[5. Kekacauan Besar]

1277 Kata
[5. Kekacauan Besar] "Nona Natalie, Nona Elaine, dan Tuan Cedric bermaksud datang ke sebuah pesta di salah satu hotel. Karena yang mengundang mereka adalah salah satu sosialita terkenal. Itu Grand Royale Hotel, dan keanggotaan untuk masuk ke dalam pesta itu sangat eksklusif. Maka dari itu mereka melanggar peraturan dan nekat keluar dari kediaman ini untuk datang ke sana." Itulah penjelasan pelayan tadi, yang baru Leah ketahui namanya. Camelia. Leah akan mengingat-ingat nama pelayan itu untuk menentukan hukuman apa yang diterimanya nanti setelah berdiskusi dengan kepala pelayan. Ah, kepala pelayan mereka juga mungkin akan terseret kalau tahu bawahannya juga bersalah. Ah, rasanya kepala Leah seperti mau meledak. Ia sudah berada di mobil, sedang melaju menuju Grand Royale Hotel. Setelah mencoba mengorek beberapa informasi dari orang yang berada di pesta tersebut, Leah mendapati bahwa terjadi kericuhan di sana. Bahkan para polisi sudah berjaga di luar gedung. Ah, jangan lupakan para wartawan yang tiba-tiba berdatangan untuk meliput kericuhan yang sedang terjadi. Kekacauan yang menyebabkan para polisi dan para jurnalis adalah teroris. Seorang pria yang membawa bom datang ke pesta dan mengancam akan meledakkan diri kalau keinginannya tidak ditunaikan. Siapa yang menyangka jika ketiga gundik itu terjebak dalam sebuah kekacauan besar. Apa yang harus Leah katakan pada Simon nanti kalau kabar tentang para gundiknya keluar dari mansion, lalu terjebak dalam ancaman serangan teroris. "Nona Leah, sepertinya kita tidak bisa maju lagi," ujar Jackson, sopir pribadi Simon yang ditinggalkan untuk Leah semetara pria itu membawa Leon. "Benarkah?" Leah yang duduk di jok belakang melongok ke depan dan mendapati bahwa mobil tersebut tak dapat bergerak mendekat karena dihalangi para wartawan yang berjubel dan polisi yang berjaga. Bahkan para polisi sudah memukul mundur para wartawan dan kendaraan lain yang mencoba mendekati hotel. "Sepertinya kita harus putar balik, Nona. Dengan keadaan yang segenting ini, bukankah seharusnya kita menghubungi Tuan Simon saja. Kita tidak bisa mendekat, apalagi masuk ke sana." Jack tampak sama gelisahnya dengan Leah, terlihat dari keringat yang membasahi keningnya kendati pendingin mobil sudah cukup dingin. Jackson benar. Mereka sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Kedatangan ke gedung hotel ini sia-sia. Leah mengeluarkan ponsel, membuka fitur panggilan, lalu segera menekan tombol satu yang segera menghubungkan panggilan ke nomor Simon. Tepat ketika Simon mengangkat panggilan, sebuah ledakan besar datang tiba-tiba dan mengejutkan orang-orang. Leah menjerit hingga ponsel di tangannya jatuh. "Leah? Apa yang terjadi? Kenapa kau berteriak? Aku mendengar suara ledakan keras?" Simon dari balik sambungan telepon tentu juga terkejut ketika mendengar suara ledakan hebat itu. "Tuan, Nona Natalie, Nona Elaine, dan Tuan Cedric sedang dalam situasi gawat. Mereka terjebak dalam serangan teroris di Grand Royale Hotel. Sekarang saya dan Jack terjebak di luar gedung dan tidak bisa masuk ke dalam," tutur Leah sejujur-jujurnya. "Apa?! Bagaimana bisa mereka bisa keluar dari mansion? Kenapa juga mereka bisa terjebak di serangan teroris?!" Leah menggigiti bibir bagian bawahnya gelisah sambil menyingkirkan anak-anak rambutnya yang jatuh menutupi wajah. "Maaf, Tuan. Ini di luar kendali kami, kami benar-benar kecolongan." "Apa pun yang terjadi, mereka tidak boleh sampai tereskpos media. Aku akan kembali ke sana sekarang. Kalian berdua boleh kembali ke mansion dan selidiki siapa yang bertanggung jawab membuat mereka bisa keluar dari mansion. Jika mereka bertiga sudah sampai dengan selamat, kita akan mengadakan rapat darurat. Kau mengerti, Leah?" "Baik, Tuan." Panggilan tersebut berakhir secara sepihak oleh Simon. Satu hal yang perlu ia lakukan secepatnya. Menghubungi General Manager Grand Royale Hotel. Pria tersebut salah satu dari anak-anak Simon yang ditempatkan di setiap tempat. Ia harus memastikan identitas Natalie, Elaine, dan Cedric tidak tereskpos ke media. Beruntungnya pria bernama Austine itu dapat segera dihubungi dan berjanji akan melindungi ketiganya dari wartawan. Simon tentu lebih takut gundik-gundiknya diketahui publik daripada mati kena serangan bom. Kalau pun mereka bertiga tidak selamat dalam serangan tersebut, identitas mereka harus dirahasiaka dan dianggap hilang ditelan bumi. Tak boleh ada catatan mereka pernah menjadi gundik Simon sekaligus bank darahnya. Demi melindungi nama baiknya. Perjalanan pulang menuju kediaman Simon, Leah seperti kembali ke masa-masa sekolah dulu. Ketika ia sebagai ketua kelas harus ikut bertanggung jawab atas kenakalan teman-teman satu kelasnya yang ketahuan melakukan vandalisme di sekolah. Ia ingat betul bagaimana perasaan ketakutan dan kegelisahan itu mencekik lehernya hingga spekulasi-spekulasi buruk memenuhi kepala. Ia sudah berkali-kali mengalami ketegangan seperti ini, tapi tetap saja tidak bisa membiasakan diri pada ketakutan itu. Di awal-awal masa kerja, ia pernah menumpahkan anggur pada salah satu rekan bisnis Simon. Pernah juga ketika mereka bepergian keluar negeri untuk melakukan pertemuan dengan delegasi negara lain, Leah melupakan salah satu berkas. Ada posisi di mana Leah disemprot Simon habis-habiskan karena salah ketika membuat laporan bulanan yang membuatnya harus lembur semalaman di mansion dan membuat pekerja yang lain ikut lembur pula. Tentu semua ketegangan itu sudah berlalu. Selalu ada solusi untuk segala masalah. Tapi, serangan teroris ini seperti memiliki keterkaitan dengan Mankind Guardian. Sebuah organisasi yang melindungi manusia dari para vampir dan manusia serigala. Namun, organisasi tersebut tampaknya lebih ke arah menentang keberadaan para vampir dan manusia serigala daripada melaksanakan tugas sesuai nama organisasi mereka. Melindungi manusia hanya sebuah tempelan agar organisasi tersebut dapat diterima masyarakat. Para vampir dan manusia serigala sendiri berpendapat Mankind Guardian memiliki skenario besar membubarkan Red Honey dan menghabisi seluruh anggotanya demi menciptakan dunia tanpa vampir dan manusia serigala. Pada kekacauan yang terjadi dalam serangan itu. Sang pria yang dengan lantangnya membawa bom dan mencoba meledakkan dirinya meneriakkan sebuah kalimat yang diduga untuk menyudutkan kaum vampir dan manusia serigala. Bukankah itu sebuah kode keras bahwa kejadian tersebut ada kaitannya dengan Mankind Guardian? "Kami manusia yang hidupnya pendek semakin tidak berdaya! Sementara yang berumur panjang semakin berjaya!" Itu kalimat terakhirnya sebelum meledakkan diri. Yang untungnya tidak membuat pria itu meninggal. Para polisi yang berjaga berhasil mengamankan keadaan. Tak ada korban jiwa ataupun luka dari kalangan pengunjung dan pekerja hotel. Beberapa ditahan untuk keperluan penyelidikan, sedangkan mayoritas dari pengunjung yang terjebak diberikan perawatan psikologis. Ketika Leah tiba lebih dulu, sang kepala pelayan sudah mempersiapkan diri untuk skenario terburuk. Camelia, beberapa pelayan, dan bodyguard yang bertugas untuk ketiga gundik dikumpulkan dalam satu ruang. Baik Leah maupun kepala pelayan tak akan menahan diri. Surat pengunduran diri telah lebih dulu disiapkan Leah sembari menantikan kedatangan Simon. Ketika langkah Simon yang terburu memenuhi lorong, maka masa penghakiman bagi para pekerja yang tidak kompeten itu akan dimulai. Ketiga gundik yang baru saja dipulangkan dengan selamat pun bergabung. Penampilan mereka tidak seburuk dalam bayangan Leah. Setidaknya masih berpakaian lengkap dan tidak mengalami luka apa pun kendati tampak kacau. Ketegangan sangat kental terasa di ruangan yang terkunci tersebut. Satu tarikan napas dari Simon seolah menarik seluruh pasokan udara. Tak ada yang berani bersuara, bahkan mungkin tak berani menarik napas. "Seharusnya aku dan Leon tidak berada di sini sekarang. Kalau bukan karena panggilan darurat dari Leah, mungkin aku tidak akan datang. Untuk garis besar permasalahan ini, Leah sudah membuatku memikirkan sedikit gambaran. Jadi, biarkan aku menjabarkannya atas versiku sendiri." Simon mengambil beberapa langkah kecil mendekati para gundik dan pekerjaannya yang diam sambil menundukkan kepala. Leah bahkan melakukan hal sama. Di posisi ini, ia tak memiliki keberanian membayangkan ekspresi di wajah sang tuan. "Ada satu aturan besar yang dilanggar para gundik. Dan, bagi kalian para pekerjaku, aturan yang dilanggar berkali-kali lipat banyaknya. Kuberi kalian waktu untuk menjelaskan sebelum mendapat hukuman atas aturan yang kalian langgar tersebut." Setelah menuntaskan kalimat terakhirnya, Simon menoleh ke arah Leah. "Leah dan Jack akan aku bebaskan dari hukuman karena mereka juga ditipu oleh kalian semua. Dimulai dari kepala pelayan kita. Jelaskan kesalahamu, Eugene." Rapat dan penghakiman ini akan berjalan cukup lama dan melelahkan. Tapi, Bisa-bisanya di momen yang menegangkan ini Leah mengkhawatirkan tidak bisa menikmati akhir harinya di toko roti Tom. |Bersambung|
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN