[4. Gundik-Gundik yang Hilang]

1460 Kata
[4. Gundik-Gundik yang Hilang] Dengan nihilnya kehadiran Simon, Leah harus mempersiapkan diri kalau-kalau terjadi sesuatu di luar kuasanya. Simon memang sering bepergian berdua saja dengan Leon tanpa membawa sopirnya, Jack. Entah apa yang kedua pria tersebut lakukan. Selama kepergian mereka, sering kali para gundik memanfaatkan momen. Mereka akan menjadi lebih nakal dengan melanggar sedikit peraturan pemberian Simon. Kalau boleh disebutkan secara hiperbolis, Leah berkali-kali nyaris kena serangan jantung ketika mendapati tingkah laku mereka yang luar biasa menyebalkan. Tentu Emma dan Roxanne mendominasi banyak kekacauan itu, kendati tidak menutup kemungkinan para gundik yang tersisa membuat kekacauan pula. Dengan cara masing-masing tentunya. Misalnya saja Emma yang mengajak seluruh pelayan dan bodyguard-nya pesta kolam renang. Ada belasan orang yang memenuhi kolam renang, mereka menanggalkan seragam, seolah-olah bertingkah sebagai teman Emma yang mendatangi pesta, dan membuat kekacauan di seluruh sudut kolam renang. Ketika Leah menginjakkan kaki di sana, ia mendapati kebanyakan dari mereka mabuk. Meja dan kursi yang tadinya tertata rapi di pinggiran kolam berubah menjadi mainan apung, mereka semua nyaris setengah telanjang, sisa makanan pesta, dan banyak benda yang mengambang di kolam renang. Yang Leah yakini bukan hanya sisa makanan dan dekorasi pesta, tapi mencakup pula pakaian renang, pakaian dalam, dan alat bekas kontrasepsi. Kepala pelayan tidak berkuasa mencegah Emma, sehingga ia pun juga dipusingkan dengan kondisi kolam yang hancur lebur. Butuh waktu satu hari untuk membereskan seluruh kekacauan tersebut dan beberapa jam lembur bagi Leah. Setidaknya Simon tidak melihat kekacauan yang dibuat Emma keesokan paginya. Leah dan kepala pelayan juga masih dipusingkan dengan mendisiplikan para pelayan dan bodyguard yang profesional. Biarpun karena keputusan itu, Emma memusuhi Leah. Emma menganggap mereka seperti teman sendiri. Tidak ada batas antara pelayan dan majikannya. Ketika kamu mengusik teman orang lain, maka jangan harap lepas dari balas dendam orang tersebut. Jangan tanya apa yang didapat Leah dari itu. Kopi rasa pedas, macaron yang dikira rasa matcha dan ternyata berisi wasabi, banyak mengomeli Leah untuk hal-hal remeh, dan banyak tindakan permusuhan lain yang hanya ditanggapi sang sekretaris dengan senyuman bisnis. Jika perkara-perkara remeh ini sampai di telinga Simon, mungkin sang tuan akan memperingati Emma. Tapi sudah pasti Emma akan membalas lagi. Pada akhirnya Leah memilih menutup mulut saja. Lain Leah, lain pula dengan Roxanne. Wanita itu memang terlihat ramah dan bersahabat, tapi ia sama busuknya dengan Emma. Ia kebanyakan menyuruh Leah mencarikan sesuatu dari butik, harus sampai dapat. Kalau tidak, maka Leah akan mendapat hal nyaris serupa seperti yang dilakukan Emma. Kebanyakan memang ke makanan atau minuman pesanan Leah, itulah mengapa ia lebih memilih memesan makanan lewat pengantaran daring daripada memesan langsung dari dapur. Ketiga gundik lain memang tak seburuk Emma dan Roxanne, tapi mereka tetap menyebalkan untuk hal-hal lain. Misalnya seperti Natalie yang memohon-mohon Leah supaya diizinkan memelihara aligator, Cedric yang memaksa Leah jadi model lukisannya, atau Elaine yang sering kali menjadikan Leah sebagai kelinci percobaan atas masakan gagalnya. Leah baru saja mendaratkan pantatnya di kursi putar. Pagi ini belum ada hal buruk yang diperbuat oleh salah satu dari mereka. Ia justru curiga karena selama satu jam tidak ada ketukan mendadak dan mendesak dari pelayan. Seluruh pekerjaan yang biasanya tertunda karena gundik-gundik itu baru saja tuntas. Tumben sekali. Sembari menikmati americano dan mengecek kembali laporan yang telah dicetak, Leah sesekali menengok ke jendela belakang. Curiga saja kalau tiba-tiba ada aligator mengetuk ke kaca jendela atau ledakan di dapur ketika Elaine bereksperimen dengan resep baru. Sungguh ketenangan yang mencurigakan. Dering telepon di meja kerjanya datang secara mengejutkan. Leah mendapatkan firasat buruk setelah panggilan itu datang. Entah di karena sejak awal ia sudah merasa curiga atau sesuatu yang buruk memang sedang mendatanginya. "Ya, dengan Le—" "Leah! Tolong kami!" Leah mengernyit, suara itu terdengar tidak asing. Tunggu, itu bukan suara para gundik yang sejak tadi tidak ada tanda-tanda kehidupannya bukan? "Nona Natalie?" "Huhu, iya ini aku. Tolong kami sekarang, Leah. Kumohon datanglah ke sini sekarang sebelum kami dapat kekacauan yang lebih parah." "Tunggu, tunggu. Tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, Anda sedang bersama siapa? Kenapa di sana terdengar sangat bising? Anda seharusnya berada di kamar Anda, tidak ada pengecualian." Jawaban dari balik telepon tidak kunjung datang, justru suara-suara lain bersahutan dan bercampur aduk. Firasat buruk Leah semakin menjadi-jadi. "Biar aku saja yang bicara pada Leah. Berikan padaku!" Itu suara Cedric, satu-satunya pria di antara para gundik Simon. "Jangan, Cedric! Kita harus menyelesaikan ini sendiri, kenapa kau malah menelepon Leah sih, Natalie?!" Lalu suara yang terdengar sekarang milik Elaine. "Tapi, kan kita—" Suara itu terpotong oleh bunyi kencang lain, seperti benda berdebum dengan keras hingga mengejutkan semua orang di sana. "Nona Natalie? Tuan Cedric? Nona Elaine? Tolong jawab saya? Kalian bisa mendengar suara saya?" Leah mendadak bangkit dari posisinya. Panggilan telepon itu telah terputus. Ia bergegas keluar dari ruang kerja dan setengah berlari menuju harem para gundik. Roxanne sedang menikmati tehnya di halaman. Satu orang ada, tersisa empat orang lagi. Lalu ketika Leah hendak berbelok, ia nyaris bertabrakan dengan Emma. "Sialan! Kau hampir saja menabrakku!" omel Emma yang lantas diikuti umpatan dan makian lain. Tapi Leah tidak acuh, ia segera melanjutkan langkah terburunya yang memicu amarah Emma. Ia berusaha menyamai langkah cepat Leah. "Kau tidak minta maaf?! Beraninya kau mengabaikan aku! Kurang ajar sekali!" "Maaf Nona, tapi saat ini saya sedang tergesa-gesa. Ada sesuatu yang harus saya pastikan." Leah berusaha menghindari Emma. "Hal penting apa yang membuatmu sampai tidak hormat padaku, hah?!" Pada akhirnya Emma berhasil mencengkeram pergelangan tangan Leah. "Nona Emma, mohon pengertiannya!" Bersamaan dengan bentakan Leah, sang sekretaris segera menarik tangannya paksa dari genggaman kencang Emma. Leah berlari dan Emma masih berusaha mengejar sembari mengumpat. Kamar yang ditempati Natalie, Elaine, dan Cedric memang berdekatan kendati berada di bangunan yang berbeda. Para pelayan yang sibuk beraktivitas di sekitar kamar mereka bertiga mendadak kelimpungan ketika melihat Leah datang dengan ekspresi tidak senang. Terlebih lagi Emma pun ikut serta dengan ekspresi lebih menyeramkan dan mengumpat seperti orang mabuk. "Tolong panggilkan Tuan Cedric, Nona Natalie, dan Nona Elaine sekarang juga!" perintah Leah pada salah seorang pelayan yang dianggap tertua di sana. Wanita paruh baya itu memasang wajah dingin kendati keringat dingin meleleh membasahi wajahnya. "Tentu saja mereka sedang bersantai di kamar, Nona." "Panggilkan saja sekarang, ada hal penting yang harus saya pastikan." "Kedatangan Nona Leah bisa mengganggu waktu istirahat mereka." Emma yang baru saja bisa menyusul tiba sambil terengah-engah di samping sang sekretaris. Melihat pelayan senior menyambut kedatangan mereka membuat kecurigaan sang gundik terbit. Ia jadi terlupa niat awal memaki-maki Leah. "Kalau kalian tidak bisa memanggilkan mereka, maka aku sendiri yang akan menjemput mereka." Leah berusaha menerobos tubuh sang pelayan, tapi wanita yang lebih tua itu menghalangi. Karena gestur sang pelayan yang terkesan tidak sopan, suasana menegang. Bahkan Emma pun mulai merasa ada sesuatu yang tidak benar. "Kenapa Anda sangat tidak sopan, Nona?! Bukankah saya bilang bahwa mereka sedang beristirahat?" "Kalau begitu, kau jawablah dengan jujur pertanyaanku. Sekarang juga. Apakah mereka, yang namanya tadi kusebutkan semua memang sedang berada di kamar masing-masing atau tidak?" Pertanyaan Leah tersebut membuat atmosfer semakin tegang dan sesak. "Tentu saja mereka ada di kamar! Bagaimana mungkin mereka keluar dari kediaman ini?" balas sang pelayan dengan nada tinggi, tapi ekspresi yang terlukis di wajahnya justru menyiratkan kekhawatiran. Leah mencoba bicara lagi, tapi Emma menahannya. Ia justru menarik sang sekretaris ke belakang punggungnya. "Kalian semua menyingkirlah, biarkan Leah melakukan pekerjaannya." "Tapi No—" "Leah, cepat cari mereka ke kamar. Biar aku yang mengurus mereka," titah Emma. "Nona Emma, tolong jangan mempekeruh keadaan." Sementara Emma dan pelayan tersebut saling terlibat adu mulut, Leah memeriksa ke kamar masing-masing. Ke seluruh penjuru tanpa melewatkan satu tempat pun dan kecurigaan Leah benar-benar terjawab. Ia kembali pada Emma dan pelayan tersebut sambil mengeluarkan ponsel. "Mereka tidak ada, sekarang siapa yang bertanggung jawab atas kekacauan ini? Sebelum aku ke sini, Natalie menelepon dan mereka bertiga sepertinya sedang terlibat masalah. Ponsel mereka tidak aktif dan sepertinya para bodyguard pun tidak dibawa serta. Sekarang salah satu dari kalian bicara jujur dan tolong jelaskan apa yang terjadi. Ke mana mereka pergi dan apa tujuan mereka pergi?" Serentetan pertanyaan tersebut tidak mendapat tanggapan. Emma yag ikut tersulut emosi lantas menampar pelayan yang sejak tadi adu mulut dengannya. "Kau yang harus jawab! Kau yang bertanggung jawab karena berusaha menutupi apa yang sedang terjadi." Setelah mendengar jawaban dari sang pelayan, Leah dan Emma mengumpat bersamaan. Apa yang dilakukan ketiga gundik itu dapat menyebabkan masalah besar bagi Simon jika sampai diketahui publik. Mereka bertiga telah melanggar satu peraturan penting yang tidak boleh dilanggar para gundik. Satu peraturan penting: Tidak boleh keluar dari kediaman tanpa seizin Simon. Dan itu baru satu peraturan yang dilanggar. Sungguh, mereka benar-benar bisa membuat kepala Leah meledak. Tak ada ketenangan yang sesungguhnya jika menyangkut para gundik Simon. Semoga saja mereka tidak menimbulkan masalah yang lebih besar. |Bersambung|
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN