“Kenapa menatap Mama kayak gitu!” Romlah berkata dengan kesal sambil menghempaskan bokongnya di kursi ruang tamu.
“Habisnya Mama tuh aneh banget. Bikin aku penasaran!” kata Dyah dengan sedikit kesal.
Romlah yag tidak ingin dicecar anaknya dengan pertanyaan yang menyudutkan dirinya memilih sedikit bercerita.
“Tadi, Mama dengar suara dari kamar Ningsih, ternyata dia sedang tidur dan mengigau. Karena, nggak mau Mbakmu bangun. Makanya, Mama dia aja.”
Dyah hanya menganggukan kepalanya tanda mengerti.
Beberapa hari kemudian. Bu Romlah marah besar, dia berteriak memangil Ningsih-putrinya dengan penuh amarah.
“Ningsih! Kamu di mana kenapa sudah siang begini belum juga ada makan di meja makan?”
Bu Romlah dengan perasaan kesal dan berkecak pinggang serta wajah yang tampak merah padam. Melangkah menuju kamar Ningsih. Dengan kasar Romlah membuka pintu kamar sampai menimbulkan bunyi nyaring.
Ningsih yang sedang berbaring terkejut. Lalu, dia menoleh kearah pintu. Karena, dia tidur dengan posisi miring dan memeluk guling serta membelakangi pintu.
“Ya, ampun Ningsih, kamu jam segini masih tidur! Mau jadi apa anak perawan pemalas seperti kamu?” omel Bu Romlah sambil melangkah maju mendekati putrinya.
Ningsih berusaha sekuat tenaga yang dia miliki untuk merubah posisinya menjadi duduk.
“Maaf, Ning, sedang nggak enak badan. Kepala rasanya pusing banget,” keluhnya sambil memegangi kepala yang terasa pening, wajahnya juga tampak pucat dengan bibir yang kering. Serta pandangannya berkunang-kunang. Tapi, Ningsih berusaha menahannya.
“Alasan saja kamu, bilang aja malas!” bentak Bu Romlah sambil menarik tubuh Ningsih agar turun dari kasur.
Ningsih mencoba mengikuti pergerakan tangan Mamanya. Baru saya dia berdiri di sisi Romlah. Tapi, tubuh Ningsih sudah jatuh ke lantai.
“Ningsih!” teriak Romlah.
Matanya melotot dengan wajah yang terlihat cemas dan kaget membuatan garis-garis kerutan di wajahnya semakin tampak. Romlah berusaha mengangkat kepala Ningsih dan berusaha membuatnya sadar.
“Sadar Ning, jangan buat Mama takut!” Romlah berkata sambil memeriksa suhu tubuh putrinya yang terasa panas di tangannya.
“Tubuh kamu panas sekali, Ndok!” Romlah berkata dengan cemas.
“Dyah … Dyah …, Tolongin Mama ke sini!” panggil Romlah dengan suara nyaring.
“Kemana sih itu anak, nggak tau apa kalau Mbaknya lagi sakit!” Romlah mengomel sambil kepalanya menoleh mencari keberadaan anak ke enamnya itu.
Romlah kembali berteriak meminta pertolongan.
Bambang yang saat itu memang sedang menuju rumah calon istrinya. Dibuat kaget dan penasaran dengan suara teriakan dari dalam rumah. Bambang menarik tuas gasnya lebih dalam. Mempercepat laju motor miliknya.
Bambang memarkirkan sembarang motor kesayanganya. Dia berlari ke dalam rumah sambil membuka pintu dengan kasar.
“Ningsih, kamu kenapa?” Bambang bertanya sambil memegangi kedua pipi gadis yang akan menjadi istrinya.
“Ningsih kenapa bisa pingsan begini, Ma?” Bambang bertanya sambil menatap tajam kepada Bu Romlah.
Bu Romlah bingung harus berkata apa. Bambang pasti akan marah dan mengamuk jika tahu dia sudah berbuat kasar pada Ningsih.
“Mama, juga nggak tau. Tadi dia tiba-tiba pingsan,” ucap Bu Romlah mencari alasan yang tepat.
Bambang menatap calon ibu mertuanya dengan tajam. Mencoba mencari kebenaran dari kalimat yang dia ucapkan tadi. Dari sinar mata Bu Romlah, tampak keraguan dan ketakutan.
“Mama nggak lagi bohongkan sama aku?” tanya Bambang penuh selidik.
“Mama, nggak bohong!” jawab Bu Romlah dengan penekanan agar dia tidak ketahuan bohong.
Mendengar jawaban Bu Romlah membuat Bambang sedikit kesal. Namun, dia berusaha menahannya. Apalagi, tadi saat dia menyentuh tubuh Ningsih. Bambang merasakan hawa panas.
“Ningsih, kamu sakit?” tanya Bambang sambil sedikit mengerakkan bahu gadis itu.
Bu Romlah dibuat kesal dengan sikap lamban yang Bambang tunjukkan.
“Cepat kamu bawa, Ningsih ke rumah sakit. Jangan diam saja!” Bu Romlah membentak Bambang dengan perasaan kesal.
Mendegar baru menyadari setelah mendengar amarah dan calon Ibu mertuanya. Bambang mencoba mengangkat tubuh Ningsih yang masih pingsan di pangkuan Bu Romlah. Tapi, bukannya membawa Ningsih, Bambang malah kembali merebahkannya. Membuat Bu Romlah semakin marah dan kesal.
“Kenapa kamu taruh lagi! Cepat bawa ke rumah sakit. Kalau ada apa-apa sama Ningsih gimana?” omel Bu Romlah juga dengan perasaan khawatir dengan keadaan putrinya.
Bambang hanya diam sambil memaikan ponselnya. lalu, beberapa saat di bicara dengan seseorang melalui sambungan telepon.
“Cepat kamu ke rumah, Ningsih, sekarang bawa mobil ke sini juga!” perintah Bambang pada orang diujung telpon.
Setelah mengucapkan itu Bambang, melangkah keluar rumah. Tadi mereka berada di dalam kamar Ningsih. Dengan gelisah Bambang mondar-mandir menunggu ke datangan anak buah yang tadi dia telpon. Dari jauh sebuah mobil berwarna hitam memasuki halaman rumah orang tua Ningsih.
Bambang berlari ke dalam rumah menuju kamar Ningsih. Dia dengan perasaan cemas mengangkat tubuh Ningsih dengan perlahan. Bambang setengah berlari menuju halaman yang diikuti Bu Romlah di belakangnya. Dia meletakkan tubuh Ningsih di bangku belakang pada baris kedua. Bu Romlah masuk pintu samping dan memangku kepala Ningsih.
Begitu sampai di ugd. Ningsih langsung di tangani dokter dan petugas medis. Bambang tampak memperhatikan semua yang dokter lakukan.
“Bagaimana keadaan calon istri saya, Dok?” tanya Bambnag dengan penasaran.
Dokter tersenyum mendengar pertanyaan bernada khawatir yang di lelaki yang berada di sisinya.
“Tidak usah khawatir dia hanya terkena gejala typus. Akibat kelelahan dan kurangnya asupan makanan yang begizi serta kekurangan air. Sepertinya dia juga terlalu banyak menanggung beban pikiran!” Dokter menjelaskan hasil dari pemeriksaanya tadi.
“Tapi, biar keadaan calon istrinya cepat pulih lebih baik di rawat dulu,” saran dari Dokter kembali.
Bambang hanya bisa pasrah saat mendengar keputusan dokter. meskipun berat demi keadaan Ningsih, dia harus menerimanya.
“Lakukan saja yang terbaik untuk calon istri saya,” Bambang menjawab dengan pasrah.
Lelaki itu kemudian melangkah menuju resepsionis untuk mendaftarkan Ningsih untuk rawat inap.
Bu Romlah menghampiri putrinya yang telah sadar dari pingsannya. Di tangan kiri Ningsih juga sudah terpasang jarum infus.
“Kamu ini pakai sakit segala. Gara-gara kamu, Bambang marah sama dan menuduh Mama memperlakukan kamu tidak baik!” ucap Bu Romlah dengan geram.
Ningsih yang baru sadar menilih diam. dia malas berbicara dengan Mamanya. Bukan niatnya untuk sakit begini. Siapa orangnya yang tidak akan sakit. Jika, setiap hari harus mendengerkan sederet aturan yang harus dia lakukan. Nanti, saat sudah menikah dengan Bambang.
“Nanti, kalau sudah nikah kamu harus kirim sembako, kasih uang bulanan untuk orang tua dan adikmu. Jangan lupa ini. Jangan lupa itu,” kalimat yang Bu Romlah ucapkan setiap mereka duduk bersama.
Terkadang demi menghindari itu. Ningsih memilih mengurung diri di dalam kamar tanpa makan. terkadang dia hanya membawa sebotol air mineral untuk dirinya.
“Kamu harus cepat sembuh! Jangan sampai pernikahan kamu gagal. Bapak dan Mama yang akan kena marah dari keluarga Bambang!” bentak Bu Romlah pada Ningsih-putrinya.