[2. Gundik-Gundik yang Kian Meresahkan]

1178 Kata
[2. Gundik-Gundik yang Kian Meresahkan] Ada banyak peraturan tidak tertulis jika memasuki area harem Simon. Salah satunya adalah jangan sampai permintaan gundik-gundik itu tidak tertunaikan. Harus digarisbawahi tidak semua gundik memiliki tabiat buruk sampai-sampai membuat keributan. Tapi memang ada oknum berkelakuan liar sehingga keributan dapat terjadi kapan saja di dalam harem. Leah baru saja kembali ke ruang kerjanya hendak meringkas kegiatan Simon dan menjadikannya laporan tertulis. Ya, ia baru saja hendak melakukannya kalau saja tidak ada panggilan darurat. Pintu ruang kerjanya seperti terhempas ketika salah satu pelayan datang dan mengabarkan terjadi perselisihan dua dari lima gundik Simon. Perselisihan itu tidak cukup hanya saling mengumpat atau menjambak, lebih buruk dari itu. Dengan langkah tergesa-gesa, Leah menyusul langkah cepat sang pelayan. Kalau saja ia tak mengenakan sepatu hak tinggi, menyusul perempuan yang lebih muda itu bukan masalah besar. Ia pun ingin mendahului. "Tunggu, bisa perlambat larimu sebentar?" Pertanyaan itu seperti sebuah titah bagi sang pelayan. Ia segera memperlambat langkahnya. Leah benar-benar melepas sepatu hak tingginya. Mumpung Simon tidak melihat. Si bos Juga tidak akan suka jika karyawannya tidak profesional. Sekretaris yang profesional harus berpenampilan sempurna. Luar dan dalam. Berlari sambil menunggu mencangking sepatu hak tinggi adalah salah satu bentuk ketidakprofesionalan. Leah dan pelayan itu buru-buru mempercepat langkah ketika mendengar bunyi pecahan kaca dan umpatan-umpatan kasar melengking di udara. Benar jika perselisihan itu lebih buruk dari sekadar jambak, karena dua wanita dewasa itu berguling-guling di rumput taman. Masing-masing berusaha mengunci dan menjegal lawan. Berambisi untuk mendominasi dan menunjukan siapa yang paling berkuasa. Sementara itu, tiga gundik lain menepi. Mencoba tidak menginterferensi kekacauan yang terjadi. Kendati kekacauan yang diperbuat dua gundik itu telah merusak taman dan membuat para pelayan ketakutan. "Roxanne! Emma! Apa yang kalian lakukan?!" Leah menerjang tubuh kedua wanita itu, berniat memisahkan keduanya. Tapi tenaga kedua wanita itu justru membuat Leah terpental. "Dasar kau perempuan s****l! Kau menyebut aku p*****r, lalu kau apa, hah!" Emma menarik rambut Roxanne tanpa ampun. "Memang kau dulu p*****r, 'kan? Kupikir aku tidak tahu! Kau itu perempuan murahan yang menjual diri di gang remang-remang! Derajatmu naik karena Tuan!" Roxanne membalas sengit, ia pun menjambak rambut Emma tanpa ampun. "Oh! Dasar nona muda manja! Kau dibuang ayahmu ke sini karena terlalu banyak menghabiskan uang! Aku lebih baik darimu karena pernah mandiri!" "Jangan samakan diriku yang berpendidikan denganmu yang murahan!" Setidaknya Leah tahu dari mana asal muasal pertengkaran ini, biar sedikit. Ia memaksakan diri bangkit lagi, lalu menengahi mereka dengan sekuat tenaga. Menengahi mereka adalah pilihan yang buruk, rambut Leah malah menjadi target jambak Roxanne dan Emma. Pada akhirnya, berakhir dengan konsekuensi yang lebih buruk. Ia sendiri yang masuk ke dalam lingkaran jambak-menjambak itu. Tarik ke kanan, ke kiri, dan saling berputar. Tak ada satu pun di antara pelayan atau pelayan itu yang berniat membantu. Ketiga perempuan itu berputar-putar seperti gasing. Hingga Leah kehilangan keseimbangan, mereka bertiga limbung dan jatuh ke dalam kolam air mancur. Dan, selama ketiganya berputar-putar tidak keruan, para gundik lainnya dan para pelayan tidak melakukan apa-apa selain menatap ketakutan. Sekarang, apa yang lebih menakutkan dari dua perempuan menyeramkan yang saling bermusuhan? "Eh, Leah. Sedang apa kau di sini?" Pertanyaan yang terkesan bodoh itu keluar dari mulut Roxanne. Leah enggan menjawab. Jadi, sedari tadi wanita itu tidak sadar sudah menarik-menarik orang yang tidak bersalah ke dalam pertengkarannya. "Kau bodoh, Rock! Kau yang menjambak Leah dan menariknya masuk ke sini! Dasar kepala batu!" semprot Emma. "Seenak mulutmu ganti nama orang! Mau kupotong mulutmu itu!" Situasi masih belum berubah, Leah masih menjadi orang ketiga di antara pertengkaran itu. Ia masih menjadi korban. Sebelum pertengkaran semakin parah dan Simon mungkin datang karena kekacauan ini, Leah kembali menengahi mereka. Benar-benar menghalangi keduanya agar tidak saling bertatap muka. "Nona-Nona, saya tahu kalian orang yang baik. Tidak bisakah kalian menyelesaikan masalah kalian dengan baik?" desis Leah. "Tapi di—" "Kepala batu kau di—" "Kalau kalian tidak diam, aku akan panggil Tuan Simon ke sini!" potong Leah. Roxanne dan Emma yang sebelumnya saling menjenggut, seketika saling melepaskan jambakan dari rambut masing-masing. Kedua wanita itu memberengut mendengar ancaman final Leah. "Jadi, kalian boleh meneruskan keributan ini. Sehingga nanti aku bisa melaporkannya pada Tuan. Sebelum itu, izinkan aku mentas dulu untuk melihat apa yang sudah kalian rusak." Leah bangkit dari tempatnya, matanya berkeliling dan mendapati beberapa kerusakan ringan dan sebuah lubang menganga besar di salah satu kaca jendela. "Oke, ada beberapa pot retak, kaca jendela kamar pecah, dan beberapa tanaman hias rusak. Di mana kepala pelayan yang bertanggung jawab untuk urusan taman?" Leah kembali mengedarkan pandangannya, lalu terhenti di kerumunan orang-orang yang hanya melihat saja dari tadi. "Tidak ada? Oke, kamu yang tadi menjemputku." Leah menunjuk pelayan perempuan muda tadi, memintanya mendekat. Ia menunduk sebentar. "Ada apa, Nona Sekretaris?" "Panggil kepala pelayan, suruh dia mencatat seluruh kerusakan ini, lalu perbaiki. Laporannya dikirimkan padaku sore ini juga." "Baik, Nona." Leah kembali pada Roxanne dan Emma, mereka masih kompak bersungut-sungut. Bibir Roxanne komat-kamit, entah sedang mengumpat—kemungkinan besar iya— atau kata-kata buruk lainnya. Sedangkan Emma menatap Leah penuh kebencian, tatapan yang sangat menusuk. Takutnya tatapan itu akan melubangi d**a Leah. Namun, Leah tidak peduli. Yang ia pedulikan sekarang adalah mentas dari kolam, berganti baju, lalu meneruskan lagi pekerjaannya. "Oke, sebenarnya saya tidak ingin memarahi kalian karena itu bukan tugas saya di sini. Saya tidak ingin membuat permasalahan di antara kalian berdua makin keruh. Jadi, mari akhiri ini dan tidak ada lagi masalah di antara kalian. Paham?" Leah memandangi keduanya dengan tatapan pasrah, berharap setidaknya mereka akan sedikit merespons. Tapi nihil. "Sudah, sudah, begini saja. Kalian tidak perlu berbaikan. Kalian bisa saling benci semau kalian, tapi hanya di antara kalian saja. Jangan melibatkan orang lain, jangan sampai merugikan orang lain, dan yang terpenting jangan sampai orang lain terluka karena perseteruan di antara kalian. Apa sampai di sini kalian bisa memahaminya? Kalian sudah dewasa, demi Tuhan!" Pada akhirnya, tali kesabaran Leah yang menipis sejak mengetahui mereka saling jambak-menjambak akhirnya putus juga. Ia menghela napas berat lalu keluar dari kolam. Salah satu dari pelayan buru-buru memberikan selembar handuk pada Leah. "Tolong kalian siapkan juga pakaian yang masih layak pakai untukku sementara aku memesan melalui situs daring. Pastikan kepala pelayan segera ke sini untuk membereskan semua ini. Jangan sampai mereka berdua bersinggungan dulu. Sisa pecahan kacanya harus segera kalian bersihkan selama aku kembali ke ruangan. Mohon bantuannya." "Baik, Nona," jawab mereka serempak. Para pelayan itu segera berpencar melaksanakan tugas masing-masing ketika Leah meninggalkan taman. Sementara Leah pergi, baik Roxanne mau pun Emma menatap sengit kepergian sang sekretaris. Sementara Leah sendiri mencoba bersikap tenang. Ia masih tidak memahami mengapa para gundik akhir-akhir ini menjadi semakin beringas dan liar. Kelakuan mereka benar-benar tidak bisa dinalar lagi, setidaknya bagi Leah. Pelayan mereka tentu memaklumi segala tingkah polah majikannya. Jika perseteruan mereka berdua semakin memanas, akan ada kemungkinan Simon mencari gundik baru. Itu berarti, ia harus kerja ekstra dan banyak lembur. Benar-benar kelakuan yang semakin meresahkan. |Bersambung| *bonus* Awal dari pertengkaran Emma: Astagfirullah kamu berdosa sekali Roxanne: Berdosa?! Kamu tuh yang berdosa! *bayangkan sendiri bagaimana akhirnya*
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN