dekapan selimut nyaman. Humaira merasakan sedikit kaku di tengkuk dan tangannya, seingatnya dia tertidur di kursi. Lantas siapa yang memindahkannya?
Tak perlu dipertanyakan, sudah pasti suaminya karena hanya ada mereka berdua di rumah. Humaira meradar sekitar, tetapi Fahmi tak dia temukan di sudut mana pun. Dia tebak, pria itu pasti amat marah karena kelakuannya kemarin. Tidak ada cara lain selain meminta maaf secepatnya.
Dia sudah merasakan keanehan Fahmi semenjak awal pernikahan. Apa dia terlalu bodoh untuk memahami keinginan Fahmi?
Bagaimana pun Fahmi adalah seorang pria dewasa. Dia sudah terlalu egois menekan Fahmi dengan permintaan tidak masuk akal. Mungkin di aharus lebih sadar diri, seperti bertingkah cantik dan menjadi istri yang seutuhnya. Humaira tidak yakin. Ya, tidak ada yang tahu sebelum dicoba.
Humaira pergi ke rumah Udin menanyakan makanan kesukaan Fahmi. Udin menyebutkan Rissoto Parmesan Grana Padano dan Lemon and mint Chicken Breast with Spice.
“Apa itu?” Udin hanya tertawa mendengar tanggapannya.
“Tidak perlu risau, dia pasti akan makan apa saja yang Mbak Humaira masakkan. Dia jarang makan masakan rumah, jadi dia pasti senang.”
“Betul, Paman?”
“Dijamin. Kapan-kapan ajak saya juga ya.”
“Sebenarnya Abang keliatan agak marah, jadi Ira mau minta maaf.”
“Masalah dalam rumah tangga itu biasa. Asal berkomunikasi juga nanati selesai dengan sendirinya.”
“Iya. Terima kasih, Paman.”
“Hati-hati di jalan.”
Sekembalinya, banyak waktu yang dihabiskannya membersihkan rumah dan memasak makanan enak. Humaira sampai memasak ayam panggang madu menggunakan tungku dengan resep warisan neneknya.
Setelahnya dia membuka karton berisi perlengkapan make up-nya. Seusia ini Humaira belum juga mahir menggunakan kosmetik, dia hanya mengoles gincu dan bedak setahunya. Sekarang masalahnya pada baju. Humaira bergidik dengan pikiran kotornya. Apa dia benar-benar akan melakukan hal itu. Pada akhrinya dia memutuskan menggunakan pakaian yang biasa dia kenakan.
Fahmi datang di malam hari. Sejak tadi ternata dia berada di tempat Romeo. Dia juga mendengar penuturan Humaira yang ingin memasak masakan kesukaannya. Dalam diam Fahmi tersenyum, kailnya bersambut.
“Bos, lagi ada masalah sama gadis itu?”
“Bukan masalah besar.”
“Mulai tengkar-tengkar, lama-lama mirip pasangan beneran.”
“Apaan. Sudah kamu kerjain belum tuh. Kapan kita bisa berangkat?”
“Kemungkinan besok jam enam, Bos.”
“Besok Shubuh kita berangkat.”
Fahmi kemudian kembali ke rumahnya. Hari sudah gelap dan Humaira benar-benar menyambutnya dengan senyum. Dia tertegun, dalam sekejap merasa tempatna berpijak seketika runtuh. Dia tidak pernah tahu efek senyum Humaira akan sedahsyat ini.
“K-kamu belum tidur?” pertanyaan yang terbesit pertama kali setelah mendapat kesadarannya kembali.
“Aku… aku minta maaf. Ira sadar kalau sudah berbuat yang tidak-tidak. Maaf karena tidak bisa mengerti perasaan Abang.”
“Ah, itu, bukan masalah. Mmm, aku lapar.”
Mendengar tanggapan Fahmi, keceriaan kembali dari suara Humaira. “Ira sudah siapin makan. Karena Ira enggak tahu masakan kesukaan Abang, Ira masak banyak.”
Humaira tak melepaskan matanya dari Fahmi yang makan dengan lahap. Sebenarnya tatapan itu amat mengganggu Fahmi. Dia tidak akan kalah dari Humaira, jadi dia balas menatap. Fahmi salah tingkah mengetahui tindakannya justru membuat gadis itu tersipu-sipu.
Humaira dengan senyum lucu dan pipi memerah memunculkan appealing yang selama ini tak terlihat. Perutnya langsung mulas.
“Abang, ada yang Ira mau omongkan.”
“Ya?”
“Aku berterima kasih Abang selama ini sudah berusaha menjaga perasaanku. Dan maafkan Ira yang tidak mengerti kesulitan Abang selama ini. Tapi sekarang Ira akan berusaha menjadi istri yang seutuhnya. Dan… dan… kalau ada yang Abang perlukan dariku, tidak perlu ragu, Ira pasti dengan sekuat hati akan melaksanakannya.”
Betapa damainya mendengar perkataan Humaira. Dia pasti akan menjadi istri yang baik di masa depan. Dan mungkin suaminya akan selalu senang dengan tingkah menggemaskannya. Walau kekanakan dan tidak mudah dimengerti, Humaira juga bisa peka pada waktunya. Apa dia berhasil membuat Humaira takluk? Itu menandakan kemenangannya melawan Rayhan. Dia tidak menyangka akan semudah ini.
Fahmi memberinya senyum kelegaan. “Saya akan berusaha tidak merepotkan kamu.” dan Humaira membalas dengan senyum terlebar.
Apa yang dia katakan? Besok adalah hari terakhirnya menikmati permainan ini. Rasanya akan ada yang hilang jika di atidak memberi kesan. Fahmi bangkit dan mendekat, lalu memberinya sebuah pelukan perpisahan. Semakin lekat dan erat, dia seolah enggan melepaskan.
“Abang istrirahat dulu sebelum tidur. Ira buatin teh ya.”
“Eh, enggak usah. Kamu di sini saja.”
Humaira menuruti Fahmi yang terus diam dan gelisah menatapnya.
“Ada apa?”
“Bukan apa-apa. Abang mau baca buku dulu sebelum tidur. Kamu duluan saja.”
“Aku tunggu.”
“Apa?”
“Ayo kita ngobrol dulu sebelum tidur.”
Mengikuti inisiatif Humaira tidak buruk juga. Humaira menceritakan tentang masa lalunya, Fahmi hanya diam mendengarkan, terpesona oleh kemurnian yang gadis itu miliki setiap dia tertawa.
Figur Humaira berambut ikal kecoklatan dan gincu di bibirnya membuatnya salah fokus. Ia menggelang untuk mengenyahkan desiran aneh yang menusuk kepalanya.
"Abang, kenapa? Pusing? Mau aku ambilkan air?"
Fahmi mengangguk, cepat-cepat Humaira keluar. Fahmi bangkit mondar-mandir. Bagaimana caranya dia keluar dari situasai ini?
Tak lama, Humaira kembali dengan segelas air hangat di tangannya. Fahmi kembali duduk, ia meminum dengan perlahan untuk mengulur waktu. Dia harus keluar lebih dulu sepertinya.
"Sudah baikan, Abang?"
Humaira yang tidak tahu kekalutan Fahmi lantas menggosok punggungnya pelan. Berefek megawatt bagi Fahmi yang langsung tersedak. Humaira mengambil gelas dari tangannya, menepuk pelan punggungnya dengan panik.
Fahmi semakin tak kuasa menahan gempuran Humaira dicekalnya tangan Humaira bertindak lebih jauh. Ditatapnya Humaira yang tampak terkejut tak dapat berkutik. Berakhir saling pandang. Bolehkan dia mengecup bibir mungil itu walau sebentar? Pikiran waras siapa yang mengatakan hal itu? Ia merasa telah kehilangan kewarasan dan awan gelap mulai memayungi matanya. Seprsekian detik kemudian, lampu mendadak mati.
"Ya Allah lampunya mati, aku ambil lilin dulu ya, Bang."
Tetapi, urung karena Fahmi tak melepaskan pegangannya.
"Tidak apa," jawabnya. Humaira diam menunggu dengan gugup. Menunggu apa ang akan terjadi setelahnya.
Fahmi merasakan dorongan kuat untuk menyerang. pertahanannya goyah. Ia akan melakukannya sebentar saja, pikir Fahmi. Dan langit yang semakin pekat menemani mereka.
***