[3. Sepotong Kue di Akhir Hari]
"Nona Leah, paket yang Anda pesan sudah datang." Seorang pelayan membawa masuk sebuah kotak berwarna lilac, di bagian atasnya dipermanis dengan pita berwarna ungu tua. Pada pita berbahan halus tersebut terbordir nama butik langganan para gundik—terkecuali Cedric. Leah memesan satu set pakaian dalam, kemeja formal, dan rok sepan warna hitam sementara pakaian basahnya sedang dicuci dan dikeringkan di bagian binatu.
Untung saja Simon pergi tanpa membawanya dan hanya membawa Leon dan untungnya pria itu hanya mengabari lewat panggilan telepon. Leah hanya tidak tahu apa yang harus dikatakannya pada Simon ketika menerima panggilan Simon dalam keadaan basah kuyup. Syukurlah juga karena Leon juga tidak mengatakan apa pun tentang perselisihan para gundik tadi.
Bicara tentang Leon, jika hanya membawa pria itu tanpa Leah, kemungkinan besar melibatkan banyak hal berbahaya. Leon sendiri yang bilang demikian meskipun tidak pernah disebutkan secara vulgar. Leah terbiasa dengan spekulasi liarnya tentang mafia, orang-orang bertato, senjata tajam, dan banyak hal yang sukses meremangkan bulu romanya.
Ia mengangkat satu per satu barang yang baru saja dibeli lewat pesanan daring tersebut. Sebelum memberikan penilaian pada kurir dan butik sistem daring, ia harus memastikan bahwa barang-barang tersebut memang memiliki kualitas sepadan dengan harganya. Label-label harga yang cukup dalam menguras kantongnya.
"Leah, ada yang perlu ka—" Simon yang baru saja membuka ruang kerja Leah terpaksa menelan baik kata-katanya ketika melihat Leah menjereng bra dan celana dalam. Ia terhenti di ambang pintu hingga Leon menabrak tubuhnya dari belakang.
Leah yang panik segera melemparkan sepasang pakaian dalam itu sembarang arah. Beruntungnya tidak mengenai Simon atau Leon yang setia di belakang punggung sang tuan.
"Bagaimana bisa kau membentangkan pakaian dalammu di dalam kantor?!" omel Simon sambil menutup matanya dengan telapak tangan.
"Maafkan saya, Tuan. Tidak akan saya ulang lagi." Leah membungkukkan tubuhnya sembilan puluh derajat.
Simon buru-buru mengibaskan tangan.
"Sudah, sudah, aku datang ke sini supaya kamu mengatur jadwalku untuk dua hari ke depan. Karena besok dan lusa aku dan Leon perlu melakukan sesuatu, tolong atur lagi jadwal yang ada. Jadwal besok dan lusa tolong dikosongkan."
Leah kembali menegakkan tubuh, kembali ke mode profesional. "Baik, Tuan. Itu berarti untuk dua hari ke depan Anda tidak membutuhkan saya?"
"Iya. Hanya ada aku dan Leon. Maka dari itu, untuk sementara kau yang akan menjadi pengawas para gundik dan rumah. Tentu kau lebih memahami mereka semua lebih dari siapa pun. Apa aku salah?"
Membayangkan ia mengawasi para gundik saja sudah sangat menyusahkan, kenapa tuannya justru membuat bayangan liar itu menjadi nyata? Bagian buruknya adalah sang tuan mustahil menerima kata tidak. Sebagaimana para gundik yang akan mengamuk jika keinginannya tidak dituruti, maka Simon bisa beribu-ribu kali lebih menyeramkan.
"Tentu Tuan, saya sangat memahami mereka sebagaimana Anda memahami dan begitu perhatian pada mereka. Saya tidak akan mengecewakan Anda."
Leon terbatuk, tentu itu sebuah bentuk ejekan. Mengingat Leon juga sudah tahu insiden memalukan di air mancur dan sekarang ia juga melihat pakaian dalam Leah. Sisi baiknya, Leon bukan perempuan yang suka bergosip—karena ia pria dewasa tulen, tentu saja. Perkara tercebur bersama gundik dan Simon melihat pakaian dalamnya tetap menjadi rahasia jika berada di tangan Leon.
"Baiklah ... kalau begitu aku dan Leon akan kembali ke ruanganku. Kau juga nanti kirim laporan hari ini padaku. Ah, aku lupa. Apa akuntan sudah memberikanmu rincian pengeluaran para gundik bulan ini? Suruh dia cepat memberikannya, maksimal hari ini karena aku akan sibuk dua hari ke depan."
"Akan segera saya laksanakan, Tuan," jawab Leah patuh.
Simon berbalik, senyum puas terbentuk di wajah. Ia harusnya segera meninggalkan ruang kerja Leah karena sedang terburu akan sesuatu. Tapi ia justru terdiam sejenak sementara matanya sedikit berkeliaran dan menangkap kembali sepasang pakaian dalam Leah di lantai.
"Oh, iya, Leah. Ada yang ingin aku tanyakan?"
Agak terkejut, Leah menjawab dengan segera, "Iya, Tuan."
"Ternyata ukuranmu lebih kecil daripada yang aku pikirkan. Naikkan sedikit berat badanmu. Pipimu tampak tirus."
Sepeninggal Simon yang memasang senyum jail dan Leon yang menahan tawa hingga punggungnya bergetar, Leah mendengkus tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan tuannya.
Pria itu memang punya mata yang jeli jika itu tentang ukuran perempuan. Dasar playboy sejati! Terlebih lagi, pria itu beserta gundiknyalah yang bertanggung jawab atas kurusnya pipi dan diperparah dengan cekungan hitam di bawah mata Leah.
***
Sembari turun dengan lunglai dari kereta, otak Leah mulai merunut kejadian-kejadian buruk hari ini. Terseret dalam perselisihan para gundik hingga ia masuk air mancur, Simon dan Leon yang mengetahui ukuran pakaian dalamnya, tugas yang menggunung, kena semprot beberapa orang yang tidak menyetujui perubahan jadwal, jangan lupakan sang akuntan yang juga tidak bisa diburu waktu mengerjakan tugasnya, dan banyak hal-hal kecil mengesalkan yang tidak ingin ia tambahkan ke daftar.
Hanya akan menambah beban hidupnya yang sudah luar biasa panjang.
Dicangklongnya cardigan bersama tas selempang, sementara tangan kanannya membawa sepatu hak tinggi. Ia mengenakan sandal teplek karet ketika keluar dari kediaman Simon sampai stasiun, bahkan sampai sekarang. Sambil sesekali melakukan peregangan pada leher dan memijatnya pelan, Leah berjalan lunglai menuju tempat pemberhentian terakhir sebelum pulang ke apartemen. Toko roti favorit, dan tentu saja seseorang yang bertanggung jawab atas roti-roti enak tersebut.
"Selamat datang," sapa pria itu dari balik meja kasir.
"Aku ingin roti yang biasa, secangkir teh s**u dan apa pun yang masih hangat," pesan Leah sambil memasang wajah berseri, kendati penampilannya yang agak lusuh itu membuat sang pria sedikit terkekeh.
"Ada apa Tuan Tom?" tanya Leah.
"Ah, tidak. Kau kelihatan sangat lelah, tapi masih bisa tersenyum selebar itu. Staminamu bagus sekali."
Leah tersenyum kecut ketika membayangkan deretan penyiksaan hari ini. Tapi di depan pria ini, ia tak bisa menahan diri tersenyum hangat. "Ya, hanya pekerjaan yang sulit. Semua orang juga mengalaminya. Itu hari yang sangat sulit, kau pasti juga mengalaminya kan, Tuan?"
Pria itu menggaruk leher sebelum menjawab, "Sebenarnya toko sepi hari ini. Hanya kau yang jadi pelanggan setia. Aku beruntung kau datang setiap hari. Bahkan di akhir pekan."
Rona kemerahan di pipi Leah tidak bisa disembunyikan mendengar perkataan Tom, seperti sebuah pujian. Sedikit banyak mengangkat seluruh beban yang menggelayuti badannya. Seperti dentingan lonceng ataupun nyanyian malaikat. Sedikit hiperbolis, tetapi seperti itulah Leah mengartikan kata-kata biasa Tom.
"Leah, apa kau demam? Wajahmu tiba-tiba memerah?"
Leah buru-buru menangkup kedua pipinya dengan telapak tangan yang terasa dingin. "Ya, memang cuaca akhir-akhir ini semakin dingin padahal musim dingin telah berakhir. Aku berharap musim semi cepat-cepat datang."
"Oh, benarkah? Kukira cuaca memang sudah menghangat."
Tentu saja cuaca sudah menghangat, Leah saja yang kurang pintar membuat alasan.
"Mungkin kau sedang tidak terlalu sehat. Aku akan siapkan menu yang bisa menghangatkan tubuhmu dan memperbaiki sistem imun. Tunggulah sebentar." Tom segera beranjak dari meja kasir menuju pantry.
Leah sendiri mengutuki kebodohannya yang tidak bisa menemukan kata-kata bagus untuk membuat alasan. Demi Tuhan! Ia adalah lulusan terbaik Akademi Perempuan Nectar, yang berdiri di bawah bayang-bayang nama Simon. Dari akademi tersebut dan akademi-akademi lain, Simon merekrut lulusannya untuk bekerja di setiap bisnis yang Simon geluti.
Memang benar kata orang, kalau orang sudah mengenal cinta, maka akan menjadi bodoh. Leah tidak bisa menampiknya lagi.
"Leah, ini aku bawakan teh s**u pesananmu dan beberapa potong kue kering jahe. Tentu mereka sudah tidak sesuai dengan musim yang menjelang semi ini, tapi mereka bagus untuk menghangatkan tubuh. Aku juga punya beberapa bungkus minuman ginseng instan pemberian keponakanku yang baru saja pulang dari Korea. Minuman ini aku berikan gratis."
Itulah mengapa Tom dijuluki malaikat oleh Leah. Hatinya benar-benar baik. Ingin rasanya memiliki Tom untuk Leah sendiri. Leah menepuk bangku kosong lain di sampingnya dan Tom banyak tanya menerima undangan Leah tersebut untuk menemaninya menikmati makan malam yang damai. Bahkan sepulang membeli roti untuk sarapan esok, Tom masih berbaik hati memberikan voucher potongan harga pada Leah.
Kendati perjalanan pulang dari tempat kerjanya dihiasi dengan awan mendung, tetapi perjalanan pulang ke apartemennya berganti digelantungi bunga-bungan bermekaran. Leah bisa tidur dengan nyenyak malam ini.
|Bersambung|