Bambang yang mendengar permintaan calon mertuanya sedikit heran sekaligus penasaran. Karena tidak ingin membuat Pak Andi menunggu lama. Bambang segera melajukan motor metic keluaran terbaru miliknya.
Lelaki berkulit hitam dengan rambut sedikit panjang, serta bibir yang menghitam. Karena, pengaruh nikotin yang dihisapnya setiap saat. Bambang memeliki tinggi badan seratus enam puluh lima senti meter serta badan yang gempal.
Dari ke jauhan Andi tersenyum ketika melihat Bambang mengarahkan motor padanya.
“Bang, cepat ke sini bantu, Bapak,” ucap Pak Andi sedikit keras dan tidak sabar.
Bambang memarkirkan motornya dan melangkah menghapiri calon mertuanya. Bambang dengan takzim mencium tangan Pak Andi.
“Ada apa, Pak, kelihatannya panik begitu?” tanya Bambang penasaran.
Pemuda itu masih berdiri dihadapan lelaki paruh baya yang akan menjadi calon mertuanya. Dia menatap penuh curiga dan tanda tanya ada apa gerangan hingga dia minta ke balai desa.
“Bapak, nggak paham bagaimana cara bikin kartu keluarga sama KTP,” kata Pak Andi dengan jujur.
“Kartu keluarga dan KTP siapa, Pak?” tanya Bambang semakin penasaran.
“KK, milik Bapak, kalau KTP punya Ningsih. Tapi, ini juga ada hubungannya sama kamu,” jawab Pak Andi.
Bambang dibuat terkejut. Sampai bertanya-tanya dalam hati apa urusannya dengan dirinya?
“Terus apa urusannya sama saya, Pak?”
Kemudian, Pak Andi menceritakan pada Bambang bahwa dia, tidak sengaja menjatuhkan KK dan KTP ke dalam tungku saat berada di dapur. Bambang mendengarkan penjelesan Pak Andi dengan serius. Dia merasa ada yang enah dari ceritanya. Tapi, Bambang memilih diam. Nanti, dilain waktu dia akan menanyakannya kebenarannya.
“Saya paham. Jadi Bapak mau minta antar saya ke kantor Capil?” tanya Bambang dengan serius.
“Iya kan selama ini, yang selalu mengurus admistrasi pemerintah Ningsih yang Bapak suruh. Mana ngerti, Bapak sama hal begini,” Pak Andi menjawab jujur.
Bambang hanya mampu menghela napasnya dan membuangnya perlahan. Dia sendiri tidak pernah mengurus hal seperti ini. Tapi, Bambang akan lebih malu jika berkata jujur pada calon mertuanya.
“Ayo, saya antar!”
Bambang melangkah terlebih dahulu menuju motornya. Kemudia disusul Pak Andi. Dia sudah duduk manis diatas jok motor dan memegang kemudi. Dia hanya tinggal menunggu Pak Andi. Tetapi, bukannya menghampiri Bambang. Pak Andi justru melangkah menuju motornya. Bambang dibuat kesal dengan sikap Pak Andi yang seolah tidak paham dengan kemauan pemuda itu.
“Bapak, Naik sini nggak usah bawa motor sendiri!” ucap Bambang dengan menahan kesal sambil melambaikan tangannya.
Pak Andi menoleh dan tersenyum. Dia turun dari motor dan berlari kecil menghampiri Bambang. Beliau segera mengambil posisi duduk di jok belakang.
Bambang yang dengan sekuat tenaga menahan kesal. Tanpa bertanya lagi dia langsung menarik tuas gas dan melajukan motornya menuju kantor catatan sipil.
Mereka tiba di kantor. Tanpa banyak bicara Bambang masuk dan diikuti Pak Andi. Bambang menuju meja informasi dan menceritakan hal yang sebenarnya. Beruntung waktu itu kantor terlihat sepi. Sebab, hari sudah siang dan memang ini mendekati jam istirahat.
“Mbak, apa bisa cetak KK dan KTP yang terbakar?” tanya Bambang dengan hati-hati.
Petugas tersebut sempat kaget, mendengar pertanyaan pemuda yang duduk di hadapannya. Terlihat dari ekpresi wajahnya.
“Bapak punya fotocopy data kartu keluarnya?” tanya si Mbak kembali.
Bambang enoleh dan menatap pada Pak Andi yang duduk di kursi tunggu. Pak Andi yang merasa di tatap. Segera menghampiri Bambang.
“Ada apa?” tanya Pak Andi yang seolah paham dengan maksud tatapan Bambang.
“Bapak, ada fotocopy KK tidak?”
Pak Andi menjawab dengan gelengan kepala. Kemudian menjawab.
“Bapak, cuman ada KTP gimana?”
Bambang menatap pada wanita muda berseragam berwarna coklat dengan kerudung yang senada dengan baju yang dia pakai.
“KTP juga tidak papa, Pak,” Mbak menjawab langsung dengan Ramah.
Pak Andi merogoh saku belakang celananya dan mengambil KTP. Lalu, menyerahkan langsung pada petugas.
“Saya tanya ke dalam dulu, apa bisa mengerjakan sekarang ya, Pak,” kata si Mbak ramah sambil beranjak dari duduknya dan meinggalkan Bambang dan Pak Andi.
“Bapak, saya nggak mau tau ya. Pokoknnya satu minggu lagi saya harus bisa menikah dengan Ningsih!” ucap Bambang dengan nada bicara dingin.
“Iya, Bapak usahakan,” jawab Pak Andi santai tanpa beban.
Bambang yang mendengar jawaban dari Pak Andi semakin kesal. Dia berdiri dengan kasar dari duduknya dan sedikit menarik tangan Pak Andi. Mereka berdua berjalan ke luar dari kantor dan menuju parkiran motor. Bambang melepas sedikit kasar pegangan tangannya.
“Bapak jangan main-main sama saya. Kalau sampai penikahan ini gagal Bapak harus mengembalikan dua kali lipat uang yang sudah saya kasih ke Bapak!” ancam Bambang.
Wajah pemuda itu terlihat menghitam. Bambang yang memiliki warna kulit hitam. Jadi apabila dia marah akan semakin terlihat menghitam.
“Jangan begitulah sama, Bapak, Nak. Uang dari mana sebanyak itu Bapak bisa dapat,” jawab Pak Andi dengan suara yang dia buat sememelas mungkin.
“Saya tidak mau tau, Bapak sudah menerima uangnya jadi, Bapak yang hars tanggung jawab!” ucap Bambnag dengan penuh penekanan.
Pemuda itu dibuat marah dan kesal dengan sikap calon mertuanya.
Sementara di rumah Pak Andi. Ningsih masih saja menangis sesenggukan di dalam kamrnya. Gadis itu terisak dalam tidurnya dengan posisi meringkuk.
Romlah yang sejak ke pergian suaminya duduk di ruang tamu dengan gelisah dan cemas. Kemudian, ia menatap pintu kamar Ningsih dengan perasaan campur aduk. Antara cemas dan kelas. Kenapa, anak gadisnya itu sama sekali tidak keluar dari kamarnya sejak tadi.
“Kenapa, Ningsih betah banget di kamar sih. Nggak tau apa cucian masih menumpuk di belakang!” Romlah bergumam dengan kesal.
Romlah masih menahan perasaan kesal. Dia tidak ingin marah-marah. Tapi, karena Ningsih tidak juga ke luar kamarnya. Membuatnya habis kesabaran dan berdiri dari duduknya.
“Ngapain sih dia di dalam kamar!” Romlah berkata sambil melangkah kearah kamar Ningsih.
Begitu dekat dengan pintu kamar putrinya. Romlah terlebih dahulu mengintip melalui celah dari pintu yang sedikit terbuka. Romlah hanya dapat melihat punggung Ningsih yang sedikit bergetar. Juga samar-samar dia mendengar suara gumaman dari Ningsih.
Karena, rasa penasarannya Romlah perlahan membuka pintu kamar Ningsih. Dia melangkahkan kakinya sacara perlahan. Agar tidak membangunkan Ningsih.
“Nek, Ningsih mau ikut. Ning, ikut Nenek saja!” ucapnya di saat mengigau.
Romlah tertegum mendengarnya. Membuat tubuhnya membatu dengan perasaan yang dihinggapi rasa bersalah.
“Mama, kenapa diam saja di situ?”
Tubuh Romlah sampai berjengkit. Karena, terkejut dengan suara Dyah-adik Ningsih.
“Kamu bikin, Mama kaget saja!” jawab Romlah dengan kesal.
Dyah hanya tersenyum melihat ekpresi wajah Mamanya.
“Mama, juga aneh kayak nggak pernah lihat Kak Ning tidur aja.”
Romlah yang takut Ningsih bangun segera melangkah menarik tangan anak ke enamnya keluar kamar. Dia takut jika ketahuan sedang mendengarkan Ningsih yang mengigau menyebut nama sang nenek.
“Mama, ngapain ke kamar Kak Ningsih dan kaget banget gitu saat aku tanya?” selidik Dyah dengan tatapan mata yang menatap lekat pada Mamanya begitu mereka sampai di ruang tamu.