bc

SUBJECT 13 : The Last Experiment

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
dark
shifter
drama
bxg
serious
scary
genius
campus
city
mythology
high-tech world
another world
war
passionate
like
intro-logo
Uraian

Pulau terpencil itu gagal membunuh Peter. Berbekal mutasi misterius sebagai Subject 13, ia dan Maia berhasil melarikan diri dari fasilitas rahasia. Namun, kebebasan yang mereka harapkan hanyalah ilusi. 13 Corporation, dalang di balik semua penderitaan umat manusia, memburu mereka tanpa henti. Di tengah rentetan pertarungan brutal dan kepingan rahasia dari sebuah bangkai pesawat masa lalu, Peter harus mencari tahu satu kebenaran mutlak: Mengapa dirinya yang dipilih? Perburuan baru saja dimulai, dan kali ini, Peter yang akan memburu mereka.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1 — The Thirteenth Awakening
Cahaya putih itu tidak sekadar menyala; ia menyerang. Lampu-lampu LED laboratorium yang menggantung tinggi di langit-langit baja memancarkan kilau steril yang begitu menusuk, seolah sanggup menguliti warna dari benda apa pun di bawahnya. Udara di dalam ruangan itu terasa mati—dingin, kering, dan jenuh dengan aroma antiseptik yang begitu tajam hingga mampu membuat paru-paru siapa pun perih saat menghirupnya. Ini adalah bau kematian yang dibungkus rapi dengan kebersihan medis; sebuah tempat yang tidak pernah mengenal tawa manusia atau langkah kaki yang tulus. ​Di tengah keheningan yang mencekam itu, suara mesin berdengung rendah secara konstan. Bzzzzzz - getarannya merayap di lantai baja, menyatu dengan meja operasi logam tempat seorang pria terbaring tanpa daya. Pria itu adalah Peter. Tubuhnya tidak lagi terlihat seperti pemuda berusia dua puluh tahun yang penuh semangat. Kini, ia tampak seperti sebuah sirkuit biologis yang rumit. Puluhan jarum kecil bersarang di leher, d**a, lengan, hingga sepanjang tulang belakangnya. Selang-selang transparan yang meliuk seperti cacing bening menyalurkan cairan berwarna gelap yang merayap perlahan ke dalam pembuluh darahnya. ​Beep. Beep. Beep. ​Monitor detak jantung di sampingnya memancarkan garis hijau yang bergerak malas. Tiba-tiba, ujung jari Peter bergerak. Sangat sedikit, namun cukup untuk memicu lonjakan pada layar monitor. ​“Detak jantung meningkat,” suara seorang ilmuwan terdengar datar, tanpa emosi, mirip suara navigasi mesin yang membacakan laporan cuaca di tengah badai. ​Dua sosok mengenakan jas laboratorium putih berdiri di atas Peter. Mereka mengenakan sarung tangan lateks dan kacamata pelindung yang memantulkan cahaya lampu, menyembunyikan sisi kemanusiaan di balik tatapan profesional yang dingin. Salah satunya menunduk menatap panel kontrol, jarinya menari di atas layar sentuh dengan efisiensi yang mengerikan. ​“Status Subject?” tanya ilmuwan kedua, suaranya sedikit lebih berat. ​“Aktivitas saraf melonjak drastis. Tekanan darah jauh di atas normal manusia, tapi masih dalam ambang batas aman untuk ukuran Subject-13,” jawab yang pertama tanpa mengalihkan pandangan dari data yang terus bergulir. ​Subject-13. Nama kode itu adalah segalanya bagi mereka, namun bagi pria yang terbaring di sana, itu adalah sebuah penghinaan. Peter mencoba membuka kelopak matanya yang terasa seberat timah. Pandangannya bergoyang, kabur dalam pendar putih yang menyakitkan. Ia mencoba berbicara, namun tenggorokannya terasa seperti habis dipaksa menelan segenggam pasir yang membara. ​“…ugh…” ​“Subjek mulai sadar,” ucap ilmuwan itu dengan nada antusias, jenis antusiasme yang dimiliki seorang kolektor saat melihat serangga langka yang sudah diawetkan tiba-tiba menggerakkan kaki. “Waktu kesadaran: 04:17. Catat respons pertamanya.” ​Peter mencoba memfokuskan pandangan pada langit-langit logam di atas sana yang tampak seperti peti mati raksasa. Salah satu ilmuwan membungkuk, wajahnya yang pucat kini hanya berjarak beberapa senti dari wajah Peter. Aroma kopi basi tercium dari napasnya. ​“Bisakah kau mendengar kami?” tanya ilmuwan itu. ​Peter mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya. Di tengah rasa sakit yang menghimpit, insting aslinya yang sulit diatur mulai muncul. Ia menelan ludah yang terasa pahit sebelum akhirnya bersuara. ​“…di… mana ini?” suaranya keluar serak, lebih mirip gesekan amplas pada kayu tua. “Aduh, b******k… kepalaku rasanya seperti habis dipakai main bola oleh gajah purba. Siapa kalian? Kenapa lampunya terang sekali? Aku bisa buta kalau begini terus, b******k!” ​Kedua ilmuwan itu membeku sejenak. Mungkin mereka terkejut mendengar umpatan pertama dari subjek eksperimen yang telah mereka "tidurkan" selama lima tahun. Ilmuwan utama menoleh ke rekannya dengan alis terangkat. “Fungsi kognitif stabil. Dia bahkan masih memiliki kepribadian yang... sangat vokal. Catat: tingkat stres tidak mempengaruhi kemampuan verbalnya secara negatif.” ​Sebuah layar holografik biru muncul di udara, tepat di atas wajah Peter. Di sana tertera data medis yang rumit, namun satu baris terbaca sangat jelas: PROJECT SUBJECT. SUBJECT ID: 13. STATUS: ACTIVE. STABILITY: 98.7%. ​“Eksperimen berhasil,” ucap ilmuwan itu pelan, hampir seperti bisikan pemujaan di depan altar. ​Peter mencoba bangkit dengan hentakan tiba-tiba. Secara naluriah, tangannya ingin meraih leher pria itu. Namun, sebuah sentakan keras yang menyakitkan menghentikannya seketika. CLANK! Suara logam berat yang menghantam meja bergema di seluruh ruangan. Peter tersentak, menoleh ke kiri dan ke kanan dengan napas yang mulai memburu. Pergelangan tangannya dibalut borgol baja tebal yang menyatu langsung dengan meja operasi. Kakinya juga terbelenggu, dan sebuah sabuk baja lebar menekan dadanya, memaksanya tetap berbaring rata seperti spesimen yang sudah dipaku. ​“Woy... b******k! Apa-apaan ini?! Lepaskan aku sekarang juga! Kenapa aku diikat seperti anjing gila begini?!” teriak Peter, suaranya pecah karena tenggorokan yang kering. ​Pada saat itu, ingatan menghantam kepalanya seperti air bah yang menjebol bendungan. Hujan malam itu. Aroma aspal yang basah. Peter ingat ia baru saja menutup telepon, berdiri di samping Maia—sahabatnya sejak SMA sekaligus perempuan yang diam-diam ia cintai selama bertahun-tahun tanpa berani mengucapkannya. Mereka sudah berjanji akan merayakan hari pertama Peter bekerja dengan makan besar. Peter ingat dirinya tertawa lebar, membenarkan kerah kemeja barunya sambil sesekali mencuri pandang ke arah senyum Maia yang selalu membuatnya tenang. ​Lalu, sebuah bayangan bergerak cepat di belakang mereka. Langkah kaki yang terlalu sunyi. Peter ingat ia sempat mencoba menarik tangan Maia untuk melindunginya sebelum rasa sakit yang tajam menembus lehernya—sebuah suntikan—dan setelah itu, dunia menghilang. Lima tahun hidupnya telah dicuri. ​“Apa yang kalian lakukan padaku, b******n?!” Peter meronta sekuat tenaga, membuat meja logam itu bergetar hebat. “Berapa lama aku di sini?! Di mana Maia?! Apa yang kalian lakukan padanya, b******k?!” ​“Tenanglah, Subject-13,” ucap ilmuwan utama itu tanpa rasa takut. Ia justru menatap Peter dengan binar mata seorang seniman yang melihat mahakaryanya mulai bernapas. “Kau hanya mengalami sedikit perubahan agar kau bisa bertahan di dunia yang akan datang. Nama Peter yang kau banggakan itu sudah tidak relevan. Kau adalah puncak evolusi dari Thirteen Corporation.” ​“Perubahan?! Lihat tubuhku, b*****t! Kalian menculikku! Kalian menghancurkan hidupku hanya untuk angka-angka sialan ini!” ​Tiba-tiba, rasa sakit yang jauh lebih mengerikan dari sebelumnya datang tanpa peringatan. Awalnya hanya seperti denyut kecil di dasar tulang belakang, namun dalam hitungan detik, itu berubah menjadi gelombang api yang menyapu seluruh jalur sarafnya. Darah Peter terasa seperti mendidih, seolah-olah seseorang telah menyuntikkan asam sulfat langsung ke dalam pembuluh darahnya. ​“AAAAAAARRRRGH!” ​Peter melengkungkan tubuhnya sekuat tenaga hingga tulang-tulang di punggungnya berderak, meski sabuk baja itu menahan dadanya hingga ia merasa paru-parunya akan meledak. Monitor di sekelilingnya mulai menjerit panik. BEEP! BEEP! BEEP! Lampu-lampu ruangan mulai berkedip-kedip tak beraturan seiring dengan denyut energinya yang liar. ​“Reaksi anomali mulai muncul! Tekanan biologis melewati ambang batas!” teriak asisten itu dengan nada gugup. ​“Jangan disuntikkan penenang! Biarkan dia berevolusi sepenuhnya!” perintah sang dokter dengan nada fanatik. ​Peter merasakan sesuatu yang liar merayap di bawah kulitnya. Di punggungnya, tepat di antara tulang belikat, rasanya seperti ada lusinan pisau yang mencoba menyobek keluar dari dalam daging secara paksa. Suara kulit yang meregang terdengar mengerikan, lalu... CRAAAK. Kulit dan ototnya robek. Darah hangat mengalir di punggung Peter, membasahi permukaan meja logam yang steril. Dari luka itu, sesuatu yang keras, hitam, dan tajam mulai tumbuh menembus udara. Itu bukan lagi tulang manusia; itu adalah struktur predator yang haus akan darah. ​Peter terengah-engah, matanya melotot ke arah pantulan dirinya di permukaan meja logam yang mengkilap. Dan di sanalah ia melihat monster itu. Matanya bukan lagi milik Peter yang pengecut. Bagian hitamnya memanjang vertikal seperti mata reptil purba, berpendar dengan warna keemasan yang menakutkan di dalam remang laboratorium. Di kepalanya, dua tonjolan kecil muncul menembus kulit kepala yang berdarah, tumbuh perlahan menjadi sepasang tanduk predator yang melengkung tajam. ​“Apa... apa-apaan ini?” Peter berbisik ngeri. Suaranya sudah berubah menjadi geraman rendah. “Apa yang kalian lakukan padaku? Kenapa aku jadi seperti ini, b******k?!” ​“Selamat datang di tahap berikutnya, Subject-13,” ucap ilmuwan itu dengan suara tenang yang membuat suhu ruangan terasa turun drastis. “Kau bukan lagi mangsa yang lemah. Kau adalah puncak evolusi yang kami impikan.” ​Peter menatap lampu putih di atas sana dengan napas yang berat dan penuh sesak. Kehidupannya sebagai mahasiswa jenius yang mencintai Maia dalam diam telah berakhir selamanya di meja operasi ini. Apapun yang ada di depannya sekarang, bukan lagi tentang masa depan yang indah, melainkan tentang bagaimana ia bisa membantai semua orang di ruangan ini untuk menemukan Maia dan mendapatkan kembali kebebasannya dari neraka bernama Thirteen Corporation. Di tengah rasa sakit yang membakar, sebuah insting baru yang gelap mulai berbisik di benaknya, memberitahunya bahwa borgol baja ini sebenarnya bisa ia hancurkan dengan satu sentakan saja.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
1.8M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
714.8K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.5M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
953.0K
bc

A Warrior's Second Chance

read
343.6K
bc

Not just, the Beta

read
340.3K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook