[14. Mereka yang Terus Menerus Pergi]
"Nona, Leah harus makan banyak daging merah untuk meningkatkan tekanan darah. Anda juga hanya makan dalam porsi kecil hari ini dan mengonsumsi banyak kopi. Lambung Anda bekerja ekstra karenanya. Perbanyak olahraga juga untuk menjaga tubuh tetap fit," papar sang dokter panjang lebar.
Dokter itu, yang merawatnya dan Kevin tadi tahu persis penyebab Leah pingsan. Ia memang kekurangan asupan nutrisi. Mengingat ia baru memasukkan beberapa gigit roti, sisanya masih tersisa banyak di ruang kerja. Padahal kopinya telah bersih tak bersisa guna mengusir kantuk dan bosan. Ditambah dengan beban kerja yang membuat otak mengebul. Tentu saja ia tinggal menunggu waktu untuk tumbang.
"Hmm, jadi itu karena kecerobohanmu sendiri, Leah. Kau harusnya bersikap profesional dengan menjaga kesehatan tubuhmu. Apa pun yang terjadi kau tetap sekretarisku. Kau dituntut tetap prima di segala kesempatan. Kau beruntung hanya pingsan di depanku. Kalau kau sampai pingsan di depan Benjamin, bisa lain cerita. Jangan sampai pingsan di depan kolega atau klien penting, kau akan mendapat masalah lebih besar," omel Simon seperti seorang ibu mengomeli anaknya yang sakit. Sudah sakit masih diomeli, tentu saja tidak lekas sembuh.
Leah menunduk dalam-dalam. Ia masih malu karena rasa laparnya dan omelan Simon yang menegur ketidakprofesionalannya sebagai sekretaris. "Maaf, Tuan. Tidak akan saya ulang lagi."
Simon mengedikkan bahu sebelum membalas, "Kalau kau mengulanginya lagi, aku akan potong gajimu."
Leah mengangguk pasrah saja. Toh, jika gajinya dipotong tidak akan menjadikan ia menggelandang di akhir bulan. Gajinya selalu bersisa karena hanya digunakan menopang diri sendiri. Jujur, memotong gaji lebih terdengar lebih baik daripada berurusan dengan Benjamin.
"Kau keluar dulu sementara ada yang harus kubicarakan dengan Leah. Jangan lupa siapkan menu tambahan untuknya selama beberapa hari ke depan. Pesankan langsung pada kepala koki," perintah Simon pada sang dokter.
"Tapi, Tu—"
"Kau berani membantah bosmu?"
Leah kembali mengkerut. "Tidak, Tuanku."
Sang dokter segera undur diri. Setelah meninggalkan ruangan, Simon segera mengatakan maksudnya menahan Leah.
"Sambil makan, dengarkan aku baik-baik. Mulai sekarang kamu dan kepala pelayan harus berkoordinasi untuk membuat peraturan kerja baru bagi para manusia serigala. Jangan lupa bertanya-tanya pada manusia-manusia serigala itu apa-apa yang mereka inginkan dan harus dipenuhi."
"Baik, Tuan."
"Untungnya, di antara rekomendasi Benjamin, tidak ada yang memiliki sikap dan perilaku seperti dia. Bisa bayangkan seperti apa stresnya kita jika hal itu benar-benar terjadi. Menghadapi satu Benjamin saja tidak baik untuk kesehatan jantung dan tekanan darahmu. Kau tidak akan bisa membayangkan kedatangan sepuluh orang Benjamin ke sini." Simon agak melawak, Leah juga enggan membayangkan apa yang akan terjadi jika memiliki duplikat-duplikat Benjamin di sini. Sebuah kekacauan besar. Alih-alih menyewa bodyguard, lebih sesuai dengan membangun tempat penitipan anak.
"Lalu untuk rekomendasi pelayan-pelayan itu, kau sudah mendapatkannya?" tanya Simon lagi.
"Sudah, Tuan. Hanya saja saya belum menerima rekomendasi pengganti kepala pelayan dari Pak Eugene." Jawaban Leah menaikkan satu alis Simon.
"Dia mau pensiun lebih awal? Kenapa? Sebelum-sebelumnya ia tidak bercerita apa pun padaku."
"Ia sudah mengatakannya pada saat ketika lalai dengan insiden kaburnya Tuan Cedric, Nona Elaine, dan Nona Natalie. Ia harus merawat istrinya yang sakit keras, Tuan. Maka dari itu ia ingin pensiun lebih dini."
Simon urung menanggapi. Ia lantas menyingkir dari meja dan menyendiri sebentar ke jendela.
"Leah, kau tahu apa yang tidak menyenangkan ketika menjadi orang berumur panjang? Yaitu ketika kau menyaksikan orang-orang yang lebih muda darimu menua dan satu per satu meninggalkan dunia. Yang kau lakukan hanya menatap ke jendela sembari mengenang apa yang pernah mereka lakukan tanpa bisa berbuat apa-apa. Aku masih mengingat betul Eugene sebagai pemuda polos yang ceroboh waktu itu. Ia tumbuh besar di sini sebagai tukang kebun, tapi ia berkembang seiring waktu dan mencapai posisinya sekarang dengan kerja keras dan ketekunan. Sedih rasanya jika melihat ia pergi dari sini lalu beberapa tahun kemudian aku mendatangi pemakamannya," monolog panjang Simon diakhiri dengan menjauhi jendela dan kembali sudut meja.
Ia kembali berkata, "Rekomendasi untuk para pelayan biar kau dan Eugene yang urus. Lalu untuk rekomendasi kepala pelayan, berikan padaku jika Eugene sudah menentukan kandidat untuk jadi penggantinya. Habiskan makananmu lalu beristirahatlah sebentar."
Simon hendak menyingkir dari meja, tetapi Leah menahannya dengan satu pertanyaan. "Tuan, kalau Anda tidak keberatan, kenapa Anda memilih abalone hari ini? Menu yang Anda hindari selama bertahun-tahun."
Kilasan-kilasan masa lalu yang tersimpan rapi dalam kubikel ingatan Simon kembali berputar. Simon sebenarnya enggan menjawab juga, tapi jika Leah yang diajak bicara, ia bisa sedikit tenang. Leah bukan tipe perempuan yang suka bergosip dan membocorkan segala hal.
"Itu adalah pertengahan musim panas yang kental dengan suasana disko ketika aku mengadakan pesta di pantai. Beberapa rekan kerja kuundang dan orang-orang penting lainnya juga hadir. Tapi di saat itu pula, Janice yang biasanya sangat menyukai abalone, tiba-tiba saja menolak makan itu. Ia mual di tengah-tengah pesta. Lalu aku tersadar bahwa ia sedang hamil. Padahal waktu itu, aku berada di posisi sudah disuntik kontrasepsi tahunan. Sehingga aku tidak mungkin bisa menghamili manusia. Bisa kau tebak ke mana ceritanya akan berlanjut?" Simon menatap Leah agak sendu dan perempuan itu mengangguk pelan memahami.
"Itu bukan anak Tuan. Kalau benar Tuan menghamilinya, tentu Tuan yang akan disuntik mati menggunakan air suci. Tapi karena berita sudah terlanjur menyebar, selama berbulan-bulan Anda menjadi topik perbincangan. Pemerintah dunia pun mulai menyoroti kasus Anda dan mencurigai Anda melakukan praktik ilegal yang dilarang pemerintah. Janice adalah gundik pertama yang melahirkan anaknya di sini. Lantas ketika anak itu terlahir dan dilakukan tes DNA. Terjawab bahwa anak itu bukan darah daging Anda." Leah menutup kalimat panjangnya dengan sebuah embusan napas pelan.
Simon mengangguk-angguk membenarkan. "Itu adalah masa di mana para vampir tidak dalam peraturan seketat sekarang. Dulu kami boleh memiliki gundik atau bank darah sesuka yang kami mau. Tidak ada syarat khusus. Karena insiden memalukan itu kami semakin dikekang aturan pemerintah dan peraturan untuk kami diperketat. Maka dari itu aku tidak sudi menemuinya secara langsung kalau bukan karena ingin membungkam mulutnya dan melihat ia memohon-mohon di depanku."
Simon tidak berkata apa-apa lagi sesudahnya, Leah pun memilih bungkam. Ia lapar, tapi hidangan ini tidak menggugah selera makannya. Ia ingin ramen instan saja, atau roti hangat yang masih hangat dari panggangan.
"Aku beruntung kau adalah orang yang profesional, Leah. Kau adalah sekretarisku yang istimewa karena menjadi perempuan yang dapat bertahan selama ini tanpa terlibat hubungan romantis denganku. Mereka yang perempuan, selalu saja terbuai dengan parasku kau tahu?" Simon kembali bercerita lalu tertawa di akhir kalimatnya.
Leah sendiri tersenyum mendengarnya. Ia senang mendapatkan pengakuan itu. Hasil kerja kerasnya selama tujuh tahun ini.
"Terima kasih, Tuan."
"Tetap tingkatkan performa kerjamu. Sehingga saat nanti aku menghadiri pemakamanmu, aku akan sangat menyesali kematianmu." Simon masih Bisa-bisanya mencandai kematian seseorang. Seperti itulah tuannya yang bermulut setajam pisau.
Simon meninggalkan ruangan, menyisakan yang menatapi hidangan-hidangan itu dengan malas. Sungguh, di antara semua menu makanan ini tidak ada yang menggugah selera makannya. Bahkan pencuci mulut dan hidangan pembuka. Pada akhirnya Leah meninggalkan ruang makan masih dengan perut kosong. Ia bergegas ke dapur untuk minta dibuatkan ramen instan saja.
|Bersambung|