BAB 29 — BATAS PERTAMA

1740 Kata

BRUK! Batang pinus itu kembali menghantam tanah sebelum sempat mencapai tumpukan di seberang halaman. Peter langsung membungkuk sambil menopang kedua lututnya. Napasnya memburu, sementara keringat mengalir deras dari pelipis hingga membasahi ujung dagunya. Ia memejamkan mata sejenak, berusaha mengatur kembali irama napas yang mulai berantakan. Masih berat... batinnya. Padahal beberapa hari lalu batang seperti ini sudah mulai terasa ringan. Embusan angin pagi membawa aroma kayu pinus yang baru ditebang. Di balik keheningan Desa Mati, hanya suara napas Peter yang terdengar paling jelas. Tidak jauh dari sana, bunyi gesekan pensil memecah kesunyian. Maia menutup buku catatannya sesaat, lalu mengangkat wajah sambil memandangi Peter yang masih belum beranjak dari tempatnya. "Kalau terus d

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN